
Mentari pagi yang sudah mulai meninggi, kini menyusup masuk ke dalam kamar dengan nuansa serba peach dan pastel melalui tirai jendela yang tidak tertutup dengan sempurna, membuat Sam sedikit memicingkan mata. Pria itu meregangkan sebentar seluruh otot-otot tubuhnya hingga membuat suara lengusan yang terdengar sangat berat.
Sam masih setia berbaring di atas ranjang berukuran kingsize dengan berselimut tebal yang menutupi tubuhnya sebatas dada.
Hari sabtu yang bebas dari pekerjaannya membuat Samuel betah berada di atas kasur bersama dengan Maya, istrinya. Pria itu selalu memilih untuk bangun agak siang dan bermalas-malasan di ranjang bersama sang istri.
Untuk sejenak, Samuel masih betah bermalas-malasan berada di pembaringannya hingga saat pria itu berguling ke samping dan menjulurkan tangannya ke sisi ranjang. Sam pun membuka mata.
Sisi itu terlihat kosong, tidak memperlihatkan Maya yang masih tertidur pulas menghadapnya seperti biasa.
Membuat Sam sontak menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang sembari mengusap wajahnya dan keluar dari kamar.
"Sayang.....??" panggil Sam saat menuruni anak tangga.
"Iya, suami?" sahut Maya yang baru saja keluar dari arah dapur. Kening Sam mengkerut dalam, melihat penampilan Maya saat itu. Yang hanya mengenakan daster berbahan rayon premium berwarna hijau mint dan bercelemek dengan warna senada. Sendal rumah kelinci berwarna biru pun melengkapi penampilan Maya. Tangan kanannya memegang spatula sedangkan kedua pipi gadis itu terlihat beberapa coretan adonan tepung gandum bercampur dengan telur yang membekas lucu di permukaan pipi putihnya.
"Apa yang kamu lakukan, honey? Kamu masak? tanya Samuel, Maya mengangguk lugu lalu tersenyum dengan begitu menggemaskan.
Sam menghela napas pelan, mendekat ke arah Maya dan meraih kedua bahu kecil istrinya. "Masak apa?" tanyanya sembari mencium lembut kening Maya.
"Pancake, dengan selai blueberry. Kesukaan kamu, Sam."
"Harusnya bangunin aku tadi, kita bisa buat bareng-bareng kan?" kali ini Sam melingkarkan lengannya di pinggang Maya, mengendus perpaduan aroma adonan pancake dan juga selai blueberry yang menempel di tubuh Maya dengan aroma yang sangat manis.
"Aku pengen kasih kejutan buat kamu, suami." Maya menjeda ucapannya, tersenyum geli ketika ujung bibir Samuel menempel di leher putih Maya. Seakan memberikan sensasi menggelitik ketika bibir tebal merah muda Sam bersentuhan dengan kulit halusnya.
"Sam.... hehehe geli, tau?" kekeh Maya ketika Sam semakin menciumi leher Maya dengan sangat intens.
"Please, baby.... aku masih ingin memeluk kamu dengan posisi seperti saat ini," bisik Samuel, sembari terus memeluk dan mengendus-endus aroma tubuh Maya.
"Sam.... bau apa ini?" giliran Maya yang tiba-tiba saja menajamkan indra penciumannya. Merenggangkan pelukan Samuel untuk mencoba mencium lebih baik lagi aroma yang sedikit sangit menguar di udara.
"Pancake gos___ Astagfirullah pancake aku....!!" teriak Maya lalu berlari kembali ke arah oven dan cepat-cepat membuka oven.
Seketika itu juga asap putih mengebul, disertai dengan suara Maya yang terbatuk saat menghirup asap dan mencium aroma gosong dari pancake yang baru saja ia buat.
.....
Di ruang makan sembari menunggu Samuel selesai mandi, Maya duduk menumpu dagu dengan kedua tangannya, memperhatikan pancake setengah gosong di hadapannya dengan wajah cemberut. Pancake dengan warna hitam pekat itu ia pisahkan dengan pancake yang lainnya, gak mungkin juga kan Maya memberi Sam pancake yang sudah gosong itu.
Maya menoleh ke arah Samuel yang menuruni anak tangga dengan mengenakan kaos putih dan celana boxer hitammya. Tidak lupa dengan rambut basah yang selalu membuat pria itu menunjukkan ketampanannya yang maksimal.
