
Seperti kata Samuel sebelumnya, senja ini Maya bersiap menerima kejutan yang akan Sam berikan. Sam bahkan sudah menyiapkan sebuah gaun cantik untuk sang istri. Sore tadi ada seorang kurir boutique yang datang ke apartemen mereka. Dengan sebuah kotak bingkisan cantik berwarna pink dan lengkap berhias pita dengan warna senada.
Maya membuka pintu begitu terdengar suara bel apartemen berbunyi dengan tiba-tiba. Awalnya gadis itu ragu-ragu, namun sebelum Samuel pergi, ia berpesan jika nanti ada suara bel pintu apartemen mereka berbunyi, Maya tak perlu takut untuk membukakan pintu apartemen dan menerima bingkisan dari si pengantar.
"Il y avait un cadeau de M. Samuel pour Mlle Maya (Ada hadiah dari tuan Samuel untuk nona Maya)." Ucap sang kurir sambil menyodorkan kotak persegi berwarna pink di tangannya.
Maya menerima kotak tersebut dengan ragu-ragu, "Thank you sir," jawab Maya, ia hanya bisa menjawab dengan bahasa yang semua orang pasti akan tahu artinya dan tidak mungkin juga ia menjawab sang kurir dengan menggunakan bahasa Indonesia, pikir Maya.
Sang kurir hanya mengangguk pelan dan berlalu dari ujung pintu.
Beberapa detik kemudian gadis itu meletakkan kotak hadiah tadi di atas meja kaca yang berada di ruang tengah apartemen. Hampir saja ia membuka kotak tersebut, tiba-tiba saja suara ponsel pipihnya berdering dan menuliskan nama MySam di layar ponsel.
Senyuman kecil ia tarik begitu melihat siapa si penelpon barusan.
^^^Sam.... kamu di mana?___ hhmm aku udah nerima kotak hadiahnya___ sekarang?___hhmm tapi kamu beneran jemput kan? Iya aku mandi sekarang___ bye... ___love you too^^^
Klik....!!
Sambungan seluler terputus dengan bertepatan saat Maya mendengar kissbye jarak jauh dari Samuel.
Ia membuka kotak tersebut, membuat kedua netranya meredup seketika begitu memandang sebuah gaun selutut berbahan silky dengan warna peach yang begitu indah. Kejutan seperti ini yang selalu membuat hati Maya membuncah namun juga di sisi lain, Maya tidak selalu menyukai kejutan jika Sam meninggalkannya terlebih dulu.
Gadis itu kini berjalan menuju kamar mandi, bersiap untuk menerima kejutan yang akan Sam berikan di senja ini.
🎁🎁🎁
Maya berdiri di depan cermin dengan mengenakan gaun yang telah Sam siapkan untuknya, makeup flawless selalu menjadi pilihan utama Maya dan terakhir ia oles lipstick dengan warna peach mengkilap, membuat penampilan gadis itu terlihat semakin chic dan elegant.
Maya mengenakan sepatu flat warna coklat susu yang semakin menonjolkan kaki putih gadis itu dan terakhir ia raih dompet tangan berwarna senada dengan sepatu flat yang ia kenakan.
Temui aku di lobi apartemen, sayang....
Pesan Samuel beberapa menit yang lalu. Dengan segera ia keluar dari kamar apartemen dan berjalan di sepanjang koridor apartemen, menuju ke arah lift yang akan membawanya kepada suami yang sangat ia cintai.
Lantai demi lantai Maya lalui, gadis itu hanya mengangguk sopan ketika berpapasan dengan beberapa orang asing yang ikut menaiki lift bersamanya. Mungkin mereka juga penghuni apartemen lainnya, pikir Maya. Sedikit agak kik-kuk dan tidak nyaman disaat ada beberapa orang pria asing yang selalu memperhatikan dirinya ketika berada dalam satu lift dengannya. Sedikit rasa takut Maya tak jarang menghampiri, namun ia sedikit bisa bernapas lega ketika masuk beberapa orang wanita ke dalam lift.
Hingga lift berhenti di lantai paling bawah, Maya benar-benar bisa bernapas lega karena sebentar lagi ia akan menemui Samuel. Begitu terdengar suara denting yang diikuti dengan terbukanya pintu lift, Maya cepat-cepat melangkah keluar.
Benar saja di ujung lobi apartemen, berdiri Samuel yang seperti biasa, terlihat begitu tampan. Senyuman lega Maya mengembang lebar, tidak bisa ia bayangkan jika tanpa ada Sam di sampingnya, apalagi di sebuah negeri yang begitu asing buatnya.
