MySam

MySam
Pesan Terakhir Martha



Maya menyambut uluran tangan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan itu. Ia tersenyum sekilas kemudian mempersilahkan sang pengacara tersebut untuk duduk di salah satu kursi berwarna kuning emas yang sangat elegant.


"Maaf kalau boleh saya tahu, apa maksud Anda ingin berbicara empat mata dengan saya?" tanya Maya sedikit bingung, ia bahkan berekspresi sangat serius menunggu untuk menerima jawaban dari sang pengacara pribadi Harris dan juga Martha.


"Sebenarnya saya harus berbicara serius dengan Anda dan juga tuan Samuel."


"Samuel, suami saya. Tapi dia baru saja keluar sebentar, mungkin satu jam lagi dia akan kembali kesini."


"Kalau begitu jika Anda tidak keberatan, harap menunggu sebentar suami Anda dan juga perwakilan keluarga dari almarhum tuan Harris dan nyonya Martha."


"Tapi-- saya rasa keluarga dari nyonya Martha tidak dapat hadir kesini," ucap Maya.


"Baiklah, saya mengerti. Mungkin jika hanya ada keluarga tuan Harris dan suami Anda, saya rasa itu sudah cukup. Mengingat pesan terakhir almarhum dan almarhumah seperti itu."


Maya mengernyitkan dahi sejenak, mendengar perkataan sang pengacara tadi membuatnya semakin merasa heran. Pesan terakhir Martha dan Harris? Ia bahkan tidak mengetahui apapun perihal pesan yang akan disampaikan oleh pengacara tersebut.


"Baiklah." Angguk Maya perlahan.


"Anda mau minum hangat atau dingin?" tawarnya sopan.


"Dingin saja jika tidak merepotkan," jawab sang pengacara sembari melonggarkan sedikit dasi yang melilit rapi lehernya.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Maya mengangguk, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pantry rumah besar itu. Diikuti si bibik yang berjalan mengekor di belakang Maya.


"Bibik tau sesuatu soal ini?"


"Tau apa non?"


"Soal pesan terakhir Martha."


Si bibik menggeleng. "Bibik tidak tau apa-apa soal itu non."


"Oh--"


"Sini biar bibik saja yang bikin minumannya."


Si bibik bermaksud mengambil alih gelas dari tangan Maya dan menuangkan sirup raspberry ke dalam gelas kristal mewah itu.


"Tolong ya bik, makasih," ucap Maya begitu gelas kristal yang ia pegang tadi telah berpindah tangan ke tangan bibik.


"Iya non. Non Maya istirahat saja dulu di kamar nya tuan muda Samudra atau kamar tamu."


"Iya bik, aku boleh ya istirahat sebentar di kamar Samudra."


"Iya, non Maya istirahat saja dulu. Non tau kan kamarnya tuan muda?" tanya bibik.


Maya mengangguk perlahan sebagai responnya atas ucapan bibik barusan.


Satu menit kemudian Maya mengayunkan kakinya melangkah menaiki anak tangga melingkar dan menuju kamar Samudra di lantai atas. Biarlah para tamu yang masih berdatangan ke rumah duka disambut dulu oleh keluarga dari Harris dan juga keperluan hidangan biar bibik yang mengatur.


Tubuhnya saat ini benar-benar menginginkan istirahat sejenak. Pikiran dan hatinya masih berduka. Kepergian Martha yang sangat mendadak, membuatnya seolah berfikir jika saja itu terjadi padanya ataupun orang-orang yang ia cintai.


Ditambah lagi Samudra yang masih dalam keadaan koma, jika saja saat ini ia bisa berada di rumah sakit menemani anak itu.


Maya menghentikan langkahnya tepat di depan dua buah kamar yang terletak saling bersebelahan.


Iya kamar Marta dan Harris bersebelah dengan kamar si lucu Samudra. Perlahan Maya membuka kamar dengan pintu bertuliskan nama Samudra di badan pintu.


Bibirnya spontan melengkung, senyuman kecilnya tercipta begitu melihat pemandangan kamar yang cukup luas untuk ukuran kamar seorang bocah kecil berusia hampir enam tahun.


Warna kuning lemon dan abu-abu mendominasi kamar tersebut, beberapa gambar anime favorit Samudra menghias dinding dengan dominan warna kuning cerah itu dan juga almari kaca yang penuh dengan berbagai macam mainan lego, tertata rapi tanpa debu sedikit pun.


Samudra bahkan belum memasuki kembali kamarnya setelah dua bulan bocah itu meninggalkan Jakarta untuk pergi ke Milan bersamanya dan Samuel.


