MySam

MySam
Daniel



Flashback 20 th lalu


Seorang wanita cantik memasuki pintu rumah bergaya eropa kuno dengan langkah kaki tergesa. Kedua netranya mengitari seluruh ruangan yang ada.


Kosong.... tidak ada siapa pun juga disana. Bahkan bibik yang biasa wara wiri di sekitar ruang keluarga pun, hari itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Hanya ada mang Asep pengurus rumah sekaligus tukang kebun serta dua orang security yang membantu mencari kedua putranya.


Anita nampak begitu panik, Rumah sebesar itu telah ia jelajahi guna mencari-cari sosok anak laki-laki berusia sekitar tujuh dan sembilan tahun.


"Gimana mang Asep? Daniel dan Samuel udah ketemu?" tanya Anita sembari mengusap peluh yang tak henti-hentinya meluncur bebas dari keningnya.


"Belum nyonya...."


"Bik Titin kemana mang? Dari tadi kok tidak kelihatan?"


"Saya juga tidak tahu, Nyah. Tapi biasanya jam segini bik Titin pergi ke pasar."


Anita terlihat semakin khawatir. Terlebih lagi ketika dirinya pulang dari kantor dan tidak mendapati kedua putranya di rumah.


Permana pasti lah akan menyalahkan dia dan menganggap jika dia wanita yang tidak becus mengurus rumah dan anak-anak.


"Mama....!!"


Teriakan suara seorang bocah laki-laki tiba-tiba saja membuatnya terkejut.


"Sam....!!!" seru Anita dan mencari arah sumber suara.


Tanpa pikir panjang lagi Anita berlari dengan menggunakan sepatu hak tingginya. Mencoba mencari arah sumber suara itu hanya dengan mang Asep yang kini membantunya. Sementara security mengerahkan warga sekitar untuk membantu mencari keberadaan dua majikan kecil mereka.


"Sepertinya suara itu ada di gudang belakang, Nyah....!" ucap mang Asep.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Anita kembali berlari mengetukkan heels nya ke arah bangunan gudang yang terpisah dari rumah utama.


"Mam.... Sam takut gelap...." rengeknya sembari menggedor pintu kayu yang terkunci dari luar.


"Sam....tunggu ya nak, tunggu biar mang Asep buka pintunya."


"Mang Asep cepet... mana kunci nya?" Anita kini semakin panik.


"I-iiyaa-- sebentar Nyah..." Mang Asep pun tak kalah panik, mengeluarkan satu gerombol anak kunci cadangan yang ia tautkan menjadi satu. Mang Asep bahkan terlihat begitu kebingungan saat mencoba mencari kunci gudang yang tercampur dengan kunci-kunci yang lainnya.


"Mam..... Sam takut.....!!" rengeknya lagi.


"Iya nak, tunggu sebentar okey....?"


"Cepetan dong mang Asep...!!"


"Iya, Nyah...."


Mang Asep masih sibuk mencari-cari.


"Nah ini dia...."


Mata sipit mang Asep seketika membulat ketika menemukan kunci yang dimaksudkan.


Dengan tergesa mang Asep memasukan anak kunci pada lubang pintu dan memutarnya.


Hingga terbukalah pintu gudang yang terbuat dari kayu jati dengan ketebalan lima puluh centi meter.


"Mam.... Sam takut..." peluk Samuel kecil pada pinggang Anita.


Anita mengelus lembut rambut ikal kemerahan milik Samuel.


"It's okay, dear... you save now." Anita mencoba menenangkan.


"Bagaimana Sam bisa terkunci disini, hm? Dimana Daniel kakak kamu?" tanya Anita


Samuel kini tiba-tiba terlihat sangat ketakutan, ia mengeratkan pegangannya pada pinggang Anita dan menyembunyikan wajahnya di pinggang kecil itu.


"Sam.... dimana Daniel? Kalian tadi bermain bersama kan?"


"Daniel.... di--aa-- di--aa--" Samuel tergagap, seolah tidak ingin membicarakan kejadian yang hanya dia saja yang mengetahuinya.


"Daniel kenapa, sayang? Kakak kamu kenapa? Bilang sama mama." Anita kini mendesak Samuel untuk berbicara.


"Maaf nyonya, lebih baik tuan muda dibawa ke dalam dulu supaya tenang. Mungkin tuan muda masih ketakutan." Mang Asep ikut angkat bicara.


