MySam

MySam
Damn You, El



Kedua netra hitam itu mengerjap, melihat kemeja kerja dengan potongon kerah V-neck berwarna putih polos berbahan acrylic yang sangat ringan dan lembut, tergantung dalam kamar tamu bersama blazer serta celana kerja berbahan linen dengan warna senada yaitu soft brown. Sangat elegan dan menampilkan sisi feminim Maya. Bibir yang masih terlihat alami itu tersenyum tipis. Bahkan Sam sudah menyiapkan semua yang ia butuhkan pagi ini.


Semalam ia bilang ke Samuel untuk tetap bekerja di pagi harinya, masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan membuatnya tidak enak hati jika meninggalkan semua tugasnya yang menumpuk. Meski berat, akhirnya Sam menyetujui keinginan tunangannya.


Maya mendekat ke arah pakaian kerja yang sangat menawan itu, mungkin jika ditaksir harga untuk pakaian itu, bisa saja setara dengan nilai satu bulan gajinya. Jemari lentiknya mulai mengelus menyusuri tiap detil pakaian yang akan ia kenakan pagi ini, sangat lembut....


Jam tangan Rolex pemberian Sam yang melingkar manis di pergelangan tangannya menunjuk waktu pukul tujuh pagi. Masih ada kesempatan untuknya bertemu Samuel, nanti setelah ia selesai mandi dan bersiap diri. Tidak mungkin juga kan ia menemui Sam dengan keadaan berantakan seperti ini.


.....


"Kamu tetap jadi berangkat kerja, sayang?" tanya Sam begitu melihat Maya turun ke ruang santai di lantai dasar.


Maya mengangguk, mendekat ke arah Sam yang sedang duduk dengan laptop di hadapannya.


"Iya, Sam. Banyak banget kerjaan yang kemarin aku tinggalkan. Maaf ya... tapi aku janji sepulang nanti aku akan mampir lagi kesini." Maya membalas ciuman kecil Sam di kedua pipinya.


"Hhmm, kamu hati-hati okey...?"


"Iya." Maya mengangguk dengan senyuman manis mengembang di semua sudut bibir peach itu.


"Biar supir yang mengantar kamu pagi ini."


"Gak usah, biar aku naik taksi aja."


Sam melepaskan pandangannya dari layar laptop dan memandang wajah gadis yang duduk di hadapannya. "Aku tidak mau ada penolakan. Kamu diantar pak Budi pagi ini," ucap Sam dengan penekanan, membuat Maya hanya tersenyum tipis dan menurut apa yang menjadi titah pria itu.


"Aku hanya khawatir jika kamu pergi dengan taksi, kumohon mengertilah apa maksudku." Sam menjelaskan, melepas kaca mata baca yang bertengger sempurna di hidung mancung bak Mahameru itu.


"Iya, aku ngerti. Baiklah aku akan berangkat diantar pak Budi," jawab Maya lembut. Sam tersenyum lega, pria itu tidak mau jika Maya menanggapi salah segala perhatiannya.


"Bagaimana keadaan kamu, Sam? demam kamu udah turun?" Maya kini mendekat, memangkas jarak yang tercipta oleh meja panjang berbahan kayu ek yang sangat kokoh. Maya kembali mengulurkan tangannya di kening Samuel.


"Lebih baik, sayang. Semua berkat perhatian kamu." Sam tersenyum tipis menerima perlakuan Maya.


"Thanks, baby."


Ia raih pinggang ramping Maya dan memeluknya dengan posisinya yang masih duduk di sebuah kursi empuk. Tangan kekar pria itu menarik pelan tubuh Maya, dan didudukkan Maya ke dalam pangkuannya. Membuat Maya sedikit menjerit kecil. "Samuel...!" tawa kecilnya tercipta, tak lama kemudian kedua lengannya menggantung di leher kokoh Samuel. Wajah mereka saling berpandang hanya dengan jarak satu inci saja. Perlahan tawa Maya menghilang, hanya menyisakan tatapan mata lembut keduanya. Masih dengan posisi Maya duduk dalam pangkuan Sam dan kedua iris berbeda warna itu saling bertaut.


Sam memiringkan sedikit kepalanya, mencondongkan sejengkal wajahnya ke arah Maya. Hampir saja bibir mereka saling berpaut ... "Sam, aku sudah kesiangan....." ucap Maya tiba-tiba.


