MySam

MySam
First Kiss



"Dasar ya tuh bos sama pacarnya emang rese banget, sumpah gedeg gue." Cerocos Maya disela waktu makan siang. Airin masih mendengarkan baik-baik curhatan Maya sambil memasukan beberapa suapan bakso ke mulutnya.


"Rese gimana sih? Wait... wait... bos punya cewe?" Kali ini Airin melotot heran, Maya mengangguk cepat. "Iya, tadi aja seenaknya kissing di depan mata gue. Ish__ gak tau malu banget tuh cewe." Sungut Maya kesal.


Airin terkekeh geli mendengar ucapan Maya sehingga membuat Maya membulatkan matanya kesal. "Ngapain lo malah senyum?"


"Lo itu aneh deh May, lha sah aja kan kalo mereka saling kissing kan mereka pacaran." Airin masih terkekeh.


"Yah... pacaran si pacaran tapi gak gitu juga kali saling beradu bibir di depan orang lain." Sungut Maya.


"Jangan bilang lo jealous May?" Samber Airin lagi membuat Maya terbatuk mendengar ucapan sahabatnya. "Cemburu? Ngapain gue cemburu?" Kilah Maya, bola matanya berotasi sambil bibirnya menyeruput es lemon tea.


Airin semakin terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai memerah.


"May, gue denger gosip nih si bos kenapa suka galak dan dingin ke cewe karena dia trauma sama cewe." Cerita Airin.


"Trauma gimana maksud lo?"


"Kabarnya sih doi pernah diselingkuhi sama cewe nya yang bernama Freya dan bos tuh bucin banget sama tuh cewe." Lanjut Airin.


Maya terdiam beberapa saat, pikirannya mendadak traveling begitu mendengar cerita Airin barusan.


"May__"


Maya terbangun dari lamunannya.


"Lo kenapa ngelamun? Mikirin bos ya?" Goda Airin membuat Maya mengerucutkan bibirnya beberapa centi.


"Ish, ngapain gue mikirin tuh cowo? Kuker aja ih."


"Kirain__" Airin terkekeh melihat sikap salah tingkah Maya.


Hah? Gue mikirin dia? Cowo rese, arogan, sok kecakepan itu? Ish__ amit-amit jangan sampai deh. Batin Maya, bola matanya membulat kesal.


***


Maya merebahkan tubuhnya, masih saja dia gulir layar lebar ponsel pipihnya. Entah kenapa El dari tadi belum juga membalas pesan yang Maya kirim.


Saat ini di Melbourne sekitar jam sepuluh malam. Mungkin El sudah kelelahan? Pikir Maya.


Drrtt... Drrttttt...


Ponsel Maya tiba-tiba saja berdering, dengan cepat Maya meraih ponsel di atas nakas samping tempat tidurnya.


Bola mata Maya membola melihat siapa orang yang menelfon. Samuel__?


"Halo__ maaf ada apa ya pak? ___ apa? Sekarang? Tapi pak___"


Klik !!!


Tiba-tiba Sam memutuskan panggilan selulernya sepihak. Maya mengerucut kesal, bola matanya kembali membola dan keningnya sedikit mengernyit heran.


'Bos rese itu nyuruh dia ke mansionnya?' Batin Maya.


Maya masih ragu apakah dia harus menuruti titah bosnya? Atau__


"Ish, ini kan bukan jam kerja. Lagian ngapain sih cowo rese itu nyuruh ke mansion dia malam-malam gini?" Maya bermonolog.


Berkali-kali gadis itu mondar mandir di dalam kamarnya.


El susah sekali dihubungi dan kini tiba-tiba sang bos galak itu seenaknya saja memberi perintah di jam bebas dia.


Ddrrttt...


Ponsel Maya kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan singkat dari Sam.


"Gue tunggu lo."


Tulis pesan singkat Sam, lagi-lagi bibir Maya mengerucut sebal.


Dddrrtttt...


Lagi-lagi ponsel pipih itu kembali bergetar.


"Atau gue nyuruh supir buat jemput lo?" Pesan singkat Sam lagi. Kali ini Maya mengedikkan bahunya sedikit.


***


Maya akhirnya memutuskan menemui Sam dan sampai juga dia ke alamat yang tadi di shareloc oleh Sam. Gadis itu memarkirkan motor maticnya di depan sebuah mansion besar. Seorang security mendekati Maya dan tersenyum ramah.


"Mba Maya ya?" Tanya security bertubuh setengah tambun dengan senyuman ramahnya. Maya mengangguk ragu ke arah security mansion besar itu.


"Sam nya sekarang dimana pak?"


"Mas Sam di dalam mba, mba Maya langsung aja masuk ke dalam." Jawab security tadi, Maya kembali mengangguk pelan.


Dengan langkah sedikit ragu Maya menyusuri jalan taman yang kanan kiri nya penuh tumbuh bunga lily merah, kebetulan saat itu bunga lily tersebut sedang bermekaran di sepanjang jalan taman menuju ujung pintu mansion.


Serasa berjalan di istana negeri dongeng, pikir Maya.


Maya memencet bel pintu mansion tersebut. Beberapa kali gadis itu membunyikan bel rumah hingga akhirnya seorang maid setengah baya lengkap dengan kebaya khas Jawa membukakan pintu mansion.


"Non Maya?" Tanya maid tadi, Maya mengangguk pelan.


Kenapa semua penghuni rumah ini sudah mengenal namanya? Pikir Maya.


