MySam

MySam
Keluarga Kecil



Samuel menutup laptopnya lalu melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sam bangkit dari kursinya dan berjalan memasuki ruangan santai, terlihat Maya masih tertidur lelap di atas sofa dengan posisi tidur menyamping membelakanginya.


Sam meninggalkan sebentar Maya yang masih terlelap dan melangkah menuju satu kamar yang tak jauh dari sofa tempat Maya tertidur. Sementara Samudra pun terlelap pulas di dalam kamar yang berdesain minimalis, hanya ada ranjang berukuran single bed dan beberapa lukisan sangat simpel. Mungkin anak itu kelelahan setelah bermain bersama Maya sejak sore tadi. Sam menarik senyumannya melihat bocah berusia hampir lima tahunan itu, mencium perlahan kening Samudra dan mengeratkan kembali selimut yang menutupi sebagian tubuh mungilnya.


Sam lalu berjalan ke arah ujung pintu dan menutup pintu kamar Samudra lalu kembali berjalan ke arah Maya. Samuel melangkah menghampiri Maya, membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya secara perlahan agar tidak membangunkannya. Sam lalu mengangkat tubuh Maya dan melangkah ke dalam kamar yang terletak tepat di sebelah kamar Samudra.


Sam membaringkan tubuh Maya, melepas sendal rumah yang dikenakannya lalu menyelimutinya sampai sebatas bahu. Sam duduk di tepi ranjang, merapihkan helaian rambut Maya yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Di tatapnya wajah cantik Maya yang tertidur pulas, hatinya menghangat melihat wajah istrinya. Meskipun Sam dihadapkan oleh tumpukan kerjaan di kantor tadi, tapi setelah melihat wajah wanitanya saat ini, rasa lelah yang menderanya langsung terbayarkan. Seolah lenyap begitu saja ketika menemukan penawarnya.


"Aku gak bisa bayangkan jika harus hidup tanpa kamu, sayang." Samuel berbisik lembut, takut jika Maya menggeliat terbangun.


...


Maya tersenyum melihat Samudra yang berlarian di sekitaran rooftop sembari memegangi pistol gelembung. Tawa riang yang menggemaskan dari Samudra membuat hati Maya menghangat.


Maya bersyukur akhirnya Samudra diperbolehkan Martha ikut dengannya ke Milan. Jika tidak, pastilah ia merasa jenuh ketika ditinggal oleh Sam saat pria itu mulai berangkat ke kantor hingga sore hari.


Tawa riang Samudra masih memecahkan keheningan suasana di atas rooftop perumahan milik keluarga Samuel. Melihat bocah itu tertawa riang mengingatkan kembali akan kehilangannya kemarin.


"Onty Aya....." seru Samudra berlari ke arahnya. Astaga... malaikat kecil itu sangat lucu sekali, batin Maya dengan senyum kecil ke arah anak itu.


"Iya, Am?"


"Onty Aya main ini... pencet....." ucap Samudra antusias sembari mengarahkan pistol mainan gelembung ke arah Maya.


"Oke, onty yang bikin gelembung nanti Am menari di bawah gelembung ya...." ucap Maya tak kalah antusiasnya.


Samudra mengangguk cepat menanggapi ucapan Maya.


Maya meraih pistol mainan dari tangan Samudra lalu menekan nekan pelatuk pistol gelembung itu, dan langsung saja puluhan gelembung sabun manguar dan terbang di udara dengan Samudra yang menari lucu di bawahnya, mencoba mengejar gelembung yang Maya buat.


"Teyus Onty..... Am suka.... hap....hap...." Samudra melompat-lompat kecil dengan kedua tangan di atas, berusaha untuk meraih gelembung-gelembung sabun hingga pecah di tangan mulusnya.


"Am suka?"


Samudra mengangguk sembari asik bermain dan mengejar gelembung dari pistol mainan di tangan Maya.


"Om Uel......!!" teriakan Samudra membuat Maya sontak menoleh ke arah pintu rooftop. Terlihat Sam berjalan mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana menyambut Samudra yang berlarian ke arahnya.


Sam mengangkat tubuh Samudra ke dalam gendongannya dan menghampiri Maya.


"Kamu kok sudah pulang? Gak sibuk di kantor?"


Samuel menggeleng dan duduk di sebelah Maya. "Urusan yang penting udah selesai, makanya aku pulang sebentar."


Maya mengangguk mengerti.


"Kamu lapar sayang?" tanya Maya yang kali ini menghentikan permainan gelembungnya.


