MySam

MySam
Praduga



Maya menggeliat kecil dengan kerutan samar di keningnya saat dirasa kasurnya berguncang diiringi oleh kekehan Samudra yang begitu dekat dengannya. Maya membuka sedikit matanya, melihat Samudra yang hanya memakai celana pendeknya tengah melompat-lompat di samping tubuhnya sembari tertawa jahil ke arahnya.


Wangi sabun yang menguar dari tubuh Samudra tercium di hidungnya, menandakan bahwa bocah kecil itu baru saja selesai mandi.


"Am, jangan nakal. Onty masih tidur!" ucap Samuel membuat Maya sontak menutup matanya kembali ketika suara berat Samuel terdengar, lalu mengintip sedikit. Di liatnya Samuel yang berjalan ke arah kasur dengan membawa pakaian Samudra.


"Onty udah bangun, Om Uel..."


"Oh ya?" tanya Sam dan anggukan kecil Samudra menjawabnya, sembari anak itu masih melompat-lompat di atas spring-bed empuk milik Maya dan Sam.


Maya menutup matanya lagi, berpura-pura tidur. Suasana mendadak hening, membuat Maya pun penasaran karena suara Samudra atau Sam tidak lagi terdengar. Lama Maya menunggu tapi mereka tidak juga bersuara. Hanya terdengar suara deritan pintu kamar yang terbuka.


Maya menduga, mungkin mereka sudah turun ke lantai bawah untuk sarapan. Tapi saat Maya membuka mata, ia dikejutkan oleh wajah Samuel yang berada tepat di depan wajahnya.


"Suami, kamu ngagetin aku tau gak?!" protes Maya dengan kerucutan bibir lucu, sementara tangan kanannya terkepal dan memukul pelan dada Samuel.


Samuel terkekeh. "Kamu ngapain pura-pura tidur, hm?"


Maya tidak menjawab, hanya mengerucutkan bibirnya saja. Membuat Samuel tidak bisa menahan diri untuk mencium bibir peach Maya. Diciumnya bibir ranum Maya lalu berpindah mencium seluruh wajahnya.


"Buongiorno, caro." Ucap Samuel dengan kedua manik mata menatap lembut wajah istrinya.


"Hm...? Aku gak ngerti kamu ngomong apa," kerucut Maya dengan mata membulat penuh. Sungguh ekspresi yang membuat Samuel berdecak gemas.


"Itu artinya, selamat pagi sayang..." Sam menjawab dengan pelukan di tubuh Maya.


Maya tersenyum. "Oh... pagi suami..."


"Tidur nyenyak?"


Maya mengangguk membelai rahang Sam yang mulai ditumbuhi bulu tipis. "Nyenyak dong, kan dipeluk kamu terus."


Sam tersenyum dan mengecup kening Maya. "Sekarang bangun terus mandi, kita sarapan."


Kening Maya berkerut menatap Samuel. "Aku bikin omlet, telur dadar sama nasi margarin tadi," ucap Samuel, seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Maya saat ini.


"Kamu bisa buat itu semua?"


"Hm, bisa dong. Ayo cepet bangun, Samudra udah nunggu di bawah," ucap Sam lagi dan kali ini meraih kedua tangan Maya lalu menariknya pelan.


"Atau perlu aku mandiin, hm?" tanya Sam nakal.


"Sayang.... gendong...." kata Maya manja sembari melingkarkan kedua lengannya di leher Samuel. Membuat laki-laki itu tersenyum geli.


"Manjanya istriku ini," ucap Samuel, sementara Maya hanya tersenyum menanggapi.


"Gak mau nih? Ya udah---" ucapan Maya terhenti saat Samuel menyambar bibirnya.


"Kapan aku nolak, hm?" kata Sam dan sejurus kemudian ia mengangkat tubuh Maya menuju kamar mandi.


...


Sam tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat wajah cemberut Maya. Mereka baru saja keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi karena Maya menyetujui tawarannya tadi.


Dan Sam tidak mungkin menolak jika Maya sudah memancingnya duluan.


Samuel juga merasa bersalah telah membuat Maya menggigil kedinginan di dalam kamar mandi. Terlebih mereka juga telah membuat Samudra menunggu terlalu lama, meski anak itu terlihat asik tiduran di sofa panjang sambil menonton tayangan kartun di TV LED yang terletak di ruangan santai.


"Maaf, sayang." Ujar Samuel lembut sembari membalurkan minyak kayu putih ke seluruh punggung dan perut rata istrinya.


Maya hanya terdiam sembari menatap Samuel dengan dengusan sebal dan bibir yang juga menekuk tajam ke bawah.


"Ngomong dong, gak baik diem-in suami."


Maya mencebik. "Nyebelin!" katanya, nada suaranya bergetar karena kedinginan.


"Masih dingin?" tanya Sam setelah memakaikan Maya pakaian.


Maya mengangguk pelan, kedua tangannya ia lipat ke atas dada lalu ia satukan kedua telapak tangan dan menggosok-gosokkannya untuk membuatnya hangat.


Sam meraih selimut tebal dan membungkus tubuh Maya. "Sekarang masih dingin?"