Sam mengurungkan pergerakannya, tersenyum sebentar dengan saling menempelkan kening mereka masing-masing.


"Berangkat lah, sayang...." bisik Sam lembut.


Dengan cepat dan tiba-tiba, Maya mendaratkan kecupan kecil di bibir Sam, hanya kecupan sekilas dan tanpa pergerakan. Pipi Maya merona, berusaha menyembunyikan wajahnya dari Samuel.


"Aku berangkat dulu," lirih Maya, masih dengan pipi merona, tersenyum tersipu ke arah pria yang saat itu masih mematung kaget akibat ciuman singkat Maya barusan.


"Take care, baby...." ucap Sam begitu ia tersadar dari lamunan. Memandang lembut kepergian gadis bersurai hitam sebahu itu. Gadis yang selalu memenuhi benak dan hati Sam hingga tubuh mungil Maya kini menghilang di balik dinding mansion.


.....


Elano menghentikan langkah sejenak begitu melihat mantan kekasihnya turun dari sebuah sedan hitam mengkilat. Keningnya berkerut heran melihat Maya ke kantor sendirian tanpa ada Samuel, tak lama kemudian ekspresi keheranan El berubah menjadi seringai liciknya.


El menunggu langkah Maya mendekat, berdiri tegap dengan kedua lengan yang ia silangkan ke atas pinggang. Mata tajam itu lekat mengamati tiap lekuk tubuh Maya, bibir tipis nya menyeringai kecil seolah sedang memikirkan sesuatu yang menakutkan tentang gadis yang kini berjalan mendekat ke arahnya.


"May....." sapa Elano.


"Eh, kamu El. Pagi..." Maya tersenyum sekilas dan menoleh ke arah Elano yang bersandar pada salah satu pilar lobi kantor.


"Sam gak ngantor pagi ini?" selidik El.


"Sam lagi gak enak badan," balas Maya, sekilas ia melirik memandangi Elano yang hanya ber-oh ria.


"Aku naik duluan, El."


Dengan cepat, Elano mencoba mengejar langkah Maya. Kini berjalan di samping gadis itu. "May...." pekik Elano mencoba mengikis jarak.


"Siang nanti kita makan siang bareng? Udah lama kan kita gak makan siang bareng."


"Eemm... gimana ya El, aku bawa bekal. Tadi bibik udah siapin aku bekal," jawab Maya dengan ekspresi tak enak.


Elano mengernyit, "Bibik....?" tanyanya bingung.


"Oh... eh...ii.. ttu.... semalam aku menginap di rumah Sam, dan bibik asisten rumahnya Sam pagi ini bawain aku bekal makan siang."


Netra Elano membola, "Kamu bermalam di rumah Sam?" Ekspresi curiga El terbentuk, memandang aneh wajah Maya.


"Iya, eeh... tapi kami gak tidur satu kamar lho. Aku ada di kamar tamu." Maya menjelaskan, ia tidak mau jika ada orang yang menganggap dia dan Sam melakukan hal yang tidak patut.


Wajah Elano semakin mengeras, matanya membulat tajam. Mendengar apa yang baru saja Maya katakan membuat emosi pria itu memanas. Dulu saja, gadis itu selalu menolak ketika ia mengajaknya bermalam di apartemennya. Tapi kini mantan kekasihnya itu begitu saja bermalam dengan pria arogan yang menjadi rivalnya. Tangan El terkepal keras, menahan semua amarahnya.


"El, aku duluan ya." Begitu lift berhenti dan terbuka, Maya dengan begitu saja meninggalkan pria itu yang masih mematung dengan emosi dalam. "Awas aja lo. Maya!" batin Elano.


...


"May, kamu ikut meeting sore ini." Ucap Elano begitu kepalanya menyembul dari balik pintu ruang kerja Maya.


"Tapi, El...." Maya berusaha menyela ucapan Elano.


"Kamu sebagai marketing manager harus ikut, May. Kita adakan meeting rapat direksi sepulang kerja. Jangan membantah!!" lanjut Elano. Bergegas pria itu menutup pintu ruangan Maya dan pergi meninggalkan Maya yang mematung.