Sungguh Maya tidak pernah bosan memandang suaminya setiap kali pria itu selesai mandi. Jika Sam keluar hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada atau hanya nampak handuk yang melilit pinggangnya. Maya selalu menghampiri Samuel dan memeluknya, sedikit agak modus untuk bisa memegang otot-otot perut Samuel yang terlihat seperti roti sobek.
Pantas saja dahulu Freya dan Martha tergila-gila terhadap Samuel.
"Eh?! lho kok diambil? Sam itu kan gosong," tanya Maya terkejut setelah melihat Sam mencomot satu bagian dari pancake gosong itu.
"Buat aku kan?"
"Tapi itu kan gosong, Sam." Maya mengernyit dengan pertanyaan yang sedikit membuat wajahnya memerah karena malu.
"Ya gapapa, sayang."
"Ih.... mana boleh. Sini biar aku buang aja."
"Jangan, sayang. Makanan itu kan rezeki, kamu buang makanan sama aja kamu buang rezeki."
"Tapi Sam, apa kamu doyan pancake gosong?"
"Kenapa gak? Mau makanan itu gosong, asin ataupun gak ada rasanya tetap aku makan asal itu buatan kamu." jawab Samuel ringan, ia tetap memasukkan pancake gosong itu ke mulutnya, mengunyahnya perlahan sambil sedikit meminum air putih yang sudah Maya sediakan.
Maya ber ekspresi tidak tega melihat Samuel memakan masakan gosongnya. Ini kesalahannya, kenapa ia bisa begitu ceroboh membuat pancake favorit Samuel menjadi gosong seperti itu.
"Maaf ya, Sam."
"Kamu jadi makan pancake gosong aku," jawab Maya lirih.
"Ini enak kok,"
"Masa sih enak? Emang gimana rasanya?"
"Rasa coklat," ujar Sam membuat Maya terkekeh dibuatnya.
"Kamu udah sarapan?"
"Udah kok, Sam."
"Kamu mau?" tawar Samuel.
"Suapin."
Samuel memotong pancake dan menyuapkan ke mulut Maya.
"Aku mau yang gosong dong..."
"Gak boleh ini punya aku!"
"Ish, dikit aja, aku mau coba..."
Sam menggeleng. "Gak boleh!" ujarnya lalu memasukkan semua bagian pancake yang gosong itu ke mulutnya. Maya cemberut menatap suaminya.
"Pelit ih."
"Bukan pelit, honey. Ini kan punya aku," elak Samuel.
Bukan apa-apa, Sam hanya tidak ingin istrinya memakan masakan gosong yang rasanya membuat Samuel ingin muntah. Ia juga tidak ingin membuat Maya merasa bersalah dengan kecerobohan yang telah istrinya lakukan.
....
"Emang bibik kemana? kok gak bantuin kamu bikin pancake?"
"Tadi pagi-pagi benar bibik izin ke rumah anaknya."
"Mbak Pur?"
"Mbak Pur mengerjakan kerjaan rumah yang lain kan, Sam."
Sam manggut-manggut pelan, kini duduk di samping Maya dan menyandarkan bahu istrinya untuk menempel pada dada bidang miliknya. "Weekend ini kamu pengen kemana, sayang?"
"Pantai....." jawab Maya cepat.
"Harusnya kalau ke pantai dari kemarin aja kita berangkat ke Bali."
"Gak usah ke Bali juga gapapa kok, suami. Yang deket-deket aja." Kali ini Maya menoleh ke arah Samuel dengan wajah merajuk yang ia buat semanis mungkin. Kalau sudah begitu, Samuel hanya bisa tersenyum geli menatap ekspresi menggemaskan dari Maya.
"Emm... oke kita berangkat sekarang?"
"Siap, bos...!!"
Maya bangkit, berpindah duduk ke pangkuan Samuel. Memeluk pria itu dan mendaratkan ciuman ke pipinya. "Makasih, suami. Kamu suami paling hebat sedunia! I love you..."
Samuel terkekeh geli. "And i love you more, honey."
"Yeah.... pantai....pantai...." ucap Maya semangat sambil berjalan menuju kamarnya, bersiap diri untuk perjalanan weekend mereka.
Sementara Samuel hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.
to be continue...