
Samuel menunggu resah di sofa panjang berwarna latte, bersama Samudra yang tengah asik bermain game di ipad tipisnya.
Melihat Maya yang tengah diperiksa oleh seorang dokter muda dan tampan, membuat hati Samuel semakin bergemuruh tak karuan. Bukan hanya karena sakit yang dialami Maya, tapi Sam tidak bisa melihat tubuh istrinya di pegang-pegang oleh dokter tampan itu saat sang dokter memeriksanya.
Membayangkan hal itu saja sudah membuat hati Sam mendidih apalagi ini, ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Sial...! kenapa pihak hotel mengirimkan dokter muda dan cukup tampan, pikir Sam kesal.
**
Hingga empat puluh menit kemudian, Samuel bisa bernapas lega. Setelah melihat dokter tampan dan bertubuh atletis itu melangkah menuju ke arahnya.
Dokter muda itu tersenyum ke arah Samuel sembari melipat stetoskop yang tadinya melingkar di leher dokter muda itu.
"Jadi bagaimana keadaan istri saya?"
Sang dokter tersenyum sebentar sebelum akhirnya ia duduk di atas sofa dengan menuliskan resep obat yang harus ditebus oleh Samuel.
Sekilas Sam terlihat sedikit mendengus kesal tatkala melihat dokter tampan itu tidak langsung merespon pertanyaan dan kekhawatirannya.
"Tidak ada yang perlu anda khawatirkan, istri anda hanya mengalami morning sickness," jawab dokter tersebut sembari masih sibuk berkutat dengan beberapa resep yang ia catatkan.
Sam mengernyit sebentar, entah kenapa siang itu otaknya terasa sangat lambat bekerja.
"Maaf, maksud anda?" tanya Sam dengan ekspresi wajah heran.
"Iya--istri anda hanya mengalami morning sickness, dan itu hal yang wajar dalam trimester awal kehamilan." Dokter tampan itu kembali melanjutkan penjelasannya.
"Hal ini akan berlanjut selama tiga bulan pertama kehamilan. Anda tidak perlu khawatir," ucap sang dokter lagi.
Mendapat tanggapan bingung dari Samuel, dokter itu sedikit mengerutkan keningnya heran.
"Apakah anda tidak tahu kalau istri anda sedang mengandung dengan usia kandungan hampir tiga minggu?" tanya sang dokter yang melihat keterkejutan di wajah Samuel.
Sam terdiam mematung, entah kenapa bibirnya saat itu terasa kelu. Sementara otaknya mulai bekerja, mencerna kalimat demi kalimat yang dokter tampan itu ucapkan barusan.
"Ini ada resep untuk istri anda yang harus ditebus di apotik. Pastikan istri anda meminumnya, tenang saja ini hanya resep vitamin selama kehamilan." Sang dokter tampan itu menyodorkan secarik kertas ke arah Samuel.
"Tuan Samuel---" ulang sang dokter ketika Sam tidak segera meraih kertas resep dari tangannya.
"Oh-- b-baik-- terima kasih." Ucap Sam sembari meraih kertas putih dengan coretan pulpen yang entah apa bacaan nya, mungkin hanya petugas apotik dan dokter itu sendiri yang mengetahuinya.
Kali ini senyuman bahagia Samuel tertarik di semua sudut bibirnya. Ia melirik ke arah Maya, istrinya itu pun memandangi nya dengan penuh rasa haru. Bahkan Sam bisa melihat netra Maya sedikit berkaca-kaca.
"Satu lagi-- jangan sampai istri anda mengalami stress selama kehamilan. Meski ini kehamilan anak kedua, terkadang masih banyak ibu hamil yang mengalami perubahan mood selama kehamilan mereka."
Samuel menarik sedikit ujung alisnya saat mendengar perkataan dari dokter tampan itu.
"Maaf-- maksud anda?" tanya Samuel.
"Bukankah ini kehamilan anak kedua kalian? setelah anak laki-laki tampan yang ada di sebelah anda ini?" tanya sang dokter sembari menunjuk Samudra yang dimaksudkan.
Sam tersenyum dan mengangguk mengerti.
"Oh iya-- terima kasih sekali lagi, dok." Sam mengulurkan tangannya ke arah dokter muda itu, dan tentu saja disambut baik uluran tangan dari Samuel. Dokter tampan itu menjabat erat punggung tangan Sam dengan senyuman sopan.
"Baiklah, saya permisi dulu. Jaga baik-baik istri anda tuan Samuel."
"Pasti, dok." Angguk Samuel.
Sebelum dokter itu melangkah keluar dari kamar hotel, Sam mengulurkan sebuah amplop putih ke arah dokter tersebut. "Terima kasih sekali lagi, dok." Ucap Sam lagi.
Anggukan kepala sang dokter merespon ucapan Sam, hingga akhirnya dokter itu melangkah keluar meninggalkan kamar mewah hotel.
...
