MySam

MySam
Kita Hadapi Bersama-sama



Langit senja mulai menampakkan diri seolah menunjukkan tanda bahwa sang matahari bersiap akan pergi tenggelam dan membiarkan bulan menggantikan posisinya. Samuel berdiri di balkon kamar, menumpu kedua tangannya pada teralis besi. Mata tajamnya terpejam menikmati suasana sore dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Membuatnya teringat saat-saat bersama Maya sebelum kecelakaan itu terjadi. Kemarin sebelum hal yang menimpa Maya, keduanya selalu menghabiskan moment disaat mentari mulai berganti dengan langit lembayung pekat. Bahkan Maya selalu merengek agar Samuel menyempatkan diri untuk pulang lebih awal supaya mereka bisa menikmati langit senja berdua.


Kini.... Sam sadar keadaan tidak seperti sedia kala. Ada perubahan, walau sedikit namun Sam sangat ketakutan jika sesuatu yang mulanya sedikit lama-lama akan membentang benteng yang kokoh antara hubungannya dengan Maya.


Samuel menghela napas berkali-kali, hari ini adalah hari kepulangan istrinya. Setelah kurang lebih satu minggu dirawat pasca kegugurannya, akhirnya Maya diperbolehkan pulang. Tentu saja Sam sangat senang, ia bahkan sengaja mendekor ulang kamar mereka yang berada di lantai atas agar Maya merasakan suasana baru.


Sebenarnya Sam memikirkan keadaan Maya jika gadis itu harus naik turun tangga, namun Samuel merindukan saat-saat dimana ia menggendong Maya ketika hendak memasuki kamar mereka, membiarkan Maya melingkarkan kedua lengannya erat ke leher kokoh Sam dan merasakan hembusan napas hangat Maya ketika menerpa seluruh wajah juga lehernya. Sam juga merindukan saat Maya memberikan kecupan-kecupan kecil di lehernya ketika gadis itu berada dalam gendongannya dengan ala bridal style, seperti yang dulu selalu mereka lakukan.


Jadilah Samuel memutuskan untuk kembali menempati kamar yang berada di lantai atas. Ini juga akan menjadi salah satu bentuk usahanya untuk kembali menghangatkan hubungan mereka berdua, seperti sedia kala.


Samuel melirik sebentar ke arah jam tangan Rolex miliknya. Sudah hampir setengah enam sore, ia lalu bergegas menuju kamar mandi untuk segera mengambil wudhu dan bersiap diri melakuan ibadah sholat maghrib sebelum menjemput istrinya dari rumah sakit.


....


Sesampainya dari rumah sakit, Maya begitu saja berjalan memasuki pintu mansion yang sudah disambut oleh bibik dan juga mbak Pur. Nyonya muda mereka bahkan tidak sedikit pun melirik ke arah mereka, senyuman ramah yang selama ini tersungging dari bibir Maya mendadak menghilang, berganti dengan raut wajah yang begitu suram.


Samuel menghela napas panjang, sedikit melirik ke arah kedua maid nya dengan tatapan bingung dan kemudian melangkah memasuki mansion mencoba untuk mengejar istrinya.


Sesampainya di dalam, Sam tidak mendapati Maya. Mungkin istrinya sudah lebih dulu menuju ke kamar mereka, batin Samuel.


Lantas dengan langkah tegap, Sam menaiki beberapa anak tangga melingkar, mencoba mencari Maya di sana. Dan astaga.... Sam lupa menutup pintu ruangan khusus yang rencananya akan dihuni calon bayi mereka. Dengan cepat dan sedikit berlari kecil Samuel menaiki satu per satu anak tangga. Langkahnya melemah ketika telah berada pada ujung anak tangga terakhir, ia terlambat. Maya sudah lebih dulu memasuki ruangan khusus itu. Samuel berharap suasana hati Maya kali ini tidak lagi memburuk.


"Sayang--" ucap Samuel seraya mendekat ke arah istrinya yang berdiri mematung.


Gadis itu memandang nanar seluruh isi kamar, seketika semua benda yang ada di sekitar ruangan seperti berputar begitu cepat mengelilinginya. Membuat tubuh Maya hampir saja tumbang, jika saja ia tidak bertumpu pada sebuah nakas ukir yang terletak pada tengah ruangan. Air mata beningnya kini kembali tanpa kompromi berderai keluar dari kedua sudut matanya.


"Sayang.... hati-hati!" ucap Samuel panik. Dengan sigap ia meraih tubuh Maya yang sedikit lagi rubuh ke lantai, beruntung istrinya berpegang pada nakas kayu oak dengan ukiran penuh.


Sam memegang kedua pundak Maya dan membawanya ke dalam pelukan. "Maafkan aku sayang, harusnya kamu gak liat ini semua," bisik Samuel lemah.


"Kita ke kamar? Kamu harus istirahat," ucap Sam lagi. Kali ini Maya menarik tubuhnya dari dekapan Samuel. Sembari menggeleng pelan dan berjalan mendekati box bayi mungil berwana putih, cairan bening masih saja berderai. Hingga membuat kedua matanya membengkak.


"Harusnya anak kita ada disini, di dalam sini...." cicit Maya lemah, jemari lentiknya kini membelai tiap sudut box bayi. Ia berjalan mengitari nya, belaian tangannya seolah ingin merasakan kehadiran seseorang yang telah terenggut darinya.


"Sayang.... Aku mohon, kita lewati ini bersama-sama." Sam mendekat ke arah Maya, mencoba tuk kembali memeluk gadis itu. Beruntung kali ini Maya tidak mengelak, Sam semakin mendekap tubuh istrinya dan sesekali mengecup kening serta kedua pipi chubby Maya.