Sebenarnya sejak siang tadi, Sam belum sesuap pun mengisi perutnya dengan makanan berat. Menurut Sam makan di kantin perusahaan tanpa ada Maya dan Samudra membuatnya kurang berselera.


"Hm, aku laper banget."


"Am juga lapen onty...." Samudra menimpali lucu ucapan Sam.


"Kamu kok lucu banget sih, Am." Ucap Samuel lalu melayangkan kecupan di pipi gembul Samudra.


"Ya udah, kita turun yuk. Aku masak-in sesuatu buat kalian," Sam mengangguk perlahan lalu berdiri dan meraih kembali tubuh Samudra ke dalam gendongannya.


....


"Aaa... lagi sayang."


Maya mengarahkan makanan ke mulut Samudra namun bocah itu menggeleng.


"Udah, Onty...."


"Lho kok udah? Am kan baru makan beberapa suap sayang," ujar Maya mencoba membujuk Samudra, namun Samudra tetap saja menggeleng seraya menutup mulutnya.


"Am, gak baik buang-buang makanan. Masih inget omongan Om Uel waktu itu?"


"Apa, coba?"


"Olang yang suka buang makanan, temen setan."


"Am mau temenan sama setan?" Samudra menggeleng dengan bibir mungil melengkung ke bawah.


"Jadi, kalo Am gak mau ditemenin setan. Am harus apa coba?"


"Ngabisin makanan Am."


"Pinter, Om gak suka kalo Am buang-buang makanan. Di luar sana banyak temen-temen Am yang kelaparan. Harusnya Am bersyukur bisa makan enak."


Samudra mengangguk pelan. "Iya Om Uel, maapin Am."


Samuel mengusap kepala Am lembut. "It's Okey, honey...."


"Onty Aya, aaaaa......" Samudra membuka mulut, meminta Maya untuk kembali menyuapkan makanannya kembali ke dalam mulutnya.


"Good, Am." Puji Samuel lalu melayangkan kecupan di pipi chubby milik Samudra.


Maya tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Interaksi manis antara Sam dan Am, serta bagaimana cara Sam menasihati Samudra yang langsung dimengerti oleh bocah itu membuat Maya tidak terkejut lagi. Perlahan-lahan kedekatan Samuel dan Samudra memang terlihat seperti seorang ayah dan anak. Bahkan Samuel sudah sangat pantas disebut kepala keluarga pemberi contoh yang baik.


"Kok Am aja yang dicium, Onty kan mau juga dicium," protes Maya sembari menggembungkan pipinya. Sam dan Am pun tertawa geli melihatnya.


"Kamu dapat yang special sayang," kata Samuel.


"Mana?"


Samuel menutup kedua mata Samudra dan langsung mencium bibir Maya, memberikan gigitan-gigitan kecil di ujung bibir Maya, sampai Maya memukul pelan dada Sam ketika mendengar tawa cekikikan Samudra.


Samudra terkekeh melihat Sam dan Maya bergantian. "Om Uel ium Onty di bibil ya?" kekeh Samudra.


Maya melotot, hampir saja ia tersedak salivanya sendiri karena terkejut mendengar ucapan Samudra. Maya lalu menoleh ke arah Sam yang juga terkekeh di sebelahnya.


"Hush! Am masih kecil, gak boleh begitu," peringat Maya, tapi Samuel malah menambahinya.


"Kok Am tau?"


"Samuel...!" pekik Maya sembari melotot bulat ke arah suaminya.


"Am juga pelnah liat daddy ium mommy di bibil. Telus daddy bilang, iuman daddy ke mommy itu iuman special buat pasangan."


Maya kembali melotot ke arah Sam, sementara pria itu hanya terkekeh kecil.


"Emang Am tau pasangan itu apa?"


"Tau! Kata daddy, pasangan itu dua olang yang saling cinta kayak daddy dan mommy teyus Om Uel dan Onty Aya," ucapnya polos.


Maya tersenyum melihat bocah laki-laki lucu di hadapannya, sebentar menoleh ke arah Sam yang juga tersenyum kecil.


"Onty... Onty...."


"Iya, Am?"


"Apa nanti Am juga akan punya pasangan?"


Kembali Maya melotot, membulatkan kedua matanya.


"Iya, sayang. Nanti kalo Am udah gede, Am pasti akan menemukan pasangan yang Am sayangi dan jaga seumur hidup Am."


Jawab Samuel sembari mengangkat tubuh mungil Samudra ke dalam pangkuannya.


Maya terkesikap dengan pembicaraan ini. Dalam hati Maya, ketiganya seperti sebuah ....


Keluarga kecilnya.


to be continue....