
"Mom, Am pengen pizza...." rengek Samudra.
"Pizza---? Am mamam di cafe nya mommy aja gimana?"
Samudra menggeleng cepat dan merajuk. "Gak mau...! Am maunya pizza...!" rengeknya lagi.
"Tapi ini udah kelewat jauh sayang dari sini."
"Gak mau...!! Am pokoknya pengen pizza, mommy...." rengek bocah itu lagi.
Maya menarik napas panjang, dan akhirnya mengangguk meng-iya-kan permintaan Samudra.
"Pak Kardi, balik arah ke kedai Pizza Hut." Instruksi dari Maya.
Pak Kardi mengangguk patuh. "Baik non."
Sedan silver itu pun memutar arah dan kembali melaju di tengah hiruk pikuk kota Jakarta siang itu.
....
Begitu mereka telah sampai pada parkiran luas sebuah gedung restoran cepat saji, Maya dan Samudra keluar dari sedan sport berbentuk futuristik.
Samudra seperti biasa berjalan dengan menggandeng erat lengan Maya.
Sungguh terlihat seperti seseorang bodyguard buat sang ibu angkat nya itu.
"Moms hati-hati ya jalannya," ucap Samudra, lalu dibalas oleh anggukan serta senyuman dari Maya.
Begitu keduanya memasuki pintu utama restoran pizza terbesar di Jakarta, spontan saja beberapa pasang mata tertuju akan sosok lucu Samudra.
Seolah mereka terlihat gemas dengan apa yang menjadi tingkah bocah laki-laki itu.
Samudra bahkan menggeser perlahan kursi restoran untuk Maya, agar mommy-nya bisa duduk.
"Am mau pizza apa?" tanya Maya sembari meletakkan dompet berwarna matcha miliknya.
"Am pengen yang big box, beef pizza dengan mozarela yang banyak, mommy...." jawab Samudra semangat.
"Okey, Am tunggu sini ya."
Maya kembali berdiri dan meraih dompet panjangnya.
Baru saja ia berdiri dan berbalik badan, tiba-tiba saja sosok pria bertubuh kekar lengkap dengan pakaian formal dan berbau harum, berdiri tepat di depannya memegang kedua bahu Maya.
Kurang satu inci saja wajah Maya menyentuh dada bidang yang berbalut kemeja abu-abu muda dengan balzzer yang juga berwarna senada namun sedikit lebih berwarna gelap.
"Kamu duduk aja di sini, biar aku yang memesankan buat kalian," ucap pemilik suara berat yang sangat khas itu.
Maya mendongak, mengangkat wajahnya guna mencari tahu siapa pemilik suara berat yang terdengar seperti candu.
Meskipun dalam hati, Maya sudah dapat menebak siapa pria yang menghalangi tubuhnya saat ini.
"Dean.....?"
Kedua netra Maya melotot seolah berfikir, kenapa mereka selalu saja bertemu secara tidak sengaja seperti ini.
"Kamu ngapain ada di sini?" tanya Maya spontan. Pertanyaan yang bodoh, batin Maya kemudian.
"Makan pizza...." Dean menarik kedua alisnya ketika menjawab pertanyaan dari Maya. Bibir yang sedikit berwarna abu-abu itu pun menarik sedikit senyuman kecil. Mungkin merasa sangat lucu ketika mendengar pertanyaan dari perempuan cantik yang tengah berbadan dua itu.
"Owh-iya hehehe sorry aku lupa kalo ini restoran pizza, hehehe." Maya terkekeh kecil.
"Hai Am....!" sapa Dean.
Samudra yang duduk di balik meja pun tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Dean.
"Om Dean....." jawab nya.
"Kalian duduk aja, biar aku yang memesankan buat Am." Dean mengulangi kembali kalimatnya tadi.
"Oh-enggak usah, biar aku aja Dean. Lagi pula sedang gak terlalu ramai kok antrean nya."
Dean menatap ke arah Maya dengan ekspresi serius. "Biar aku aja, kamu duduk jagain Am. Okey?" tandas Dean.
Maya akhirnya menurut, dia hanya mengangguk pelan dan kembali duduk pada kursi yang ada di hadapan Samudra.
"Mommy-mommy....." seru Samudra ketika Dean telah melangkah jauh dari mereka.
"Iya Am?"
"Om Dean baik ya? Am ngerasa kalo Om Dean milip(mirip) sama daddy."
