MySam

MySam
Misterius Dean



Beberapa hari setelah kejadian Samudra dilarikan ke rumah sakit, membuat waktu Maya lebih banyak dihabiskan untuk menjaga Samudra. Kesibukan Sam di perusahaan membuatnya terpaksa meninggalkan Maya sendirian yang menjaga Samudra. Meskipun ada bik Sari yang ikut membantu, namun tetap saja Sam tidak pernah tenang membiarkan Maya dari pagi hingga petang berjaga di rumah sakit.


Apalagi usia kandungan Maya yang terus bertambah tua dengan perut yang semakin membuncit.


Sam sungguh mengkhawatirkan keadaan istrinya, takut-takut jika Maya kelelahan nanti. Mengandung bayi kembar pastilah lebih terasa berat ketimbang mengandung satu bayi dalam perutnya.


....


"Sam....!"


Bayu pun memasuki ruangan Samuel, begitu ia mendapatkan izin dari sang empunya ruangan.


"Ada apa, Bay?"


"Lo tahu kabar yang terdengar baru-baru ini?"


Sam menggeleng sembari mengerutkan sedikit keningnya. Memandang Bayu heran dengan pertanyaannya barusan.


"Kabar apa?"


"Elano---"


Sam mendengus pelan, seringai kecilnya pun terbentuk.


"Lo ini apaan sih Bay? Gue gak mau tahu soal orang brengsek itu lagi," dengus Samuel.


"Eh denger dulu...." Bayu buru-buru menyela ketika Sam kembali fokus dengan kerjanya di layar laptop.


"Elano udah keluar dari penjara kemarin."


Samuel kembali mengernyit heran.


"Emang masa tahanan dia udah selesai?" tanya Sam.


Bayu mengangguk.


"Mungkin...." ucap Bayu lagi, kali ini dia mengedikkan kedua bahunya.


"Dia kan dapat remisi, dan ini udah dua tahun masa tahanan dia setelah dipotong remisi."


Bayu kembali melanjutkan, tanpa ragu-ragu Bayu menempati kursi yang berada di hadapan Samuel.


"Tapi bukan itu yang pengen gue omongin, Sam."


"Lalu?" tanya Samuel, kali ini ia mengesampingkan perhatiannya dari layar laptop.


"Perusahaan Wijaya Group dikabarkan mengalami penurunan saham. Mereka pailit Sam."


"Serius lo, Bay?" tanya Samuel terkejut.


Sepengetahuan Sam, Wijaya Group merupakan perusahaan kelas kakap, bukan ecek-ecek.


Perusahaan yang mempunyai banyak anak perusahaan ini bergerak di bidang industri tekstil, dan juga bidang property yang tersebar di seluruh Jakarta, Bandung dan Surabaya. Salah satunya perusahaan property yang dulunya dipegang oleh Elano, namun kini saham perusahaan itu menjadi sepenuhnya milik Samuel.


Wijaya Group juga menjadi salah satu dari pesaing perusahaan milik ayah Samuel, Permana Group.


"Serius Sam. Dan pailitnya bukan hanya di property tapi di semua anak perusahaan yang lain."


Samuel masih terlihat terkejut mendengar keterangan dari Bayu.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa tuan Wijaya ayah Elano melakukan salah perhitungan bermain tender atau saham?" tanya Samuel.


"Gue gak tau pasti, kabarnya sih ada pihak ketiga yang menyabotase semua tender bisnis Wijaya Group."


"Siapa?" tanya Samuel heran.


"Gue gak tau pasti, cuma menurut gue orang itu pebisnis kelas kakap," terang Bayu.


"Lo harus hati-hati, Sam." Lanjut Bayu.


Samuel berdiri dari duduknya lalu membuang napas berat. Sedikit mengendorkan dasi yang melilit lehernya, sembari memandang ke arah jendela besar ruang kantornya.


"Apa mungkin--- orang itu punya dendam pribadi sama El atau tuan Wijaya ya Sam?" tanya Bayu. Membuat perhatian Samuel kini kembali ke arah Bayu.


"Entahlah Bay," Sam menghembuskan napas kasarnya.


"Jadi.... sekarang perusahaan keluarga Wijaya sedang di ujung tanduk?"


"Hm, itu yang gue denger. Mungkin bisa jadi semua saham Wijaya Group diambil alih oleh orang misterius itu."


"Terus--- lo tau gimana kabar Elano sekarang?"


"Kenapa lo gak tanya aja sama Freya?"


Sam menyeringai sebentar.


"Gila lo Bay, kalo gue bicara sama Freya lagi, bisa-bisa dia besar kepala dan ke ge-er an nanti," dengus Sam kesal.


"Hahahaha.....!! Lagian masih aja lo kasih kesempatan dia untuk kerja sama lo di perusahaan property itu."


"Gue kasian sama bayinya," ucap Samuel menjelaskan.


"Sial...!" dengus Samuel tiba-tiba, kali ini Sam melirik ke arah arlojinya.


"Kenapa?"


"Siang ini Maya nyuruh gue mampir ke rumah sakit." Sam menjawab sembari sibuk menyimpan laporan pekerjaannya di dalam laptop dan merapikan kembali beberapa berkas file ke dalam laci meja kerjanya.


"Gimana keadaan Samudra?"


"Itu dia Bay, hari ini hasil CT scan Samudra. Dan Maya meminta gue ikut menemui dokter yang menangani Samudra."


"Ow-- kalian yang sabar ya."


Sam mengangguk pelan.


"Siap.....!! Salam buat Maya," jawab Bayu.


