
"Bagaimana dengan perkembangan Samudra, Dok?"
Dokter Frans terlihat masih sibuk berkutat dengan hasil laporan pemeriksaan terhadap luka di kepala Samudra. Sementara Maya dan juga Samuel masih menunggu jawaban sang dokter dengan sangat berharap jika semuanya akan baik-baik saja. Mereka berharap jika keadaan bocah itu akan kembali normal seperti sebelumnya.
"Sepertinya ada sebagian dari ingatannya yang mengalami amnesia--"
Sam dan juga Maya menarik alisnya heran, seakan tidak mengerti dengan apa yang dokter Frans jelaskan barusan.
"Apa maksudnya, Dok?"
"Jadi begini-- Ada sebagian memori Samudra yang tidak bisa mengingat semua kejadian saat kecelakaan itu terjadi--" Dokter Frans menjeda sebentar ucapannya.
"Tapi dia masih ingat siapa kami, Dok dan--"
"Pasien memang akan masih mengingat siapa dirinya, anda berdua dan juga kedua orang tuanya. Namun pasien tidak bisa mengingat kejadian saat kecelakaan tersebut. Dengan kata lain--"
Kembali dokter Frans tidak langsung meneruskan ucapannya, dokter berwajah oriental itu sejenak memandang ke arah Samuel dan juga Maya.
"Pasien tidak mengingat kecelakaan itu dan akan selalu menganggap jika kedua orangtuanya masih ada," lanjut dokter Frans.
"Lalu bagaimana kami harus menjelaskan tentang orangtua Am, Dok?" tanya Maya kali ini.
Dokter Frans sejenak membenarkan posisi kacamata nya. "Untuk sementara kalian bilang saja jika kedua orangtuanya sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan."
Samuel dan Maya kini saling memandang satu sama lain, Maya mengedikkan sedikit bahunya.
"Sam, gimana ni?" tanya Maya dengan ekspresi bingung.
Samuel hanya menghembuskan kasar napasnya lalu perhatiannya beralih ke arah dokter Frans.
"Tapi apakah untuk selanjutnya sakit kepala yang dialami Samudra bisa sembuh, Dok?"
"Mungkin akan berlanjut hingga ia dewasa nanti, kalian bicara perlahan saja soal keadaan orangtuanya yang sebenarnya. Saran saya, untuk saat ini sebaiknya kita sembunyikan dahulu soal kecelakaan itu."
Samuel hanya bisa mengangguk perlahan.
"Samudra harus selalu meminum obat sakit kepala nya secara rutin." Dokter Frans melanjutkan kembali ucapannya dengan ekspresi wajah sangat serius.
"Baik, Dok."
Jawab Samuel. Setelahnya dia dan Maya pun berpamitan kepada dokter Frans.
....
Sebelum melangkah masuk ke ruang rawat inap Samudra, Maya memandang sejenak ke arah Samuel.
Sembari membuang napas berat, Sam melengkungkan senyuman ke arah Maya, seolah mencoba berbicara 'Tenang, sayang. Kita lakukan yang terbaik buat Am' senyuman hangat dan tatapan lembut Samuel selalu saja mampu menenangkan hati gundah Maya.
"Sore, Am....!!" seru Maya begitu ia memasuki kamar Samudra. Kedatangannya langsung saja mendapat sambutan hangat dari bocah itu. Am yang tadinya sedang asik bermain dengan gadged canggih miliknya, langsung melepas benda berbentuk tipis dan pipih itu.
"Onty Aya....!" seru Samudra sembari membentangkan kedua lengannya bermaksud untuk memeluk Maya.
"Hello jagoan kecil, ish... Am kangen ya sama Onty? gitu amat peluk Onty Aya?" senyum Maya kini mengembang seraya semakin mendekap erat tubuh mungil Samudra.
"He em..." angguk Samudra, dan masih dengan wajah polosnya.
Sementara bik Sari hanya tersenyum melihat pemandangan itu, untuk beberapa detik keadaan saat itu mengingatkan bik Sari dengan mendiang Martha ketika memeluk Samudra dulu.
Sam mendekat ke arah dua orang yang paling berarti dalam hidupnya. "Liat, Om Uel bawa apa---?" ucap Sam. Kedua tangannya yang memegang sebuah kotak karton besar transparan, sehingga terlihat secara jelas isi dari kotak tersebut.
"Aaaa.... Bumblebee....!!" teriak Samudra girang.
Kedua netra bening bocah itu langsung saja berkaca-kaca ketika melihat mainan yang Sam telah janjikan padanya.
Sejak dulu, Samudra memang ingin memiliki sebuah karakter robot dari film box office beberapa waktu silam.
Samudra dengan asiknya memainkan robot ber-remote control itu.
"Am suka?"
"He-em sukak," angguk Samudra yang sekilas memandang ke arah Samuel.
"Makacih Om--"
"Iya, sama-sama Am."
