MySam

MySam
The Queen



Helaan napas panjang kembali terdengar dari mulut Sam, saat ia kembali memasuki ruangannya. Sam baru saja selesai melakukan rapat tender dengan perusahaan produsen motor asal Jepang yang merajai pasar Indonesia saat ini.


Ini adalah klien penting buat Samuel, jadi dia harus mengerahkan segala pikiran dan ide briliannya. Seperti biasa sebelum mencapai kata deal, selalu terjadi perdebatan kecil yang hanya mementingkan keuntungan sepihak saja, membuat Samuel dibuat pusing dengan tingkah calon kliennya.


Beruntung segala ke-alotan dan ketegangan dalam tender kerjasama itu bisa diambil jalan tengah yang dinilai menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Untunglah Bayu mengerti, pria itu mengajukan diri untuk mengambil alih urusan tender begitu terjadi kesepakatan bersama dari pihak perusahaan advertising milik Samuel dan perusahaan produsen motor asal Jepang tersebut.


"Lo tenang aja, Bos! gue atur semuanya," ucap Bayu begitu melihat wajah lelah Samuel.


Sam hanya mengangguk pelan dan melangkah kembali ke ruang kerjanya, bersama Freya yang selalu mengekor kemana pun Sam pergi.


"Aku buatin kamu kopi atau latte, Sam?" tawar Freya begitu keduanya sampai di dalam ruangan Samuel.


"Gak perlu, aku hanya butuh istirahat sebentar."


"Aku pijitin? pijitan ku enak lho, Sam." Freya masih saja berusaha mendekati Samuel, kali ini gadis itu sudah berada tepat di belakang punggung Sam yang sedang duduk dengan menyandarkan punggung kekarnya pada sandaran kursi kebesarannya.


"Gak perlu, Fe." Sam berusaha mengelak, namun tentu saja usahanya sia-sia. Freya selalu saja menggeliat di bahu kekar Samuel. Bahkan dengan tanpa ragu, gadis itu menaruh lengannya melingkar begitu saja pada leher Samuel.


Bahkan kehamilan yang kini mulai terlihat pun tidak membuat gadis itu merasa risih dengan semua tingkahnya terhadap mantan tunangannya itu.


"Turunkan tangan kamu dari pundak aku, Fe!"


"Tapi Sam...."


"Turunkan aku bilang!" dengan sedikit membentak, Sam kini memutar kursi kerjanya ke arah Freya. Memandang tajam ke arah gadis cantik itu.


"Sekarang tinggalkan aku sendiri!"


"Sam...."


"Keluar dari ruanganku. Sekarang!!" bentak Samuel dengan keras.


Mambuat Freya bergidik kaget, dengan cepat gadis itu kini berjalan keluar dari ruang kerja Samuel. Wajah cantiknya terlihat mendengus kesal, padahal dahulu Samuel tidak pernah membentaknya seperti tadi, pikir Freya kesal.


 ***


Maya.... entah kenapa tiba-tiba saja Sam merasa sangat merindukan istrinya.


Ia raih kunci mobil yang berada di atas meja kerjanya, beralih tangannya meraih ponsel dan juga dompet besar yang terbuat dari bahan kulit berwarna hitam.


....


Kedua sudut bibir Sam terangkat membentuk sebuah senyuman ketika mendapati Maya duduk berselonjor di atas sofa panjang dengan laptop yang berada di pangkuannya.


Suara berisik yang berasal dari laptop seakan memenuhi seluruh ruangan, Maya tengah menonton film kesukaannya___ Avengers.


Samuel dibuat geleng kepala, entah sudah berapa kali istrinya itu menonton film-film besutan Marvel, seakan tak ada kata bosan untuknya.


Sam sendiri pun merasa bosan meskipun hanya dengan melihat Maya menonton film-film itu.


Samuel melangkah mendekati Maya dan mengusap lembut kepala gadis itu, membuat si empunya pun terkesikap lalu mendongak menatap Samuel dengan kedua mata yang membulat lucu.


"Lho, Sam? Kamu sejak kapan pulang? Kok aku gak tau kamu masuk?"


"Baru aja." Sam tersenyum lembut lalu membungkuk mencium kening Maya. "Kamunya yang terlalu fokus nonton."


"Maaf ya, aku malah cuekin kamu."


"It's ok, kamu laper? Mau makan sesuatu?"


Maya menggeleng.


"Haus? Biar aku ambilin minum."


"Gak usah Sam, harusnya kan aku yang nawarin gitu ke kamu."


Sam tersenyum sebentar, kini duduk di sofa kecil yang berada di depan Maya.


"Aku ambilin minum ya?"


Sam mengangguk pelan, hingga akhirnya Maya berdiri dari selonjorannya dan berjalan menuju pantry.




Samuel memijit pelipisnya yang berdenyut menatap beberapa tumpukan berkas yang belum ia selesaikan saat di kantor tadi. Sepertinya ia harus lembur untuk menyelesaikan semua urusan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang ke rumah. Sam sengaja bekerja dari rumah untuk menghindari bujuk rayu Freya. Ah gadis itu... selalu membuatnya tak habis fikir. Bahkan dengan terang-terangan Freya mencoba menggoda Sam kembali. Rupanya niat baik seseorang tidak selalu bisa diterima dengan baik oleh orang yang ia coba bantu.



"Suami...."



Samuel sontak mengangkat wajahnya, menatap Maya yang kini berjalan menghampirinya.



"Ada apa, sayang?" tanya Samuel lembut seraya menyambut Maya dan membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya.



"Laper...." ujar Maya seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Samuel.



"Mau makan apa?"



"Sushi," jawab Maya sambil menenggelamkan wajahnya di leher Samuel, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Samuel yang selalu membuat Maya candu.