Anita mengangguk dan menyuruh mang Asep untuk menggendong Samuel menuju ke rumah utama.


....


"Sam....." ucap Anita lembut, setelah Samuel selesai meneguk air putih dalam gelas kaca dan bersandar pada kepala ranjang.


"Sekarang bisa Sam ceritakan dimana Daniel?" tanya Anita lembut.


Samuel masih saja membisu, ketakutan masih terlihat di sorot matanya.


"Papa sebentar lagi pulang, dan Sam harus menceritakan apa yang terjadi," bujuk Anita lagi.


"Dan-niel---"


"Iya kakak kamu kenapa, sayang?"


"Taa-ddi Sam dan Daniel bermain--- tiba-tiba--- aa-dda-- om serem-- dua orang."


Samuel menjelaskan dengan terbata-bata.


"Om serem? Siapa Sam? Sam kenal orangnya?"


Samuel menggeleng.


"Dan-niel--- lalu mengunci Sam di gudang---lalu---" Samuel menjeda ucapannya, masih nampak terlihat jelas jika ada ketakutan di sorot matanya.


"Lalu apa, nak?"


"Sam gak tau.....!! Sam ccuu---mmaa--- denger Dan-niel teriak minta tolong...!! Sam gak tau, mam....!! Sam gak tau....!!!" teriaknya panik.


"Hussstt.... iya-iya, tenang dulu ya, Sam sekarang aman kok." Anita mendekat dan memberikan pelukan agar anaknya merasa aman.


"Sam takut mam...."


Anita semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu aman, sayang.... it's okay....."


"Sekarang Sam bobok dulu, okey?"


Samuel mengangguk pelan lalu merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.


"Sam sekarang tidur ya,"


Cup....


Anita memberikan kecupan di kening bocah itu lalu keluar dari kamar Samuel dengan wajah sedihnya.


Kehilangan Daniel yang misterius membuatnya benar-benar ketakutan. Sedangkan Samuel terlihat begitu syok saat ini. Entah kejadian apa yang terjadi di rumah besar itu beberapa jam yang lalu.


Anita melihat kembali surat kaleng yang ia dapatkan sewaktu di kantornya saat jam makan siang hari ini.


Anita mencoba membaca dengan seksama surat kaleng yang tanpa nama pengirim.


....


"Bagaimana bisa Daniel menghilang di rumah saya sendiri tanpa ada satu pun maid ataupun security yang mengetahuinya?!!" geram Permana saat menginterogasi semua pembantu dan security yang bekerja di rumah besar itu.


Semua yang berjejer disana hanya tertunduk lemas.


"Ampun tuan besar, kami benar-benar lengah. Kami tidak mengetahui ada orang asing memasuki mansion ini, tuan."


"Tapi pak Heri ini kan bertugas menjaga rumah, terus apa kerjaan bapak jika ada orang asing saja tidak mengetahuinya, hah.....?!" Molor....???!!!!" bentak Permana keras.


Tidak ada jawaban dari beberapa pembantu dan security termasuk mang Asep.


"Mas.... aku sudah lapor polisi, tapi kata mereka sebelum ada laporan selama dua puluh empat jam, Daniel belum bisa dikatakan hilang."


Permana mendengus kesal.


"Apa surat kaleng yang kamu dapatkan itu tidak cukup menjadi bukti kalau Daniel diculik?"


Anita menggeleng pelan. "Polisi bilang tetap menunggu dua puluh empat jam, baru bisa menyelidiki dan melakukan pencarian."


"Sial....!!" geram Permana.


"Apa ini perbuatan saingan bisnis kamu, mas?" tanya Anita.


"Entahlah......" geleng Permana. Kembali ia membuang napas kasar, berjalan mondar-mandir di ruangan luas itu, sambil kembali berfikir siapa saja saingan bisnisnya yang dianggap tega berbuat seperti ini.


"Tuan....!!! Nyonya....!!!"


Suara wanita terdengar sangat khawatir. Sembari berlari tergopoh menuju majikannya.


"Ada apa bik?"


"Sa-ya menemukan i-ni tuan...."


Bik Titin menyodorkan kaos putih dengan noda da*rah ke arah Permana.


"Ini baju yang den Daniel pakai tadi pagi, tuan."


"Bibik menemukan ini dimana, hah....?!"


"Warga yang menemukan di hutan, tuan."


"Mas..... Daniel--- mas...." cicit. Anita ketakutan.


