
Kedua netra Maya perlahan membuka, dia melihat seluruh ruangan yang ber-cat putih bersih.
Di sudut ruang terdapat sofa panjang berwarna abu-abu tua dan ada beberapa nakas yang mengisi ruang kosong dalam kamar ber-AC itu.
Aroma menenangkan pohon pinus pun langsung menyeruak memenuhi penciuman Maya.
Yang ia ingat terakhir kali, Daniel lah yang membawanya ke rumah sakit.
Setelah kemarahan Samuel, ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Air ketuban pun merembes keluar waktu itu, padahal saat itu belum memasuki minggu-minggu ia melahirkan.
Maya pun mengingat rasa sakit di perutnya yang membawanya memasuki ruang operasi. Setelah nya ia tidak bisa mengingat apa-apa, pandangannya saat itu mendadak gelap dan tiba-tiba saja ia terbangun di kamar luas dan bersih ini.
Maya sedikit meringis ketika mencoba menggerakkan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa perutnya saat ini sudah rata. Tidak sebuncit ketika ia masih hamil.
"Ma.... Mama...." erang Maya memanggil Anita yang tengah duduk membelakanginya dan sibuk dengan layar ponsel miliknya.
"Sayang..... kamu udah sadar?"
"Anak Maya mana Ma? Mereka selamat kan, Ma?" Tanya Maya panik.
"Kamu tenang dulu, sayang...."
Anita mencoba menenangkan menantunya. Dan menyuruh Maya untuk kembali berbaring tenang.
"Si kembar udah lahir dan selamat...."
Maya tersenyum lega.
"Alhamdulillah...." ucap Maya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"May pengen liat mereka, Ma."
"Iya sabar, suster bilang kalo si kembar akan dibawa kesini untuk kamu susu-i."
Tetap saja jawaban Anita membuat Maya tidak bisa tenang. Sungguh, Maya ingin sekali memeluk kedua anaknya dan tak sabar untuk menciumi pipi gembul mereka.
"Lihat.... ini foto cucu Mama...." Anita menunjukkan layar ponselnya ke arah Maya.
Netra perempuan itu seketika meredup, memandang foto kedua bayi mungilnya. Seandainya saja Sam ada di sini....
Sam.....
Maya baru tersadar akan keberadaan suaminya itu.
"Ma....."
"Iya, sayang?" Anita mengalihkan pandangannya ke arah Maya.
"Sam....."
Anita kini terlihat sedikit gugup. Apa yang harus aku katakan pada Maya? batin nya.
"Sam kemana Ma? Aku pengen ketemu dia. Dia udah tau kalo anak dia udah lahir?" tanya Maya.
"Eee... eemm-Sam---"
Anita menjeda ucapannya.
"Sam kenapa Ma? Dia udah tau kan kalo May lahiran? May kangen sama Sam...." cicit Maya dengan derai air mata yang mengalir keluar.
Harusnya ini adalah hari bahagianya bersama Samuel. Harusnya suaminya ada di sampingnya saat ini, berada di dekatnya dan memberi pelukan hangatnya.
"Ma....?"
Suara Maya membuyarkan lamunan Anita.
"Oh-em iya Sam pasti akan datang sayang. Tapi saat ini dia sedang sibuk."
Anita mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Nampak raut sedih dan kecewa Maya.
Apa Sam sesibuk itu hingga gak sempat menemani aku? batin Maya.
"Sam masih marah ya sama May?" cicit Maya yang hampir saja menangis.
"Enggak kok, Sam gak marah sama kamu May. Hanya saja...." Anita kembali menggantung kalimatnya.
"May pengen ketemu Sam...."
"Iya nanti pasti kalian bertemu, sekarang kamu fokus aja sama pemulihan kesehatan kamu dan fokus sama anak kalian, okey?"
Maya masih mematung dengan ekspresi yang begitu kehilangan.
Anita mengelus puncak kepala Maya. "Sebentar lagi Samudra dan Mama kamu datang, kamu pengen Mama ambilkan sesuatu?" Lanjut Anita.
Maya hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari Anita.
Dia terlihat begitu terpukul akan ketidakhadiran Samuel saat ini.
**
"Mommy....." teriak Samudra beberapa jam kemudian.
Maya yang saat ini berbaring dengan mata memejam, spontan saja terbangun dan terseyum ke arah bocah laki-laki yang mulai beranjak besar.
"Am...." ucap Maya yang berusaha bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Am sama siapa?" tanya Maya yang langsung saja mencium kening bocah itu.
"Am sama Eyang Uti," jawab bocah itu lucu.
"Oh-trus sekarang Eyang Uti mana?"
"Eyang lagi bicara sama Oma di luar."
Samudra kini terlihat mengelus-elus lengan Maya yang masih terpasang infus.
"Am pengen liat dedek baby nya Am...." rengek Samudra.
"Iya, nanti ya sayang, dedek nya masih bobok."
"Bobok di mana? Kok gak bobok sama Mommy?"
Maya terlihat tersenyum dan mengelus puncak kepala Samudra.
"Dedek baby nya kan punya ruangan sendiri Am," ucap Maya.
"Nanti dedek baby nya pasti dibawa suster ke sini. Am tunggu aja ya."
Samudra mengangguk, lalu terlihat memijit kaki Maya.
"Mommy capek? Am pijitin?"
Senyuman kecil Maya pun mengembang. "Gak usah sayang, Mommy gak capek kok."
Ia meraih lengan Samudra untuk lebih mendekat lagi ke arah nya.
"Sini.... Am bobok sini ya di samping Mommy...."
"Am...."
"Iya Mommy?"
"Kabar Daddy gimana?"
Samudra kali ini menggeleng pelan dan mengedikkan bahu kecilnya.
"Am gak tau..."
