MySam

MySam
Lo Milik Gue May...



Tuuutt... tuuttt....!!


Mematikan remote kunci, kemudian berjalan memasuki halaman rumah Maya. Tubuh atletis El sore ini terlihat sangat sempurna dengan Tshirt hitam berpadu kemeja kotak-kotak berwarna hitam putih plus celana jeans casual dengan sedikit sobekan di bagian lutut. Sepatu sneakers hitam menjadi pelengkap penampilan El sore itu.


Mendekati arah pintu rumah Maya dan mengetuk pintu pelan.


Beberapa menit kemudian Maya membuka knop pintu, tersenyum ke arah Elano. "Sore May...." sapa El yang juga tersenyum ke arah Maya.


"Sore, eh emang kita ada janji ya?" tanya Maya, mempersilahkan El untuk duduk di kursi teras rumah.


"Aku kesini cuma mau ngasih ini ke kamu." Menyodorkan sebuah kunci mobil, dengan senyuman kecil yang kembali tertarik di sudut bibir El.


"Maksud kamu apa?" sedikit menarik keningnya heran, Maya menatap wajah El dengan ekspresi penuh pertanyaan.


"Ini mobil inventaris kantor, tadi nya mau aku kasih besok. Tapi gak ada salahnya kan aku kasih sekarang? lagian besok juga bisa kamu pakai buat ke kantor." jelas Elano, masih dengan ekspresi terkejutnya, Maya menggeser kunci yang tadinya El taruh di atas meja teras.


"Aku gak bisa nerima ini El, lagian aku kan baru juga di perusahaan kamu. Rasanya gak pantas aku nerima fasilitas itu." ucap Maya, menggeser kunci mobil itu kembali ke arah Elano.


"Ayo lah May, kamu pantas kok dapat itu. Bukan dari aku tapi dari kantor." Sedikit berbohong sebenarnya, El tidak mau mengakui jika mobil itu dari dirinya. Pria itu tahu sifat Maya, keras kepala dan tidak mau berhutang budi sama siapapun.


"Semua karyawan dengan jabatan manager juga dapat kok." desak El lagi.


Melirik sebentar ke arah mobil yang terparkir di depan rumahnya, Maya merotasikan kedua netranya kembali ke arah Elano.


"Tapi El, mobil itu sedikit terlalu mahal untuk sebuah inventaris kantor deh. Apalagi cuma buat seorang manajer baru kayak aku."


Membuang napas perlahan, kini El meraih tangan Maya dan meletakkan kunci tadi ke telapak tangan Maya. "Udah deh gak usah bantah lagi May, mobil ini buat kamu." ucap Elano sedikit bernada memaksa.


"Dan surat-surat kendaraan nya ada di dalam laci mobil." lanjut El lagi.


"Tapi El...."


"Aku gak mau kamu menolak ini May." jawab El menyela kalimat Maya. Gadis itu terlihat menghembuskan napas berat, memandang ke arah El yang kini tersenyum kecil. Bagi kebanyakan gadis senyuman El sudah pasti mampu menghipnotis mereka, namun bagi Maya hanya senyuman Samuel lah yang mampu membuat dirinya selalu merindu setiap saat.


Menerima mobil inventaris kantor walau dengan hati setengah tidak enak. Maya mencoba melihat segalanya dari segi positif, setidaknya bukan ia yang meminta dan bukan kemauannya dengan semua itu.


"Besok kamu pakai ya May, udah saatnya motor buntut kamu itu istirahat di rumah." ucap El, tak ada jawaban apapun dari Maya, hanya sebuah senyuman kecil yang terlihat di sudut bibir Maya.


____


Sam merasakan kerinduan yang tak bisa dijelaskan ketika Maya tidak terlihat di ruang kerjanya. Tidak biasanya ia terlambat datang, batin Samuel.


Baru saja Sam keluar dari lobi kantor, ia dikejutkan oleh gadis berpakaian rapi berjalan berdampingan dengan pria dengan setelan jas mahal berwarna hitam. Turun dari sedan putih, seri terbaru keluaran dari produsen mobil terbesar di negara Matahari Terbit. Maya dan Elano... terlihat Maya berjalan berdampingan dengan El, sesekali senyuman gadis itu terlihat menyembul keluar dari sudut bibirnya.


Kecemburuan Sam kembali berkobar di jiwanya, tak ada senyuman di wajah Sam yang kini berdiri di ujung lobi. Memandang lekat Maya dan Elano saat mereka berjalan memasuki lobi.


Jantung Maya kembali dipacu, entah karena kerinduan Maya dan memikirkan berada dalam dekapan Sam atau Maya takut Sam kembali marah saat melihat dirinya kembali berdua bersama Elano.


Hanya melenggang melewati Sam, sedikit melirik ke arah pria itu. Maya kini sedikit menjaga jaraknya dengan El.


Memasuki lift bersama El, tiba-tiba tanpa mereka duga Sam berjalan cepat berusaha mengejar agar pintu lift tidak lekas tertutup.


