MySam

MySam
Setelah 4 Bulan



Ini adalah minggu ke enam belas kehamilan Maya. Dengan perut yang sudah kelihatan membuncit, Maya kini suka sekali berdiri di depan cermin dan melihat perubahan anatomi tubuhnya. Bukan hanya perut, pantat dan juga pa*udara wanita itu pun terlihat membesar.


Selama kehamilan keduanya ini, ia mengalami masa ngidam yang begitu melelahkan, sangat berbeda saat kehamilannya dulu. Jika dulu saat kehamilan pertamanya, Sam lah yang mengalami mual dan muntah namun berbeda dengan yang sekarang. Anehnya Maya selalu merasa mual ketika ia mencium aroma musk dari tubuh Samuel. Padahal sebelumnya aroma tubuh suaminya seperti candu buatnya.


"Sam---! jangan deket-deket-- huek....!! huek....!!" pekik Maya waktu itu ketika Samuel berusaha mendekat padanya.


Dan hal itu membuat Samuel kesal. Bagaimana ia bisa memberikan ciumannya pada istri dan calon jabang bayi mereka jika Maya terus saja menyuruhnya menjauh.


Jika sudah seperti itu, Samuel hanya meringis kecut sembari memasang wajah masamnya. Namun ia tidak bisa marah pada Maya, Sam hanya menyesalkan masa ngidam istrinya yang begitu aneh.


Kembali ke masa sekarang--- tentu saja di kehamilan yang menginjak usia empat bulan kehamilan, masa ngidam Maya sudah berangsur membaik. Ia bahkan tidak merasakan mual saat mencium aroma musk yang keluar dari tubuh Samuel. Bahkan kini Maya bisa berlama-lama untuk menciumi aroma khas suaminya. Dan Sam tentu saja sangat menyukai kebiasaan lama Maya yang telah kembali.


Pagi itu Maya mematut dirinya di depan cermin besar, sembari berdiri dengan mengelus lembut perut buncitnya. Ia tersenyum melihat ke arah kaca. "Morning baby.... Kamu nyenyak kan semalam tidurnya?" ucap Maya yang mencoba mengajak jabang bayinya berkomunikasi.


"Sehat terus di perut Mommy ya sayang, Dad dan juga kak Am gk sabar pengen ketemu kamu---" ucap Samuel yang tiba-tiba saja memeluk pinggang Maya dari belakang.


Sam mengecup leher Maya hingga ciumannya beralih ke pipi sang istri yang kini terlihat lebih chubby.


"Sam---aku gak tau kapan kamu datang."


"Hm, karena kamu sibuk sama baby kita," bisik Samuel.


"Maaf."


"Buat apa minta maaf? Aku malah seneng liatnya." Samuel masih merengkuh tubuh istrinya sembari bibir tebalnya bergerak lembut menyusuri tiap jengkal leher putih Maya.


"Oh ya, bibik udah siapin sarapan buat kamu dan calon jagoan kita." Samuel kini berpindah posisi, menghadap ke arah Maya. Dengan masih memeluk tubuh wanita itu lalu mengecupkan ciuman di kening istrinya.


Maya menautkan kedua ujung alisnya. "Kok jagoan sih? Kayaknya baby kita perempuan deh Sam," kerucut Maya lucu.


Samuel tersenyum sebentar. "Apapun dia, semoga anak kita sehat dan kamu juga," jawabnya sembari membelai ujung rambut Maya.


"Aamiin..."


"Ya udah kamu makan dulu gih, Samudra udah nunggu. Dan lagi aku gak mau anak kita kelaparan." Sam kini melilitkan syal rajut ke leher Maya.


Hampir saja keduanya melangkah meninggalkan kamar mereka, tiba-tiba saja---


"Sam....!!" pekik Maya tiba-tiba sembari memegang perut buncitnya.


"Ada apa, sayang?" Sam terlihat khawatir, takut-takut jika sesuatu terjadi pada kandungan sang istri.


"Dia gerak, Sam!" pekik Maya lagi.


Kali ini Maya meraih punggung tangan Samuel dan menempelkan ke atas perut buncitnya.


"Kamu merasakannya kan Sam?"


Samuel mengangguk, dari perut Maya sesekali ia merasakan gerakan-gerakan mungil. Sam kini sedikit membungkuk sembari mendekatkan wajah pada perut istrinya yang kini sudah tidak rata lagi.


"Hey sayang--- baik-baik ya di dalam sana. Jangan nakal dan buat Mommy lelah," bisik Samuel. Kecupan-kecupan lembut pun kini menyapu seluruh permukaan perut buncit Maya.


Maya yang saat itu berdiri sembari mengelus rambut Samuel yang menempel pada perutnya, kini tersenyum kecil. "Dedek gak nakal kok Dad---" jawab Maya lucu yang menirukan suara anak kecil.


Samuel kini berdiri tegak sembari tersenyum geli. "I love you, istriku." Kecupnya di ujung kening Maya.


....


"Tolong kirim laporan kerjasama dengan pihak Sanjaya Group ke ruangan saya, secepatnya!" titah Samuel pada sekretaris nya melalui sambungan telepon kantor.


Tak begitu lama kemudian, seorang gadis cantik mengetuk pintu kantornya sebelum akhirnya gadis itu memasuki ruang kerja Samuel.


"Maaf pak, ini laporan kerjasama yang anda minta."