Maya menarik ujung alisnya heran ketika mendengar jawaban polos Samudra.
"Kok gitu?" tanya Maya heran.
"Daddy gak pulang ke rumah." Samudra menjawab dengan polos.
"Aa-apa.... maksud Am?"
Maya kini ber-ekspresi terkejut.
"Iya Mommy.... Am belum ketemu Daddy.... kata bibik Daddy ada urusan."
Maya mematung, menatap kosong langit-langit kamar rawat VVIP itu.
"Mommy..... kenapa nangis?" Samudra memandang heran ke arah Maya ketika bocah itu melihat cairan bening mengalir keluar dari sudut mata perempuan itu.
Dengan cepat Maya mengusap kasar air mata yang seolah enggan berhenti keluar. "Mommy gak nangis kok..." ucap Maya sembari terus mengusap kedua pipinya.
"Itu ada air keluar dari mata Mommy...."
"Eh-eemm-Mommy hanya kelilipan, Am...."
Maya berusaha tersenyum ke arah Samudra, untuk menghilangkan kegugupannya.
Spontan ia pun merengkuh tubuh mungil itu untuk ia peluk erat.
Bayangan Samuel terus saja mengganggu pikirannya. Kenapa suaminya itu tidak pulang ke rumah? Apakah Sam se-marah itu terhadapnya? Sehingga ia tega untuk tidak pulang ke rumahnya sendiri? Rumah mereka berdua?
Segala pikiran buruk Maya kini melontarkan berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
Ceklek.....!
Knop pintu kamar rawatnya tiba-tiba terbuka dari luar. Maya dengan cepat menoleh ke arah pintu, berharap jika itu adalah Samuel.
Namun apa yang menjadi harapan Maya ternyata salah.
Ia melihat Siska, sang mama yang memasuki ruangan. Maya menyambutnya dengan senyum dan tangis haru.
"Ma....."
Siska mendekat dan langsung memberikan pelukan hangatnya.
"Selamat ya sayang, kamu udah jadi ibu sekarang," ucap Siska sembari membelai lembut anak rambut Maya yang menjuntai menutup sebagian wajah perempuan itu.
Maya mengangguk pelan merespon. Harusnya kebahagiaan ini bertambah lagi dengan kehadiran Samuel.
"Tapi Samuel...."
"Maya.... yang terpenting saat ini kesehatan kamu dan juga kedua anak kamu."
Siska kembali mengusap lembut puncak kepala anaknya.
"Jadilah wanita yang kuat demi anak-anak kalian, sayang."
"Iya Ma," angguk Maya dan kembali memeluk sang mama erat.
Siska memandangi Maya dengan sorot mata bangga dan juga sedih. Sebelumnya ia sudah diberitahu Anita soal kesalahpahaman antara Samuel dan juga Maya.
Anita juga memberitahukan kecelakaan yang Samuel alami saat ini.
Wanita itu bisa merasakan bagaimana sedihnya Maya ketika Samuel tidak mendampingi di moment bahagia saat ini.
Dan fakta jika mereka harus merahasiakan keadaan Samuel pada Maya, juga membuat Siska merasa iba terhadap keadaan putri semata wayangnya saat ini.
Tok....tok....tok....
Pintu ruangan VVIP itu pun kembali terbuka perlahan.
Hingga memunculkan sosok dua orang suster yang masing-masing menggendong bayi mungil dan mendekat ke arah Maya.
"Ini dia si kembar, Nyonya...." ucap salah satu suster tadi.
Kedua suster muda itu pun mendekat ke arah Maya dan menyodorkan perlahan salah satu bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan.
Maya menerima sang bayi mungil itu dari tangan suster.
Air mata pun mengalir dengan tanpa permisi dan membasahi kedua pipi chubbynya.
"Hello baby...." cicit Maya haru.
Bayi mungil itu pun menggeliat dalam pelukan Maya, seolah tahu jika saat itu ia bertemu dengan ibunya.
Wajah Maya terlihat berseri memandangi bayi perempuan mungil dengan hidung mancung dan bibir yang terlihat merah merona.
Mirip Samuel, batin Maya. Ia pun menyungingkan senyum kecilnya.
"Silahkan jika Nyonya ingin menyusui bayi Anda."
Maya mengangguk merespon, ia pun lalu membawa bayi mungil itu ke posisi wajah yang menghadap pay*udara kanannya.
Lalu dengan lahap sang bayi mungil itu menyesap cairan yang keluar dari pay*udara Maya.
Sementara itu Siska menerima bayi yang satunya lagi dari gendongan suster.
Sungguh bayi yang pintar, mereka bahkan tidak sedikit pun terdengar menangis ketika berada dekat dengan ibunya.
"Hey dedek baby..... ini kakak Am...." ucap Samudra sembari mengelus-elus dan mencium pelan pipi bayi perempuan yang berada dalam dekapan Maya.
Samudra pun perlahan beranjak turun dari ranjang dan terlihat mendekat ke arah Siska.
Dia pun mencium pipi bayi laki-laki yang berada dalam gendongan Siska.
"Am jadi kakak yang baik ya buat dedek bayi?" ucap Siska.
Samudra terlihat mengangguk pelan. "Iya Eyang.... Am akan jaga baik-baik dedeknya Am."
Maya pun masih memperhatikan baik-baik wajah putri kecilnya, hidung mancung, rambut bergelombang serta bibir yang selalu berwarna merah merona seperti milik Samuel.
"You are my litle Sam, honey...." bisik Maya lembut.
Bayi perempuan itu pun sekilas terlihat tersenyum begitu mendengar bisikan sang ibu.
Kemudian bayi perempuan itu pun kembali menggeliat pelan dalam dekapan Maya dan terlihat menyesap rakus air su-su ibunya.
to be continue....