Apa yang harus ia bilang pada Sam nanti? Ia berjanji akan pulang awal dan mampir ke rumah Sam.


Maya menarik keluar ponsel dari dalam tasnya, menekan fast dial nomor satu yang langsung terhubung ke ponsel Samuel.


"Assalamualaikum, Sam... maaf aku harus meeting sore nanti___ gak tau juga, El mendadak mengadakan rapat direksi___ iya aku juga gak tau Sam___ Okey aku akan berhati-hati___ hhmm waalaikumsalam... bye..."


klik


Maya mematikan ponselnya, membuang napas sebentar. Rapat direksi yang sangat mendadak. Bahkan dalam telepon tadi Samuel mengatakan jika hari ini tidak ada jadwal untuk rapat direksi. Maya kembali menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.


....


"Lho El, kata kamu ada rapat direksi sore ini, kenapa belum ada satupun yang hadir?" Maya mengernyit heran. Sore ini memang ia melihat ada yang aneh saat ia berjalan menuju ruang meeting. Seluruh koridor kantor telah kosong dan bahkan pantry yang biasanya masih terlihat beberapa OB atau OG yang biasa bergosip ria pun sore itu entah kenapa, seluruh sudut ruangan itu telah sepi, padahal belum juga jam lima sore.


"Masuklah dulu. Sebentar lagi yang lain juga akan datang." Jawab Elano ringan.


Maya menurut, memasuki ruangan luas dengan satu meja besar yang dikelilingi beberapa kursi yang berjejer rapi. Elano duduk di kursi paling tengah, disusul Maya yang mengambil duduk dengan jarak lima kursi dari Elano.


Untuk sejenak hanya ada keheningan.


Maya mengetuk-ngetukkan pulpen nya gelisah, berkali-kali melirik ke arah jam tangan Rolex miliknya. "El, sudah satu jam lebih kita nunggu di sini, kenapa yang lain belum pada kesini? Atau meeting sore ini batal aja ya, aku masih ada urusan." Maya berdiri merapikan peralatan tulisnya dan hendak berlalu dari sana.


Brakk...!!


Elano menggeser kursi dengan kasar hingga kursi yang ia tempati tadi terjatuh dan menimpa beberapa kursi lain. Membuat Maya tersentak kaget.


Pria itu sedikit berlari mencegah Maya yang hendak keluar dari sana. "Kamu mau kemana, hah..?!!" Tangan El dengan sigap menahan knop pintu. Berusaha menggagalkan usaha Maya untuk keluar.


"Aku mau pulang, El."


"Mau menemui Samuel maksud kamu?!" Elano berdecak kesal, sorot mata itu begitu menakutkan.


"Bukan urusan kamu, El." Maya menjeda kalimatnya,


"Biarkan aku keluar." Manik mata Maya memandang lekat ke arah Elano.


"Jangan harap kamu bisa keluar dari sini. Maya!!"


klik!


Elano mengunci pintu ruang meeting, bersandar di daun pintu dengan kedua lengan dilipat di atas dada. Iris coklat pria itu tajam menatap Maya.


"Mau apa kamu?!"


Pertanyaan Maya tidak ia pedulikan. Elano hanya tersenyum meremehkan, iris coklat itu masih menatap Maya lekat. Seulas senyum mengerikan kembali tertarik dari sudut bibir Elano dan perlahan ia dekati Maya. Melepas kasar dasi yang tadinya melingkar rapi di lehernya dan membuangnya asal.


Berganti El menanggalkan satu persatu kancing kemeja biru dongkernya, hingga seluruh bagian kancing itu terlepas dan Elano pun membuang asal kemeja formalnya.


"Mau apa kamu hah?! jangan macam-macam ya atau saya teriak!" ancam Maya.


Tentu saja ancaman gadis itu hanya dianggap angin lalu, sekali lagi seringai menakutkan itu hadir kembali.


Elano mendekat ke arah Maya dengan sorot mata mengerikan, diraihnya tubuh gadis itu dan mendorongnya hingga terjatuh di atas meja besar satu-satunya di dalam ruangan tersebut. Maya tersudut, ia mencoba memberontak, berusaha membebaskan diri dari cengkraman Elano namun tenaganya tak sekuat pria itu. Elano masih mencengkeram kuat kedua lengan Maya hingga ia meringis kesakitan.