"Kita pasti bisa melewati ini semua sayang, aku janji..." bisik Samuel di telingga Maya, mengendus kembali aroma tubuh istrinya yang begitu memabukan buat Sam.


"A-aku... bayangan itu selalu saja berputar di otakku Sam, aku gak bisa.... aku gak bisa...." berkali-kali Maya menggeleng lemah, air mata kini semakin deras terjatuh di seluruh pipi chubbynya. Dan tak ayal cairan bening itu pun turut membasahi Tshirt yang Sam kenakan.


"Kita bisa, May. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita berdua." Sam kembali memeluk erat istrinya yang masih sesegukan tanpa henti.


"Aku kehilangan anakku, Sam dan kamu gak akan pernah ngerti itu...! Gak akan pernah...!" seru Maya, kini ia kembali membuat jarak dengan Samuel. Melepaskan pelukan suaminya dan memandang nanar ke arah suaminya.


"Aku mau disini, tolong tinggalkan aku sendiri...." cicit Maya lemah, tangis nya membuat suaranya sedikit parau.


"Tapi May...."


"Ku mohon Sam, tinggalkan aku sendiri," ia menjeda ucapan Samuel, dengan derai air mata yang kini semakin bertubi-tubi.


"Please...." ulang Maya memohon.


Akhirnya dengan wajah lelahnya Samuel menuruti apa yang menjadi keinginan istrinya, ia melangkah keluar. Sekali lagi Samuel kembali menoleh memandangi Maya dari ujung pintu. Tubuh gadis itu kini merosot turun, memandang nanar box bayi yang telah kokoh berdiri di sana. Tangisan nya kembali pecah, begitu mengiris hati Samuel.


Hati Samuel kini hancur.


....


Samuel keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Maya yang berbaring membelakanginya. Dalam hati, ia merasa lega karena Maya telah keluar dari ruangan khusus yang rencananya buat calon bayi mereka.


Samuel melangkah menghampiri Maya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Membuat Maya sontak menoleh ke arahnya, namun tak lama kemudian gadis itu kembali membalikkan badannya membelakangi Samuel.


"Sayang...." panggil Sam seraya mengusap punggung Maya, namun itu tak membuat Maya meresponnya.


Samuel merubah posisinya agar berbaring memeluk Maya dari belakang dan melayangkan kecupan di kepalanya.


"Sayang, aku mohon kamu jangan seperti ini. Aku gak bisa kamu diamkan begini sayang."


Masih tidak ada respon dari Maya. Namun Sam tidak menyerah untuk mendapat respon dari Maya lagi. Samuel membuka kancing belakang gaun yang Maya kenakan dan menurunkannya, mengecup-ngecup punggung dan bahu Maya bergantian. Membuat si empunya sedikit menggeliat geli.


"Hentikan Sam!" omelan Maya tidak membuat Sam berhenti menciumi bagian tubuhnya, disela-sela ciumannya Sam tersenyum. Ia lalu berpindah mengecup cuping telinga Maya dan memberikan gigitan kecil di sana.


"Sam...! Hentikan, please..." ucap Maya sedikit bernada tinggi, namun kali ini apa yang Sam lakukan berhasil membuat Maya membalikkan tubuh ke arah nya.


Samuel menatap lembut kedalam netra Maya, tidak ada kemarahan. Sam justru melembutkan pandangannya dan tersenyum kecil.


Jemari kuatnya membelai lembut wajah yang selama ini membuatnya selalu jatuh cinta. Meski kini binar ceria sedikit memudar dari wajah itu, namun bagi Samuel, gadis itu tetap orang yang sama. Orang yang selalu berharga buatnya dan yang selalu ia cintai sampai kapan pun.


"Maafkan aku, sayang." Sam membisik pelan, membelai salah satu pipi chubby Maya.


"Kita lalui ini bersama. Aku juga kehilangan dia tapi aku tidak mau jika harus kehilangan kamu juga, istriku." Sam membisik dengan posisi keduanya yang masih berbaring saling berhadapan. Perlahan Samuel mendekatkan kembali tubuhnya ke arah Maya.


"Sam...."


"Hhmm....?"


Maya terdiam, memandangi wajah dan manik mata Samuel yang begitu indah. Seandainya saja jika bayi itu masih hidup, pastilah memiliki manik mata coklat yang indah seperti ayahnya, batin Maya.


"Kenapa sayang?" tanya Samuel membuyarkan apa yang menjadi lamunan Maya barusan.


"A-aku.... a-ku...."


Kembali air mata Maya menerobos keluar, ia berpaling dari Samuel kini. Maya sungguh tidak bisa menatap wajah suaminya. Ia merasa telah gagal menjadi seorang istri ataupun seorang ibu.


"Huussttt..... jangan menangis lagi, sayang. Aku mohon." Sam mengusap air mata yang masih saja mengalir di pipi gadis yang terbaring di sampingnya.


"Aku gak sanggup lagi melihat kamu menangis," lanjut Samuel. Ia kecup lembut kedua netra Maya yang memejam.


"Sekarang tidurlah, aku akan selalu ada disini, menjaga kamu. Aku mohon, jangan berfikir macam-macam. Okey....?" ucap Samuel pelan. Sam mencium bibir Maya lembut seraya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya.


"Kamu adalah harta yang terpenting buatku dan gak akan aku biarin kamu terluka lagi." Sam melanjutkan.


Ia semakin memeluk tubuh istrinya yang kini mulai tertidur. Sam berkali-kali memandangi wajah polos Maya dalam tidurnya. "Aku cinta kamu sampai kapanpun, Maya." Sam berbisik lembut.


to be continue....