MySam

MySam
Will You Marry Me?



Samuel tersenyum kecil membaca surat yang disodorkan oleh pengacara pribadinya. Hembusan napas lega kini keluar dari mulut pria itu. "Terima kasih, pengacara Rudi," ucap Sam dengan juluran tangan ke arah pengacara berpenampilan rapi tersebut.


"Dengan senang hati tuan Sam, jika anda butuh bantuan saya kembali, akan sebisa mungkin saya kerjakan sebaik-baiknya." Jawab sang pengacara, menyambut erat uluran tangan Samuel.


"Maaf, jika tidak ada hal lain, saya mohon pamit kembali ke kantor karena masih banyak kerjaan yang harus saya kerjakan," ucap sang pengacara lagi.


"Oh tentu saja, sekali lagi saya berterima kasih, berkat anda kasus ini berjalan lancar."


"Sama-sama tuan."


Samuel mempersilahkan pengacara Rudi untuk keluar dari ruangan, mengantar pengacara itu menuju ujung pintu kantornya dan membukakan pintu tersebut.


Sam menarik keluar ponsel dari saku celananya, terlihat melakukan sebuah panggilan. Maya....


 -----


"Kamu sudah berbaikan lagi dengan Sam? Kamu yakin gak akan menyesal nantinya?"


Maya menggeleng pelan.


"Aku yakin dengan keputusanku, El."


"Apa kamu gak takut kalau nanti akan ada masalah lagi dengan hubungan kalian? soal masa lalu Sam, mungkin?" lanjut El lagi.


Lagi-lagi Maya menggeleng, tersenyum sebentar dan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. "Aku percaya sama Sam."


El membuang napas pelan, kembali menatap wajah Maya. "Gak adakah kesempatan buat aku sekali lagi untuk memperbaiki kesalahanku dulu, May?" lirih Elano dengan nada berat.


"Maaf El, jika boleh jujur, dulu bukan hanya kamu yang mendua. Aku mencintai Sam saat kita masih jalan bareng, saat itu kamu di Melbourne. Kamu ingat kan?"


"Cuma bedanya, aku dan Sam sampai saat ini belum melakukan make love seperti yang kamu lakukan sama gadis itu," ucap Maya lagi.


Kali ini ada perasaan tidak enak dalam hati El, "Sorry untuk kejadian dulu, tapi aku masih mencintai kamu, May."


Wajah Elano kini terlihat sayu, tidak semudah itu melupakan Maya begitu saja, ia mengenal dan berpacaran dengan gadis itu sejak mereka kelas satu Sma. Banyak kenangan manis mereka berdua, hingga Elano mengenal sosok Freya saat berada di Melbourne.


Ah Freya.... bahkan Elano seperti hampir melupakan gadis cantik itu. Jarak yang membuat mereka seperti ini.


"May..."


El kini meraih jemari Maya tanpa bisa gadis itu mengelak, "Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, May."


Maya dengan cepat menarik kembali jemari yang saat ini berada dalam genggaman Elano. Sekilas pria itu bisa melihat sebuah cincin berkilau berlian dengan berlapis emas murni melingkar manis di jemari Maya.


"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Sam."


"Secepat itu kah? Apa kamu gak mau pikirkan dulu matang-matang May?" tanya El dengan nada lemah, tidak ada lagi harapan yang tersisa untuknya.


"Aku yakin dengan keputusanku, El."


Ada nada kemantapan dalam bicara Maya, senyuman kecil namun terkesan inilah yang aku inginkan, terlihat jelas di sudut bibir Maya.


"Maaf El, aku masih ada kerjaan. Dan aku yakin, kamu sebagai pemilik perusahaan ini, pasti juga banyak kerjaan yang harus kamu selesaikan bukan?"


Kali ini pertanyaan Maya langsung menancap di hati El, gadis itu seakan mengusirnya secara halus.


Elano mengangguk pelan, berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Maya, menutup pintu ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk. "Sialan!!" batin El.


