
Theresia dengan sigap memakaikan pakaian khusus yang menyerupai gaun dan berwarna hijau selutut yang dikhususkan untuk pembesuk pasien ICU ke tubuh Daniel. Suster cantik itu juga menyodorkan masker steril ke arah Daniel.
"Maaf kamu hanya diizinkan lima menit saja untuk melihat pasien," ucap Theresia kembali mengingatkan.
Daniel mengangguk pelan dan berjalan memasuki ruang ICU yang terpisah dari pasien-pasien ICU yang lain.
Daniel membuka pintu kaca transparan dan berjalan mendekat, ia memandang nanar ke arah Samuel yang terbaring tanpa gerak di atas brankar rumah sakit. Pemandangan yang sedikit mencekam, peralatan monitoring yang terpasang untuk memantau denyut jantung dan pernapasan menjadi pandangan utama Daniel saat berhadapan dengan Sam saat ini. Selang pernapasan yang terpasang di hidung Samuel dan juga selang infus yang tertancap di nadi Sam, serta selang untuk mengeluarkan cairan urine, cairan lambung atau cairan dari bagian tubuh lainnya pun terpasang di tubuh kekar Samuel, semakin memperlihatkan betapa ketidakberdaya-an pria tampan itu.
Luka memar dan goresan akibat benda tajam memenuhi wajah dan juga kedua lengan Samuel.
Suara mesin pengungkur detak jantung dan alat bantu pernapasan pun seolah tidak membuat Sam terjaga. Pria bertubuh atletis itu tetap terbaring tanpa gerak.
Kedua netra yang biasa menyorotnya tajam dan angkuh pun kali itu tetap terpejam damai.
Daniel semakin mendekat, memandang dengan rasa penyesalan melihat keadaan Samuel saat ini.
Saudara yang begitu ia cintai dan selalu Daniel lindungi dulu, kini telah terbaring tak berdaya dengan semua peralatan canggih rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
"Sam....." lirih Daniel.
Tangan Daniel meraih lengan Samuel yang terpasang infus. Dan masih tidak ada respon dari saudaranya itu.
"Bangun Sam.... bangun demi Maya," ucap Daniel lagi.
"Lo tau? Maya saat ini dalam proses melahirkan dan dia hanya menginginkan Lo, Sam...."
"Jadi Lo harus bangun, Lo harus sadar demi istri dan anak-anak Lo." Daniel melanjutkan kembali ucapannya. Berharap Samuel mendengarnya dan akan terbangun dari koma-nya.
"Apa yang Lo pikirkan tentang Gue dan Maya itu salah---"
Daniel menjeda sejenak sembari membuang napas berat.
"Iya jujur.... Gue emang menyukai Maya. Sejak pertama kali Gue melihat dia dan Lo malam itu."
"Huft.....!" Daniel menghela napas berat.
"Bukan hal aneh jika kita berdua memiliki selera terhadap perempuan yang sama---" seringai Daniel.
"Mungkin kita berdua tau jika Maya adalah perempuan yang pantas untuk dicintai, iya kan Sam?" lanjut Daniel.
"Maya mencintai Lo, Sam. Dia bahkan menolak Gue karena Lo." Daniel kembali menjeda kalimatnya. Mata pria itu kini berotasi ke sekitar ruang ICU yang Samuel tempati. Tidak ada pemandangan lain selain peralatan canggih rumah sakit yang terlihat begitu menakutkan.
"Lo harus bangun Sammy...." ucap Daniel yang menyebutkan nama panggilan kesayangannya terhadap Samuel saat mereka masih anak-anak dulu.
"Anak kalian sebentar lagi lahir dan Lo harus bangun demi mereka."
"Demi Mama, Papa dan keluarga Lo, Sam."
Daniel masih mencoba berinteraksi dengan Samuel meski dilihatnya Sam tetap diam tak merespon.