"Terima kasih, sekarang kamu boleh kembali ke ruang kerja kamu." Ucap Samuel pada Julia sekretaris baru nya pengganti Freya.


Sang sekretaris pun mengangguk sopan lalu berpamitan padanya.


Sam masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya ketika sebuah panggilan seluler berdering di ponselnya.


"Hello Daddy....!!" suara Samudra menggema.


Kini Samuel melambaikan tangan ke arah layar ponsel miliknya.


"Hello jagoan....!! Eh Am lagi apa itu? Am udah pulang dari sekolah?" tanya Samuel sembari tersenyum ke arah bocah di seberang itu.


"Am udah pul-lang...!" ucap Am yang berusaha menghilangkan logat cadelnya.


Sam tersenyum gemas.


"Mommy dimana Am?"


"Mommy bikin makanan buat Am dan dedek baby yang ada di per-ut Moms."


Sam kembali terseyum sembari mengernyit sebentar.


Hingga beberapa menit kemudian senyuman Sam semakin melebar tatkala melihat Maya berjalan ke arah ponsel Samudra.


Maya mendekatkan wajahnya pada layar ponsel sembari melambaikan tangannya ke arah Samuel.


"Waalaikumsalam istriku-- Kamu jangan capek-capek, mintalah tolong bibik jika Am pengen sesuatu," sahut Samuel.


Sam masih mengamati sosok Maya dari layar ponsel miliknya.


Maya menganguk sebentar.


"Hm-aku gak capek kok."


"Sayang, aku masih banyak kerjaan. Nanti sore aku usahakan pulang cepet." Ucap Samuel dengan berat hati.


Dari seberang pun Maya terlihat mengangguk pelan.


"Met kerja, suami--love you--mmuuaahh...."


Maya memajukan bibirnya membentuk ciuman jarak jauh ke arah Samuel.


Sam tersenyum sebelum akhirnya ia membalas cium jarak jauh Maya dan juga Samudra.


Sam masih menyisakan senyum lembutnya meski sambungan selulernya telah berakhir.


Pria itu pun kini kembali berkutat dengan pekerjaannya, meneliti perjanjian kerjasama kedua perusahaan serta memeriksa laporan keuangan dari kerjasama itu.


....


Bicara soal Freya, Samuel telah memindahkan gadis itu ke perusahaan property miliknya. Sam tidak mau jika Freya masih saja mencoba mengganggu nya dengan berbagai macam cara.


Samuel tidak bisa untuk memecat Freya, ia berfikir jika Freya pernah menjadi orang yang mengisi kehidupannya meskipun perempuan itu telah menorehkan luka di hatinya, ditambah lagi Freya kini telah memiliki seorang bayi yang harus wanita itu nafkahi. Dan Samuel tidak pernah tega jika menyangkut masa depan seorang anak yang akan terlantar hanya karena orangtuanya tidak mampu membiayai hidupnya.


Lagipula saat ini tidak akan ada perempuan lain sekalipun itu Freya atau perempuan-perempuan dari masa lalu nya yang bisa membuatnya berpaling dari Maya.


tok...tok...tok...


Sebuah suara ketukan pintu untuk sejenak menyita konsentrasi Samuel.


Ia melepas kacamata baca dan berpaling sejenak dari layar laptop tipisnya.


"Masuk...!" titah Samuel.


"Sam--"


Ucap Bayu ketika telah berada di ambang pintu dan berjalan ke arahnya.


"Hm?"


"Gue cuma mau ingetin kita ada meeting dengan klien."


Samuel memandang sejenak ke arah Bayu sembari memainkan pulpen di sela-sela jemarinya.


"Hari ini? Jam berapa?"


"Jam tiga sore."


"Sial!" umpat Sam yang setengah tertahan.


"Kenapa? Lo ada urusan?"


Sam mengangguk pelan. "Gue janji sama Maya untuk pulang cepet hari ini."


Bayu kini terlihat hanya ber-oh-ria.


"Bisa gak Lo majuin jam nya? Bilang sama Julia untuk menghubungi sekretaris Dean Sanjaya pimpinan perusahaan Sanjaya Group."


Bayu terlihat sedikit berfikir. "Gak bisa Sam. Lo tau kan kalo Dean Sanjaya orangnya keras kepala seperti Lo? Dia gak akan pernah mau diatur oleh siapa pun."


"Damn....!!" umpat Samuel lagi.


"Lo tinggal bilang aja ke Maya kalo sore ini Lo sedikit terlambat pulangnya. Beres kan...?"


Sam hanya melengus sebentar sebelum akhirnya ia meraih ponsel dan menuliskan sesuatu disana.


"Sam---" ucap Bayu lagi. Kali ini kembali membuat Samuel mengalihkan perhatiannya ke arah pria berpostur jangkung di hadapannya.


"Apa lagi?"


"Jangan lupa datang ke pernikahan gue," ucap Bayu seraya menyodorkan sebuah undangan pernikahan yang terlihat eksklusif.


"Kemarin di pertunangan gue, kalian udah gak dateng dan jangan sampai gak dateng juga di pernikahan gue." Bayu melanjutkan.


"Pasti gue dan Maya dateng." Samuel meraih kertas undangan dari tangan Bayu.


"Syukurlah." Ucap Bayu.


Sam hanya mengangguk kecil, sementara jemarinya masih saja bergerak mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


to be continue...