MySam

MySam
Suster Theresia



Anita menunggu hingga satu jam lebih di depan ruang operasi. Menurut dokter Linda, dokter spesialis kandungan pribadi menantunya. Maya harus melahirkan dengan cara operasi bedah caesar. Selain janin yang akan dilahirkan kembar, kondisi janin yang terlilit tali pusar pun membuat dokter Linda harus melakukan tindakan operasi bedah caesar untuk mengeluarkan janin kembar tersebut.


Anita menunggu dengan khawatir, di satu sisi ia memikirkan bagaimana keadaan Samuel anaknya dan di sisi lain Anita pun mengkhawatirkan keselamatan menantu dan calon cucu kembar nya.


Anita terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi sembari berdoa dalam hati untuk keselamatan anak-anak yang sangat ia cintai.


Hingga Anita terlihat mengeluarkan ponsel dari tas Prada miliknya.


"Halo Daniel.... gimana keadaan Samuel?"


....


Sementara di rumah sakit Centra Medika, Daniel dengan panik dan tergesa menanyakan perihal pasien kecelakan di jalan tol Jogorawi.


Sang suster penjaga lobi pun dengan segera menge-cek pasien atas nama Samuel Perdana.


"Oh-Tuan Perdana saat ini sedang di rawat di ruang ICU. Korban mengalami luka serius di bagian kepala dan membutuhkan banyak darah AB."


"Seserius apa keadaan saudara saya, Sust?" tanya Daniel khawatir.


"Maaf Tuan, tapi keadaan pasien saat ini sangat serius. Pasien masih belum sadar dan sangat membutuhkan banyak darah dengan golongan AB." Suster berwajah oriental itu pun menjeda sebentar ucapannya.


"Dan persediaan darah berjenis AB di rumah sakit kami sangatlah terbatas, dan...."


"Ambil darah saya Sust, golongan darah saya juga AB."


Daniel dengan cepat memotong ucapan sang suster itu.


"Oh-baiklah silahkan saya antar anda ke ruang unit transfusi darah." Suster cantik itu terlihat berbicara pada salah satu suster yang lain sebelum dia mengajak Daniel menuju ruangan transfusi darah di rumah sakit swasta terbesar di Jakarta itu.


Selang beberapa detik kemudian Daniel pun dengan patuh mengikuti langkah kaki suster tersebut.


Hingga tiba-tiba ponsel pipih hitamnya berdering di tengah suasana kalut.


"Halo Ma....___ iya nanti aja Daniel cerita___ iya ini Daniel lagi ada urusan___ nanti aku hubungi lagi____ oke bye Ma."


Daniel memutuskan sambungan ponsel dari Anita. Dan laki-laki bertubuh kekar itu pun kembali mengikuti langkah-langkah panjang sang suster.


....


Daniel duduk dengan satu lengan terjulur yang telah dipasang selang transfusi darah.


Pria itu bisa melihat dengan jelas, darahnya yang mengalir melalui selang dan masuk ke sebuah kantong plastik tebal bertuliskan nama rumah sakit yang merawat Samuel saat ini.


Hingga beberapa detik, Daniel menutup kedua matanya.


"Anda baik-baik saja?" tanya suster cantik berwajah oriental tadi.


Tangan lentiknya dengan tidak sengaja menyentuh lengan Daniel yang terpasang jarum dan selang transfusi darah.


Daniel mengangguk pelan. "I'm Ok...." jawab Daniel pelan.


Daniel melirik jemari lentik sang suster yang mungkin suster itu sendiri tidak menyadari bahwa jemarinya berada tepat di atas lengan kekar pria yang saat ini tengah di ambil darahnya.


"Oh-maaf...."


Suster itu pun ber-reaksi sungkan saat menyadari jika pria tampan di hadapannya saat ini tengah memperhatikan jemari lentiknya yang kala itu tengah memegang lengan berotot miliknya.


"Gak apa-apa, sebenarnya aku sedikit takut dengan jarum suntik dan darah yang begitu banyak mengalir melalui selang kecil ini."


Daniel menjawab dengan sedikit senyuman konyol di wajahnya.


Tak ayal lagi jawaban serta ekspresi wajah Daniel berhasil membuat sang suster tersenyum sembari mengangkat kedua alis tebalnya.


"Anda takut jarum suntik?" tanya sang suster seolah tidak percaya dengan fakta yang baru saja Daniel ungkapkan tadi.


"Iya..... aku takut jarum suntik," gumam Daniel pelan.


Suster cantik itu pun berusaha menahan tawanya. Namun sayang nya usaha itu gagal.


"Kamu menertawai saya?" tanya Daniel dengan ekspresi tidak terimanya.


"Hehehe maaf--saya heran saja, pria dengan tubuh kekar dan bertato seperti anda takut jarum suntik? hehehehe...."


Kembali suster itu tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepala pelan.


"Emang gak boleh apa pria bertato takut dengan jarum suntik?!"


Daniel kini terlihat sedikit kesal.


"Ya boleh sih.... cuma... bukankah tato-tato ini dibuat dengan jarum juga?"


Daniel terdengar berdecak kesal. "Tidak jika tato-tato ini bukan tato permanen." Daniel mencoba menerangkan dengan wajah sedikit kaku.


Kembali wajah sang suster cantik itu terlihat merah menahan tawa.


"Kalo mau ketawa, ketawa aja. Gak perlu ditahan...." ujar Daniel kesal.


"Maaf Tuan.... hehehehe.....!"


Suster itu pun semakin terkekeh geli ketika melihat ekspresi cemberut dari wajah pria bertubuh atletis dan berotot di hadapannya saat ini.


"Siapa nama kamu?" tanya Daniel beberapa saat setelah kekesalannya hilang.