Theresia yang tanpa sengaja melihat dan mendengar apa yang Daniel ucapkan dari arah dinding kaca transparan ruangan ICU mendadak ikut merasakan kesedihan yang pria itu rasakan.
Theresia perlahan membuka pintu dan memegang pundak Daniel sembari berbisik. "Maaf tapi waktu kamu udah habis."
Daniel mengangguk pelan dan memandang sebentar ke arah suster Theresia.
"Baiklah," ucap Daniel lirih.
"Gue pergi dulu Sam, tapi Gue janji akan kesini lagi." Daniel berpamitan, meski ia tau jika Sam tidak akan bisa menjawab ucapannya.
Dia pun lalu berjalan mengikuti langkah suster yang mempunyai sepasang mata oriental yang begitu jernih, hingga tiba-tiba ponselnya bergetar dengan nada dering yang sudah ia silent sebelumnya.
"Halo Ma? Iya aku baru aja melihat keadaan Sammy___ dia masih belum sadar Ma___ hm, mama doain aja Sam___ Papa udah tau tapi belum sempat ke rumah sakit___ Iya-iya___ Apa Ma? Beneran?___ oh syukurlah__ Iya Danny akan ke sana___ Baik Ma__ bye..."
Klik
Daniel pun mematikan sambungan telepon dari Anita.
Satu senyum kecil pun terlihat menghiasi wajah Daniel.
Beberapa detik setelah menerima panggilan telepon dari Anita, Daniel merotasikan pandangannya ke sekeliling. Dia baru sadar jika Theresia saat itu sudah meninggalkan dia sendirian di lorong-lorong keluar dari ruang ICU.
"Ah sial..... kenapa Gue gak minta nomor telepon suster itu? Damn....!" batin Daniel kesal.
....
Anita menghela napas lega begitu ia melihat dokter Linda keluar dari ruang operasi. Dengan segera, Anita mendekat ke arah dokter cantik spesialis kandungan yang menangani Maya.
"Bagaimana dengan menantu saya, Dok?" tanya Anita tidak sabar.
"Nyonya Maya baik-baik saja."
"Lalu cucu-cucu saya?"
Dokter Linda tersenyum sebentar.
"Cucu-cucu nyonya sehat dan selamat."
"Oh puji Tuhan, syukurlah...." Anita akhirnya bisa menghela napas lega.
"Apa saya sudah bisa melihat menantu saya, Dok?"
"Maaf saat ini Nyonya Maya masih dalam tahap pemulihan. Nanti biar suster yang akan mengantar Nyonya Maya ke kamar rawat inap." Dokter Linda menjeda sebentar kalimatnya.
"Apakah Anda sudah memilih satu kamar rawat untuk Nyonya Maya?"
Anita mengangguk pelan. "Sudah Dok."
"Kalau begitu biar nanti suster yang mengatur kepindahan Nyonya Maya."
"Terima kasih, Dok."
Dokter Linda pun kembali tersenyum sebelum ia pergi berlalu meninggalkan Anita.
Wanita itu pun lalu menarik keluar ponsel dari dalam tas branded nya.
Beberapa menit kemudian setelah Anita melakukan panggilan selulernya.....
"Suster, apa saya bisa melihat cucu-cucu saya?"
Tanya Anita ke arah suster yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Oh baik Nyonya, mari saya antar," si suster itu pun menjawab ramah lalu mempersilahkan Anita untuk mengikuti langkah-langkah kakinya.
...
Dari luar ruangan dengan sekat dinding berkaca, Anita menatap tidak percaya dua bayi mungil yang terbaring di box bayi dan menggeliat-geliat kecil sembari kedua mata yang masih memejam. Bayi dengan kulit putih bersih serta bibir merah merona dan rambut kecoklatan itu terlihat begitu nyaman dalam dekapan selimut hangat berwana biru dan pink.
Pada ujung box bayi itu tertulis nama Nyonya Maya Perdana. Anita semakin yakin jika kedua bayi mungil itu adalah cucu pertamanya.