………


Flash back satu hari lalu


Samuel tidak mengatakan apa-apa ketika Maya menanyakan berulang kali untuk apa mereka kembali ke Star Theather Planetarium. Sejak terakhir kali mereka kesana, jujur Maya memang ingin mengajak Sam menikmati indahnya langit sekali lagi. Namun gadis itu merasa jengah jika Sam menyewa seluruh gedung seperti sebelumnya. Rasanya Sam terlalu berlebihan.


Namun ia juga tidak bisa mengharapkan pria tampan yang saat ini menyetir di sebelahnya untuk masuk ke Planetarium dan berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain.


Ah sudahlah, Maya tak boleh selalu menuntut agar Sam selalu mengikuti standart sederhananya. Pria itu telah terbiasa dengan kemewahan dan melakukan banyak hal dengan penuh privasi.


"Kita sudah sampai." Sam membuyarkan lamunan Maya. Pria itu keluar dan membukakan pintu untuk Maya.


Maya menyambut uluran tangan Sam. Genggaman tangan Sam terasa begitu hangat, Maya bisa merasakan tangan kokoh Sam melingkar erat di pinggangnya. Meskipun ini bukan perlakuan Sam yang pertama, namun selalu bisa membuat jantung Maya melompat-lompat tak karuan.


Setiap kali ia melihat langit, ia mengingat Samuel. Bintang-bintang yang berkerlip keperakan terasa begitu indah. Kenangan kala mereka menyaksikan pertunjukan di Planetarium untuk pertama kalinya akan Maya kenang. Meskipun ia belum menarik garis khayal seperti yang Sam pernah jelaskan, tapi keindahan bintang-bintang itu tak bisa dipungkiri.


"Siap melihat pertunjukan bintang?" Sam kembali mengulurkan tangannya, Maya tersenyum dan berjalan beriringan masuk ke ruangan. Saat itulah langkah Maya terhenti.


Sepanjang jalan bertabur kelopak mawar merah yang terlihat seperti hamparan karpet mewah. Aroma khas bunga itu semerbak memenuhi ruangan. Ada lampu kecil yang berderet sepanjang jalan menuju dua buah kursi yang sudah dihias dengan pita dan renda.


Maya mengatur napas, berusaha mengendalikan emosinya agar tidak terlihat cengeng saat melihat apa yang Sam persiapkan.


"Ini cantik sekali." Maya menoleh dan tersenyum manis. "Aku tak tega jika harus menginjaknya."


Sam tersenyum penuh arti, "Kalau kamu tak tega menginjaknya..." Kalimatnya terhenti sebentar.


"Kalau begini kamu gak perlu menginjaknya bukan?"


"Sam, apa-apaan kamu?" Semburat merah muncul di wajah Maya, ia tidak menyangka kalimat isengnya tadi berujung Samuel membopong tubuhnya.


"Turunkan aku, Sam," pintanya sembari sedikit memberontak, namun tubuh kekar Sam tidak mudah digoyahkan.


Samuel melangkah, degup jantung Maya seakan bisa terdengar hingga ke ujung galaksi bima sakti.


Dan setelah perjalanan singkat yang terasa panjang, dengan penuh kesabaran Sam menurunkan tubuh Maya di kursi yang sudah ia siapkan untuk mereka.


"Maaf," ucap Maya sedikit malu, rona merah masih terlihat jelas di kedua pipi gadis itu.


"Kenapa harus minta maaf, sayang? Kita harus lebih sering melakukannya seperti tadi."


Sam tersenyum sangat lebar, mengedip nakal ke arah Maya. Pukulan kecil ke lengan Sam menjadi jawaban Maya.


Ketika Sam memberi tanda, ruangan menjadi gelap. Pertama kali bumi muncul. Warnanya yang kebiruan terlihat berkilau. Maya memandang dengan penuh takjub, hingga tidak menyadari bahwa Samuel menatapnya dalam keremangan sedari tadi.


Sam merogoh saku blezer miliknya, kotak mungil berbahan bludru sangat halus. Jantung Sam serasa berdentum keras. Ini tidak seperti saat pertama kalinya ia memberikan kalung berliontin MySam kepada Maya, kali ini berbeda. Sam bahkan belum pernah segugup ini, bahkan ketika ia harus presentasi yang menyangkut tender terbesar perusahaan Advertising miliknya ia tidak pernah merasakan segugup ini. Keringat dingin mengalir di keningnya.


