MySam

MySam
Bayangan



"Lebih cepat lagi, please.... oh yeaahh... like that's --- aahh--- uuhh--- come on baby--- God damn---aahh-argghhh-ooohh-- come on Maya, honey---"


"Aarrgghh--- ahhh---yeahh--- do it more fast--- uuuhh--- ohh Maya--- i love you....!"


Dean semakin meracau tanpa sadar. Ia menggerakkan pinggul ramping seorang gadis yang saat ini berada di atas tubuhnya.


Tangan Dean terlihat beberapa kali meremas dua bukit kembar ra-num yang bergerak naik turun tepat di depan matanya.


Sangat pas berada di genggaman telapak tangan kekar Dean.


Karena pengaruh beberapa gelas martini malam ini, membuat Dean begitu saja menarik tubuh salah satu model cantik selepas peragaan busana di Jakarta Fashion Week.


Dean membawa model terkenal itu ke sebuah privat room yang biasa Dean sewa setiap dia menonton peragaan busana kelas atas berlangsung.


Dan hasilnya, Dean begitu menikmati percintaan itu, namun apa yang ada dalam benak Dean sungguh lah diluar kendalinya. Dean berhalusinasi jika perempuan itu adalah Maya.


"Ohh yesss--- good girl--- yeaahh---huuuhhhh-- haaahhh----" erang Dean setelah mereka sama-sama melakukan pelepasannya.


Kini perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Dean, sembari memeluk pinggang pria yang kini terkulai lemas di sampingnya.


"Kamu puas, baby?"


Dean mengangguk samar, ia masih memejamkan kedua matanya dengan tubuh lengket yang bersimbuh peluh dan pej*h milik perempuan cantiknya itu.


"Tapi kenapa malam ini kamu selalu memanggil aku Maya, hm? Siapa dia?" tanyanya yang kali ini memposisikan tubuhnya miring menghadap Dean, dengan satu lengannya sebagai tumpuan.


"Really? Do i say that name?" tanya Dean heran. Kedua alisnya pun kini terangkat, netranya menyipit heran dengan apa yang baru saja diucapkan oleh wanita tadi.


"Of course you do. You said oh Maya--- come on baby---" Perempuan itu menirukan apa yang Dean ucapkan selama penyatuan mereka.


Dean terdiam. Merenung sendiri kenapa bisa ada nama dan wajah Maya yang selalu menguasai pikirannya sekarang, bahkan ketika dia sedang bercinta dengan wanita lain.


"Forget it, kamu tau kan jika hubungan kita hanya hubungan satu malam." Dean berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"I know.... dan aku gak peduli siapa perempuan yang kamu sebut-sebut saat kita bercinta tadi," jawab perempuan cantik dengan surai panjang kecoklatan yang kini masih berbaring memeluk tubuh Dean.


"And i will satisfy you tonight." Perempuan bertubuh indah yang tanpa sehelai benang itupun kini kembali memainkan cumbuan nya ke tubuh Dean.


"Kamu mau melakukannya lagi untuk ronde kedua, sayang?" Jemari lentik berwarna merah mengkilat perempuan itu kini menyisir wajah dan semakin turun ke dada kekar berotot milik Dean, hingga semakin lama kini semakin turun di antara kedua pangkal pa-ha Dean.


Jemari sang model cantik itu kini bergerak semakin liar, berusaha memuaskan kembali gairah Dean malam itu.


Namun anehnya, kini pria bertubuh kekar dengan tatto yang menempel pada lenggan dan punggung berotot itu nampak mulai tidak begitu menyukai apa yang teman kencannya itu lakukan.


Perlahan Dean menepis tangan yang kini semakin bergerak liar.


"Stop it, please...."


Dean bangkit dari tidurnya, lalu meraih kemeja serta celana formalnya yang tercecer begitu saja di lantai kamar.


"I have to go...." ujar Dean singkat.


Kini kemeja putih serta blazer Armani hitamnya menempel sempurna di tubuhnya.


"Why? Kenapa sayang? Biasanya kamu menyukai sentuhan-sentuhanku." Gadis itu kembali menggelayut manja, mencoba menahan kepergian Dean.


"Aku masih banyak urusan."


Dean kembali menepis tangan perempuan cantiknya malam ini.


"Aku transfer ke rekening kamu malam ini juga, so.... don't worry."


Dean kembali merapikan dirinya, mematut dirinya di depan cermin sembari mengeratkan kembali dasi yang kini telah melingkar rapi di lehernya.


Dean kini melirik ke arah wanita yang masih menutup tubuh polosnya hanya dengan selimut tebal. Ia pun membuang napas berat.


Apakah yang dia katakan itu benar? Kenapa dengan gue sekarang? Apa gara-gara Maya? Oh damn...


Batin Dean.


"Dean honey...."


Suara itu mengagetkan lamunannya.


"What?"


"Sikap kamu berubah gini apa karena perempuan bernama Maya tadi?"


Sekilas Dean menyeringai kecil.


"Of course not," elak Dean.


"Jangan bohong Dean, kita udah beberapa kali tidur bareng dan meskipun hubungan kita hanya sebatas one night love...." perempuan itu menjeda kalimatnya.


"Tapi aku mengenal kamu Dean. Kamu gak pernah seperti malam ini sebelumnya. Sejak ada nama Maya saat kita bercinta."


Kembali Dean menyeringai kecil, namun beberapa detik kemudian wajahnya kini berubah.


"Aku hanya sedang banyak kerjaan. Kamu jangan pernah berfikir macam-macam."


Dean kini meraih ponsel di atas nakas.


"Lagi pula kita tidak ada hubungan yang serius. Jadi jangan pernah menganggap malam ini ataupun malam-malam sebelumnya sebagai sesuatu yang serius." Dean melanjutkan.


"Dan jangan pernah bersikap sok peduli sama gue!" Dean kembali menegaskan hubungan yang ada diantara keduanya.


Tubuh kekar pria itu lalu melangkah mendekati pintu ruangan berkedap suara. Ia membuka knop pintu dan keluar begitu saja meninggalkan perempuan cantik itu.


Perempuan yang saat itu duduk di atas ranjang empuk, yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya.


....


Dean berjalan gontai dalam lorong-lorong ruang dengan lampu remang-remang.


Peragaan busana telah usai, hanya ada beberapa kru dan official yang tersisa di gedung itu.


Beberapa kru baik laki-laki dan perempuan hanya bisa mengangguk sopan ke arah Dean saat mereka berpapasan. Mereka seolah melihat Dean dengan rambut acak-acakan seperti malam ini adalah hal yang biasa.


Tentu saja mereka mengetahui kebiasaan Dean seusai menonton satu pertunjukan peragaan busana dengan model-model cantik papan atas.


Dan tidak ada satu orang pun yang berani ikut campur dengan urusan pria pemilik banyak perusahaan besar itu.


...


Dean menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah ke arah petugas valet parkir begitu BMW X1 berwarna hitam mengkilat berhenti tepat dihadapan Dean.


Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan depan pintu utama gedung.


Entah apa yang ada dalam pikiran Dean, namun malam ini dia benar-benar hilang arah ketika sosok teman kencannya yang tiba-tiba saja berubah menjadi wajah Maya, tengah berada di atas tubuhnya tadi.


Alam bawah sadar Dean kini seolah selalu melihat bayangan Maya.


"Sialan....!!" gumam Dean.


to be continue....