Rasa haru dengan begitu saja menyergap seluruh relung hati Anita.
Hampir saja ia menangis menahan rasa bahagia yang saat ini menyelimuti hati wanita itu. Meski masih ada sisa duka yang Anita rasakan dengan keadaan Samuel. Hingga saat ini pun ia belum bisa menemui putranya.
"Suster apakah saya bisa memeluk dan mencium cucu-cucu saya?" tanya Anita pada suster penjaga ruangan khusus bayi yang baru saja dilahirkan.
"Maaf Nyonya, kami tidak diperbolehkan mengeluarkan bayi-bayi ini."
Terlihat kekecewaan dari wajah Anita.
"Anda tidak perlu khawatir, setelah ibu dari bayi kembar ini sudah sadar, kami akan memberikan si kembar ini ke ibunya untuk disusui," ucap sang suster.
Anita terlihat tersenyum lega. "Baiklah, terima kasih Suster."
"Sama-sama Nyonya," angguk suster itu sopan.
"Oh-ya Sust, apa saya bisa mengambil gambar mereka?"
"Silahkan Nyonya tapi dari luar sini ambil foto nya." Suster itu kembali tersenyum kecil.
"Baiklah," angguk Anita girang.
Tak lama pun Anita langsung mengabadikan moment itu, terlihat Anita beberapa kali menekan tombol pada kamera ponselnya.
Cekrek.... cekrek...cekrek.....
Setelah dirasa cukup, Anita pun mengirimkan beberapa foto bayi kembar itu ke nomor Permana dan juga Daniel.
....
Kembali ponsel Daniel berdering, kali ini sebuah pesan gambar dari Anita. Sepintas terlihat kedua ujung alis Daniel berkerut.
Wajah heran Daniel seketika berubah menjadi senyuman sumringah ketika melihat foto dua bayi mungil dan membaca caption pesan dari Anita. "Si kembar Sam dan Maya", tulis Anita di layar ponsel Daniel.
Senyum bahagia tak pernah hilang dari wajah Daniel saat itu, Ia masih terlihat duduk di ruang tunggu pasien yang berada di lobi depan rumah sakit.
"Belum pulang?"
Sebuah suara lembut tiba-tiba saja membuat perhatian Daniel dari layar ponselnya terjeda seketika.
Daniel mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah sumber suara yang ada di samping kanan tubuhnya.
"Eh-be-belum....." gagap Daniel.
Kembali senyuman pria itu terlihat mengembang sempurna.
"Owh...." Suster cantik itu pun membulatkan lucu bibirnya.
Membuat kedua netra kebiruan Daniel seolah berbinar ketika ia melihat ekspresi wajah Theresia.
"Lebih baik kamu pulang dulu, istirahat. Lagipula saudara kamu masih belum sadar, biar kami yang menjaganya."
Theresia kembali berbicara.
Kembali membuat Daniel terdiam mematung. Dia hanya bisa memandangi wajah gadis dengan seragam susternya.
"Daniel....."
Theresia kembali memanggil namanya.
"Oh-eh-a-aku masih ingin di sini sebentar." Daniel kembali tergagap.
"Owh.... baiklah kalo gitu."
Antara mereka hanya ada keheningan di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang saat itu.
"Baiklah, aku harus bertugas lagi."
Ucapan Theresia kembali hanya direspon tatapan mata penuh takjub dari Daniel. Pria itu bahkan hanya mematung ketika suster Theresia berbicara padanya.
"Oh-ya cafetaria rumah sakit ini ada di lantai dua, jika kamu ingin membeli sesuatu...." ucap suster itu lagi.
Daniel kembali mengangguk kecil tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pria itu.
Hingga beberapa meter langkah kaki Theresia yang berjalan meninggalkan Daniel, baru ia sadar akan niatnya meminta nomor telepon suster itu.
"Hah....! Gue lupa lagi meminta nomor telepon dia?! Damn!" batin Daniel kesal.
to be continue...