MySam

MySam
Buntut Masalah



"Maafkan aku, May. Tadi Freya memaksa dan aku pikir...."


"Sam.... Aku percaya sama kamu kok." Maya memotong ucapan Sam, meraih jemari Samuel dan menggenggamnya erat.


"Setelah apa yang kita alami. Aku percaya sama kamu, sama cinta kita." Maya melanjutkan kalimatnya, memandang lekat wajah pria yang saat ini juga menatap parasnya lembut.


"Syukurlah, sayang. Aku kira kamu marah tadi." Senyuman lega tertarik dari sudut bibir Samuel. Memandang lembut Maya, lalu sedetik kemudian perhatian Sam tertuju pada kotak makanan yang ada di atas nakas.


"Kamu bawa apa, sayang? Aku laper," rajuk Samuel.


Maya mendekat ke arah nakas dan mengeluarkan kotak makanan dari dalam paperbag berwarna hijau mint.


"Aku tadi bikin bubur ayam buat kamu. Kamu mau makan sekarang?"


Sam mengangguk dengan cepat, tersenyum merajuk.


"Suapin ya, sayang..." rajuk Sam manja.


Maya menarik senyuman tipis, membuka tutup kotak makanan dan mengarahkan satu suapan ke mulut Sam.


.....


Setelahnya Maya merapikan kembali kotak makanan, mencucinya lalu kembali memasukkan ke dalam paperbag. Berjalan ke arah Sam yang kini duduk di atas sofa dan sibuk berkutat dengan layar laptop tipisnya.


"Sam...." ucap Maya, menjeda sebentar ucapannya lalu ikut duduk di samping Sam.


"Apa, sayang?"


"Menurutmu, apa aku harus resign


dari kantor property?"


Samuel kini mengabaikan layar laptop, mengalihkan perhatiannya ke arah Maya kini.


"Terserah kamu, May. Kalau menurut aku sih kamu lebih baik keluar aja dari sana." Sam melepas kaca mata bacanya. Meraih jemari Maya, mencoba menenangkan gadis itu.


"Gimana kalau kamu kembali bekerja di perusahaan Advertising milikku? Lagipula kalau kamu di sana, kita gak harus pisah kantor lagi kan?" usul Sam.


"Emang gak apa-apa? gimana sama omongan orang nanti, yang mengira aku memanfaatkan kamu untuk kepentinganku?"


Samuel tertawa kecil mendengar pertanyaan Maya, lebih mendekatkan lagi posisinya ke arah Maya. "Aku udah bilang berapa kali, kamu gak usah pikirin omongan orang lain. Lagi pula sebentar lagi kamu akan jadi nyonya Samuel, bukan?" tanya Sam, melirik ke arah Maya dengan tatapan menggoda.


"Dan sah saja jika seorang nyonya Samuel menikmati segala yang suaminya miliki." Sam melanjutkan ucapannya. Mengacak-acak puncak kepala Maya, membuat Maya sedikit tertawa dan mengerucutkan bibirnya lucu.


.....


Beberapa hari setelah kejadian perkelahian dia dengan Sam, Elano akhirnya kembali masuk ke kantor. Melihat ruangan Maya yang nampak kosong, terlihat beberapa hari tidak berpenghuni. Elano kini memasuki ruang kerja Maya. Mejanya masih tertata rapi, semua peralatan tulis nya tersusun rapi sesuai dengan kepribadian gadis itu yang selalu perfect.


Perhatian El kini tertuju pada sebuah bingkai foto kecil di atas meja kerja Maya. Sebuah foto Maya dan Sam. Mereka tertawa bersama dan kedua lengan mereka saling berpeluk.


Dara El mendidih, sorot matanya kini menajam. Meraih foto tersebut lalu membantingnya ke lantai dengan keras. Membuat kaca bingkai itu hancur berkeping dan berserakan di atas lantai.


Elano bahkan kini masih menyimpan foto-foto masa lalu mereka dulu. Dahulu dia dan Maya juga memiliki kenangan.


Kenapa Maya? Kenapa kamu sudah benar-benar melupakan semua kenangan kita dulu? batin Elano.


Elano menyesal pernah membiarkan Freya memasuki kehidupannya saat tinggal di Melbourne.


Brengsek....! umpat El.


Elano menutup kasar pintu ruangan Maya, membuat suara gemuruh yang dihasilkan, mengagetkan seluruh karyawan yang lain.


Elano menjatuhkan dirinya ke atas sofa di ruang kerjanya. Menenggelamkan kepala yang serasa berat pada sandaran sofa.


Tok...tok...tok...


Suara pintu terdengar diketuk seseorang dari luar.


"Maaf pak, ada dua orang petugas dari kepolisian yang meminta izin untuk bertemu," ucap Cindy sekretaris pribadi El. Elano membolakan matanya, cepat-cepat bangun dan berdiri kaget.


"Bagaimana pak? Saya suruh masuk atau..."


