
Martha kembali menjatuhkan tubuh nya di tempat tidur empuk itu, kembali ia tarik asal selimut tebal hingga kini menutupi tubuhnya separuh.
Rasa nya masih malas buat gadis itu untuk sekedar berjalan ke kamar mandi dalam kamar.
Ia masih ingin menikmati pagi nya di salah satu kamar mansion Harris. Tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu. "Siapa yang mengganti baju clubing nya semalam dengan piyama ini?" pikir Martha, kini dahinya sedikit mengernyit penuh pertanyaan.
Tok... tok... tok....
Seseorang wanita setengah baya menyembulkan kepalanya dari balik pintu begitu mendapat izin masuk oleh Martha.
Wanita tersebut masuk ke dalam kamar dengan sebuah baki berisi segelas orange jus dan roti bakar hangat buat Martha. "Silahkan sarapan nya non." tawar sang bibik, ia letakkan baki tersebut di atas nakas samping tempat tidur.
"Makasih bik."
Wanita tua tadi mengangguk sopan, "Eh bik... yang mengganti pakaian saya semalam siapa bik? bibik atau...." tanya Martha tiba-tiba, spontan si bibik menghentikan langkahnya sebentar dan berbalik kembali menghadap ke arah gadis muda yang menjadi tamu tuannya.
"Bibik non yang mengganti, disuruh sama tuan Harris. Karena pakaian non semalam sangat kotor dan bau minuman." jawab sang bibik polos.
"Owh.... tapi om Harris gak liat tubuh Martha kan bik?"
"Gak kok non, tuan langsung keluar kamar sewaktu bibik mengganti pakaian non."
"Oh ya non, kalau non mau pakai pakaian non lagi, sudah bibik cuci dan setrika, sebentar ya non bibik ambil dulu."
Selesai menjelaskan si bibik hendak membalikkan badan dan keluar dari kamar, namun dengan cepat Martha memanggil nya kembali.
"Eh bik.... hari ini aku pengen pakai kemeja om Harris boleh kan?"
"Tapi non....." jawab si bibik ragu
"Bibik tenang aja, om Harris gak bakal marah kok. Kalau dia marah biar aku yang ngomong ntar."
Si bibik kini mengangguk nurut apa titah Martha. "Sebentar ya non bibik ambil kan." angguk si bibik sopan. Ia lalu kembali melangkah keluar dari kamar Martha, wanita itu kini beralih memasuki kamar tuannya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar tamu yang ditempati Martha.
________
"Ini non baju nya, kemeja tuan kebanyakan berwarna putih, gak apa-apa kan non?" tanya maid itu, dengan cepat Martha menggeleng pelan dan tersenyum kecil.
"Gak apa-apa bik, taruh sini aja baju nya. Makasih ya bik."
Kembali wanita tua itu mengangguk sopan, lalu kembali membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar.
Martha tersenyum kecil, ia raih kemeja putih itu lalu mencium dalam-dalam aroma parfum dari kemeja Harris tersebut. Wangi.... batin Martha.
Kini berganti ia usapkan pelan kemeja putih tadi di pipi kirinya. Lembut.... batin nya lagi.
Gadis itu dengan cepat kini bangkit dari ranjang dan melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam kamar mandi. Ia sudah tidak sabar untuk menyematkan kemeja Harris di tubuhnya. Entah apa lagi kini yang ada dalam pikiran gadis itu.
______
Berkali-kali gadis itu berdiri di depan cermin besar, dia kini melihat sosok tubuh molek nya yang hanya berbalut hot pants milik nya semalam yang telah dicuci sang bibik. Kemeja putih milik Harris pun terlihat menutupi tubuh atas nya, sedikit terlihat kebesaran memang namun tetap terlihat sangat seksi menempel di tubuh Martha. Ia tanggalkan tiga kancing atas sehingga memperlihatkan bulatan dadanya yang sedikit menyembul sempurna.
Kaki jenjang Martha pun terlihat sangat indah walau tanpa alas kaki. Gadis itu kembali tersenyum, ia ingin memberi kejutan untuk Harris.
****
Gadis itu masih menunggu Harris, baru saja dokter itu mengirim sebuah pesan jika ia akan tiba di rumah dalam sepuluh menit lagi.
Martha nampak tersenyum sekilas, entah senyum bahagia atau...
"Kenapa gue merasa sangat bahagia dan gak sabar ketemu sama om Harris?" pikir Martha.
Lagi-lagi ia kibaskan kepalanya pelan, mencoba mengusir semua pertanyaan konyol yang ada di kepala nya saat ini.
Tak berapa lama Martha mendengar deru mobil yang berhenti di depan mansion Harris, gadis itu beranjak dari duduk nya, mendekati jendela besar kamar. Ia sibak sedikit gorden yang menjuntai itu. Om Harris.... batin Martha senang, senyuman kecil pun kembali merekah di salah satu sudut bibir Martha.