"Suruh semua warga memeriksa seluruh penjuru hutan, bik. Bilang sama pak Kades untuk mengerahkan semua warga desa," titah Permana.


Bik Titin mengangguk patuh lalu kembali berjalan keluar dengan tergopoh.


"Daniel--- mas---" tangis Anita lagi.


"Kamu tenang, sayang. Daniel pasti ditemukan." Permana mencoba menenangkan hati Anita. Ia peluk pundak kecil istrinya dan mengecup puncak kepala Anita lembut.


¤¤¤《《《


Masa Sekarang


Permana menjelaskan dengan suara berat, sedangkan Anita masih tidak bisa berkata-kata. Matanya menyorot kosong. Permana bahkan tak pernah melepas genggamannya di kedua tangan Anita.


Bisa dikatakan Anita lah yang paling kehilangan akan satu putranya.


"Dua tahun kami mencari keberadaan Daniel, namun tidak pernah ada titik terang dari pencarian kami. Polisi pun sudah menyerah dengan kasus hilangnya Daniel," lanjut Permana lagi.


"Sejak saat itu kamu ingat kan mama kamu selalu saja sibuk dengan urusannya? Itu karena mama kamu mencari keberadaan Daniel. Hingga dia memasuki rumah-rumah panti asuhan ataupun tempat-tempat anak-anak jalanan biasa berkumpul." Permana melanjutkan.


"Tapi.... kee-napa-- Sam tidak pernah ingat jika--- ada Daniel dalam hidup Sam?"


"Karena kamu mengalami trauma, Sam."


"Trauma?"


"Iya, kamu selalu menyalahkan diri kamu sendiri atas kehilangan Daniel. Dan sejak saat itu baik papa dan mama tidak ingin membuat trauma itu berkelanjutan."


Permana menjeda sebentar, ia menoleh ke arah Anita lalu kembali merengkuh bahu istrinya.


"Kami sengaja menyimpan semua kenangan tentang Daniel dari kamu. Foto-foto, mainan Daniel bahkan pakaian-pakaian kakak kamu sengaja kami sembunyikan supaya trauma kamu bisa hilang, Sam."


Dengan suara berat, permana menjelaskan rahasia dua puluh tahun silam.


"Dan setelah pencarian tanpa titik terang selama dua tahun lebih, kami memutuskan untuk menjual rumah itu dan pindah ke Jakarta." Permana melanjutkan kembali ceritanya.


Seluruh tubuh Samuel kini mendadak merasa lemas. Netra kecoklatan yang biasanya selalu menyorot bening kini mendadak menjadi kelam dengan air mata yang berusaha ia tahan.


"Sayang....." lirih Maya meraih pundak Samuel dan mengelus-elus lembut.


Sam menoleh, memandang Maya dengan netra ber-embun. Sam lalu merengkuh tubuh Maya, menjatuhkan dirinya pada pelukan Maya. Sam menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya. Dengan air mata yang kini tak bisa ia tahan lagi.


Isak tangis Samuel semakin menjadi tatkala bayangan wajah Daniel tiba-tiba saja datang dalam benaknya. Ingatannya ketika dia dan Daniel bermain di hutan, ataupun padang rumput luas yang terletak di belakang rumah mereka. Gelak tawa dirinya dan juga Daniel yang selalu tercipta tatkala Daniel mengajaknya berlari menangkap capung dengan menggunakan jaring yang mereka buat sendiri.


Dan bayangan ketika Daniel selalu membela dirinya ketika ada beberapa anak desa yang berbadan besar melakukan penindasan. Mereka mengolok-olok dirinya dengan sebutan bule kampung.


Daniel dulu selalu pasang badan membelanya. Daniel bahkan tak segan menghajar beberapa anak bertubuh besar dan kuat. Hingga setiap mereka pulang bermain selalu saja dengan pakaian kotor dan wajah babak belur.


Bahkan ketika di sekolah, Samuel pernah menjadi sasaran bullying dari teman-teman sekolahnya, Daniel lah yang membelanya, memukul habis semua teman-teman sd Samuel yang menindasnya.


"Don't worry, Sam. I will always take care of you. Kamu punya kakak yang selalu bisa kamu andalkan." Ucap Daniel kecil dulu ketika ia mendapati Samuel yang tengah menangis tersedu di sudut taman sekolah.


Samuel semakin menangis terisak-isak mengingat semua kejadian di masa lalu.


"Oh-Sam....." cicit Maya yang semakin mengeratkan pelukannya.


to be continue....