Samuel melangkah menuju ke arah Maya yang saat itu tengah terbaring dalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Samudra pun ikut berbaring bersamanya dan masih sibuk dengan layar ipad di tangan.
Sam beringsut perlahan, mendekat ke arah Maya yang saat ini tengah memandang wajahnya lembut. Keduanya bahkan tidak dapat berkata-kata, hanya tatapan mata bahagia yang seolah saling berkomunikasi.
Maya bahkan tidak bisa membendung lelehan air mata yang Sam tahu jika itu adalah air mata bahagianya.
Tangis Maya semakin menderu tak tertahan ketika Samuel berbaring memeluknya.
"I-ni-- bukan mimpi kan, Sam?"
Samuel menggeleng perlahan sembari bergerak sedikit turun dan menenggelamkan wajahnya pada perut Maya. Menciumi perut yang masih rata itu secara perlahan.
"Ini nyata, sayang."
Sam semakin menenggelamkan kepalanya pada perut Maya dan menerima usapan lembut tangan Maya di puncak kepalanya.
"Ini anak kita Sam," cicit Maya pelan.
Sam yang masih saja mendekap perut dan pinggang Maya, mengangguk pelan.
"Onty-onty....." seru Samudra.
Bocah itu kini mendekat ke arah keduanya dan bergelayut manja pada sisi tubuh Maya yang lain.
"Emang Onty atit(sakit) apa si?"
Kali ini Sam melepas pelukannya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Maya. Sam merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Samudra dan juga Maya, dengan salah satu lengan kekarnya yang menjadi tumpuan.
"Onty gak sakit, sayang." Sam menjawab pertanyaan Samudra.
"Tapi tadi ada doktel (dokter)."
"Am mau gak punya dedek baby?" tanya Sam lagi.
"Mau....!!" seru Samudra.
"Tapi---"
"Tapi apa Am?"
"Am kan udah punya dedek, dedek nya Am itut (ikut) Moms-Dad."
Samuel tersenyum sekilas.
"Ini dedek baby yang lain, sayang."
"Ow---" Samudra ber-oh ria dengan ekspresi wajah lucu.
"Am mau....!!" seru Samudra akhirnya.
Maya yang mendengarnya hanya bisa tersenyum bahagia. Lengkap sudah kebahagiaannya, mempunyai orang-orang yang mencintainya.
Yaitu Samuel dan Samudra--- dan kini hadir calon kesayangannya yang lain.
"Doain semoga Onty dan dedek baby sehat ya, Am?"
Samudra mengangguk menjawab ucapan Samuel, satu kecupan dari bocah itu mendarat tiba-tiba di pipi Maya.
Mmuahh--- kecup Samudra.
"Am cayang (sayang) cama (sama) Onty dan dedek baby," ucap Samudra spontan.
Maya yang melihatnya pun membalas kecupan bocah itu dan memeluk tubuh mungil Samudra erat. "Am mulai sekarang panggil Onty dengan sebutan Mama, bunda atau ibu ya? Am mau kan?" ucap Maya dengan sedikit derai air mata dan suara yang sedikit tertahan karena haru.
Samudra kembali tersenyum, lalu tak lama kemudian bocah itu memeluk Maya.
"Am panggil Onty-dengan Mommy ya? Am uga (juga) panggil Om Uel dengan Daddy."
Sam dan juga Maya saling berpandang haru.
"Iya Am," jawab keduanya bersamaan.
Samuel tidak bisa untuk tidak memeluk dan mencium kening Maya dan Samudra.
"Daddy sayang kalian...." lirih Samuel pada kedua orang yang sangat ia cintai.
Untuk beberapa detik ketiganya saling berpeluk, Sam memeluk erat Maya, sementara Samudra pun tak mau kalah. Bocah itu memeluk tubuh Maya dari sisi yang berlawanan dengan Samuel.
"Am, pengen punya dedek pelempuan (perempuan) yang tantik (cantik)," ucap Samudra lucu.
"Aamiin.... Semoga aja terkabulkan ya sayang," jawab Maya tersenyum berharap.
"Daddy....! Daddy mau kemana?" pekik Samudra begitu ia melihat Samuel berdiri dari ranjang dan berjalan menuju telepon hotel.
Sam sedikit terkejut, mendengar Samudra memanggilnya dengan sebutan daddy--- entah kenapa membuat jantungnya bergetar hebat.
"Eh-- Dad--eem--mau pesen makanan." Sam menjeda sejenak kalimatnya.
"Am pengen Daddy pesenin apa?"
"Am mau--- pelmen (permen)."
Sam menggeleng pelan.
"Daddy pesenin Am spagetti aja ya?"
"Eem--- Ok Dad..." jawab Samudra sembari mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi.
Maya terkesikap melihatnya, ia sungguh sangat bersyukur dengan apa yang telah Tuhan titipkan.
Makasih ya Allah, batin Maya.
to be continue...