MySam

MySam
The Wedding part 2



Maya berjalan dengan anggun memasuki ruangan yang berwarna serba putih dan juga pastel. Ia berjalan melewati gelaran karpet merah yang bertabur ribuan kelopak bunga mawar merah. Hati Maya membuncah, seketika lampu ballroom mulai remang yang hanya menyisakan pantulan cahaya gemintang di seluruh ruangan. Maya bahkan tidak mengetahui kejutan yang Sam berikan saat akad mereka.


Ini seperti saat pertama kali mereka melihat gemintang dan benda langit lainnya saat berada di Planetarium, seperti juga saat pertama kalinya Maya menikmati hujan meteor dari balkon kamar Samuel.


Maya berjalan ke arah Sam dengan begitu anggun, kebaya putih ber-layer panjang menjuntai bak putri duyung terlihat begitu mempesona, sangat pas melekat di tubuh indahnya.


Sam terus saja memandang lembut sosok gadis cantik yang berjalan ke arahnya dengan begitu mempesona. Melihat Maya dengan balutan kebaya broken white membuatnya speechless, seolah dia tidak bisa lagi berkata apa-apa, netranya lekat memandangi tiap inci tubuh gadis yang kini semakin mendekat ke arahnya.


Cahaya remang di seluruh ruangan ballroom hotel tidak sedikitpun menghalangi pandangan Sam untuk melihat kecantikan Maya yang laksana bidadari.


Tiba-tiba lampu ruangan ballroom kembali menyala terang, begitu Maya mendekat ke arah Sam. Berdiri saling berhadapan. Membuat semua tamu yang hadir saat itu terkagum-kagum dengan pasangan yang begitu sempurna.


"You are very beautiful bride, honey." Sam berbisik lembut, kedua netranya sungguh tidak bisa berpaling kini.


"Kalian sudah siap?" tanya sang ustad, guru pembimbing Samuel yang hari ini akan menjadi wali Maya untuk menikahkan mereka berdua.


Baik Samuel dan Maya sama-sama saling mengangguk menjawab pertanyaan pria yang berpakaian rapi dengan perpaduan warna hitam dan putih.


"Kalian berdua duduklah bersanding."


Maya dan juga Samuel menurut, berjalan menuju kursi putih. Dan di hadapan mereka sang ustad dan juga Permana yang duduk di samping beliau.


"Kamu sudah siap, nak Sam?" tanya sang ustad sekali lagi ke arah Samuel, dan lagi-lagi Sam mengangguk yakin.


"Baiklah, jawab ucapan saya." Sang ustad meraih punggung tangan Sam dan menjabatnya erat.


Suasana hening sesaat, Anita memandang lembut moment paling bahagia bagi putranya, air mata kebahagiaan kini mengalir di pipi wanita itu tanpa aba-aba. Begitupun dengan Siska, waktu rasanya berlalu begitu cepat. Seolah baru kemarin Maya, gadis kecilnya tumbuh menjadi gadis remaja, namun kini ia menjelma menjadi gadis dewasa yang dipersunting oleh pria pilihan hati putrinya.


"Bismi-llāhi ar-rahmāni ar-rāhimi ... Saya nikahkan engkau ananda Samuel Perdana bin Permana Hadi Perdana dengan Maya Aulia binti almarhum Rusli Aryono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat dua puluh dua gram emas dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Maya Aulia binti almarhum Rusli Aryono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat dua puluh dua gram emas dibayar tunai." Samuel menjawab dengan mantap, tanpa ada kesalahan sedikitpun. Untuk beberapa saat memandang ke arah Maya yang duduk tertunduk di sebelahnya.


"Bagaimana saksi, Sah....?"


Serempak para saksi yang hadir terutama Permana langsung saja menjawab kompak dengan satu kata 'Sah'


"Alhamdulillah....." ucap sang wali nikah, yang kemudian diikuti dengan doa yang dipanjatkan oleh wali nikah dan tentu saja di amin-kan oleh seluruh undangan keluarga terdekat, tak terkecuali Anita dan Permana. Walau mereka berbeda keyakinan, tetap doa terbaik keduanya panjatkan untuk kebahagiaan putra mereka.


Sam dan Maya saling berpandang, keduanya tersenyum bahagia. Akhirnya white wedding yang mereka impikan hari ini terwujud. "Aku sangat bahagia, sayang." Sam membisikkan di telinga Maya.


"Me too, hunny." Maya tersipu, rona merah muda di pipi gadis itu membuat Sam selalu ingin mendaratkan ciuman di sana. Setidaknya tunggu lah acara akad ini selesai.


____


Baik Sam maupun Maya terlihat saling menyapa tamu undangan, dengan selalu bergandengan tangan keduanya satu persatu mendekati seluruh tamu yang pada saat akad hanya terlihat keluarga dan sahabat terdekat yang hadir. Tentu saja semua kolega rekan bisnis serta seluruh karyawan maupun keluarga lainnya akan hadir memenuhi undangan pada saat resepsi yang berlangsung malam harinya.