Maya terdiam sesaat.
"Am kalo ada orang lain yang baik sama Am, Am harus bagaimana coba?"
"Bilang makasih....?" jawab Samudra.
"Pinter....."
Maya mengelus puncak kepalan tangan Samudra di atas meja restoran.
...
Selang beberapa menit, Dean kembali melangkah ke meja Maya dan Samudra sembari membawa satu baki yang berisi dua gelas minuman dingin dan juga hangat.
"Nah ini orange jus dingin buat Am. Om sengaja gak pesenin coke, kan Am gak boleh minum minuman bersoda," ujar Dean sembari meletakkan gelas orange jus ke arah Samudra.
"Makasih Om Dean...."
"Iya sama-sama, sayang." Dean menjawab.
"Dan coklat hangat buat kamu, May." Dean kali ini menyodorkan ke arah Maya cangkir keramik berisi coklat hangat yang begitu creamy.
"Thanks."
"With my pleasure." Dean mengangguk.
"Harusnya kamu gak perlu repot-repot begini, Dean."
Dean memandang ke arah Maya sejenak, lalu tersenyum kecil dan mengalihkan tatapannya ke arah Samudra yang tengah asik menikmati potongan pizza yang beberapa menit lalu diantar oleh pegawai restoran.
"Berapa kali aku bilang kalo aku gak pernah merasa kamu repotkan."
Maya kembali merasa tidak enak hati, seolah apa yang ada dalam pikirannya berbanding terbalik dengan apa yang Dean ucapkan barusan.
"Makasih Dean."
"Iya, kamu gak perlu sungkan Maya. Lagi pula aku tidak akan pernah meminta imbalan apapun dari apa yang aku lakukan buat kamu."
Maya terkesikap mendengarnya. Semua perkataan dan perbuatan Dean sama persis dengan perlakuan Samuel padanya.
"Oh-ya Dean, aku dengar kamu juga bekerjasama dengan perusahaan papa Permana?"
Dean mengangguk.
"Hm-iya. Perusahaan ku dengan perusahaan Permana, ayah Sam memang sedang ada kerjasama saham."
"Kamu pernah berkunjung ke rumah mereka?" tanya Maya.
Dean menggeleng merespon. Dan sesaat hanya ada keheningan, sementara Samudra masih saja asik menikmati menu lain yang ada di dalam big box pizza.
"Dean....."
"Hmm?"
"Bagaimana kamu tau soal Elano?" tanya Maya kemudian.
"Kemarin waktu makan malam itu, kamu nyebut nama Elano dan sewaktu Samudra masuk rumah sakit--- kamu juga nyebut kalo Am-- eem-- bukan anak kandung aku dan Sam?" Tanya Maya sedikit berbisik.
"Jujur ya Dean, kamu.... tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap kami kan?" Maya kali ini to the point. Mengutarakan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya.
Maya membolakan kedua mata ketika mendengar pengakuan Dean.
"Aku udah bilang waktu itu kan, waktu makan malam di rumah kamu-- kalo aku suka sama kamu."
Dean berkata-kata dengan serius, sembari menatap Maya lekat-lekat.
"Aku gak peduli meski kamu hamil. Aku suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu di undangan makan malam ku." Dean melanjutkan, seolah ia tidak memberi kesempatan Maya untuk berkata-kata.
"Aku melihat kamu berjalan bersama Samuel, suami kamu. Dan tau apa yang aku rasakan waktu itu?" Dean menjeda sebentar. Kembali menatap lembut iris hitam pekat Maya.
"Aku seperti melihat seorang dewi yang berjalan ke arah ku May. Namun sial nya---"
Kembali Dean menjeda.
"Sial nya, perempuan itu telah menjadi milik orang lain."
"Tolong jangan teruskan lagi...."
"Gak Maya, aku harus berterus terang dengan kamu. Aku gak bisa lagi memendam perasaan ini lagi. Kamu tau apa yang membuatku gila dengan hati ini?"
Maya terdiam.
"Tolong Dean, ada Samudra di sini. Aku gak ingin dia mendengar sesuatu yang salah." Maya menyela.
Membuat Dean melirik sebentar ke arah Samudra yang masih terlihat menikmati makanan di hadapannya.
Dean menghela napas sebentar.
Tanpa Maya sadari, Dean berdiri dan meraih tangannya.
"Aku ingin bicara empat mata sama kamu."