Tidak! ia tidak boleh kehilangan ketenangannya, ini adalah saat yang terpenting bagi kelanjutan hubungannya dengan Maya.


"Ya Tuhan Sam, ini indah sekaliii!" Maya refleks meremas tangan Sam dengan penuh semangat. "Kemarin tidak ada ini, kan?" Maya mengedarkan pandangannya ke langit, ia seolah berada dalam lautan cahaya. Langit berwarna biru tua dengan gugus galaksi penuh warna yang tersebar serta berkerlip sangat indah membawa pesona kuat. Mulutnya terbuka lebar dengan penuh kekaguman.


Samuel terpana melihat iris hitam berkilau, rambut sebahu berwarna senada yang juga nampak berkilau meskipun dalam remang cahaya. Di bawah gugusan bintang, Sam seperti melihat bidadari paling cantik yang pernah ia temui.


Gadis yang sangat ingin ia lindungi meskipun mengorbankan segalanya.


Maya kembali mendongak, melihat langit buatan dan menikmati setiap pijar cahaya yang berpendar.


Tiba-tiba Sam bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Maya.


Satu tarikan napas, Sam mengeluarkan kotak kecil bludru dari kantong blezer dan membukanya di hadapan Maya. Kilauan warna putih terlihat meski dalam ruang temaram.


"May, will you marry me?"


Kali ini Maya benar-benar kehabisan napas dan kata-kata kala Samuel memperlihatkan cincin berukir di depannya. Cincin dengan dominan warna putih berlian dengan selingan emas murni. Begitu cantik dan elegan.



Apa yang harus ia jawab?


Apa ia siap untuk terikat seumur hidup dengan Sam? meskipun restu telah ia dapat. Maya masih ingin mengejar karier dan membahagiakan ibunya. Apakah ia bisa beradaptasi dengan gaya hidup Samuel? Lagipula kepercayaan mereka yang berbeda, selama ini persoalan utama itu yang mereka lupakan. Maya terlalu terbuai dengan cintanya kepada Sam dan juga perhatian pria itu padanya.


"May...?"


Tidak mendapatkan jawaban dari Maya, membuat Sam merasakan kecemasan melilit tubuhnya. Tidak bisa ia bayangkan jika Maya akan menolak lamarannya.


"I don't know."


"Apa maksud kamu dengan tidak tahu?" Kali ini Sam mencoba kembali berdiri, tepat di hadapan Maya.


Maya merotasikan kedua netranya ke arah lain, mencoba berpaling dari tatapan mata Samuel, merasakan air hangat yang kini mengalir di pipinya.


"Aku cinta sama kamu Sam, sungguh..." lirih Maya, namun sangat jelas.


"So, What makes you say, you don't know?"


kali ini nada bicara Samuel terdengar sangat lemah.


"Kita beda Sam,"


"Keyakinan kita beda, selama ini kita sudah melupakannya." Ada sebuah getaran yang terasa sangat menyayat dalam suara Maya.


"Aku akan mengikuti kamu, sayang." Sam menghentikan sejenak ucapannya.


"Bukan karena supaya kamu menerima lamaran ini. Aku melakukannya karena cinta dan juga Tuhan kamu, sayang."


"Aku sudah bicara sama orangtua aku, mereka bilang semuanya terserah pada ku. Mereka setuju, May..."


Sedetik kemudian, Maya berhambur ke dalam pelukan hangat Sam.


"Iya, aku mau Sam..." menangis dalam dekapan tubuh kekar pria itu, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Samuel.


"Aku mau...." ulangnya lagi, semakin mengeratkan lingkaran lengannya di leher Samuel dengan sedikit berjinjit.


"Aku akan selalu menjaga kamu May, melindungi dan mencintai kamu, sayang."


"Aku akan menemui tante dan melamar kamu, dear." Bisik Sam lembut


to be continue...