
"Iya---aku ini habis jemput Am terus balik lagi ke cafe___ hhmm aku sama Am ke cafenya___iya nanti aku masakin makanan kesukaan kamu___ bye mmuuaahh love you hati-hati di jalan--Assalamualaikum ..."
Klik!
Maya menutup sambungan teleponnya, kini ia kembali fokus dengan arus lalu lintas di depannya, sedan sport warna putih miliknya pun kini melaju stabil menembus hiruk pikuk lalu lintas Jakarta.
"Siapa tadi mommy?" tanya Samudra yang duduk di kursi penumpang samping Maya. Netra yang tadinya sibuk memandangi pemandangan ibu kota kini ia rotasikan kedua netra kebiruannya ke arah Maya.
Maya menoleh sebentar ke arah Samudra sembari tersenyum kecil.
"Daddy, sayang."
"Oh...." jawab Samudra singkat. Dan kembali kedua netra bening nya itu fokus ke arah luar jendela mobil.
Satu persatu benda yang melintas cepat seiring dengan laju kendaraan yang Maya kemudikan, membuat kepala Samudra terasa sedikit berdenyut.
Wajah pucat bocah itu pun terlihat jelas menghiasi muka putih bersih Samudra.
Hingga akhirnya Maya menghentikan laju kendaraan di parkiran cafe miliknya.
Sebelum keluar Maya melirik ke arah Samudra dan melepas seat-belt.
"Am mau es cream?" tanya Maya yang tidak menyadari betapa pucatnya wajah bocah itu.
Samudra menggeleng pelan. Ia lalu turun dari sedan mewah tersebut dan berjalan dengan menggandeng tangan Maya.
"Am capek, mommy...." ucapnya lemah.
"Oh ya udah, Am istirahat di ruangan mommy ya."
Hanya anggukan kecil dari Samudra yang meresponnya.
Maya berjalan bersama Samudra memasuki pintu utama cafe, melewati beberapa pengunjung dan hingga tiba-tiba kedua netra perempuan itu membola penuh.
Melihat Dean Sanjaya yang masih duduk di tempat yang tadi, dengan sebuah laptop tipis di hadapannya.
Ngapain dia masih disini? batin Maya heran.
Setelah membuang napas sejenak, Maya kembali melangkah bersama Samudra yang masih dalam gandengannya.
"Anda...??" ucap Maya begitu jarak keduanya semakin dekat.
"Saya baru saja bertemu dengan klien disini," jawab Dean seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Maya.
"Oh--" Maya hanya bisa ber-oh-ria merespon ucapan Ceo itu.
"Jadi ini yang namanya Samudra?" tanya Dean begitu ia melihat sosok anak laki-laki tampan yang menggelayut manja pada lengan Maya.
"Oh-iya ini Samudra."
Maya menjeda sejenak kalimatnya.
"Ayo Am kasih salam sama om nya," lanjut Maya.
"Assalamualaikum om...." Samudra memberikan salam dan mencium punggung tangan Dean.
Dean tersenyum sekilas saat menerima ciuman bocah laki-laki yang sangat menggemaskan itu pada punggung tangannya.
"Hai Samudra, apa kabar?"
"Am baik, oh ya om ini ciapa(siapa)?" tanya Samudra polos.
Dean kembali tersenyum.
"Om ini temennya papa kamu."
"Temen daddy?"
"Iya." Dean menjawab sembari mengelus pipi gembul Samudra.
Samudra ikut tersenyum kecil saat tangan lembut Dean menyentuh wajahnya.
"Mommy--- Am lelah."
"Oh ya? Kalo gitu Am ke ruangan mommy aja ya, Am istirahat dulu disana sambil menunggu daddy kesini."
Samudra mengangguk pelan lalu berjalan mendahului Maya.
"Maaf saya tinggal dulu, permisi..."
Dean hanya bisa membisu, tidak membalas ucapan Maya. Dia hanya bisa mengangguk perlahan sembari terus memandang kepergian sosok perempuan yang menurutnya sangat unik.
