MySam

MySam
I Love You Mr. Samuel Perdana



Maya masih mencoba menghubungi ponsel milik Sam, namun yang terdengar hanyalah mesin penjawab otomatis yang menerima panggilannya. Berkali-kali pula Maya membuang napas kasar sembari mondar-mandir tak karuan di ruang keluarga. Ponsel pipih berwarna putih miliknya pun tak pernah lepas dari genggamannya. Sungguh ia merasa sangat ketakutan saat ini, Sam tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kalaupun pria itu pergi tanpa sepengetahuan dirinya, Sam selalu menuliskan memo manis yang ia tinggalkan di atas nakas samping tempat tidur mereka.


Dan selama ini Samuel pun tidak pernah meninggalkannya sendiri dengan waktu yang sangat lama. Jam tangan rolex Maya menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia pun telah menghubungi kantor, Bayu dan Airin kompak menjawab jika Samuel sampai detik ini belum terlihat di kantor.


Sungguh membuat perempuan bersurai hitam sebahu itu terlihat begitu khawatir.


"Non Maya makan dulu ya, dari tadi pagi non belum makan sama sekali," bujuk bibik yang tidak tega melihat majikannya dari tadi hanya mondar-mandir tak jelas. Satu suap nasi atau segelas susu hangat pun tidak ia sentuh, padahal bibik telah menyiapkannya sejak tadi pagi.


Maya menggeleng dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk dan menyandarkan kepalanya yang sedikit berdenyut karena stres.


"Tapi nanti non bisa sakit kalau telat makan," bujuk wanita setengah baya itu lagi.


"Aku belum lapar bik, nanti saja nunggu suamiku pulang."


Bibik hanya bisa menarik napas panjang melihat sikap keras kepala majikannya, bibik juga merasa tidak enak hati telah membohongi dan menyimpan kebenaran tentang keberadaan Samuel, tuan mudanya.


"Bibik ada di belakang jika non butuh sesuatu."


"Iya bik," jawab Maya sembari memandang sekilas ke arah wanita berumur kurang lebih enam puluh tahunan itu.


Si bibik pun mengundurkan diri kembali ke belakang, meninggalkan nyonya muda nya yang terbaring sendirian di sofa empuk yang terletak di ruang santai.


Maya masih mencoba menghubungi Samuel, namun lagi-lagi hanya ada mesin penjawab otomatis yang menjawabnya disana.


......................


Samuel membuka perlahan kedua netranya, ia lirik sekilas arloji yang melingkar di tangan kirinya, sudah pukul sembilan pagi. Pria itu lantas terhenyak dari tidurnya, memijit pelipisnya hingga melakukan peregangan otot-ototnya.


Sam tidak menyadari setelah selesai sholat subuh tadi tanpa sadar, ia kembali tertidur pulas di sofa rumah sakit.


Netra Sam lalu beralih ke arah Samudra yang saat ini telah terbangun, dengan bik Sari di sampingnya. Sam berdiri menghampiri dan tersenyum kecil ke arah anak itu, juga bik Sari.


"Om Uel malas...." celoteh Samudra lucu.


Sam hanya tersenyum sembari menarik kedua ujung alisnya hingga bertemu satu sama lain.


"Am, ngeledekin Om Uel ya?" tanya Samuel dengan senyuman lebar dan hangatnya. Pria itu lalu mendekat dan mendaratkan ciuman di kening Samudra lembut.


"Morning my boy.... Cup... mmuuaaah...." ucap Samuel, ciuman hangatnya mendarat sedikit lama di kening Am.


"Om Uel, ini tu udah ciang."


"Hehehe iya maaf Om Uel ketiduran," balas Sam dengan tangan yang menggaruk-garuk lucu tengkuknya, membuat bik Sari hanya senyum-senyum melihat tingkah pria tegap itu.


"Oh ya gimana keadaan Am?"


"Am oke."


Jawab Samudra singkat, ia pun mengacungkan jempolnya ke arah Samuel. Melihat tingkah menggemaskan bocah itu, Sam hanya bisa tertawa geli sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Alhamdulillah kalo gitu."


"Apa itu Alhamdulillah, Om?" tanya Samudra polos.


"Alhamdulillah itu artinya, kita bersyukur sama Allah atas segala pemberianNya."


"Siapa itu Allah?"


Sam terdiam sejenak, rupanya rasa ingin tahu bocah ini mulai terlihat.


"Allah itu Tuhannya Om Uel, Onty Aya, bik Sari dan orang-orang muslim lainnya.