"Mau makan di luar?"



Gelengan kepala Maya membuat Sam mengerutkan alisnya bingung.



"Katanya laper?"



"Malas jalan."



"Aku gendong?"



"Gak mau."



"Kalo gitu kamu tunggu di rumah biar aku keluar membelikan sushi buat kamu."



Maya menggeleng kuat menolaknya. Kedua tangannya semakin melingkar kuat memeluk Samuel saat pria itu berdiri, hendak memindahkan Maya ke sofa sebelahnya.



"Nggak mau!!" jerit Maya.



Sam dibuat bingung dengan sikap Maya yang tiba-tiba manja dan selalu menempel padanya seperti ini.



"Kamu kenapa, hhmm?"



"Kamu gak boleh kemana-mana, jangan pergi," cicitnya.



"Aku cuma beliin kamu makanan sebentar," ujar Samuel seraya menyingkirkan beberapa helai anak rambut Maya yang menghalangi wajah cantiknya.



"Pokoknya kamu gak boleh pergi. Kamu disini aja sama aku."



"Katanya laper?"



Maya tidak menjawab, gadis itu hanya cemberut dan semakin menenggelamkan wajahnya di leher Samuel.



Samuel mengalah, ia menghela napasnya kemudian meraih ponselnya di atas meja untuk memesankan makanan.



♡♡♡



Beberapa menit berlalu setelah Maya menghabiskan seluruh sushi yang Samuel pesankan tadi. Sam kembali melanjutkan pekerjaannya sementara Maya tertidur di pangkuannya karena gadis itu dari tadi tidak bergerak ketika Samuel memberikan elusan lembut di pundak dan puncak kepala Maya.



Takut Maya akan kesakitan akibat posisi tidurnya yang salah, Samuel pun meletakkan ke atas sofa laptop yang ia pegang saat ini, lalu dengan sigap Sam menggendong Maya dan membawanya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.



Kamar yang cukup luas dengan ranjang berukuran *kingsize*, tak kalah luasnya dengan kamar pribadi mereka. Dua nakas yang terletak di samping ranjang, sofa dan meja kaca. Lalu dilengkapi dengan kamar mandi dan *walk in closet* di dalamnya.



Sam membaringkan Maya di atas kasur dengan sangat hati-hati. Tidak lupa melepas sendal rumah berbentuk *Hellokitty* yang Maya kenakan, setelah itu menyelimuti tubuh nya hingga sebatas dada.



Sam membuka dua kancing kemeja kerja yang sedari tadi masih ia pakai lalu duduk bersandar di samping ranjang dengan siku sebagai tumpuan. Samuel membelai puncak kepala Maya dengan penuh kasih sayang lalu memberikan kecupan lembut di kening gadis itu.



Satu tangannya yang bebas bergerak meraih tangan Maya dan membawanya ke dalam genggamannya.



Mata tajamnya menyorot wajah cantik Maya dengan penuh kelembutan. Pancaran kasih yang Sam hantarkan pada sang putri yang tengah tertidur. Tidak.... putri itu kini menjelma sebagai ratu yang memiliki hatinya.



Lagi-lagi Samuel bersyukur memiliki Maya. Bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan dan menyatukan mereka berdua meski melewati berbagai badai yang penuh luka dan air mata.



Jika ada yang bertanya, apakah Sam ingin mengganti pasangan hidupnya dengan yang jauh lebih baik? Jawabannya adalah tidak, sampai mati pun Sam tidak akan menggantikan Maya di hatinya.



Sam mengangkat genggaman tangan itu ke bibirnya, ia mencium punggung tangan Maya berkali-kali dengan penuh kelembutan.



"Kamu adalah cinta sejatiku May, jangan pernah berfikir untuk pergi dariku. Karena sampai mati pun aku tidak akan pernah melepaskan mu."



Sam kini beralih mencium kening Maya. Hingga membuat tubuh Maya menggeliat sejenak akibat ciuman Samuel.



"Hoam....." Maya terlihat menguap dengan satu tangan menutup mulutnya dan sepasang mata yang masih tertutup rapat.



Samuel terkekeh geli melihat kelakuan istrinya, hingga kembali serbuan ciuman hangatnya mendarat begitu saja di kening dan pipi Maya.



Perlahan kedua netra Maya membuka, mendapati sosok Samuel yang berada di sampingnya membuat Maya menarik senyuman manisnya, meski masih dengan kedua netra yang menyipit karena silau oleh cahaya lampu gantung di kamar tamu tersebut.



"Aku bangunin kamu?"



"Gak kok, aku bangun karena haus."



"Sebentar aku ambilin kamu minum."



Sam bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah *pantry*, sore ini bibik dan mbak Pur mungkin sedang berada di belakang karena dari tadi pun Sam tidak melihat keberadaan mereka.



Samuel kembali berjalan menuju kamar tamu yang Maya tempati barusan, dengan segelas air putih di tangannya, Sam berjalan ke arah Maya dan menyodorkan gelas kaca berisi air putih ke arah Maya.



"Minumlah," ujar Sam lembut.



Dengan cepat Maya meneguk habis air dari Samuel.



"Suami...."



"Hhmm?"



"Aku mau tidur lagi."



Samuel tersenyum, pria itu lalu mendekat ke arah istrinya. Mengelus lembut puncak kepala Maya serta menyelimuti tubuh Maya hingga sebatas dada.



"Temani sampai aku tidur ya."



Sam mengangguk, satu tangannya mengusap kepala Maya hingga rasa kantuk pun perlahan menghampiri Maya dan gadis itu akhirnya terlelap dengan cepat.



Sam mengecup kening Maya lembut, "*Sweet dreams, My Queen*."



to be continue...