Bagaimana tidak unik, kalau perempuan itu satu-satunya yang mampu membuatnya terhipnotis. Mampu membuat Dean merasakan getaran-getaran aneh di dadanya yang senantiasa bergemuruh dan bisa saja meledak jika ia tidak menahan getaran aneh itu.
Pertemuan di cafe milik Maya hari ini bukanlah satu kebetulan yang tidak disengaja. Sejak makan malam itu, Dean meminta anak buahnya untuk menyelidiki Samuel dan Maya.
Terutama soal kehidupan Maya, dan dari info yang didapatkan oleh anak buahnya, Dean mengetahui jika Maya memiliki sebuah cafe di daerah Jakarta Pusat. Dean pun mengetahui jadwal kedatangan Maya ke cafe tersebut.
Tak terkecuali soal Samudra. Dean pun mengetahui segalanya, jika bocah laki-laki tampan itu bukanlah anak kandung Maya dan Samuel.
Informasi lain yang Dean ketahui adalah soal Elano.
Dean merencanakan jika Elano harus mendapatkan pelajaran yang setimpal setelah ia keluar dari penjara nantinya.
...
Maya kembali menuruni satu persatu anak tangga di tengah-tengah cafe, masih melihat sosok tampan Dean Sanjaya tak bergerak sedikitpun dari sofa, tempatnya semula.
Perlahan Maya melirik arloji lalu membuang napas panjang.
Sebentar lagi Sam akan tiba, batin Maya.
Apa yang harus ia lakukan?
Tidak mungkin juga kan kalau ia mengusir paksa pria bertubuh atletis itu? Apalagi dia adalah klien dari Samuel.
Ragu-ragu--Maya berjalan mendekat ke arah Dean meski hanya untuk berbasa-basi.
"Sam mau kesini siang ini?" tanya Dean to the point.
Maya mengangguk. "Iya, suami saya selalu menyempatkan makan siang disini."
Lagi-lagi Dean hanya bisa terdiam merespon.
"Kebetulan, saya juga ingin berbicara soal bisnis dengan suami anda."
Maya spontan membulatkan bola matanya.
Bagaimana jika Sam cemburu dan salah paham akan kedatangan pria ini ? pikir Maya.
"Oh---kebetulan sekali."
Hanya kalimat bodoh itu yang terlontar dari mulutnya.
"Baiklah saya pamit dulu ke ruangan saya, permisi...."
Baru saja satu langkah Maya beranjak pergi dari hadapan Dean, tiba-tiba saja....
"Awas...! Hati-hati....!"
Dean dengan cepat menangkap tubuh Maya, menahannya agar perempuan itu tidak terjatuh.
Maya merasakan kakinya seperti ada yang menjegal sehingga tubuhnya sedikit oleng dan hampir saja terjatuh. Untung saja dalam waktu yang tepat Dean Sanjaya berhasil menyelamatkan dirinya.
Maya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika saja Dean tidak tepat waktu menangkap tubuhnya.
Pasti akan berdampak pada kandungannya.
"Hati-hati, May." Ucap Dean.
Pria itu masih memegang tangan dan pundak Maya.
"Terima kasih--- Anda telah menyelamatkan saya."
Maya sedikit membungkuk berucap terima kasih pada pria dihadapannya saat itu.
"Tidak perlu sungkan, lain kali kamu harus hati-hati--okey?"
Maya mengangguk dan melepas pegangan tangan Dean yang masih erat pada jemarinya.
"Iya," angguk Maya.
"B-baik lah saya harus pergi dulu, permisi---" pamit Maya lagi.
Baru saja Maya berpaling arah dari Dean Sanjaya, tiba-tiba saja wajahnya memucat ketika melihat Samuel yang telah berada di belakangnya. Entah sudah berapa lama suaminya itu berdiri disana.
"Sam....!" ucap Maya yang sedikit berteriak ketika Samuel tiba-tiba saja menghindar darinya.
Sam dengan cepat berlalu dari tempat berdirinya semula.
Ekspresi wajah itu.... Maya bahkan bisa melihatnya dari kejauhan. Ekspresi marah dan juga kecewa dari kedua iris coklat Samuel, rahang kotak Sam pun terlihat mengeras menahan getaran emosi dalam dirinya.
