MySam

MySam
Sweet Sam



"Am tadi ketemu mommy sama daddy...." ucap Samudra lemah. Ia melihat ke arah Maya kemudian beralih ke Samuel.


Sementara bik Sari masih mengelus-elus punggung kecil bocah itu untuk membuatnya nyaman.


"Am istirahat dulu ya, Onty dan Om Uel yang jagain Am," jawab Maya lembut. Ia belai wajah Samudra, bekas luka nampak masih membekas di kening bocah itu.


"Am pengen ketemu mommy, Am juga pengen ketemu cama daddy..." rengeknya lemah.


Sementara Maya memandang ke arah Samuel yang berdiri di sampingnya.


"Jagoannya Om Uel harus istirahat dulu, okey? Nanti kalo Am udah sembuh, Om Uel janji akan bawa Am ketemu sama moms dan daddy."


Sam kini mencondongkan tubuhnya ke arah Samudra dan membelai lembut puncak kepala anak itu.


"Iya Om Uel," jawab Samudra patuh.


Kali ini Maya sedikit lebih lega melihat Samudra yang begitu penurut kepada Sam. Dan suaminya itu memang paling bisa membuat bocah tampan itu selalu menurut dengan semua ucapan suaminya.


"Nah sekarang jagoan kecil istirahat, Om Uel jagain."


"Om Uel, Am aus..." rengek Samudra.


Sam tersenyum sekilas lalu meraih botol air mineral di atas nakas samping tempat tidur Samudra dan menuangkannya ke dalam gelas sebelum ia memberikannya ke Samudra.


"Makasih, Om." Samudra memberikan kembali gelas yang telah kosong itu ke arah Samuel.


"Iya sayang," ucap Sam sembari membelai wajah tampan bocah itu.


"Sekarang tidurlah, Om Uel elus punggung Am, mau?"


Samudra dengan cepat mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Meski baru saja ia terbangun dari komanya, entah kenapa kedua mata Samudra terasa masih sangat berat dan ingin kembali tertidur.


Sam beralih duduk pada kursi di samping bocah itu dan menjulurkan tangannya ke punggung Samudra yang tidur dengan sedikit miring.


Maya melihat semua itu seperti sebuah sihir yang mempunyai keajaiban. Ia bahkan tidak pernah menyangka jika Sam bisa menenangkan Samudra sebaik itu. Seperti seorang ayah yang memberikan ketenangan untuk putranya sendiri.


Satu senyuman tertarik kini di semua sudut bibir Maya.


...


"Sam..." lirih Maya begitu ia melihat Samudra sudah kembali tertidur lelap.


"Apa sayang?"


"Kita bicara di luar," bisik Maya pelan. Ia takut jika membuat Samudra kembali terbangun.


"Baiklah," angguk Sam. Sementara bibik juga mengangguk pelan ketika mendapat isyarat dari Maya, wanita setengah baya itu lalu duduk di kursi dekat dengan tubuh Samudra yang telah terlelap.


...


Maya menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit sembari menggenggam erat tangan Sam. Wajahnya sedikit mendongak ke arah suaminya yang berdiri tepat di hadapannya dan menatap dengan penuh tanda tanya.


"Apa?" Samuel bertanya dengan ekspresi tak kalah bingungnya.


"Kenapa tadi kamu ngomong gitu ke Samudra, Sam?"


"Ngomong gitu gimana, May?"


"Ya-- ngomong kalo kamu akan bawa Am menemui ibu dan juga ayahnya? Kamu kan tau, kata dokter-- Am tidak boleh--"


"Ssttt....!" Sam memotong ucapan Maya dengan menempelkan telunjuknya ke bibir Maya. Kemudian tangan Sam mengusap lembut pipi chubby istrinya yang selalu terlihat sangat menggemaskan.