Maya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk berukuran delux itu, bed cover bergambar super hero idola Am, Spiderman masih terlihat sangat rapi tak tersentuh tangan.


Sangat nyaman-- Maya bahkan langsung bisa merasakan kedua netra hitamnya semakin terasa berat, hingga perlahan pun kedua matanya memejam.


...


"May--" suara lembut itu pun terdengar jelas kini di kedua telinga Maya. Entah kini ia berada di dunia antah berantah, hanya terdapat hamparan luas padang rumput yang menjulang dan meliuk tertiup angin.


"Maya--"


Suara itu lagi, mengalun lembut di telinga Maya dan anehnya disekeliling, ia tidak melihat orang lain selain dia yang berada di sana. Hanya ada hamparan luas padang rumput tak bertepi.


"Aku di sini May--" suara itu...


"Martha, kamu di mana?"


"Di belakang kamu, Maya."


Maya spontan menoleh ke belakang tubuhnya, melihat sosok gadis cantik bersurai panjang kemerahan dengan pakaian serba putih. Cahaya kemilau terlihat menerangi seluruh wajah dan tubuhnya.


"Martha-- kamu baik-baik aja kan?"


"Aku baik di sini May. Aku dan mas Harris sudah bahagia di sini."


"Tha-- maafkan aku jika aku ada salah sama kalian," isak Maya, netranya kini menatap lembut sosok Martha.


Gadis berpakaian serba putih itu pun mengangguk dan tersenyum ke arah Maya. "Kamu gak salah May, aku yang seharusnya berterima kasih ke kamu sudah menyayangi Samudra."


Saat itu Maya melihat gaun putih hingga ujung mata kaki milik Martha dengan sangat anggun tertiup angin, surai berwarna merah ketika terkena tempaan sinar mentari pun terlihat begitu memukau dan berkilauan.


"Tolong jaga Samudra untukku May. Sayangi dia seperti anak kamu sendiri."


"Kita bisa menyayangi dia bersama Tha."


"Tidak, Maya." Martha menggeleng pelan.


"Saat ini hanya kamu dan Sam yang bisa melakukannya untukku."


"Tapi Tha--"


"Please Maya, jaga Am untukku. Hanya kalian yang aku percaya."


"Baik Tha--- Aku pasti akan menjaga dia buat kalian." Ucap Maya lembut, hampir saja ia meraih dan mencoba merengkuh tubuh Martha. Namun tiba-tiba bayangan itu menghilang dengan cepat.


"Tha-- Martha-- Tha--" pekik Maya dalam tidurnya.


"Sayang, bangun--"


Sam mencoba menepuk-nepuk pipi istrinya, memegang bahu kecil Maya dan mengguncang-guncang perlahan.


"Hey-- bangun honey--" bisik Samuel perlahan.


Membuat Maya seketika tersentak dan terbangun dengan kepala yang sedikit berat.


"Sam--" cicit Maya sembari memegang pelipis kanannya yang terasa sedikit nyeri.


"Aku mimpi aneh," ucap Maya perlahan, wajahnya pun kini terlihat sedikit pucat.


"Itu hanya mimpi, sayang."


"Iya," angguk Maya. Ia kini memandang wajah suaminya yang kali itu terlihat lebih segar.


"Kamu udah lama datangnya?"


"Baru saja, tadi aku tanya ke bibik kamu dimana dan kata bibik, kamu istirahat di kamar Samudra."


"Hm, Aku tadi sedikit pusing."


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Samuel serius, kini pria itu pun menatap lekat wajah istrinya dan menempelkan telapak tangannya di atas kening Maya, mencoba memeriksa suhu tubuh gadis itu.


"Aku gak apa-apa, mungkin kelelahan."


"Sekarang kamu mandi, aku udah bawain kamu baju ganti." Sam mengulurkan paperbag berwarna merah maroon ke arah Maya dan disambut uluran tangan gadis itu untuk menerimanya.


Maya berdiri dari duduknya setelah meraih pemberian suaminya. Ia pun tiba-tiba menghentikan langkah kecilnya yang hendak menuju kamar mandi.


"Sam--"


"Hm?"


"Ada yang hendak dibicarakan oleh pengacara Martha dan Harris ke kita."


"Aku tau, kamu mandi dulu. Aku tunggu kamu disini."


Maya mengangguk perlahan. Ia pun memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar Samudra.


Sementara Samuel, kini mendudukkan dirinya di atas sofa yang ada di sudut ruang kamar Samudra. Memandang sekitar kamar besar itu lalu terlihat menghembuskan napas beratnya.


to be continue....