Maya berjalan dengan anggun menuju ke arah Samuel, sepatu flat yang ia kenakan bahkan terdengar begitu hening tanpa ada suara gaduh di lantai marmer apartemen.
"Kamu sangat cantik, honey..." Sam berdecak kagum, memang tidak bisa dipungkiri jika istrinya itu setiap hari selalu terlihat lebih cantik.
"Kamu juga tampan, suami..." Maya menjeda kalimatnya, kini terlihat berekspresi sedikit manyun lucu.
"Aku gak suka kamu kasih kejutan, tapi kamu ninggalin aku duluan. Aku takut, Sam....." cicit Maya.
"Maaf, sayang..... Aku gak bermaksud gitu."
"Pokoknya jangan diulang lagi." Maya cemberut, namun terlihat sangat menggemaskan di mata Samuel.
Sam memakaikan sebuah mantel bulu hangat ke tubuh Maya lalu menggandeng tangan Maya dan mengajak gadis itu keluar dari apartemen.
Sebuah sedan putih mengkilap telah menunggu mereka, lengkap dengan seorang sopir yang berpakaian rapi, bertuksedo hitam serta bercelana panjang dengan warna senada. Sang sopir sedikit membungkuk ketika Sam dan Maya berjalan mendekat.
Langsung saja sopir tadi membukakan pintu penumpang untuk Sam dan juga Maya, kemudian dengan cepat ia membawa kedua pasangan pengantin baru yang telah menyewa jasanya untuk membawa mereka ke tempat yang menjadi icon kota Paris.
....
Mereka berhenti tepat di hadapan menara eifel yang penuh dengan ribuan kerlip cahaya lampu, seperti pancaran gemintang yang seolah turun hingga bumi. Bahkan cahaya tersebut terlihat oleh Sam hingga ke manik mata Maya, terpancar dan berpendar dengan sangatlah indah.
"Bagus banget.... ini seperti mimpi buatku bisa melihat eifel dari jarak sedekat ini," gumam Maya takjub, kepalanya masih saja mendongak memandang menara yang tinggi menjulang dengan ribuan cahaya.
"Kita masuk, sayang."
Maya spontan melihat ke arah Sam dengan raut wajah kaget. "Emang boleh?" tanya nya heran.
"Boleh."
Tanpa banyak bicara, Samuel menggandeng lengan Maya memasuki pintu masuk menara eifel. Mereka masuk ke dalam menara setelah Sam terlihat berbincang dengan dua orang penjaga, Mereka menaiki lift transparan yang bisa dengan leluasa melihat pemandangan kota Paris dari atas menara. Sungguh luar biasa, dan Maya berkali-kali takjub dengan apa yang ia lihat. "Kamu gak takut ketinggian, bukan?" tanya Samuel.
"Gak kok, Sam," cicit Maya, menoleh sebentar ke arah Sam kemudian kembali pandangannya tertumbuk pada pemandangan senja hari dari atas lift kaca yang berjalan naik.
Pintu lift akhirnya berhenti dan membawa keduanya menuju ke restoran Le Jules Verne. Mereka disambut dengan kursi-kursi dan meja yang berjejer di sepanjang ruangan dengan view pemandangan kota Paris dari atas menara. Sam membawa Maya duduk di salah satu meja dekat dengan jendela kaca menara eifel, belum terlalu larut dan menyisakan semburat warna jingga dan abu di langit kota Paris senja itu. Maya sangat menyukai moment romantis mereka.
Berbagai hidangan kelas atas tersaji di meja mereka, mulai dari menu yang Maya ketahui hingga entah apa lagi nama dari menu yang di sajikan oleh restoran mewah itu. "Sam, ini boleh dimakan? ini semua halal kan?" bisik Maya.
Samuel tersenyum sebentar, lalu mengangguk yakin. "Boleh lah sayang, dan ini halal. Aku reservasi daging yang halal buat kita," jawab Samuel memastikan.
Maya tersenyum lega, sayang kan jika makanan seenak ini harus ia liatin aja tanpa mencicipinya sedikitpun.
Samuel juga memesan wine dengan kadar alkohol nol persen. Keduanya kini menikmati setiap moment yang mereka miliki saat ini. Maya beruntung mempunyai Samuel.
Dan Maya kini mulai terbiasa dengan segala perlakuan yang Sam berikan, namun yang terpenting buatnya rasa sayang dan cinta Samuel lah yang paling ia butuhkan. "I'm the luckiest girl in the world, Sam. Dimiliki kamu adalah anugerah terindah buatku," cicit Maya.
Sam semakin mengeratkan genggaman tangannya dan membawa punggung tangan Maya ke dalam ciuman hangatnya.
to be continue....