MySam

MySam
Duka



Samuel memarkir asal kendaraannya ketika tiba di area parkir rumah sakit. Dengan langkah panjang dan tergesa Sam menapaki lantai dan lorong-lorong rumah sakit. Begitu ia sampai di lobi ruang informasi, Samuel dengan wajah paniknya bertanya pada gadis penjaga meja informasi tentang kabar mengenai istrinya.


"Apa ada pasien atas nama nyonya Maya Aulia? dia berada di ruang apa sekarang? bagaimana keadaannya?" pertanyaan Sam langsung saja memberondong suster cantik itu. Hingga membuat sang suster sedikit tersenyum menenangkan.


"Maaf, saya cek dahulu pasien atas nama nyonya Maya Aulia." Sam bahkan tidak bisa tenang menunggu hasil pencarian suster penjaga ruang informasi, wajah paniknya masih terlihat jelas dan ditambah lagi gerak tubuh Sam yang tidak bisa diam. Selalu saja mondar-mandir tak karuan di depan meja informasi. Bahkan puluhan pasang mata yang berada dalam satu ruangan dengannya pun mengalihkan perhatian mereka ke arahnya.


"Maaf, tidak ada pasien atas nama Maya Aulia di rumah sakit ini."


"Tidak mungkin sust, baru saja pegawai cafe...." Sam menghentikan kalimatnya, mencoba untuk berfikir lebih tenang.


"Coba cari pasien dengan nama nyonya Samuel Perdana," ucap Sam menambahkan. Dan langsung saja sang suster tadi kembali terlihat sibuk mengecek nama tersebut dalam laptop di hadapannya. Benar saja, perhatian suster cantik itu kini beralih ke arah Samuel dan memanggil pria itu. "Maaf tuan, pasien atas nama nyonya Samuel Perdana saat ini masih berada di ruang operasi. Beliau dibawa ke rumah sakit ini beberapa jam yang lalu dan mengalami luka yang sangat serius di kepala dan juga dengan kondisi kehamilannya."


Badan Samuel melemas, ia mengusap kasar wajah tampannya yang kini terlihat sangat kusut dan pucat.


"Siapa dokter yang menangani istri saya?"


"Dokter Anwar, spesialis kandungan dan juga dokter Mutia spesialis dalam," jawab sang suster.


"Bukan ditangani dokter Harris?"


"Dokter Harris hari ini praktek pagi dan sore ini yang free hanya ada dokter Anwar," terang sang suster lagi.


Sam terlihat kembali khawatir, selama ini ia hanya percaya dengan Harris yang menangani Maya selama periksa kehamilan. "Dimana letak ruang operasi?" tanya Samuel tergesa.


"Ada di lantai empat gedung ini, ruang operasi terletak di samping ruang radiologi...." jawab sang suster yang tanpa mendapat tanggapan lebih lama lagi dari Sam.


Sam dengan cepat berlari ke arah pintu lift.


"Tuan....!! Tapi anda tidak boleh masuk ke dalam sana.....!!!" teriak suster tersebut, namun sia-sia. Sam bahkan sudah lebih dahulu menghilang di balik pintu lift yang kini menutup dan bergerak naik.


...


Jantung Sam masih berdetak kencang, ia belum bisa tenang sebelum melihat langsung kondisi Maya. Hingga pintu lift yang kini membuka seiring dengan bunyi denting dari lift.


Sam melangkah keluar, mengedarkan pandangannya guna mencari letak ruang operasi. Hingga netranya menangkap sebuah tanda besar yang menunjukkan ruang operasi. Sayang pintu ruangan tertutup rapat, lampu kecil yang berada di atas pintu pun masih menyala. Yang menandakan masih ada pasien di dalam sana. Mungkin itu Maya? pikir Samuel.


Ia hanya bisa mondar-mandir tak jelas di depan ruang operasi, sesekali mengusap kasar rambut dan wajah dengan tulang pipi kotak serta tegas itu. Samuel berharap keselamatan akan nyawa Maya. Bahkan jika ia bisa memilih, Sam lebih berharap Maya lah yang selamat daripada sang calon buah hati yang selama ini mereka tunggu-tunggu.


Samuel tidak bisa jika hidup tanpa Maya. Soal anak, ia pikir kedepannya akan ada solusi lain. Yang terpenting saat ini hanya keselamatan Maya.


"Sam....!" seru sebuah suara ke arahnya.