Keduanya saling tertawa ketika menyapa seluruh tamu yang dihadiri oleh sahabat dan keluarga terdekat.


"Maya..... selamat ya, seneng deh akhirnya melihat kalian married." Martha mendaratkan pelukan dan ciuman di pipi Maya. "Makasih ya Tha, thanks juga buat bantuan kamu mempersiapkan segalanya." Maya membalas pelukan Martha. Tersenyum manis ke arah Samudra yang berada di gendongan sang mama.


"Hello little angel..... miss you baby...." Maya tak lupa mendaratkan ciuman di pipi chubby Samudra dan mencubitnya gemas.


"Celamat ya onty.... onty tantik deh hali ini....." Ucap Martha mewakili Samudra, menghadapkan bayi mungil itu ke arah Maya. Membuat Maya semakin gemas untuk tidak mendaratkan cubitan kecil dan ciuman ke pipi chubby yang selalu bersemu merah muda itu.


"Maacih cayang..... ish.... gumush deh." Maya kembali tersenyum gemas ke arah Samudra.


"Congratulation for your wedding, Sam." Giliran Harris kini memeluk kecil bahu Sam dan menepuknya pelan.


"Thanks, Dok...." Sam tersenyum dan membalas pelukan ucapan selamat dari Harris. Keduanya kini terlihat sibuk berbincang, sesekali Sam menjawab juga sapaan dan ucapan selamat dari sahabat dan keluarga yang lainnya.


"Sam....."


Sam dan Maya spontan menoleh ke arah sumber suara, langsung saja Sam mencium kedua pipi dan punggung tangan Anita, begitupun Maya. Gadis itu memeluk Anita dan juga Siska yang berdiri di hadapan keduanya.


"Selamat ya sayang, semoga kalian langgeng ya. Kamu jadi imam keluarga sekarang, baik-baiklah menjaga keluarga kamu, Sam." Anita memberi wejangan, air mata kebahagiaan masih menetes melihat putra kesayangannya kini.


"Makasih Ma, Sam akan ingat pesan mama dan papa." Sekali lagi Sam meraih pundak kecil Anita dan memeluknya erat.


.....


Acara akad sudah selesai, tinggal menunggu acara puncak. Yaitu resepsi pernikahan keduanya, masih ada waktu beberapa jam lagi untuk Sam dan Maya beristirahat sebelum acara resepsi mereka dimulai. Sam tidak menyiakan kesempatan ini, semua ketegangan serta fikiran yang terkuras selama akad berlangsung membuat Samuel menaiki lantai sepuluh untuk merebahkan tubuhnya sejenak di salah satu kamar bertipe Presidential Suite Room di hotel bintang lima yang tentu saja sudah dipersiapkan untuk nya dan Maya, sekalian mereka berencana melakukan honey moon setelah acara resepsi di hotel tersebut.


Tubuh Sam memang sangat lelah namun semua fikiran dan hatinya kini merindukan kehadiran Maya, ralat.... kehadiran istrinya.


Sam menarik senyuman kecilnya, tersenyum-senyum sendiri membayangkan malam pertama mereka nanti. Oh... pria itu tidak bisa lebih lama lagi untuk tidak bertemu dengan istrinya. Sam meraih ponsel pipihnya, menuliskan sebuah pesan di sana untuk Maya.


💌💌


ddrrtt....ddrrttt...


Ponsel pipih Maya tiba-tiba saja bergetar diikuti dengan suara nada dering notifikasi, Sam... batin Maya. Dengan cepat gadis itu membuka pesan dari Sam, membacanya dengan senyuman mengembang di semua sudut bibirnya.


^^^"Aku tunggu kamu di kamar kita, sayang....."^^^


^^^"I miss you istriku...."^^^


^^^"Apa kamu tega membiarkan suami kamu sendirian di kamar yang penuh dengan kelopak bunga mawar ini, hhmm....?^^^



Maya menarik senyuman kecilnya, membaca semua pesan Sam yang secara beruntun suaminya itu kirimkan. Sam juga mengirimkan gambar kamar pengantin mereka. Membuat Maya terkekeh geli melihat kelakuan suaminya kini.


"May, Lo kenapa sih? dari tadi liatin ponsel sambil senyum-senyum sendiri?" tanya Airin kepo.


"Sam... dia ngirim pesen ke gue." Maya menjeda sejenak ucapannya. "Girls, gue pamit dulu ya, gak apa-apa kan?" lanjut Maya.


Airin dan yang lain mengangguk, tersenyum kecil memahami maksud sang pengantin baru itu.


"Iya..... iya..... duhh.... yang pengantin baru udah gak sabar aja nih...." goda Airin.


"Apaan sih...." Maya tersipu, rona merah kini menyembul di kedua pipi putihnya.