"Lepasin aku!!! atau aku teriak!" ancam Maya.


"Silahkan teriak, sayang...." bisik Elano


"Tidak akan ada yang bisa mendengarnya, kamu tau itu hah....?!" Elano mendekatkan bibirnya ke telinga Maya hingga sempat menyentuh pipi dan bibir gadis itu.


Sungguh menakutkan!! Maya bahkan berharap ada keajaiban petang itu.


"Lepaskan, brengsek!! atau Sam akan menghajarmu tanpa ampun!!" Maya memberontak, kembali mencuatkan ancaman yang hanya dianggap angin lalu oleh Elano.


"Hahaha!! bodoh sekali kamu, sayang. Kali ini Samuel tersayangmu itu tidak akan bisa menolongmu!" Tubuh Elano masih kuat menahan tubuh Maya, menindihnya tepat di atas meja besar.


Masih mencoba memberontak, Maya memukul-mukul dada bidang yang kini semakin mendekapnya kasar.


"Lepasin aku, brengsek!! Tolong...! siapapun tolong....!"


Maya mencoba memberontak ketika bibir Elano dengan beringas menyusuri tiap inci wajah putihnya lalu mencoba turun ke leher dan dadanya.


"Diam...!! jangan sok jual mahal kamu Maya!"


Kali ini El mencengkeram erat rahang Maya. Mencoba mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Maya yang mulai memucat. Hembusan napas panas Elano memburu tepat di depan bibir Maya. Tiba-tiba El menautkan kasar bibirnya ke bibir Maya.


Maya masih mencoba memberontak, memukul pundak El hingga tangannya terasa kebas. Elano masih berusaha membabibuta menciumi bibir dan leher putih Maya.


"Lepas, El... aku mohon...hiks...hiks..." Maya memberontak, menangis sejadinya. Sialnya, semua erangan dan tangis Maya tidak El hiraukan, justru membuat pria itu semakin membabibuta menyerang Maya.


Cairan bening keluar dari sudut mata Maya, gadis itu mengerang, menjerit sekuatnya. Mencoba mencari pertolongan di gedung yang telah kosong itu. Tangis Maya tidak mampu membuat Elano tersadar, justru pria itu semakin kesetanan melancarkan aksi bejadnya.


"Tolong.....!!!" Maya masih mencoba mendorong tubuh kekar Elano, sungguh... tenaganya tidaklah sekuat El, pria itu benar-benar bukan lawan yang seimbang buat Maya.


Maya selalu menyebut nama Samuel dalam hati, menangis sejadinya ketika mengingat wajah tunangannya.


"Jangan menangis, Maya.... ada aku disini yang akan menemani kamu, sayang...." Elano dengan paksa menarik kemeja kerja Maya, dan lagi-lagi ia mendapatkan perlawanan dari Maya.


"Jangan mimpi kamu, El. dasar brengsek....!"


Bugh...!!


Maya menendang kasar pusaka Elano, membuat pria itu mengerang kesakitan. "Cewe sialan!!" erang El.


Maya mencoba berlari menuju pintu, Elano yang melihatnya tidak ingin membiarkan Maya lepas dari tempat itu.


"Tidak secepat itu, baby.... hahahahaha....!!" Tangan El dengan kasar menahan pintu ruangan. Kembali mendorong tubuh Maya menghimpitnya hingga gadis itu mulai kehabisan napas. Sungguh sesak.... Maya kehilangan kesadaran, perlahan pandangannya mulai kabur.


Brakkk....!!


Bugghh...!! Bugghh....!!


"Maya, kamu tidak apa-apa? sadar May...." seseorang menepuk-nepuk pelan pipi Maya.


Samar-samar Maya mendengar seseorang datang dari luar. Sosok tinggi dan tegap melayangkan pukulannya ke arah Elano. Entahlah saat itu tubuh Maya meremang, lemah dan tidak berdaya. Bahkan darah segar mengucur di hidung dan sudut bibir Maya. Samar ia merasakan ada seorang gadis yang menangkap tubuhnya, membawanya ke dalam pangkuan, menepuk-nepuk pelan kedua pipinya.


"Maya, sadar May...."


Akhirnya kedua mata hitam Maya menutup erat.


"Maya....!!" teriak suara itu.


to be continue.....