Sam kembali mengangguk dan segera keluar dari ruangan miliknya.


....


Maya masih memperhatikan dengan seksama wajah polos tanpa dosa Samudra. Wajah damai yang tengah terlelap itu pun berkali-kali mampu membuat senyum Maya tertarik dari kedua sudut bibirnya.


Ia seolah tidak tega jika harus membangunkan bocah yang saat ini telah duduk di Elementary School di Jakarta Internasional School.


Sejenak Maya melirik ke arah arloji perak dengan sedikit warna gold yang melingkar manis di lengan kirinya.


Samuel belum juga tiba, batin Maya cemas.


Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu kamar rawat Samudra terdengar pelan. Membuat Maya tersenyum spontan dan hampir saja beranjak dari duduknya.


"Hai...." ucap seseorang dengan suara sopran yang terdengar lembut.


Samar, ekspresi heran terlihat di wajah Maya begitu mengetahui siapa yang memasuki pintu kamar rawat Samudra.


"Bagaimana keadaan Samudra?" tanya Dean yang kini bergerak mendekat ke arah Maya dan juga Samudra yang masih tertidur.


"Alhamdulillah udah mendingan."


Maya masih berekspresi sedikit kik-kuk. Melihat pria tampan itu yang tiba-tiba saja berkunjung secara pribadi ke kamar rawat Samudra.


Dean tersenyum sebentar. "Aku tadi sekalian berkunjung ke rumah sakit. Dan aku teringat dengan Samudra, putra angkat kalian," ucap Dean tanpa memandang ke arah Maya sedikit pun.


Ekspresi wajah Maya semakin terlihat terkejut. Mendengar penuturan Dean barusan membuatnya merasakan ada perasaan tidak enak dalam hatinya.


"Bagaimana anda tahu jika Samudra---"


"Tidak begitu penting saya mengetahui hal itu darimana." Dean memotong ucapan Maya.


Maya memandang heran ke arah Dean yang kali ini semakin mendekat ke arah Samudra dan membelai rambut lurus bocah itu.


Membuat Samudra menggeliat sembari memicingkan sedikit netra berlensa kebiruan tersebut.


"Hai nak...." ucap Dean begitu Samudra membuka kedua netranya perlahan.


"How are you, boy?" tanya Dean lagi.


Samudra tersenyum sebentar ke arah Dean.


"Am, good.... hoams...." Samudra menggeliat sebentar sembari mengusap kedua netra menggunakan punggung tangan mungilnya.


"Om temennya daddy yang kemalin(kemarin)?" tanya Samudra begitu kesadarannya sepenuhnya telah terkumpul.


Dean mengangguk dan kembali tersenyum ke arah bocah itu.


"Iya jagoan, Om temen daddy kamu." Dean kembali mengusap puncak kepala Samudra gemas.


"Hari ini Om ada hadiah buat kamu." Dean lalu merogoh sesuatu di saku blazer mahalnya.


"Lego....." pekik Samudra girang begitu melihat apa yang ada di tangan laki-laki tampan yang mirip dengan Samuel.


"Kamu suka?" tanya Dean dengan sorot mata berbinar ketika melihat senyum di wajah Samudra ketika meraih dua buah lego di tangannya.


"Suka..." Samudra mengangguk sembari terus memainkan mainan tersebut.


Maya melihat keduanya dengan heran. Bagaimana cara Dean bicara dan mengambil hati Samudra. Serta sikap welcome Samudra terhadap seorang Dean Sanjaya membuat Maya mengernyit heran. Padahal biasanya Samudra sosok anak yang tidak mudah membaur dengan orang lain selain dirinya, Samuel dan kedua orang tua Sam.


"Oh ya, bukankah hasil CT scan Samudra hari ini keluar?" tanya Dean.


Membuat Maya tersentak kaget dan membuyarkan lamunannya.


"Eh-i-ya, mungkin nanti setelah Samuel tiba ke rumah sakit, kami akan berbicara dengan dokter Chen," ujar Maya.


Dia sengaja berkata jika Sam akan kesini, supaya Dean buru-buru pamit keluar.


"Oh Sam akan kesini juga? Biasanya dia sibuk dengan pekerjaannya dan meninggalkan kalian berdua di rumah sakit." Ucap Dean dengan santainya.


Membuat bibir Maya mengerucut kesal.


"Tapi selepas dari kantor, Sam selalu kesini kok," protes Maya cepat.


Dean hanya berseringai kecil merespon.


"Oh-iya Am kalo udah sembuh, mau Om Dean ajak ke Dufan? Nanti Am bisa main sepuasnya."


Wajah Samudra langsung saja semangat.


"Mau..... Am mau naik rolelcostel(rolercoster) trus Am pengen naik kola-kola(kora-kora), bianglala--- dan Am pengen makan es clim (es krim) dan sosis babelqiu(baberqiue) sepuasnya." Samudra menjawabnya dengan semangat.


Membuat Maya melongo dibuatnya.


Apa sih mau ni orang? batin Maya kesal.


"Kamu mau ikut, May?" tanya Dean tiba-tiba.


Maya tersentak kaget, secepatnya ia pun menggeleng menjawab pertanyaan Dean.


"Mommy gak ikut? Nanti, Am cama ciapa (sama siapa)?" tanya Samudra.


Belum sempat Maya menjawab, tiba-tiba saja knop pintu terdengar terbuka.


Kedua netra Maya membola melihat Samuel yang kini berdiri di ujung pintu dengan senyum yang perlahan memudar saat melihat sosok pria lain di dalam kamar rawat Samudra.


"Suami----" lirih Maya mendekati Samuel.


To be continue....