MySam

MySam
Melanjutkan Kisah Kita....



Di cafe, Maya terlihat duduk di salah satu kursi, menikmati es cream strowbery favoritnya sembari terus memandang ke arah tanaman gantung yang berwarna hijau pekat, tepat di hadapannya saat ini.


Pikiran Maya menerawang jauh, ini adalah tempat duduk favorit Samuel jika pria itu berkunjung ke cafe miliknya, Sam biasa menghabiskan waktu makan siangnya di sudut ruangan ini. Dan dia selalu dengan senang hati menemani suaminya meski hanya sekedar duduk mengamati Samuel yang tengah asik memakan makanan buatannya.


Siang ini Sam tidak lagi berada di sana, hingga pikiran Maya kembali menerawang, menebak-nebak apakah suaminya itu sudah makan siang, hari ini? Siapa yang menemani Sam makan siang? Apakah Bayu? Ah jika benar Bayu, Maya merasa sedikit lega. Karena setidaknya tidak akan pernah ada gadis lain di kantor Samuel yang berani mendekati CEO itu termasuk Freya.


Sam memang bisa dibilang pria yang jutek terhadap gadis mana pun, namun sebenarnya Sam juga mempunyai kelemahan yang selalu bisa dimanfaatkan oleh gadis lain. Pria itu terlalu baik dan tidak gampang menaruh kecurigaan terhadap semua akal licik orang lain. Dan jika ada Bayu disamping Sam, setidaknya Bayu bisa bersikap lebih tegas terhadap klien wanita mereka atau jajaran direksi wanita yang mencoba mendekati Samuel, terlebih lagi Freya.


Ia merasa sangat merindukan Samuel.


Apakah aku harus menelepon dia? batin Maya gelisah. Tak butuh waktu lama, Maya akhirnya meraih ponsel pipihnya yang tergeletak tak jauh dari posisi tangannya dan melakukan panggilan disana.


Baru saja Maya menekan fast dial angka satu, tiba-tiba saja sosok atletis Samuel sudah berdiri di belakangnya dan mendaratkan ciuman mesra di puncak kepala Maya.


"Hey, honey...." ucap Sam lembut. Kini ia beralih memposisikan tubuhnya tepat di hadapan istrinya.


"Sam..... k-amu__"


"I miss you, honey," ucap Sam lagi. Ia memandang lekat wajah Maya sembari menangkup kedua pipi chubby yang selalu membuatnya gemas ingin selalu mencubit dan menciuminya berkali-kali.


"Maafkan ucapanku pagi tadi, sayang. Aku gak bermaksud jahat ke kamu," ucap Samuel lagi, bola matanya berkaca-kaca memandangi istri tercintanya.


"Aku juga minta maaf, suami.... A-ku.... A-kuu mohon kamu mengerti apa yang aku rasakan saat ini, hiks.... hiks...." isak Maya tanpa bisa lagi membendung air mata yang tumpah begitu saja dari semua sudut matanya.


"Sayang.... jangan nangis lagi, sudah cukup aku membuat kamu nangis dan aku gak mau bikin kamu nangis lagi, please...." Sam begitu saja meraih tubuh Maya dan membawa ke dalam pelukan hangat kedua lengan kekarnya.


"We started again from the beginning, okey darling?" ucap Samuel disela-sela pelukannya.


Maya dengan cepat menggeleng pelan, menjauhkan sejenak tubuhnya dari pelukan Samuel.


"Aku gak mau memulai lagi dari awal, sayang. Aku maunya kita lanjutkan pernikahan kita, i love you, my husband..." jawab Maya dengan senyuman mengembang di sudut bibir peachnya.


"Iya kamu benar, kita lanjutkan kembali kisah kita."