"O.... jadi Allah itu yang ada di gereja? Yang Mommy dan Daddy selalu temui tiap hari minggu?" tanya Am lagi.


Samuel kali ini mendekat, duduk di tepi ranjang rumah sakit Samudra dan mengelus lembut puncak kepala anak itu.


"Beda sayang, Tuhan yang Om Uel dan Onty Aya sembah--- itu beda sama Tuhannya Mommy sama Daddy nya Am." Sam menjeda sebentar ucapannya.


"Tapi Om yakin Tuhannya Mommy dan Daddy nya Am juga mengajarkan kebaikan pada umatNya," sambung Sam lagi.


Samudra mengernyit, menepuk-nepuk jari telunjuknya di dagu mungilnya.


"Terus Am harus nyembah ciapa, Om? Allah atau Tuhan nya Mommy?"


Pertanyaan polos Samudra kembali membuat Samuel tersenyum lembut.


"Keyakinan itu berasal dari sini--" ucap Samuel sembari menempelkan telapak tangannya ke dada mungil Samudra.


"Dari hati Am, nanti jika udah gede Am akan mengerti."


"Tapi kalo Am kayak Om Uel dan Onty Aya--- Mommy cama Daddy malah gak Om?"


Satu lagi pertanyaan Samudra membuatnya mengernyit heran.


"Om yakin, jika Mommy-Daddy nya Am akan sangat bijak dengan keputusan Am nantinya."


Sam kembali mengusap lembut pipi bocah itu. Bik Sari yang melihatnya kini hanya bisa menitikkan kembali air matanya, mengingat akan kedua almarhum majikannya.


"Oh ya.... Am udah makan?"


Samudra menggeleng pelan.


"Kenapa belum makan? Sini Om suapin ya?"


Samudra kali ini mengangguk cepat. "Am lapen, suapin Om Uel..."


"Iya, Om Uel suapin Am," jawab Sam. Bik Sari langsung saja mengulurkan sepiring bubur gandum ke arah Samuel.


"Nah sekarang Am mamam dulu, aaaa.... buka mulutnya...." Sam menyuapkan satu sendok bubur gandum ke arah Samudra, yang lalu disambut dengan mulut bocah itu yang menerima suapan dari Samuel.


Hingga beberapa kali suapan dari Samuel dimakan dengan lahap oleh Am.


"Pinter.... nah kalo mamam nya pinter gini, Am bisa dapat hadiah dari Om Uel ni..."


"Hoye..... Am mau hadiah...!!" seru Samudra girang.


"Tapi Am juga harus pinter minum obat ya."


"Hm..." angguk Samudra.


Bocah itu pun dengan gampangnya meminum obat yang sudah bik Sari larutkan terlebih dulu dengan air putih.


Sam pun memasukkan perlahan sendok obat cair itu ke mulut Samudra. Mungkin terasa sedikit pahit, terlihat saat bocah itu menyipitkan sedikit matanya ketika menelan obat yang disuapkan oleh Sam barusan.


"Pahit ya Am?"


Samudra mengangguk pelan dengan ekspresi muka lucu.


"Am anak hebat, nanti sore Om Uel beliin hadiahnya, okey....?"


"Iya, ma'acih ya Om."


"Sama-sama, sayang."


Samuel mengacak-acak gemas puncak kepala Samudra. Lalu bangkit sebentar dari tempat tidur Samudra.


"Onty Aya mana Om?"


Sam baru teringat akan istrinya, ia lupa memberitahukan keberadaannya pada Maya. Dan sudah jam segini pun dia belum juga pulang.


Maya pasti khawatir, batin Sam.


"Om Uel...."


"Eh--ee-- Onty Ayaaa--masih di rumah, nanti sore sekalian ya Onty Aya jenguk Am?"


"Iya," angguk Samudra.


"Nah sekarang, Om Uel pulang dulu ya. Kan udah ada bik Sari yang nemenin Am."


"He-em...." angguk Samudra lagi.


"Am pengen di peyuk Om Uel," rengeknya.


Sam mendekat ke arah Samudra dan membentangkan kedua lengannya. Mendekap erat tubuh bocah itu sembari mendaratkan ribuan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala dan kening Samudra.


"Oh sini-sini Om Uel peyuk, uuhh...heemmm... gemesh deh sama Am...."


"Seeyou... Am..." Sam melambaikan tangannya ke arah Samudra.


"Seeyou Om Uel...."


Sam berpamitan ke bik Sari lalu berjalan mendekat ke arah ujung pintu. Sebelum ia benar-benar melangkah keluar, Sam sekali lagi memandang ke arah anak laki-laki itu dan tersenyum teduh ke arahnya.