Suster itu pun terlihat menarik sebentar alis tebalnya saat memeriksa aliran darah Daniel yang tersedot kedalam kantong darah.


"Theresia....." jawab suster cantik itu sembari sedikit tersenyum kecil.


"Owh...." ucap Daniel membulatkan bibirnya.


"Saya rasa sudah cukup." Suster Theresia pun mulai mencabut jarum yang ada di nadi Daniel dan menempelkan bulatan kapas yang telah basah oleh alkohol kesehatan.


Daniel bersikeras.


Suster berwajah oriental dengan hidung mungil itu pun tersenyum kecil menanggapi.


"Darah Anda sudah tiga kantong saya ambil. Jika harus diambil lagi, saya takut malah Anda nanti yang akan kami bawa ke ruang UGD."


Suster Theresia sedikit berkelakar menjawab perkataan Daniel.


Kembali Daniel terlihat merespon sedikit kesal.


"Apa kamu yakin ini sudah cukup untuk adik saya?" tanya Daniel.


"Sudah cukup Tuan---" Theresia menggantung ucapannya.


"Daniel....." Daniel langsung menjawab ucapan suster Theresia yang menggantung.


"Oh-iya Tuan Daniel." Theresia melanjutkan kalimat yang tadinya tergantung di ujung ucapannya.


"Panggil Daniel saja gak usah ada kata Tuan."


Daniel mencoba duduk pada tepi brankar sembari meregangkan punggung dan juga lengan yang terasa nyeri setelah diambil darahnya hingga beberapa liter.


"Anda jangan banyak bergerak dulu, tunggu saya di sini."


"Kamu mau kemana?"


"Saya akan memberikan darah Anda kepada suster yang menjaga saudara Anda."


Daniel mengangguk patuh, ia pun kembali berbaring, kali ini menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang rumah sakit yang bisa di gerakkan naik-turun.


Selama ini Daniel tidak pernah diperintah oleh siapa pun juga. Namun kini keadaan berbalik, justru Daniel lah yang saat ini tidak bisa menolak akan perintah suster Theresia yang menyuruhnya untuk tetap berbaring di ranjang rumah sakit.


Sementara pandangan mata Daniel masih saja tertuju ke arah suster cantik dengan wajah dan mata khas oriental yang kini mulai menghilang di balik pintu ruang transfusi darah.


....


Samar-samar Daniel bisa mendengar suara langkah kaki seseorang yang mulai memasuki ruang transfusi darah.


Kedua sudut bibirnya pun tersenyum penuh, begitu melihat sosok perempuan cantik dengan baki berisi segelas susu dan juga roti isi di dalamnya.


"Diminum dulu susu hangatnya Tuan," ucap suster Theresia. Suster itu pun meletakkan gelas susu hangat dan juga piring berisi roti sandwich di atas nakas samping brankar rumah sakit.


"Harus berapa kali aku bilang, kamu gak perlu memanggil dengan sebutan Tuan, hm?" dengus Daniel.


"Maaf tapi ini sudah menjadi kode etik kami terhadap pasien ataupun pengunjung rumah sakit ini."


"Kita hanya berdua saat ini dan tidak ada orang lain, aku rasa tidak perlu berbicara dengan kecanggungan seperti ini."


Suster Theresia pun terlihat sedikit tersenyum kecil ke arah Daniel.


"Baiklah Daniel, sekarang diminum dulu susu hangatnya dan juga roti isi ini tolong kamu habiskan sebelum kamu meninggalkan ruangan ini." Theresia menyodorkan segelas susu hangat ke arah Daniel.


Dan lagi-lagi Daniel mengangguk patuh, ia menerima gelas susu dari tangan suster cantik itu lalu hanya dalam hitungan detik, susu hangat itu telah habis tanpa sisa.


"Terima kasih Theresia...." ucap Daniel sembari menaruh gelas susu tadi ke atas nakas dan mencomot satu roti isi daging asap yang suster itu bawakan.


"Panggil saja Tessa." Theresia menjawab dengan senyuman kecilnya.


"Oke--- Tessa..."


Daniel kini menggigit roti isi yang entah kenapa rasa roti isi itu terasa sangat enak di lidah Daniel.


Tentu saja ini bukan kali pertama dirinya memakan roti isi, namun ketika ia menggigit satu gigitan pada roti pemberian Tessa... Daniel merasakan sesuatu yang membuatnya ketagihan.


Hingga pada gigitan terakhir pun Daniel masih bisa merasakan sesuatu yang sulit ia ungkapkan saat itu.


"Sekarang kamu bisa berjalan sendiri?" tanya Tessa yang membuyarkan lamunan Daniel.


"Oh-ten-tentu saja aku bisa," gagap Daniel.


"Apa kamu ingin melihat keadaan saudara kamu?"


Daniel membulatkan kedua netranya.


"Tentu saja, emangnya aku udah bisa melihat keadaan Samuel?"


"Hm...." angguk Tessa pelan.


"Tapi kamu hanya diizinkan melihat pasien selama lima menit saja," ucap Tessa kemudian.


"Oke gak masalah, asal aku bisa melihat keadaan Sam," jawab Daniel senang.


"Baiklah, mari ikuti saya."


Daniel berusaha berdiri.


"Hati-hati...." cicit Tessa, kedua tangan suster cantik itu pun refleks memegang lengan Daniel ketika tubuh pria kekar itu dilihatnya sedikit limbung.


"Terima kasih...." ucap Daniel lembut.


Keduanya lalu berjalan meninggalkan kamar transfusi darah.


Hingga beberapa detik kemudian, terlihat Tessa melepas pegangannya pada lengan Daniel.


Keduanya pun masih berjalan berdampingan menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga keduanya memasuki pintu lift yang ada di ujung koridor.


to be continue....