Samuel dengan cepat mendaratkan ciumannya di bibir Maya, sesekali ia melakukan pergerakan di bibir peach yang selalu berasa manis dan membuatnya candu. Beberapa kali, Sam membuat gigitan kecil di bibir istrinya dengan kedua tangan mengelus-elus lembut punggung Maya yang kali itu hanya berlapis gaun berbahan chifon.


Setelah beberapa menit bibir keduanya menyatu, Sam perlahan melepas pagutan bibirnya, kembali memandang lekat wajah cantik istrinya. Ia tidak ingin kehilangan setiap moment kebersamaan keduanya. Sam bahkan berharap momentum indah mereka akan selalu tercipta tiap harinya.


"Kamu lapar, suami? Aku buatin makanan ya?" tawar Maya.


Suami? beberapa hari ini Sam jarang mendengar Maya menyebutnya seperti itu lagi, dan kali ini ketika Maya kembali memanggilnya dengan sebutan 'Suami' sungguh membuat Samuel bahagia.


"Aku bantuin?"


"Gak perlu, kamu duduk manis aja disini dan tunggu aku..." Maya berdiri dan sedikit membungkuk, mencondongkan wajahnya ke arah Sam dan mencium kembali ujung bibir tebal Samuel. "I love you my Sam..." bisik Maya lembut tepat di telinga Samuel.


Setelahnya Maya terlihat berjalan ke arah pantry, memunggungi Samuel yang masih duduk memandangi kepergian sementara istrinya.


Senyuman lega Samuel tercipta di bibir tebalnya. Dia lega, kini jarak antara dirinya dengan Maya akhirnya dapat ia pangkas. Apapun yang terjadi, Sam tetap mencintai Maya. Meski kejadian terburuk sekalipun.


❤❤


"Dasar bo_doh...! I*di*ot...! Diberi tugas mudah begitu saja kalian bisa gagal!"


"Maaf bos, tapi kami yakin perempuan itu tergeletak tak bergerak di jalanan! Kami dengar kabar jika dia keguguran," jawab salah satu pria bertubuh kekar dengan jenggot dan cambang tebal memenuhi dagu bulatnya.


"Yang gue mau, perempuan itu mampus, ban*sat!! Percuma gue bayar kalian mahal jika kerja kalian gak beres!"


"Ma-af bos.... kami janji lain kali kami tidak akan gagal lagi," jawab pria yang satunya lagi, kali ini pria itu terlihat lebih kekar dan sangar jika dibanding dengan pria yang satunya tadi.


"Tapi bayaran kami beres kan bos?" tanya pria sangar itu lagi.


"Kalian kalo masalah cuan aja paling gercep, masalah kerjaan gak ada yang beres. Sial*an....!" bentak orang yang mereka panggil 'Bos'.


"Bayaran kalian gue transfer ke rekening kalian. Tapi ingat...."


Kedua pria kekar itu tersenyum girang, lalu bersikap mendengar apa yang akan menjadi perintah sang 'Bos' lagi.


"Untuk yang kedua kalinya nanti, gue gak mau dengar kata gagal lagi. Kalian mengerti, hah?!"


"Sekarang pergi dari hadapan gue...! cepat...!!" bentak dari bos kedua preman itu lagi. Membuat kedua preman bertubuh kekar itu hanya mengangguk nurut dan keluar dari ruangan tersebut.


Menyisakan sang bos sendirian dengan ekspresi wajah kakunya. "Sial...!! Liat aja gue akan bikin perhitungan sama kalian....!!" geramnya sembari mengepalkan tangannya erat.


....


Maya kini duduk di kursi kayu di hadapan Samuel dengan meja bundar sebagai pembatas keduanya. Menikmati martabak manis yang Sam belikan dalam perjalanan tadi sebelum mereka duduk di taman kota pagi ini. Sebelum Samuel ke kantor, keduanya bermaksud hendak menghabiskan waktu sebentar untuk sekedar mengenang memori masa silam. Sam beruntung di waktu sepagi itu penjual martabak manis langganan Sam bersedia untuk membuatkan khusus untuk mereka. Tentu saja sebelumnya Sam sudah memesan lewat chat singkat.