Maya yang melihat itu semua, kembali mengulum senyum manisnya. Kedekatan Samuel dengan Samudra seolah-olah memperlihatkan kedekatan seorang ayah ke putra kandungnya sendiri dan itu membuat hati Maya kembali menghangat, namun tidak akan pernah bisa membuatnya untuk tidak memikirkan tentang kehadiran anak kandung mereka sendiri.
"Onty Aya...!! Liat bagus kan mainan Am?" seru Samudra mengagetkannya.
Maya tersenyum sembari mengangguk pelan. "Hm, bagus banget...!" seru Maya. Kali ini perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu mendekat ke arah Samudra dan juga suaminya, mencoba membaur dengan ketiganya. Bercanda dan tertawa bersama.
...
Maya terkesikap untuk kesekian kalinya ketika mendengar pertanyaan dari Samudra. Dia hanya bisa mematung dan merotasikan kedua netranya ke arah sang suami.
"Mommy sama Daddy nya Am lagi keluar kota, untuk sementara Am tinggalnya sama Onty dan Om Uel aja ya." Samuel menjawab dengan sikap tenang, bahkan tidak ada kepanikan sama sekali dari wajah pria itu.
"Emangnya Am atit apaan sih Om? kok Am ada di lumah atit? Kok moms gak jenguk in Am? Dads uga?" tanya Samudra lagi dengan polosnya.
"Kan Moms-Dad nya Am lagi ke luar kota."
"Moms gak cayang cama Am...." rengek Samudra pilu, membuat Maya tak kuasa menahan air matanya.
"Am jangan ngomong gitu. Mommy-Daddy nya Am sayang kok sama Am," bujuk Sam lagi. Kali ini Sam mengusap lembut air mata yang mengalir jatuh dari kedua netra kebiruan milik Samudra.
"Am angen mommy.... Am angen Daddy...." rengek nya lagi. Sam semakin memeluk erat tubuh mungil Samudra.
Sementara Maya tak kuasa menahan derai air mata yang mengalir keluar dari kedua matanya. Maya melangkah keluar dari ruangan itu dengan menahan seluruh air matanya agar Samudra tidak melihatnya menangis.
Sekilas Samuel melirik khawatir ke arah Maya. Sam tidak bisa berbuat apa-apa, disatu sisi ia tidak mungkin bisa meninggalkan Samudra saat ini namun di sisi lain, Sam sangat mengkhawatirkan Maya.
"Udah dong nangis nya. Am udah gede lho, gak boleh nangis. Nanti matanya Am jadi bengkak seperti ikan koki," bujuk Samuel sembari menangkup wajah mungil Samudra dan tersenyum lucu ke arahnya.
"Am gak sepelti ikan, Am kan ganteng."
"Hehehehe.... iya Am ganteng banget, keponakan siapa dulu dong---?"
"Om Uel..." sahut Samudra lucu.
"Nah tu pinter.... hahahaha!!" Sam terkekeh geli dan tak kuasa menahan untuk tidak mencubit gemas hidung mancung bocah laki-laki itu.
"Nah sekarang, Am minum obat terus bobok ya."
Samudra mengangguk perlahan.
Bibik Sari kembali mengulurkan sendok obat cair ke arah Samuel yang kemudian pria itu sodorkan ke arah mulut mungil Samudra.
"Aaa..... buka mulutnya sayang."
Samudra menurut, membuka mulut mungilnya lalu menerima suapan obat dari Samuel. Seperti biasa, bocah itu kembali mengerjap menahan rasa pahit dari obat tadi.
"Minum air putih dulu, biar gak pahit."
Sam kali ini menyodorkan gelas kaca berisi air mineral ke arah Samudra, dan bocah itu pun langsung meneguk habis air mineral tersebut.
"Pinter nya anak Om Uel..." ucap Sam spontan.
Samudra hanya tersenyum kecil tanpa menyadari akan semua perkataan Sam kali ini.
"Sekarang bobok dulu."
Sam merebahkan tubuh mungil Samudra lalu menyelimutinya dengan selimut tebal rumah sakit.
"Om---"
"Ya, sayang?"
"Am pengen pulang..."
Sam tersenyum sekilas ke arah bocah laki-laki tampan itu.
"Nanti kalau Am udah sembuh dan gak sakit kepala lagi, Am bisa pulang."
"Am udah cembuh kok."
"Bener?"
"He-em--"
"Kalo gitu Am bisa pulang dong, nanti deh Om tanya ke dokter dulu ya." Samuel berucap menenangkan.
"Iyah," angguk Samudra.
"Sekarang bobok dulu, jangan lupa berdoa sebelum bobok."
"Iya Om Uel---" jawab Samudra nurut.
Sam mengeratkan kembali selimut yang membungkus tubuh mungil Samudra. Tak lupa satu kecupan hangat mendarat di kening bocah itu, membuatnya begitu cepat memejamkan erat kedua matanya dan terlelap dengan mudahnya.
Sam kembali menarik sebuah senyuman hangatnya melihat wajah anak laki-laki itu. "Sweet dream, my boy." Gumam Sam pelan.
to be continue....