MySam

MySam
Morning Kiss



Dengan kedua netra yang masih memejam, Maya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Samuel yang bertelanjang dada.


Malam ini mereka bisa sedikit tertidur pulas setelah satu bulan belakangan keduanya sibuk menunggui Samudra di rumah sakit.


Maya menenggelamkan wajahnya pada perut sixpack Samuel, aroma musk yang selalu menyeruak keluar dari tubuh Sam terasa begitu menenangkannya. Membuat tidur Maya begitu lelap dalam dekapan hangat tubuh kekar suaminya.


Ketika keduanya terlelap dalam tidurnya, hingga tiba-tiba.....


"Mommy-Daddy....!! Jangan pelgi(pergi)....!!"


"Mommy....!! Daddy.....!!"


Suara Samudra yang sedikit berteriak membuat baik Maya dan juga Samuel tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Ada apa, sayang?" tanya Sam dengan netra yang masih memejam.


"Samudra--- dia teriak-teriak."


Maya begitu saja bangkit dari tidurnya dan membenarkan sebentar piyama berbahan silky yang dikenakannya.


"Kenapa dengan Am?" tanya Samuel lagi, kali ini iris coklatnya telah membulat penuh.


"Aku gak tau, Sam."


Maya cepat-cepat berlalu dari hadapan Samuel dan membuka pintu kamar. Dengan langkah terburu Maya memasuki kamar Samudra, melihat anak itu menangis sesegukan dengan masih dalam posisi tertidur, membuat Maya menghampirinya khawatir.


"Am sayang--Am kenapa? Mimpi buruk ya?" tanya Maya lembut, ia mengelus puncak kepala anak itu sembari meraih botol air mineral yang ada di atas nakas samping tempat tidur Am lalu menuangkannya ke dalam gelas kaca.


"Minum dulu, sayang." Maya mengulurkan gelas kaca ke arah bibir Samudra dan disambut oleh bocah itu. Samudra menyesap perlahan air mineral itu sedikit demi sedikit hingga menyisakan separuh dari gelas.


"Am mimpi buruk?" tanya Maya.


Bocah itu pun mengangguk perlahan sembari masih menangis sesegukan.


"Mommy-Daddy pelgi ninggalin Am...." rengek pilu Samudra.


Netra Maya meremang sedih melihat keadaan Samudra.


"Am tenang ya, ada Onty disini." Maya memeluk erat tubuh mungil Samudra, berusaha untuk menenangkannya.


Sementara Sam memasuki kamar Samudra dan berjalan mendekat ke arah keduanya.


"Am kenapa, May?" tanya Samuel begitu ia mendekat dan langsung mengelus puncak kepala bocah itu.


"Mimpi buruk, Sam."


"Oh-emang Am mimpi apa?"


"Am mimpi Mommy-Daddy. Am ditinggal pelgi(pergi) jauh cama(sama) Moms-Dad," cerita Samudra polos.


"Mommy-Daddy gak cayang(sayang) Am...!" pekik Samudra.


"Am gak boleh ngomong gitu. Mommy-Daddy nya Am sayang banget sama Am." Sam berusaha menjelaskan ke Samudra, bagaimanapun Sam tidak ingin ingatan Samudra tentang kedua orangtuanya menjadi ingatan buruk nanti setelah anak itu dewasa.


"Gak!! Mommy-Daddy gak cayang(sayang) cama(sama) Am!"


"Am-- jangan ngomong gitu ah, sekarang lebih baik Am berdoa buat Moms-Dad," bujuk Samuel.


"Iya, sayang-- lebih baik Am berdoa buat Mommy-Daddy nya Am. Yuk doa bareng-bareng sama Onty dan Om Uel." Maya menambahkan.


Samudra akhirnya mengangguk perlahan dan mengikuti Maya dan Sam untuk memejamkan kedua matanya, mereka pun kini sama-sama saling memanjatkan doa-doa dalam hati.


"Nah sekarang Am kembali tidur ya nak, ini masih malam." Maya mengeratkan kembali selimut yang membungkus tubuh mungil Samudra.


"Atau mau Onty temenin?"


Samudra meraih punggung tangan Maya sembari mengangguk perlahan.


Maya melirik sekilas ke arah Samuel dan Sam pun menganggukkan kepalanya, pertanda jika ia menyetujui Maya menemani Samudra hingga bocah itu kembali tertidur.


"Gak apa-apa, Sam?"


"Hm, kamu temenin Am dulu." Sam mencium kening Maya dan mengatur kasur Samudra agar dapat ditempati oleh Maya dan juga Samudra.


Sam menarik selimut agar membungkus tubuh Maya dan Samudra, pria itu pun mendaratkan ciumannya di kening Maya dan juga Samudra sebelum ia beranjak pergi dari kamar tersebut.


