
Maya tersadar dari semua buaian Sam, gadis itu melepaskan sebentar bibir tebal Sam yang saat ini masih berpaut erat dengan bibirnya. Posisi mereka pun masih sangat dekat tanpa jarak. Lengan Maya masih saja melingkar di leher kokoh Sam dan kedua kening serta ujung hidung mancung mereka pun masih saling menempel. Maya mencoba mengatur nafas sebentar, setelahnya gadis cantik itu mulai menatap netra kecoklatan milik Sam.
"Apa yang kita lakukan?" Lirih Maya, kedua netra mereka saling beradu seolah masing-masing ingin meneruskan ciuman hangat tadi.
Sam kembali mengelus pipi chubby Maya, deru nafas Sam yang terasa hangat dan lembut menyapu seluruh wajah putih gadis itu. Kini jemari Sam beralih mengusap lembut bibir peach Maya, bibir yang memberikan kenikmatan buat Sam.
"Lo nyesel?" Kali ini Sam balik bertanya. Maya menggeleng pelan kembali dia eratkan kedua lengannya yang melingkar di leher Sam. Bibir Maya kembali mencium ujung bibir Samuel. "Aku gak nyesel dengan ciuman kita tadi." Lirih Maya malu-malu, rona merah kini teihat jelas di kedua pipi gadis itu.
"Me too." Jawab Sam lembut, kembali Sam memautkan bibirnya. Kini keduanya kembali saling mencium mesra dan bertukar saliva masing-masing. Sesekali keduanya sejenak melepaskan tautan bibirnya guna mengambil kebutuhan oksigen.
"Bagaimana dengan pacar kamu Sam?" Tanya Maya kali ini dia kembali melepaskan pautan bibir Sam.
Sam menggeleng pelan, jemarinya masih menyusuri pipi chubby Maya dan mengusapnya lembut.
"Dia bukan pacar gue." Jawab Sam tegas kembali Sam menyapu seluruh wajah Maya dengan kecupan kecilnya.
"Bagaimana dengan El?"
Tanya Maya lagi dengan suara sangat berat.
Sam menghentikan ciumannya di bibir Maya. Kini gadis itu mulai membisu, Maya kembali duduk di atas sofa merah menyala dengan sorot mata sayu.
Apa yang telah gue lakuin? El? Gue udah salah sama Elano, kali ini Maya bermonolog dalam hati. Maya kembali termenung mengingat sosok Elano yang kini tanpa kabar.
"El siapa? Cowo lo?" Tanya Sam dengan nada sinis. Maya mengangguk pelan.
"Aku gak bisa Sam."
"Apa maksud lo dengan gak bisa?"
Suara Sam sedikit meninggi, sorot mata tajam itu menatap Maya seakan tidak mengerti semua ucapan gadis itu.
"Aku gak bisa selingkuhi El."
Sam menjauh dari Maya, jemarinya menyeka anak rambut yang jatuh berjuntai menutupi sedikit iris mata kecoklatan miliknya.
"Walau lo cinta sama gue?" Tanya Sam.
Tak ada jawaban dari Maya, gadis itu hanya memandang ke arah luar jendela besar disisi mansion Sam.
"Setelah Freya gue gak bisa jatuh hati lagi." Lirih Sam tiba-tiba. Maya mendongak sebentar melihat ekspresi wajah Sam.
Iris kecoklatan itu terlihat begitu terluka.
"Sekarang gue merasakan perasaan itu lagi sama lo." Lanjut Sam, kali ini Samuel kembali mendekati Maya dan meraih pundak kecil gadis itu.
"Apa sekarang gue juga harus kehilangan lo May?" Tanya Sam lagi dengan suara parau, Sam menarik tubuh Maya kedalam pelukannya. Sam menenggelamkan kepalanya kedalam geraian surai hitam Maya.
"Maaf Sam." Lirih Maya dengan derai air mata yang kini sudah membasahi Tshirt Sam. Maya membalas pelukan Sam erat.
Malam itu Sam dan Maya hanya ingin menikmati kebersamaan mereka, sebuah perasaan yang entah datang dari mana.
Namun malam itu juga perasaan dan hati itu harus mereka tumbangkan dalam waktu yang sangat singkat.
Jika bisa memilih keduanya ingin sekali ditakdirkan bertemu terlebih dahulu, jauh sebelum Maya bertemu El dan Sam bertemu Freya.
"I love you dear."
Sam mengeratkan pelukannya lagi, bibir tebalnya berkali-kali menciumi surai hitam Maya.
***
Pagi ini Maya terdiam tanpa banyak bicara, bahkan gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk menjawab semua celotehan Airin. Maya masih saja berjalan di samping Airin dengan ekspresi wajah sayu.