"Suruh mereka masuk," sela Elano.


Cindy mengangguk sopan begitu mendengar apa yang menjadi perintah sang pimpinan perusahaan. Tak lama kemudian gadis cantik itu keluar dari ruang kerja Elano.


"Selamat pagi. Kami dari kepolisian mengharapkan kehadiran saudara di kantor polisi hari ini." Dua orang dengan jaket kulit hitam dan berbadan tegap kini memasuki ruangan Elano setelah mendapatkan izin.


"Ada kepentingan apa saya diminta ke kantor polisi?"


"Kami mendapat laporan jika anda saudara Elano Wijaya telah melakukan tindak penyerangan dan kekerasan terhadap saudara Samuel Perdana dan juga saudari Maya Aulia." Jawab salah satu orang berbadan tegap tadi.


"Oh masalah itu. Saya sudah serahkan semuanya ke pengacara saya."


"Tolong anda tetap ikut kami untuk kami mintai keterangan." salah satu dari petugas tersebut tetap memaksa El untuk ikut bersama mereka.


Elano mendecih kesal, wajahnya merah padam menahan emosinya. Namun pria itu tidak bisa mengelak, terpaksa ia harus bersikap kooperatif dengan petugas kepolisian itu.


"Baiklah, tapi tolong izinkan saya untuk menelepon pengacara saya." Elano mencoba mengulur waktu.


"Anda bisa melakukannya di kantor kami nanti. Tolong kooperatif lah dengan kami." Jawab petugas tadi dengan sangat tegas.


Elano menyerah, mengukuti langkah kedua petugas tadi keluar dari ruang kerjanya. Berjalan melewati seluruh koridor kantor membuat semua mata karyawan di kantor itu fokus menatap El dengan ekspresi penuh pertanyaan.


.....


Freya memandang kepergian Elano dari perusahaan Wijaya Property. Dari dalam mobilnya Freya bisa melihat dengan jelas Elano didampingi oleh dua orang laki-laki tegap lengkap dengan jaket kulit hitam dan sepatu boot yang juga berwarna senada.


Elano sama siapa itu? Jangan-jangan mereka berdua polisi? batin Freya. Perlahan gadis itu melepas kaca mata Gucci yang bertengger pada hidung mancungnya. Meletakkan kaca mata bermerk itu diantara rambut ikal bergelombang kemerahan.


Freya kembali melajukan mobil merah menyalanya. Meninggalkan halaman parkir Wijaya Property.


Sedan merah Freya mencoba mengikuti arah mobil Pajero hitam yang berpenumpang Elano dan kedua orang laki-laki tadi. Dan tidak salah lagi, setelah beberapa menit ia mengikuti kendaraan tersebut, benar saja mereka memasuki kantor kepolisian di daerah tersebut. Freya kini terlihat melakukan sebuah panggilan di ponsel pintarnya.


.....


"Saya tidak bersalah, Pak." Elano membela diri.


"Semua bukti-bukti sudah ada dan juga banyak saksi mata yang melihat kejadian di malam itu." Jawab penyidik kepolisian.


"Dia tiba-tiba saja datang dan memukul saya duluan, Pak. Apa saya tidak boleh membela diri?"


"Yang Anda lakukan bukanlah pembelaan diri, saudara Elano. Anda telah menikam seseorang dari belakang dan banyak saksi mata dan juga rekaman cctv di tempat itu." Penyidik menghentikan sejenak ucapannya.


"Kami juga mendapat laporan jika Anda juga berusaha merenggut kehormatan saudari Maya Aulia," lanjut penyidik itu lagi.


Membuat Elano tak berkutik. Hingga datang seorang pria tampan berpenampilan rapi memasuki ruang penyidik dan didampingi salah satu petugas kepolisian.


"Maaf saya pengacara Andrian, tolong beri sedikit waktu untuk saya berbicara sejenak dengan tuan Elano Wijaya," pinta pengacara itu sopan.


Kedua petugas itu mengangguk dan memberikan sedikit waktu untuk mereka. Meninggalkan Elano dan Adrian berdua di ruang penyidik. Kini ekspresi ketus Elano tercipta. "Pokoknya saya tidak mau tau, masalah ini harus clear dan nama saya harus kembali bersih," ketus Elano.


"Dan Anda harus jujur kepada saya tentang semuanya." Adrian menjawab tegas ucapan Elano. Pengacara muda itu tidak mau gegabah dalam menyelesaikan kasus kliennya.


"Pengacara Adrian, apa tidak bisa semuanya di selesaikan dengan uang, hah?!" tanya El kini, berdiri dari kursi dan sedikit membantingnya.


"Anda tenang saja, semuanya akan saya urus sebaik-baiknya." Adrian menjawab tegas pertanyaan Elano. Menatap lekat mata El dengan penuh percaya diri.


"Oke, kamu atur saja Adrian," desis Elano.


to be continue.....


"