Hingga kini tubuh Samuel benar-benar menghilang dari ruangan VVIP itu.


...----------------...


Maya menggeliat ketika sebuah kecupan hangat menyapa pipi mulusnya. Netra hitamnya membuka perlahan, sedikit memicingkan matanya ketika mencoba melihat siapa yang telah membangunkannya dengan sebuah kecupan di pipinya.


"Hey sayang...." ucap Sam lembut, ia pandangi wajah cantik Maya meskipun perempuan itu baru saja terbangun dari tidurnya.


Dalam sedetik Maya terbangun dan berpindah posisi, kini ia duduk di hadapan Samuel dengan bibir yang ia kerucutkan sebal.


"Dari mana aja, hem?!" dengus Maya kesal.


"Maaf sayang, semalam---"


"What--?!! Jadi kamu perginya dari semalam, hah?!" tanya Maya sembari melotot ke arah Samuel. Ia langsung saja memotong perkataan Sam yang hendak menjelaskan permasalahan sebenarnya.


"Iya maaf--- tapi denger dulu penjelasan aku, sayang." Sam masih mencoba membujuk istrinya.


"Ya udah ayo jelaskan semuanya," tantang Maya. Kali ini dia berdiri membelakangi Sam dengan kedua tangan melipat sebatas pinggang.


"Tapi kamu jangan ngambek gitu dong, May."


"Aku gak marah, siapa bilang aku marah?" elak Maya, ia buang jauh-jauh mukanya saat Sam berusaha menatap wajahnya.


Samuel hanya tersenyum tipis, melihat kelakuan Maya yang jutek seperti saat ini, mengingatkannya dengan waktu awal pertemuan mereka.


"Kamu tuh ya dari dulu selalu keliatan cantik kalo lagi marah."


"Sam-- ih-- jangan becanda deh."


Maya kini menoleh ke arah suaminya dan menatapnya tajam.


"Aku gak becanda, aku serius."


"Cckkk....!!! Ya udah cepetan jelasin kenapa kamu pergi malam-malam, hah? Saat aku tertidur kan? Kamu nemui Freya ya? Atau ada gadis lain, hem....?!!" sungut Maya kesal. Namun kali ini terlihat jelas kedua netra hitam gadis itu hampir saja mengeluarkan air matanya.


"Ya Allah May.... Aku gak mungkin seperti itu."


"Lantas? Kenapa kamu---"


"Am semalam anfal lagi," potong Samuel cepat-cepat sebelum Maya meneruskan ucapannya.


"Hah??? Apa?? Terus bagaimana keadaan Am?"


Maya kini terlihat sangat panik dan menatap Samuel dengan mata yang kali ini sudah berembun.


"Am baik-baik aja, Alhamdulillah pagi ini keadaan dia kembali stabil."


"Kenapa kamu gak bilang sama aku sih, Sam? Kenapa coba gak bangunin aku?"


"Maaf sayang, aku gak tega bangunin kamu yang tertidur sangat pulas."


Sam memeluk pinggang Maya dan menciumi puncak kepala istrinya.


"Maafkan aku, Sam aku udah berfikir buruk ke kamu," cicit Maya lemah.


"Hm, tapi jujur aku suka saat kamu marah-marah kayak tadi." Samuel terkekeh geli, sembari terus memeluk erat pinggang Maya.


"Ish--kok gitu?"


"Karena kamu jealous sama aku dan cemburu kan tandanya kamu bener-bener cinta sama aku," rayu Samuel.


"Emang harus cemburu dulu supaya kamu tau kalo aku cinta sama kamu, Samuel Perdana? Hm...?"


Maya kali ini memutar tubuhnya menghadap Samuel. Melingkarkan kedua lengannya ke leher Samuel dan dengan kedua kaki yang berjinjit kecil.


Maya mencondongkan wajahnya, menatap teduh kedua netra coklat milik Samuel.


Beberapa detik tatapan keduanya saling bertumbuk. Tiba-tiba Maya mendekatkan bibirnya dan mengecup perlahan ujung bibir tebal Samuel yang selalu berwarna pink alami.


"I love you Mr. Samuel Perdana," bisik Maya. Ia kembali menatap wajah suaminya yang selalu terlihat mempesona.


"I love you more Mrs. Maya Aulia Perdana."


Sam balik berbisik lembut. Kali ini bibir Samuel mendekat ke arah bibir peach istrinya.


Dan melakukan pergerakan lembut disana.


to be continue....