"Cepat atau lambat kita harus mengatakan yang sebenarnya ke Am, sayang. Dan aku yakin jika anak itu pun pasti akan mengetahui kematian orangtua dia," jawab Sam dengan nada lembut.


"Tapi aku takut jika itu akan memperburuk keadaan dia, Sam."


Cicit Maya dengan ekspresi takut. Sam tersenyum lembut sembari kembali mengusap wajah Maya yang berada dalam kungkungan tubuh kekarnya.


"Kamu tenang aja, serahkan semuanya padaku," jawab Samuel lembut.


Maya hanya mengangguk nurut, dalam sepersekian detik kedua lengan perempuan itu meraih tubuh Samuel di hadapannya dan memeluknya erat.


"Kamu juga butuh istirahat, honey." Sam berbisik lembut lalu mencium puncak kepala Maya.


"Aku gak bisa tidur jika gak meluk kamu, Sam."


Jawaban manja Maya membuat Samuel melepaskan pelukannya sementara dan menatap wajah lelah Maya.


"Ih manjanya istriku ini," goda Samuel dan mencubit hidung Maya gemas.


"Sini-sini aku peluk istriku yang paling cantik. Ùuuhhh...! Love you dear, eemmuuaahh..."


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat di bibir Maya.


"Sam ih.... kenapa main cium-cium aja sih!" Pekik Maya kaget ketika menerima ciuman dadakan dari suaminya.


"Kenapa emangnya?" kekeh Samuel yang melihat wajah Maya memerah.


"Malu kalo ada yang liat, ini kan di koridor rumah sakit."


Samuel semakin mengeratkan pelukannya dan mendekatkan kepala Maya untuk lebih erat lagi bersandar di dalam dada bidang miliknya.


"I love you, honey."


"Love you more, suami." Jawab Maya tersenyum.


...****************...


Sam merenggangkan sedikit dasi yang melingkar rapi di lehernya, ia sandarkan punggung kekarnya ke sandaran kursi "kebesarannya". Membuang napas panjang sembari memijit pelipisnya yang sedikit terasa pusing pagi itu.


Tak bisa dipungkiri jika beberapa hari ini dia merasa sangat lelah dengan segala urusan rumah sakit Samudra dan ditambah lagi tumpukan pekerjaan di kedua perusahaan miliknya. Belum lagi perusahaan milik Permana sang ayah yang akhir-akhir ini harus juga dia yang menghandle nya.


Rasa-rasanya kepala Sam serasa hampir pecah dengan semua urusan pekerjaan itu. Ia harus bisa mengatur jadwal untuk tiga perusahaan sekaligus.


Jika dipikiran orang lain, menjadi seorang Ceo itu menyenangkan--


Mungkin Sam bisa membatah anggapan tersebut. Justru ia merasa sangat terbebani karena menanggung ribuan nasib karyawan yang bekerja untuknya.


Namun Samuel tidak ingin berkeluh kesah. Dan Maya adalah anugerah terindah yang di kirim oleh Tuhan untuknya. Gadis itu selalu bisa menjadi penawar lelah yang ia alami dan Samudra adalah bonusnya, meski anak itu saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit.


Sam berdiri guna melepas blezer kerjanya dan menaruhnya ke tempat gantungan baju khusus yang terletak di sudut ruangan.


Pria bertubuh kekar itu pun kini melakukan sedikit pergerakan untuk meregangkan otot leher dan punggungnya yang terasa kaku.


"Sam...."


Ucap Freya yang tiba-tiba saja memasuki ruang kerja Samuel tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Membuat Samuel berdecak kesal dan memasang wajah cueknya.


"Bisa gak kamu kalo masuk ke ruangan ini pakai ketuk pintu terlebih dulu atau paling gak ucap salam?!"


"Emang kenapa?" tanya Freya tanpa dosa.


"Fe, aku ini atasan kamu dan kamu karyawan ku. Jadi bersikaplah seperti seorang karyawan yang lainnya," dengus Samuel kesal.