Anita dan Siska dengan langkah tergesa, juga wajah panik mereka kini berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Maya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Anita panik, sementara Siska tak kuasa menahan tangis memikirkan kondisi sang putri tercinta.


"Sam juga gak tau, Ma." Jawab Samuel lirih, ia kini beralih memandang ke arah Siska sang ibu mertua yang masih tersedu dengan keadaan putrinya.


"Mama Siska, kita berdoa saja semoga Maya baik-baik saja," ucap Samuel menenangkan. Sesungguhnya ia hanya mencoba untuk tegar, padahal saat ini hatinya sungguh rapuh melebihi siapapun.


"Iya jeng Siska, kita berdoa semoga keadaan Maya dan cucu kita baik-baik saja." Anita menambahkan, wanita itu kini meraih pundak besannya dan saling memeluk untuk menguatkan satu sama lain.


"Iya, semoga anak kita baik-baik saja." Siska menjawab dengan suara berat, membalas pelukan Anita dan kini kembali terlihat mengusap air mata yang keluar dibalik kacamata tebalnya.


"Sam, mama mau sholat dulu dan berdoa untuk Maya," lirih Siska, lalu direspon dengan anggukan kepala dari Anita dan juga Samuel.


"Mama sudah tau letak mushola nya? Perlu Sam antar?" tanya Samuel yang kini berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah wanita berumur lebih dari lima puluh tahun itu.


"Tidak perlu nak, kamu disini saja. Siapa tahu sebentar lagi operasi anak mama selesai."


Samuel hanya mengangguk pelan menanggapi. "Mama hati-hati," ujar Sam kembali dan lalu anggukan kepala Siska menjawab ucapan Samuel. Selang beberapa menit kemudian tubuh kecil wanita setengah abad itu mulai menghilang di balik tikungan tembok rumah sakit.


Anita mendekat ke arah anaknya, mengusap pelan bahu kekar Samuel. "Kamu berdoa buat Maya ya, Sam. Yakinlah semua akan baik-baik saja." Anita berusaha menenangkan putranya, wanita itu tahu betul perasaan Sam saat ini.


Dua orang yang Sam sayangi, Maya dan calon buah hati mereka saat ini sedang bertaruh nyawa di ruangan yang penuh dengan pisau serta gunting bedah.


"Sam hanya berharap Maya selamat," lirih nya pelan.


"Lalu, anak kalian?"


Samuel memandang sebentar ke arah sang mama, lalu menghembuskan napas berat sembari menggeleng pelan. "Entahlah Ma, jika bayi itu selamat Sam sangat bersyukur namun jika tidak...." ia jeda sebentar ucapannya, kembali menghembuskan napas berat.


"Bagiku yang terpenting saat ini adalah Maya," lanjut Samuel.


Anita mengusap lembut pundak putranya. Wanita itu hanya bisa terdiam, tanpa sanggup berkata-kata.


"Yang terpenting buat mama adalah keselamatan Maya. Tapi bagaimana dengan Maya, Sam? Bukankah dia yang sangat menginginkan kehadiran anak itu?"


Sekali lagi pertanyaan Anita membuat kepala Sam semakin berdenyut.


"Sam akan berusaha membuat dia tenang nanti," lirihnya lagi. Kembali memandang lurus ke depan dengan pandangan mata kosong.


Anita perlahan membuang napas berat, lalu kembali menepuk pelan pundak putranya.


"Kamu yang kuat ya nak, berdoa lah semoga Maya baik-baik saja."


Samuel hanya mengangguk pelan, tanpa bisa berucap lebih lagi.


...


Lebih dari satu jam, Samuel berdiri di depan pintu ruang operasi. Sementara Anita dan Siska memutuskan untuk menunggu di kantin rumah sakit. Sam kini terlihat masih sibuk mondar-mandir tak karuan di depan pintu ruang operasi. Hingga beberapa saat kemudian ia melihat lampu di pintu ruang operasi kini padam. Menyusul dua orang suster yang keluar dari kamar operasi.


"Suster, bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan sust?" cecar Samuel, dengan ekspresi panik Sam mencengkeram erat lengan salah satu suster tersebut.


"Maaf, pasien masih dalam kondisi pemulihan dan belum sadar."


"Tapi sust..."


"Tolong, anda minggir!" bentak sang suster kepada Samuel.


Sam hanya bisa menurut, ia minggir beberapa jengkal menjauh dari depan pintu ruangan.