"Nona muda yang semalam ada dimana bik?" tanya Harris begitu ia memasuki pintu besar mansion, ia longgarkan sedikit krah baju nya.
"Non Martha masih ada di kamar tuan."
Harris perlahan membuka knop pintu, kedua netra Harris membola penuh ketika melihat sosok Martha yang saat itu duduk di ujung ranjang dan tersenyum ke arah nya.
"Hey little girl .... you look so beautiful." ucap Harris, ia dekati tubuh Martha.
"Sorry om, kemeja om aku pakai." Kini Martha berdiri tepat dihadapan Harris, kepala gadis itu sedikit mendongak memandang Harris.
"It's ok... aku senang melihat kamu seperti ini sayang..." kini Harris meraih pinggang ramping Martha, dia bawa kedekapan tubuh kekarnya.
Kedua lengan Harris melingkar erat di pinggang gadis itu, ia dekatkan wajahnya, begitu dekat tanpa jarak. Keduanya kini sama-sama merasakan deru hangat nafas masing-masing.
"You are so sexy baby..." bisik Harris, ia mulai mendaratkan serbuan ciuman kecil di wajah Martha. Hingga bibir Harris beringsut mencumbu leher putih Martha. "Arrgghh....ssshh... om Harris jangan macem-macem sama Tha ya." ancam Martha dengan sedikit mende^sah.
"No darling..... I just wanna your lips." bisik Harris. Kini Harris mengarahkan bibir nya tepat di atas bibir ranum Martha, perlahan Harris membuat gerakan. Satu gigitan kecil di bibir bawah Martha hingga sesapan yang kini semakin dalam, mereka saling bertukar saliva.
Leguhan demi leguhan yang keluar dari bibir Martha semakin memberikan sensasi tersendiri buat Haris. Kini salah satu tangan Harris mulai bergerak lembut ke arah dua bongkahan kembar milik Martha, sedang lengan yang satunya masih mendekap erat pinggang gadis kecilnya.
Tangan Harris bergerak leluasa bermain di dua gunung kembar Martha yang hanya tertutup oleh kemeja putih Harris.
"Aaarrggghhh.... tangan om nakal." desah Martha.
"Tapi kamu suka kan sayang?" kini Harris semakin menaikkan tempo permainan. Jemari Harris kini memilin lembut salah satu bulatan kecil di dada Martha yang kini menyembul sangat menantang.
Harris semakin menyesap dalam bibir ranum itu, hingga beberapa menit kemudian Martha mencoba melepas pautan bibir mereka.
Kini gadis itu menatap Harris lekat, mencoba mencari sesuatu disana. Mungkin sebuah jawaban atas perlakuan Harris padanya.
"Ada apa sayang?"
"Kenapa om Harris malam itu bisa ada di club yang aku datangi?" tanya Martha dengan tatapan yang seolah meng-intimidasi Harris.
"Aku tau tempat mana aja yang kamu sering datangi sayang."
Harris masih saja memeluk erat tubuh Martha.
"Jadi om mata-mata^in aku?" kerucut Martha.
Harris terkekeh sebentar melihat ekspresi menggemaskan gadis kecilnya itu.
"Hey... aku nyelametin kamu sayang, tidakkah kamu ingat itu?" jawab Harris dengan sedikit kekehan.
"Iya, om nyelametin Tha dari buaya tapi kini om masukin Tha ke kandang singa." cibir nya lagi.
"Hahahaha.... kalau aku singa, kamu adalah kelinci kecil ku yang manis sayang."
Sekali lagi Harris mendaratkan ciuman ke belakang telinga Martha dan menggigit sedikit daun telinga gadis itu, Martha mengerang geli.
"Om kan tau sebentar lagi aku mau nikah."
"So....?" tanya Harris dengan sedikit mengedikkan bahunya.
"Kita gak boleh seperti ini lagi." ucap Martha pelan, walau dalam hati ia masih menginginkan kehangatan bersama laki-laki itu.
"Kenapa gak kamu batalin pernikahan kamu yang tanpa cinta itu Tha?"
Martha menghembuskan desah napas sebentar, "Aku cinta kok sama Sam." Martha menandaskan kalimatnya, kedua netra gadis itu kini menyipit sedikit.
"Apa kamu yakin kalo dia juga mencintai kamu sayang?" Imbuh Harris dengan kedua lengan yang ia silangkan di atas dada bidangnya.
Martha tertegun sesaat mendengar ucapan laki-laki yang lebih dewasa darinya itu.
Tapi gue mencintai Sam, ia cinta pertama gue. Bukankah selama ini selalu seperti itu? batin Martha.
"Sayang....."
Sapaan Harris kembali membangunkan lamunan Martha.
to be continue....