
Martha memeluk erat pinggang Harris dari belakang. Mengendus-endus aroma musk yang menguar dari tengkuk suaminya. "Ada apa, Tha? hhmm...?" ucap Harris lembut, semakin mengeratkan pelukan istrinya.
"Aku kangen sama kamu, mas."
Sepintas Harris tersenyum kecil, membalikkan badannya dan kini menghadap ke arah Martha, menatap wajah cantik itu lekat-lekat.
Oh.... Harris pun sangat merindukan istri kecilnya itu.
"I miss you more, baby...." Harris menangkup wajah Martha dan kembali memandang penuh cinta ke arah gadis itu.
"Kenapa lama banget seminar kamu di luar kota? Samudra sampai-sampai nanyain kamu terus," rajuk Martha manja. Jemari lentiknya dengan luwes bermain di dada Harris. Kemeja putih dengan beberapa kancing yang terbuka hingga memperlihatkan dada bidang Harris yang kokoh, membuat Martha semakin memainkan jemarinya disana.
"Maaf sayang, aku juga gak mau meninggalkan kalian hingga satu minggu. Tapi kamu tau kan seminar itu sangat penting." Harris menatap lembut wajah Martha dengan satu tangan yang melingkar di pinggang gadis itu. Sementara tangan yang lainnya lembut menyusuri wajah hingga beringsut turun dan membelai ceruk leher Martha.
"Aku akan menebus semua waktu yang aku buang kemarin, sayang." Harris berbisik lembut, mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Martha hingga membuat sensasi yang sangat menggelitik. Martha sedikit menggeliat geli, namun ia benar-benar menikmati setiap sentuhan lembut dari Harris.
"Sekarang, mas?" tanya Martha dengan kedua alis mata yang sedikit terangkat.
"Hhmm... "
"Tapi kamu kan baru aja pulang, emang gak capek?" tanya Martha yang kini melepas satu persatu kancing kemeja putih Harris, kemudian melepas kemeja formal suaminya.
Kini Harris benar-benar bertelanjang dada. Otot perut sixpack yang begitu kuat dan memukau selalu menyenangkan buat Martha sentuh. Hampir mirip roti sobek yang sangat ingin Martha nikmati.
"Aku selalu siap, sayang. Tapi pertama-tama.... aku akan membawa kamu ke dalam bathtub favorit kita...." ucap Harris yang dengan tiba-tiba membopong tubuh Martha.
"Mas Harris....." pekik Martha kaget begitu tubuh mungilnya dengan cepat berpindah ke dalam gendongan ala bridal style Harris.
Tak lama kemudian kedua lengan Martha terlihat melingkar di leher pria itu, dengan bibir keduanya yang saling berpaut lembut.
Harris berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar luas mereka. Sesekali desah keduanya terdengar memenuhi seluruh ruang luas kamar mereka.
....
Martha menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Harris, dengan lengan yang semakin ia eratkan melingkar di pinggang pria itu. Harris semakin mengeratkan selimut tebal yang membungkus kedua tubuh polos mereka. "Gimana cafe kamu, sayang?" tanya Harris dengan pandangan mata lembut ke arah istrinya, jemari kuat namun lembutnya masih menyisir rambut panjang bergelombang milik Martha.
"Semua lancar." Martha mendongak dan memandang lekat iris mata suaminya.
"Sebenarnya yang kangen aku, Samudra atau kamu, honey? hhmm?"
"Dua-duanya...." kekeh Martha, ia benamkan seluruh wajahnya di ceruk leher Harris.
"Aku punya kejutan buat kamu, mas," ujar Martha tiba-tiba dan sambil menciumi dada bidang Harris yang tanpa sehelai benang.
"Kejutan apa, sayang?" Harris menarik sedikit alisnya, sedikit mengernyit heran.
Martha semakin memeluk erat suaminya, memandang kedua iris mata Harris yang begitu memukau.
"Apa sih, sayang? please deh gak usah main rahasia sama aku," ujar Harris lagi.
Martha semakin terkekeh begitu melihat wajah suaminya penuh dengan rasa penasaran.
"I'm pregnant, honey." Bisik Martha namun sangat terdengar jelas oleh Harris.
"Really....? You're not kidding, are you?" Harris kali ini menatap lekat wajah istrinya. Kemudian tersenyum bahagia begitu melihat anggukan kepala yakin dari Martha.