"Silahkan duduk non, tuan muda sebentar lagi turun." Ucap wanita itu, Maya mengangguk pelan. Maya duduk di salah satu sofa yang dipersilahkan oleh maid wanita tadi. Sofa besar berwarna merah yang menghadap langsung ke jendela kaca besar, pemandangan luar jendela yang langsung berhadapan dengan kolam renang dan beberapa tanaman bunga warna warni.


Banyak nya lampu taman yang bersinar terang malam itu sehingga masih terlihat jelas warna bunga yang memenuhi taman kecil disamping kolam renang besar.


"Lo datang juga." Ucap Sam tiba-tiba dari arah belakang pungguh Maya. Gadis itu menoleh ke arah Sam yang malam itu terlihat begitu __SEMPURNA__


Cowo tinggi dengan dada bidang, Tshirt ketat warna putih dan celana jeans selutut, rambut gondrong nya dia kuncir asal sehingga masih tersisa beberapa helai anak rambut yang terurai bebas di sekitar wajah Sam membuat nya terlihat sangat Macho.


"Kenapa bapak nyuruh saya kesini malam-malam gini?" Ketus Maya. Dia hanya berusaha menyembunyikan perasaannya saja. Lagian mana mungkin si bos nya ada hati sama Maya, jika dibanding dengan Martha gadis yang beberapa hari lalu dia jumpai di kantor, Maya merasa tidak sepadan dengan Martha.


Dan lagi saat ini sudah ada Elano di hati Maya, jadi__ tidak mungkin gadis itu bermain hati dibelakang El. Tapi cinta itu terkadang bisa datang kapan saja bukan?


"Lo bisa gak kalo disini gak usah panggil gue dengan sebutan "Bapak" ?"


Jawab Sam, dia mendekat ke arah Maya dan duduk tepat di hadapan gadis itu.


Maya salah tingkah saat Sam mendekatkan manik matanya ke arah Maya.


Gadis yang sangat simple, pikir Sam.


Rambut hitam dan lurus sebahu dengan poni miring yang sangat pas dengan bentuk wajah putih Maya dia biarkan tergerai begitu saja. Bibir tipis yang hanya dia oles lipsgloss warna peach dan tahi lalat kecil yang membuat bibir tipis Maya menjadi lebih menggoda.


"Lo cantik May." Rayu Sam.


Oh bukan... malam itu Sam sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Lo mabuk ya?" tanya Maya menyelidik.


Sam tersenyum kecil, lalu kembali menatap Maya tajam dan lembut.


"Gue gak pernah sesadar ini May." Sam membisikan kalimat itu lembut di telinga Maya. Deru nafas Sam sangat bisa Maya rasakan hingga ujung kulit tengkuk Maya.


Sam kali ini mendekat ke punggung Maya, dia tundukkan sedikit tubuhnya sejajar dengan Maya yang saat itu masih duduk di salah satu sofa.


Sam bisa mencium wangi aroma tubuh Maya. Dari rambut hingga tengkuk Maya, semua aroma itu sangat menggoda buat Sam.


"So... lo mau kan jadi cewe gue?" Bisik Sam, kini jemarinya mulai memainkan ujung rambut Maya, dan turun ke leher putih gadis itu. Sangat lembut... Sam kembali mengelus leher putih Maya dan kali ini Sam tepat berada di hadapan Maya yang masih mematung.


"Gue gak tau sejak kapan perasaan ini hadir." Lirih Sam terdengar begitu lembut. Maya tidak bisa berkata apa-apa, seakan ada ribuan kupu-kupu berterbangan keluar dari dada Maya.


Sam menarik tubuh Maya sehingga posisi mereka saat ini berdiri dan saling berhadapan. Sam kembali mengelus leher belakang Maya dan menggenggam nya erat namun lembut lalu dia dekatkan seluruh wajah nya.


Bibir mereka sangat dekat tanpa jarak, malam itu bibir peach Maya begitu menggoda bagi Sam.


"Bolehkah?" Tanya Sam pelan.


Maya tetap membisu, rasanya mulut Maya seperti terkunci rapat, sangat rapat.


"Bolehkah aku merasakan manisnya bibir peach kamu?" Tanya Sam lagi, kali ini sedikit berbisik di telinga Maya.


Maya mengangguk pelan, entah kenapa malam itu Maya seakan tidak dapat membantah semua ucapan Samuel.


Sam mulai mendekatkan wajahnya dan manautkan bibirnya lembut, sangat lembut. Salah satu tangan Sam melingkar ke pinggang kecil Maya dan mendekatkan erat pinggang Maya kedalam pelukannya.


Sedangkan tangan yang satunya lagi kembali mengelus pipi chubby Maya. Kini kedua ujung hidung mancung mereka saling menempel, Sam memiringkan sedikit kepalanya hinga akhirnya bibir tebalnya menempel di bibir Maya. Kecupan demi kecupan serta gigitan kecil Sam kini turun ke leher putih Maya, membuat Maya mendongak sembari tangan kanannya meremas rambut Sam.


"Sam..." Desah Maya.


Masih belum berhenti, Sam justru semakin mengeratkan tautan bibirnya di bibir peach Maya. Lenguhan yang lolos dari bibir Maya semakin membuat Sam mendapatkan lampu hijau Maya tanpa penolakan.


"Ssshhh... Sam, aagghhh...." ******* Maya semakin membuat Sam mengeratkan pelukannya. "You make me crazzy May, aasshh.... aagghhh..." desah Sam.


"I need you baby." Desah Sam lagi. Bibir tebal merah muda Sam masih erat mencium bibir Maya lembut, sesekali Sam membuat gigitan kecil di bibir Maya yang sangat kenyal dan memabukkan itu.


>>> To be Continue