Maya menggeleng kaku, kini tubuhnya malah merasa hangat dengan perlakuan Samuel.


"Sekarang kita turun, kasian Am yang dari tadi nungguin kita di bawah."


"Iya," angguk Maya.


...


JAKARTA


Tapi ini anak kamu, dan kamu yang harusnya tanggung jawab___ Kamu tau dia udah ngelupain aku dan sangat mencintai istrinya___ Pokoknya kamu yang harus tanggung jawab bentar lagi aku lahiran___ What?! Kamu masih cinta sama dia? Tapi___ El-- Elano--!!


tut.... tuuuttt.....tuuuttt....


Panggilan seluler Freya tiba-tiba terputus secara sepihak. Gadis itu terlihat mendengus kesal, mencebikkan bibirnya sembari meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerja.


"Eh-te-temen," gugup Freya. Ia terlihat salah tingkah dengan kehadiran Bayu yang secara tiba-tiba.


"Gue denger Lo nyebut-nyebut nama Elano?"


"Lo salah denger kali."


"Fe, telinga gue masih normal ya. Katakan terus terang siapa yang bicara sama Lo di telfon tadi," desak Bayu yang kini terlihat mengintimidasi Freya.


Jemari Freya meremas gugup ujung terusan kerja selututnya, binar matanya kini meredup gugup.


"Apa benar Elano, hah?!" bentak Bayu.


"I-iya," jawab Freya terbata-bata karena gugup.


"Dia sudah bebas?"


"S-su-sudah."


"Apa Elano melakukan sesuatu dalam rumah tangga Sam?" Bayu yang merasa curiga kini semakin mengintimidasi Freya dengan melontarkan pertanyaan kecurigaannya.


"Jawab Fe!" bentak Bayu. Membuat respon Freya bergidik kaget. Kedua bahunya terlihat gemetar dan kepalanya tertunduk dalam tanpa melihat wajah Bayu sama sekali.


"Fe! Jawab pertanyaan gue tadi!" bentak Bayu kembali.


"A-aku gak tau Bay, se-seperti nya El dalang di balik---" Freya tidak meneruskan kalimatnya.


"Di balik apa hah?! Lo kalo ngomong yang jelas!"


"Se-seperti-nya.... perusahaan keluarga El yang membuat perusahaan ayahnya Sam di Milan mengalami masalah finansial."


Bayu mengerutkan keningnya heran. "Buat apa Elano menyerang perusahaan Om Permana?"


"Supaya Sam ke Milan untuk mengurusinya dan meninggalkan Maya di Jakarta." Sambung Freya.


"Jika Sam gak ada di Jakarta, El akan leluasa mengganggu istri Sam."


"Brengsek!" geram Bayu, satu tangannya kini mengepal erat dengan rahang mengeras dan sorot mata tajam.


"Gue harus mengabari Sam soal ini."


Hampir saja Bayu melangkah keluar, Freya tiba-tiba saja kembali memanggilnya.


"Bay...."


"Apa lagi?!"


"Sepertinya.... orang dibalik kecelakaan Maya kemarin adalah Elano."


"Lo yakin?! Lo gak bohong kan?!" tanya Bayu kaget.


Freya terlihat mengangguk pelan.


"Sialan tu orang!" geram Bayu lagi. Pria itu lalu menarik keluar ponsel dari dalam saku celananya dan terlihat melakukan panggilan seluler sembari berjalan keluar dari ruang kerja Freya.


Meski untuk sementara semua ucapan Freya tadi masih praduga, namun Bayu tidak ingin ceroboh dan membiarkan semuanya. Dia harus menyelidikinya dan melaporkan semua ucapan Freya tadi kepada Samuel.


....


MILAN


Saat ini terlihat Samuel tengah sibuk dengan segala urusan kerjaan, mencoba mencari tahu soal kekacauan yang terjadi di perusahaan Ekspor-Impor milik ayahnya. Sedari tadi pun kedua mata coklat milik Samuel tak pernah lepas dari layar laptop miliknya.


Sepertinya ia menemukan letak kesalahan di perusahaan itu, Sam menduga ada orang dalam yang dengan sengaja membuat kekacauan. Mengingat selama ini perusahaan ini tidak pernah mengalami masalah dan tiba-tiba saja perusahaan tersebut mengalami deflasi yang sangat besar.


"Nathalie, sei nella mia stanza." Sam menghubungi sekretaris di perusahaan itu melalui telepon perusahaan.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Entrare(Masuk)," jawab Sam


"Mi scusi, mi avete chiamato?" (Maaf Anda memanggil saya?)


"Chi è responsabile della finanza aziendale e delle imposte?" (Siapa penanggung jawab keuangan dan pajak perusahaan?)


"Norman, direttore finanziario di una società centrale a Giacarta." (Tuan Norman, direktur keuangan dari perusahaan pusat di Jakarta)


"Mandalo qui." (Suruh dia kesini)


"Buon maestro." (Baik tuan)


Angguk sang sekretaris cantik dengan rambut pirang kecoklatan yang ia sanggul kecil. Kemudian ia pun berlalu dari ruangan kerja Samuel.


to be continue...