Harris dengan spontan memeluk dan mendekap erat tubuh Martha, serbuan ciuman kecil mendarat begitu saja di wajah cantik gadis itu.
"Aku bahagia, sayang. Terima kasih, sweetheart...." bisik Harris sembari terus menciumi wajah istrinya.
"Hallo sayang.... baik-baik di dalam perut mommy ya...." Harris membisikkan sambil mengelus lembut dan mencium perut Martha yang belum terlihat begitu membuncit.
"Iya daddy...." cicit Martha lucu.
"I love you. sayang...."
Harris kembali mendaratkan ciuman kecilnya di bibir Martha.
....
"Belum, bu Maya. Mungkin sebentar lagi," ucap sang pegawai cafe.
"Ya udah kamu boleh kembali bekerja."
Sang pegawai cafe mengangguk sopan menjawab ucapan sang bos, kemudian berlalu dari hadapan Maya.
Tumben, batin Maya. Biasanya Martha yang paling rajin duluan ke cafe namun hari ini tumben-tumbenan hingga hampir jam makan siang gadis itu belum menampakkan batang hidungnya di cafe milik mereka.
Belum selesai keheranan Maya, tiba-tiba ponsel pintarnya berdering dan menuliskan nama Martha di layar ponsel.
^^^Halo Tha___ Kamu gak ke cafe?___ Kenapa? kamu baik-baik aja kan? atau Samudra....___ Oh... syukur deh kalau semua baik___^^^
Ekspresi Maya tiba-tiba saja berubah seketika, mendengar satu kalimat paling akhir dari Martha lewat sambungan jarak jauh itu.
^^^K-kamu.... hamil?___ Eh-i-ya... selamat Tha___ Nanti sore aku mampir sama Sam___ Hhmm... bye.....^^^
Klik.
Wajah Maya kembali meremang, mendengar dua berita kehamilan dari dua wanita di jarak waktu yang cukup dekat membuat Maya kembali merasakan sesuatu yang begitu membuat moodboster nya melemah.
Bukan....., ia bukan iri, hanya saja perasaan seorang wanita yang sangat mendambakan kehadiran buah hati namun yang tak kunjung juga diberi kepercayaan, pasti akan langsung drop begitu mendengar kabar kehamilan dari wanita lain.
Dua wanita yang pernah ada dalam hidup Sam.
Dan kini, wajah cantik itu terlihat sedikit murung.
....
Helaan napas panjang keluar begitu saja dari mulut Sam saat melihat Freya memasuki ruang kerjanya. "Hey Sam," sapa gadis itu. Senyuman kecil yang mengembang di bibir tipisnya, membuat Sam mau tak mau membalasnya. Hanya senyum simpul yang tertarik di salah satu sudut bibir tebalnya.
"Aku siap dengan pekerjaan ini." Freya tersenyum yakin, perlahan ia duduk di kursi yang ada di hadapan Samuel.
"Terima kasih ya, Sam. Kamu berbaik hati memberikan pekerjaan ini ke aku." Freya melanjutkan.
"Jika ingin berterima kasih, jangan sama aku."
"Maksud kamu?"
"Maya yang menyuruhku memberikan pekerjaan ini ke kamu." Samuel melanjutkan.
Membuat perubahan wajah Freya terlihat samar, dan sayangnya Sam tidak menyadari hal itu.
"Kalau gitu, biar aku berterima kasih sama Maya langsung."
"Gak perlu." Sam dengan cepat menjawab ucapan Freya.
"Lho kenapa? Aku serius mau berterima kasih sama dia." Freya berusaha mendesak Sam.
"Kamu mulai saja pekerjaan kamu hari ini." CEO itu menjeda kalimatnya.
"Ruangan kamu ada di sebelah ruangan ini," lanjut Samuel.
"Kita gak satu ruangan, Sam?"
"Gak, Fe. Semua sekretaris ku selalu mempunyai ruangan sendiri. Kalau butuh tanda tanganku kamu tinggal ke sini aja atau jika aku butuh bantuan kamu, aku bisa memanggil kamu lewat telepon perusahaan."
Freya hanya manggut-manggut, terlihat sedikit berekspresi kecewa. Namun dengan cepat ia sembunyikan itu.
"Baiklah, terserah kamu aja. Aku keluar dulu," ucap Freya sembari berjalan keluar dari ruangan Samuel.
"Sabar, Fe...." batin Freya.
to be continue....