"Aku gak bisa."
"Ku mohon hanya sebentar." Dean menatap tajam seolah mengharuskan Maya untuk menurut apa yang menjadi titah Dean.
"Aku janji gak akan menyakiti kamu, please....."
Maya tidak ingin Dean berdiri di sana dengan memegang erat satu tangannya, ia sungguh tidak ingin menjadi pusat perhatian oleh orang-orang di restoran itu.
"Hanya lima menit, gak lebih." Jawab Maya akhirnya.
Dean mengangguk dan melepas pegangannya.
"Aku tunggu di sana." Dean menunjukkan satu arah, sebuah kursi kosong yang ada di pojok restoran, dekat dengan jendela besar restoran. Dean pun berjalan duluan meninggalkan Maya.
"Am, mommy mau bicara sama Om Dean sebentar, okey? Am lanjutin aja makan pizza nya."
"Mommy gak mau pizza?"
Maya menggeleng. "Habisin Am aja. Mommy gak jauh kok, Am jangan kemana-mana ya."
Samudra mengangguk nurut. "Iya mommy..."
Maya tersenyum sebentar ke arah Samudra dan mengelus-elus puncak kepalanya.
Selang tak lama kemudian, Maya berjalan ke ujung ruangan menemui Dean yang duduk menunggu nya.
"Langsung aja apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Maya yang kemudian duduk tepat di hadapan Dean.
"Aku ingin kamu menjadi istri ku, May."
"Jangan gila kamu, Dean."
"Maaf tapi kamu benar, aku memang tergila-gila karena kamu."
Sorot mata Dean melemah.
"Dean, aku sudah menikah dengan Samuel dan aku mencintai suami ku. Kamu liat? Ini buah cinta kami." Maya menjeda sebentar sembari menunjuk ke arah perut buncitnya.
"Buah cinta yang telah lama kami tunggu Dean. Dan aku gak mungkin sebodoh itu melepaskan semua yang telah aku miliki selama ini," lanjut Maya.
"Aku tau...."
"Lalu....?"
"Aku gak peduli. Aku bisa memberi apa pun yang kamu inginkan. Apa yang Sam gak bisa, aku bisa memberikan semuanya buat kamu."
"Gak, aku gak mau."
"Wajah kamu bahkan yang selalu muncul dalam fantasi liar ku May. Dan-- saat aku melakukan nya dengan perempuan-perempuan lain---wajah kamu yang selalu muncul."
Suara Dean melemah.
Maya bahkan membuang muka ke arah lain. Ia tidak ingin melihat kedua netra pria yang sebenarnya Maya tahu jika apa yang sedang pria itu ucapkan adalah kebenaran.
"Dean---" Maya menjeda sebentar.
"Kamu tau jika Sam memiliki seorang kakak laki-laki?" tanya Maya mencoba mengalihkan pembicaraan Dean.
Dean mengangguk pelan dan membuat Maya kembali heran.
"Kamu juga menyelidiki soal keluarga Permana?" tanya Maya spontan.
Dean kembali mengangguk.
"Aku penasaran dengan mereka, aku seperti merasakan sebuah Dejavu ketika melihat Permana dan istrinya."
Netra Maya membola.
"Aku juga merasakan hal yang sama ketika melihat rumah lama mereka." Dean melanjutkan.
"Dan apa kamu merasakan perasaan itu ketika bersama Sam?"
Dean tidak menjawab, dia hanya membuang napas berat.
"I don't know...."
Maya pun ikut menghela napas.
"Maaf Dean, ini sudah terlalu lama. Aku harus kembali pada Samudra."
"Tapi May...."
"Temui aku di cafe milik ku besok. Masih ada yang ingin aku bicarakan soal keluarga Permana dan kamu."
"Lalu.... bagaimana dengan perasaan ku terhadap mu?"
Kembali Maya menghela napas panjang.
"Kita juga akan bicarakan itu besok," jawab Maya.
"Baiklah," angguk Dean.
"Permisi, aku harus pergi."
Dean ikut berdiri ketika perempuan yang menjadi candu nya itu bangkit dari duduknya.
"Terima kasih atas pizza nya."
Dean mengangguk pelan merespon.
Ia bahkan tidak dapat mencegah kepergian Maya. Dean hanya memandang nanar punggung bergaun warna peach.
Aku juga gak tau kenapa bisa se-gila ini, May..... batin Dean.
to be continue....