"Pagi ini lo kenapa sih May? Sakit?" Tanya Airin heran.
Maya menggeleng pelan lalu tersenyum kembali ke arah Airin.
"Lhah trus? Gak biasanya lo jadi pendiam kek gini." Tanya Airin lagi.
"Lagi gak mood aja Rin."
Maya terdiam mendengar Airin menyebut nama El. Bahkan pagi ini sosok El sudah benar-benar hilang dari kepala Maya.
Entah kenapa sejak semalam hanya ada sosok Sam yang kini selalu mengganggu hati dan memenuhi pikiran Maya, iya hanya ada Sam.
"May__"
Suara Airin kembali membuyarkan lamunan Maya. "Lo ngelamun?" Tanya Airin lagi.
Tanpa ada jawaban dari Maya, gadis itu semakin mempercepat langkahnya memasuki pintu utama perusahaan Perdana Group.
Maya hanya ingin menghindar dari semua pertanyaan Airin dan untung saja sejak sampai di dalam lift, Airin tidak lagi banyak bertanya.
***
Seperti biasa Maya dan Airin berpisah di lantai tiga. Keduanya saling cipika cipiki sebelum Airin melangkah keluar dari pintu lift.
Tiba-tiba kedua mata Maya membola melihat sosok Sam yang tiba-tiba datang dari lantai tiga dan memasuki lift.
Kini hanya ada mereka berdua di dalam lift. Maya tanpa bersuara begitu juga Sam, keduanya hanya saling membalas pandangan.
Netra kecoklatan Sam menatap Maya penuh perasaan, seolah Sam ingin sekali menubruk tubuh Maya dan memeluk gadis itu erat.
Hingga pintu lift terbuka di lantai tempat ruang kerja mereka berada.
Masih dengan sikap saling canggung, Sam mendahului keluar dari lift.
Beberapa karyawan yang menyapa Sam hanya CEO itu jawab dengan senyuman kecil.
"Pagi May__" sapa Bayu, Maya pun tersenyum sekilas menjawab sapaan Bayu.
Sam sedikit melirik Maya saat mendengar Bayu menyapa gadisnya, ada sedikit kecemburuan terlihat dari sorot mata kecoklatan Sam. CEO itu berjalan angkuh menyusuri tiap lantai saat memasuki ruang kerjanya.
"Sstt May, lo habis perang mulut lagi ya sama si bos?" Bisik Bayu.
Selama ini memang hanya Maya lah yang berani menjawab semua ketusan dan mulut cabai Sam, kalau pegawai yang lain sudah pasti langsung menciut saat mendengar ketusan Sam.
"Gak siapa bilang? Gue gak berantem lagi sama bos." Jawab Maya seolah mencoba bersikap normal.
"Kirain__ muka nya ditekuk begitu waktu dia datang sama lo." Cengir Bayu.
"Ah bisa aja lo." Balas Maya dengan senyuman kecil.
"Maya!! Cepat masuk, gue butuh bantuan lo!!" Teriak Sam ketika keluar dari ruangannya. Maya mengangguk cepat dan berlalu dari hadapan Bayu.
"Ada apa Pak?" Tanya Maya sopan, Sam berdiri di hadapan Maya dengan kedua tangan menyilang di dadanya.
"Lo ngomong apa aja sama Bayu?" Decak Sam ketus.
"Cuma say hello aja."
"Harus ya say hello dengan senyum-senyum menggoda kayak tadi?" Ketus Sam lagi.
Cowo itu benar-benar cemburu melihat Maya bicara dengan cowo lain meskipun cowo itu adalah Bayu, orang kepercayaan sekaligus sahabat nya sendiri.
"Bapak kenapa marah-marah gitu?" Cibir Maya. Sam kembali menatap Maya tajam dan mendekati gadis itu.
"Gue cemburu liat lo deket-deket dengan cowo lain." Sungut Sam, namun hal itu tidak berlangsung lama. Sam kembali memasang wajah manisnya di hadapan Maya, dia meraih tubuh Maya dan membawanya kedalam pelukan bahu bidang Sam.
"I'am so jealous looking your smile for him or another." Bisik Sam yang diikuti senyuman kecil Maya. Sam mencium kening Maya dan kedua pipi putih gadis itu.
"Aku gak bisa lihat lo menatap laki-laki lain, your eyes is mine only mine." Bisik Sam lagi. "And your beautiful sweet peach is mine too baby." Kembali Sam berbisik mesra dan mencium bibir Maya lembut.
Maya membalas kecupan Sam, mereka sama-sama tidak bisa menahan rasa rindu yang kini merajai hati mereka.
"I love you my sweet peach." Desah Sam dan kembali mengeratkan tautan bibirnya.
>>> To be continue