"Kalian jangan lupa ntar malam datang lagi ya." Maya melanjutkan, masih dengan rona merah di kedua pipinya.


"Of course, hunny..... kita pasti datang kok. Happy wedding sweet Maya.... oh ya happy honey moon...." ucap Airin yang kemudian disusul oleh semua para gadis memeluk tubuh Maya erat. Mendaratkan serbuan ciuman kecil di pipi Maya.


"Thanks ya...." Maya membalas semua pelukan sahabatnya.


"Udah sana Lo temuin suami Lo, jangan sampai doi nunggu lama, nyonya Samuel...." ucap Jasmin, sahabat kuliah Maya. Spontan semua sahabat yang lain pun berteriak heboh, menyuruh Maya cepat-cepat pergi dari ballroom hotel dan menaiki lift untuk bisa sampai di kamar honey moon Maya dan Sam.


Maya perlahan melangkah meninggalkan beberapa gadis itu dan juga tamu serta kerabat yang lain. Menaiki lift hingga pintu lift tertutup yang akan membawanya naik ke atas menemui Samuel, suaminya.


...


Perlahan Maya membuka knop pintu kamar hotel, memasuki ruangan luas dengan dekorasi yang sangat indah. Maya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar luas tersebut. Lampu yang sedikit temaram berhias puluhan balon warna warni serta taburan kelopak bunga mawar memenuhi seluruh lantai kamar yang akan membawanya menemui Samuel. Maya membuncah ketika melihat ranjang pengantin mereka dengan hiasan entah berapa ribu helai kelopak mawar warna warni yang tertata apik membentuk sebuah gambar hati.


Sam.... pria itu berdiri di samping ranjang, dengan sebuah kue ulang tahun terindah di kedua tangannya. Tak henti-hentinya tersenyum ke arah Maya.


"Happy birthday and happy wedding, honey...." ucap Sam begitu ia melihat sosok Maya kini.


Tubuh Maya meremang, cairan bening kini menerobos keluar dari sudut mata hitamnya, Maya berlari kecil dan berhambur ke pelukan Samuel. "Thanks, suamiku...." lirih Maya, mencium kedua pipi Sam dengan penuh kasih.


"Now... blow out the candle and make a wish," Sam melanjutkan.


Maya tersenyum kecil, kemudian meniup lilin kecil yang menari-nari di atas kue. Mata Maya memejam, berdoa dengan khusyuk kemudian kembali memeluk tubuh Samuel erat.


"Udah dong nangisnya, aku maunya kamu bahagia, sayang." Sam merenggangkan pelukan Maya, mengusap airmata yang selalu saja menetes di kedua pipi gadis itu.


"Aku bahagia, Sam. Sangat bahagia." Maya tersenyum kecil, kembali memeluk tubuh Sam seolah tidak ingin melepaskan sedetikpun.


Sam meletakkan di atas nakas kue ulang tahun yang ia pegang. Membawa tubuh Maya untuk duduk di atas sebuah sofa nyaman. "Kamu lelah sayang? Kamu istirahat ya?"


Maya memandang lekat iris kecoklatan Sam, apakah suaminya tidak ingin malam pertama darinya? kenapa Sam malah menyuruhnya beristirahat?


"Aku gak mau kamu kelelahan saat resepsi nanti, aku tidak akan cepat-cepat menuntut malam pertama kita sayang. Semua terserah sama kamu. Jika kamu belum siap aku gak mau memaksa." Sam melanjutkan lagi, seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Maya saat ini. Sam meraih pipi Maya membelai lembut pipi itu.


"Makasih, Sam," lirih Maya.


Sam mengangguk, dengan tiba-tiba membopong tubuh Maya, menggendongnya ala bridal style. Menjatuhkan perlahan tubuh Maya di atas ranjang dengan ribuan kelopak mawar. "Kamu istirahatlah," Sam melepaskan sepatu ber-hak tinggi milik Maya. Membelai lembut kaki putih istrinya dan mencium jemari kaki Maya, membuat Maya tersentak kaget dengan perlakuan suaminya kini.


"Tidurlah sayang, aku ada disini menjaga kamu." Sam kini berbaring di samping Maya. Memeluk pinggang gadis itu erat.


Maya memandang lekat wajah Samuel, tersenyum sebentar lalu membelai rahang kotak suaminya.


"Aku mencintai kamu, suamiku..." bisik Maya lembut.


"And i love you more, my sweetheart..." balas Sam lembut.


Keduanya kini sama-sama saling memejamkan mata, masih terbalut gaun pengantin yang Maya kenakan. Saling berpeluk erat, tanpa ada pergerakan liar. Hanya tidur dengan tubuh yang saling berpeluk hangat. Keduanya ingin menikmati saat-saat terindah mereka tanpa nafsu menguasai. Sam bisa menunggu hingga Maya merasa siap melakukan malam pertama mereka.


to be continue.....