"Sam tunggu....!!" teriak Maya lagi. Maya berusaha mengejar Sam.
Dengan langkah cepat, Sam berusaha menghindar dari kejaran Maya. Karena emosinya Sam sampai melupakan jika ada dua kehidupan lain di dalam perut istrinya kini.
Maya tidak ingin menyerah, ia terus saja mengejar Samuel hingga tempat parkir.
"Sam....!! tunggu dulu, denger penjelasan aku."
Masih tidak ada respon dari Sam.
"Samuel....!! Berhenti....!! Kamu lupa aku mengandung anak kamu?!" teriak Maya kali ini.
Dan spontan saja membuat langkah kaki Sam terhenti.
Sam menoleh ke arah Maya, Sam tidak langsung menghampiri istrinya. Dia hanya terdiam sesaat dan mengusap kasar rambut ikalnya. Mencoba meluapkan emosinya terlebih dahulu sebelum ia mendekat ke arah Maya. Sam hanya tidak ingin dirinya berbuat khilaf nantinya.
Perlahan Maya yang mendekat ke arah suaminya. Hingga jarak mereka sedikit terpangkas.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan," cicit Maya lemah.
"Aku melihatnya, May!"
"Apa yang kamu lihat, Sam?"
Samuel menyeringai sebentar, menatap wajah Maya dengan tatapan mata nyalang.
"Dia memeluk kamu dan kamu membalasnya." Sam masih mencoba meredam amarahnya.
"Oh cuma itu yang kamu lihat?"
"Apa maksud mu May?! Oh apa kamu berharap aku melihat yang lebih dari itu, hah?!!" bentak Samuel.
"Jangan membentak ku Sam."
Untuk sesaat hanya ada keheningan di antara keduanya.
"Kamu gak lihat kalo tadi aku hampir saja terjatuh kan?" ucap Maya lagi.
Kali ini Samuel tersentak kaget saat mendengar istrinya hampir saja terjatuh.
"Dia hanya menolong aku, Sam."
Maya memandang lekat wajah suaminya, mencoba bersikap lembut agar amarah Samuel bisa sedikit mereda.
"Gak ada hal lain, gak ada kesengajaan diantara kami, sayang." Maya melanjutkan.
Maya lebih mendekat ke arah Samuel, meraih bahu kekar suaminya itu.
"Maaf jika aku sudah buat kamu marah. Tapi sungguh apa yang kamu lihat tadi--- tidak seperti apa yang kamu pikirkan," lirih Maya lagi.
Samuel yang tadinya hanya terdiam, kali ini meraih tubuh Maya dan memeluknya erat.
"Aku sangat cemburu melihat dia dekat dengan kamu sayang," bisik Samuel seraya semakin menenggelamkan wajahnya kedalam ceruk leher Maya.
"I'm sorry, dear...." lirih Sam lagi. Kali ini kecupan-kecupan kecilnya mendarat pada ceruk leher Maya hingga beringsut beralih ke pipi chubby istrinya.
"Sam, kita lagi ada di tempat parkir."
"Terus?"
"Malu dilihatin orang-orang yang lewat," bisik Maya.
"Biarin."
Samuel seolah tidak mempedulikan pandangan aneh orang yang berlalu lalang di sana.
"Sam... geli, hentikan ih..." tawa kecil Maya melengking saat bibir Samuel mencumbu leher hingga pipinya.
"Kita kembali ke cafe." Ucap Maya dan akhirnya di balas anggukan kepala oleh Samuel.
"Aku gendong sampe cafe?"
Maya menggeleng pelan dan mengeratkan gelayutan tangannya pada lengan Samuel.
"Hehehe.... kita tidak sedang ada di rumah, Sam." Maya terkekeh geli menanggapi.
Sam pun beberapa kali mendaratkan kecupan pada puncak kepala Maya di sela-sela langkah kaki mereka.
"Kamu tadi gak sempat terjatuh kan? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Samuel khawatir.
Maya menggeleng pelan menjawabnya.
"I'm ok!" jawab Maya.
Gelayutan manja Maya pada lengan Samuel menjadi pertanda jika keduanya tetap berhasil menghadapi krikil kecil dalam rumah tangga mereka.
To be continue....