Tiga potong martabak manis sudah Maya habiskan dengan rasa cokelat keju yang Samuel belikan sembari mengamati Sam yang tengah duduk di hadapannya sambil menyesap satu cup latte hangat.


"Kamu gak mo ngicipin martabak manis nya, Sam?"


Sam menggeleng. "Buat kamu aja, sayang. Bukankah itu cemilan favorit kamu? Lagian aku beliin nya buat kamu kok," jawab Sam sambil menatap lekat wajah istrinya yang setiap hari terlihat selalu menawan.


"Gak nyesel ntar gak kebagian?"


Sam kembali menggeleng dan tersenyum tipis. "Gak, honey.... makan aja, habiskan." Sam terkekeh melihat ekspresi istrinya yang begitu lahapnya menggigit kue manis bertabur banyak cokelat dan keju parut.


Mirip ketika gadis itu sedang ngidam kemarin, Maya begitu banyak makan dan Samuel selalu menyukai hal tersebut.


Hingga mulut Maya penuh dengan belepot cokelat di bibir tipis Maya. Sam mengusap pelan lelehan cokelat yang menempel di seluruh permukaan bibir Maya.


Mirip seperti anak kecil, batin Sam geli.


"Kemarin aku ketemu Samudra di taman, dia sendirian di taman sini," cerita Maya dengan mulut yang masih penuh dengan martabak manis dalam mulutnya.


"Kok bisa sih sayang? Si Am sendirian di taman?" tanya Samuel bingung.


"Heemm.... suster nya yang teledor. Jadi ia sibuk main ponsel sehingga gak nyadar waktu Samudra berjalan sendirian keliling taman." Maya kembali menjelaskan.


"Sam....."


"Heemm....?"


"A-ku.... eehh..... aa-kk-u...." ucap Maya ragu-ragu.


"Apa sih sayang?" Sam mengernyit heran.


"Gak jadi, gak penting juga."


"Oh ya udah...." respon Samuel yang terlihat seolah tidak peka. Maya kembali mendengus kesal.


"Sam.... ka-m-u gak___"


"Udah siang nih, aku antar kamu ke cafe dulu atau kamu mau ikut aku ke kantor?" Belum sempat Maya melanjutkan ucapannya, Sam keburu memotong pembicaraannya.


"Aku mau ke cafe aja...." cicit Maya sedikit jutek.


"Kamu marah?"tanya Samuel begitu melihat perubahan wajah istrinya.


"Kenapa kamu gak maksa aku buat ikut kamu ke kantor kamu sih?" cemberut Maya.


"Kan aku udah nawarin, dan kamu sendiri yang bilang mau ke cafe."


"Hiks.... jahat, kenapa kamu gak nyoba maksa aku buat ngikut kamu ke kantor?"


Samuel dibuat bingung dengan sikap Maya. "Oke-oke sekarang kamu maunya gimana? ke cafe atau ke ikut aku ke kantor, hhmm?"


"Tau ah, kamu nanya gitu bukan dari hati kamu kan? Biar apa coba kalo aku gak ke kantor kamu? Supaya bisa deket sama Freya? Kamu kasian melihat dia yang hamil tanpa suami? Atau karena ada cewe lain di kantor? Klien kamu atau...."


Samuel mengusap wajahnya frustasi. "Oke cukup...! Kamu ikut aku ke kantor, sekarang...!" Ucap Samuel akhirnya, dengan tergesa Sam menggandeng lengan Maya dan pergi begitu saja dari kursi taman pagi itu.


Samuel menghembuskan napas panjang, namun dengan cepat Samuel mencoba menata emosinya lagi. Perubahan mood Maya saat ini membuat Samuel kalang kabut. C'mon Sam, jangan bertindak bodoh lagi sama istri lo....


Batinnya dalam hati.


To be continue....