Hingga beberapa menit kemudian kembali dua orang suster tadi bersama dengan dua lagi rekannya yang kali ini berjalan mendorong sebuah Brankar dengan seorang pasien yang mereka dorong keluar.


Sam seketika itu juga berlari menuju pasien yang terbaring tak berdaya, lengkap dengan pakaian pasien operasi.


Maya.... itu benar Maya... batin Sam. Ia tidak salah lihat, gadis yang terbaring tanpa gerak itu adalah istrinya.


"Maya....! sayang....!! bangun May! Aku disini.... Maya...!!" teriakan pilu Samuel yang berjalan cepat di samping Brankar yang terlihat masih di dorong oleh beberapa suster tadi.


"Tolong kalian berhenti dulu. Saya mau melihat istri saya!" teriak Samuel, membuat beberapa suster tadi menghentikan langkah mereka.


"Maya..... bangun sayang...." tangis Sam pilu, ia mencoba membangunkan Maya dengan mengguncang-guncang tubuh kaku Maya, namun nihil. Maya tetap saja terdiam, memejamkan mata tanpa bergerak.


"Sayang.... please bangun....." seru Sam sekali lagi.


"Maaf, dengan keluarga pasien?"


Sam menoleh ke arah sumber suara, seorang dokter laki-laki setengah baya dan juga dokter wanita yang terbilang masih muda mendekat ke arah Samuel.


"Mari kita bicara lebih pribadi ke ruangan saya," ucap sang dokter pria yang sedikit tambun dengan kacamata bulat kecil bertengger di hidung bulatnya.


Sam mengangguk lalu mengikuti arah langkah dua dokter tersebut. Yang akhirnya ketiganya berhenti di depan pintu sebuah ruangan dengan dominasi warna putih bersih.


"Silahkan masuk," ucap dokter Anwar yang mempersilahkan Samuel terlebih dulu memasuki ruangan.


Sam mengangguk lalu berjalan memasuki ruangan yang berpengharum ruangan aroma pohon pinus.


"Silahkan duduk," tawar dokter berkaca mata itu. Samuel menurut apa yang menjadi titah sang dokter. Ia pun duduk di kursi kecil tepat di hadapan sang dokter pria itu duduk. Sedang dokter wanita dengan paras cantik tadi kini terlihat duduk di kursi yang lain. Menghadap ke arah Samuel dan juga dokter Anwar.


"Jadi begini.... saat dibawa ke rumah sakit ini, pasien atas nama nyonya Samuel Perdana mengalami pendarahan hebat dalam kehamilannya." Sang dokter menjeda sebentar ucapannya, terlihat memandang serius ke arah Samuel.


"Faktor keterlambatan dibawanya ke rumah sakit dan juga benturan yang mungkin sangat keras yang dialami perut pasien-- membuat kami--" kembali sang dokter menjeda ucapannya.


Samuel menundukkan wajahnya lemas, cairan bening lagi-lagi mengalir deras dari kedua netra coklatnya, kali ini Samuel gagal menahannya. Ia seolah tahu apa yang akan diucapkan oleh dokter itu nantinya.


"Kami-- kami sangat menyesal dan mohon maaf belum bisa menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan istri anda." Lanjut dokter Anwar lagi, dengan wajah yang sangat menyesali.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Gumam Samuel lemah.


"Kami sudah melakukan tindakan operasi pengangkatan janin anak kalian dan luka di kepala serta retak pada tulang punggung nyonya Samuel sudah kami operasi. Maaf, kondisi pasien yang harus menerima tindakan penyelamatan yang membuat kami melakukan operasi tanpa persetujuan dari anda."


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?! Tolong jelaskan dengan kalimat yang tidak bertele-tele." Tanya Samuel lagi, ia memandang wajah sang dokter dengan sorot mata tajamnya.


"Untuk saat ini keadaan istri anda sudah stabil. Hanya tinggal proses pemulihan fisik dan juga mental. Saya harap dukungan anda dan keluarga lainnya untuk bisa melewati trauma ini. Terlebih lagi soal..."


"Saya tahu apa yang harus saya lakukan, Dok." Samuel memotong ucapan sang dokter. Wajah lusuhnya kini terlihat menyisakan duka yang sangat mendalam, kedua tangannya mengepal erat. Mencoba untuk lebih menenangkan dirinya sendiri.


to be continue....