Menahan pintu lift dengan punggung tangan Sam, Maya membolakan kedua netra. Berfikir jika Samuel mungkin merasakan sakit pada punggung tangannya saat berusaha menghentikan pintu lift tadi. Kini ada perasaan khawatir menyelimuti hati Maya.


"Pagi Sam." sapa El dengan senyuman mengembang di sudut bibir tipis nya. Hanya senyuman balasan dari Sam, melirik sebentar ke arah Maya dan El kemudian kembali memandang lurus dengan sorot mata tajam.


Melewati terlebih dahulu dan keluar dari pintu lift, berjalan tepat di hadapan Sam. Ada perasaan canggung yang kembali menyeruak dari dada Maya.


"Gue mau ngomong sama lo." ucap Sam ketus, mencekal lengan Maya dan mencengkeram nya erat. Membuat Maya bergidik ngeri, melihat wajah Sam secara seksama. Ada kemarahan di iris kecoklatan itu.


"Kamu gak apa-apa May?" tanya El, Maya mengangguk pelan.


Wajah Samuel kali ini benar-benar membuat Maya takut, bukan wajah yang penuh keceriaan dan cinta seperti dulu.


Elano mengangguk, kembali berjalan keluar dari pintu lift. Berdiri sejenak menatap lift yang kemudian kembali tertutup, bersama Maya dan Sam di dalamnya.


___


"Gue gak suka liat lo jalan berdua sama El, mantan lo itu."


Sam menghentikan lift dengan dia dan Maya di dalamnya, menyudutkan tubuh Maya pada dinding lift dan menahan tubuh gadis itu dengan kedua lengan kekar Sam.


"Lo denger gue?!" ulang Samuel sedikit membentak Maya.


Mengedikkan kaget kedua bahu nya ketika Maya mendengar bentakan Samuel. Baru kali ini Sam membentak Maya. Dulu pria itu tidak pernah sebegitu marah terhadap Maya.


"Apa hak kamu Sam?"


"Lo tanya apa hak gue hah?! Lo itu milik gue May, hanya gue." Semakin kuat mencengkeram lengan Maya, kini tangan Sam yang satunya lagi sudah berada di rahang Maya, sedikit mengeratkan cengkeraman nya disana juga.


"Auw.... kamu nyakitin aku Sam." Berusaha melepaskan diri dari tubuh Sam, namun tenaga Maya tidak sekuat itu melawan Samuel.


Samuel semakin bertindak ke-setanan, rasa cemburu nya kini sudah merajai hati Samuel.


Hampir saja Sam mendekatkan wajahnya dan bibirnya ke arah Maya, berusaha mencium paksa bibir peach Maya. "Lo hanya milik gue."


"Dan sweet peach lo itu tetap milik gue Maya." Kini Sam semakin mencoba memaksa Maya, semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Maya hingga kini sedikit menempel. "Lepasin Sam, sakit... kamu udah gila ya?!" berusaha mengumpulkan semua tenaganya, Maya mendorong tubuh kekar Sam, dan ....


Plak....!!!


Sebuah tamparan keras Maya berhasil mendarat di pipi Samuel.


"Kamu udah gila ya Sam?" erang Maya, dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan gaun yang terlihat kusut oleh gerakan tubuh Sam tadi.


"Iya gue gila karena lo May. Gila karena lo diem seperti ini!" masih sedikit bicara dengan nada sarkas ke arah Maya. Sam melirik sebuah kunci mobil yang tergantung tanpa sengaja di tas Maya.


Tersenyum menyeringai sebentar, lalu dengan tanpa Maya duga tangan Sam sudah meraih kunci mobil tersebut.


"Oh... jadi El membeli lo dengan mobil ini hah?!" kembali berteriak ke arah Maya, tangannya menggantung kunci mobil itu tepat di depan mata Maya.


"Kalo lo pengen mobil, lo bilang ke gue. Gue bisa membeli lo lebih dari sekedar mobil murahan itu May!!"


Kata-kata sarkas Sam kembali terucap, membuat Maya terdiam. Cairan bening keluar dari semua sudut mata gadis itu.


Maya melayangkan kembali tamparan keras ke pipi Samuel.


Plak....!!!


kembali membuat rahang Sam bergetar hebat, kali ini sungguh sakit yang dirasakan oleh Sam.


"Gue gak semurah itu Sam. Lo salah punya anggapan seperti itu." meraih kunci mobil dari tangan Samuel dan melempar kunci tersebut tepat ke arah tubuh Sam.


"Gue pikir lo udah berubah Sam, tapi ternyata gue salah. Lo tetap arogan dan bajingan seperti dulu!!"


Maya menekan tombol lift hingga pintu lift terbuka. Melangkah meninggalkan Sam yang kini mematung, menyesali kebodohan yang baru saja ia perbuat.


Cairan bening pun keluar dari sudut mata Samuel. Menyeka kasar rambut ikal kemerahan miliknya lalu mendongak keatas dengan sebuah teriakan yang kini menggema di seluruh ruangan lift. Kini Samuel sendirian di dalam lift, rasa cemburu nya membuat Maya semakin membenci dia kini.


Damned...!!! stupid you Samuel...!!! erang Sam.


to be continue....