"Bukankah aku mempunyai pengecualian di sini?"


"Semua karyawan di sini sama, termasuk kamu! Jadi kamu harus patuhi aturan yang ada jika masih ingin bekerja di sini," ketus Samuel sembari duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi empuk yang bisa berputar itu.


Freya terlihat sedikit mendengus kesal mendengar ucapan ketus Samuel.


Ini adalah hari pertama Freya kembali masuk ke kantor setelah tiga bulan ia cuti melahirkan.


Iya, gadis itu telah melahirkan anak perempuan yang sangat cantik. Sementara Elano masih belum mau mengakuinya sebagai darah daging pria itu.


Dan jika saja Sam tidak menaruh belas kasihan pada Freya, terutama terhadap anak yang masih bayi itu. Tentu saja sudah jauh-jauh hari Samuel memberhentikan Freya bekerja di perusahaan miliknya. Apalagi setelah ia mengetahui jika gadis itu pernah bersengkongkol dengan Elano untuk kembali mencoba menghancurkan rumah tangganya.


"Jadi ada keperluan apa kamu kesini?" tanya Samuel ketus.


Freya sejenak bersungut kesal atas sikap Samuel yang tetap saja dingin padanya, namun dengan cepat ia sembunyikan wajah kesalnya itu.


"Aku cuma mau kasih kamu ini." Freya menyodorkan kotak bekal ke arah Samuel, sialnya Sam malah tidak mengindahkan apa yang menjadi pemberian gadis itu. Sam justru mematung tanpa berniat menerima kotak makanan dari sekretarisnya itu.


"Sam..." ucap Freya lagi.


"Taruh aja di atas meja," sahut Samuel tanpa melihat ke arah Freya. Pria itu kini bersikap seolah-olah sedang sibuk dengan layar laptop miliknya.


Freya kembali bersungut kesal, menaruh kotak makanan itu di atas meja kerja Samuel dengan bibir yang sedikit ia kerucutkan.


"Ini kan hari pertama aku kembali bekerja, aku mau mengajak kamu untuk makan siang bareng, kamu mau kan?" tanya freya kembali dengan wajah yang dia buat semanis mungkin.


"Sorry gak bisa, aku ada janji makan siang sama istriku."


Lagi-lagi Samuel bersikap dingin dengan Freya. Ia bahkan sama sekali tidak melirik ke arah gadis itu yang masih berdiri di hadapannya dengan postur tubuh yang masih terlihat sangat ramping.


Tidak seperti kebanyakan wanita lain yang akan bertambah berat badannya seusai melahirkan.


"Oh ya satu lagi--" Sam menjeda kalimatnya, kali ini ia memandang ke arah Freya pagi itu.


"Apa? Kamu berubah pikiran kan, Sam?" tanya Freya girang.


"Panggil aku Bapak Samuel, karena ini di kantor dan aku bos kamu!" ketus Sam lagi.


Wajah Freya kembali berubah sedikit kesal. Ia pikir Samuel kali ini akan bersikap lebih manis terhadapnya, namun ternyata sama saja masih ketus dan dingin.


"I-iya, maaf Bapak Samuel." Jawab Freya gugup.


"Sekarang kalau tidak ada sesuatu yang penting silahkan keluar dari sini. Kamu juga masih punya banyak pekerjaan bukan, Fe?!"


"I-iya baiklah, saya permisi. Tapi tolong makanan itu kamu makan ya, karena aku sendiri yang buat." Ucap Freya lagi.


Tak ada jawaban apapun dari mulut Samuel, pria itu bahkan masih terlihat sibuk dengan keyboard dan layar laptop tipisnya.


Freya berjalan keluar dari ruangan Samuel dengan hati kesal, wajahnya kini ia tekuk dalam. Harus bagaimana lagi agar kamu mau menerima aku lagi, Sam? batin Freya.


to be continue....