"Sweet dream ya jagoan," ucap Samuel sembari mengecup kening Samudra.


"Kamu juga sleep well , dear" Sam kini giliran mencium kening Maya.


"Kalo Am udah tidur, aku ke kamar," ucap Maya dan dibalas anggukan kepala oleh Samuel. Maya kini memeluk tubuh mungil Samudra dan mengusap lembut pungung bocah itu. Hingga perlahan-lahan netra Samudra mulai meredup sedikit demi sedikit, dan Maya tersenyum sekilas melihat wajah tanpa dosa anak itu.


"Sam--bangun--"


Suara Maya terdengar begitu lembut di telinga Samuel, hingga pria itu mulai membuka kedua netranya secara perlahan.


Melihat wajah cantik Maya yang pagi itu telah berada di atas tubuhnya, menindih tubuh kekarnya dan mendaratkan ciuman kecil di kedua pipinya, Sam menarik senyuman bahagianya.


"Jam berapa ini?"


"Udah pukul enam pagi, Sam." Maya menjawab sembari masih lekat menatap wajah tampan Samuel.


"Sehabis sholat subuh tadi, kamu kembali tertidur lelap sekali." Maya menjeda sebentar ucapannya dengan jemari lentik yang menari-nari di atas dada suaminya.


"Kamu kelelahan bekerja ya?" tanya Maya melanjutkan ucapannya.


Sam tersenyum sebentar, ia dekap erat tubuh Maya. "Hm, sedikit."


"Kalo gitu kenapa gak ambil cuti dulu?"


"I wish i can, beib..." jawab Sam seraya membelai lembut pipi Maya dan menyelipkan ke belakang telinga beberapa anak rambut yang saat itu jatuh menjuntai menutup sebagian wajah cantik istrinya.


"Emang kenapa? Kamu kan bisa aja ambil cuti, siapa yang akan melarang kamu?"


"Sayang-- Aku pimpinan di perusahaan itu. Kalo aku sering ambil cuti apa kata karyawan ku, hm?"


"Lagipula seorang pimpinan harus memberi contoh yang baik, bukan?" ucap Samuel.


"Tapi kamu juga butuh istirahat, Sam. Aku gak mau kamu sakit nantinya." Jemari Maya masih saja bermain di dada telanjang suaminya, seolah jemari itu melukiskan sesuatu disana.


"Ceo juga manusia, Sam. Butuh waktu untuk istirahat dan keluarga," lirih Maya lagi.


Samuel kali ini memandang sembari tersenyum kecil ke arah Maya.


"Ya sudah jika itu keinginan istriku," jawab Sam akhirnya.


"Aku akan ambil cuti mulai besok, tapi hari ini aku harus mempersiapkan pekerjaan untuk aku serahkan ke Bayu saat aku cuti beberapa hari nanti."


"Hm, aku siapin sarapan dulu ya."


Maya mencoba beranjak dari tubuh Samuel, namun tiba-tiba tangan Sam menarik lengan Maya. Hingga membuat tubuh perempuan itu kembali jatuh ke pelukan Sam.


"Sam---!" teriak Maya pelan.


"Kamu belum memberiku morning kiss, dear." Sam berbisik lembut.


Tanpa aba-aba lagi Sam mendekatkan bibirnya, dua lengannya mendekap erat pinggang Maya yang saat itu berada di atas tubuhnya.


Satu pergerakan dari bibir Samuel menekan lembut bibir Maya, gigitan-gigitan kecil Sam daratkan di bibir kenyal Maya yang telah berpoles lipsgloss rasa cherry mint.


"Love you, dear," ucap Sam disela-sela pergerakan bibirnya. Sementara Maya, dia membalas setiap ciuman yang Samuel berikan.


"Hentikan aku sayang, jika tidak-- aku bisa khilaf lagi pagi ini." Sam kembali berbisik, sambil tangannya bergerilya meraba setiap lekuk tubuh molek Maya yang pagi itu hanya mengenakan piyama berbahan silky yang sangat tipis dan lembut.


"Sam-- Eumm--" erang Maya.


"Aku ingin melakukannya lagi, sayang...." bisik Samuel nakal.


"Maka lakukanlah."


Maya menjawabnya dengan sorot mata sayu. Dia bahkan tanpa ragu-ragu membalas setiap gerakan bibir maupun tangan suaminya yang bergerak liar di tubuhnya.


"Kamu yakin?"


"Iya," angguk Maya.


Sam mulai mendaratkan ciumannya secara intens ke bibir Maya lalu bibirnya beringsut turun ke leher hingga ke arah dua bulatan ke*nyal Maya. Tanpa bra yang membungkusnya sehingga memudahkan Sam untuk me*nyesapnya dan memainkan bulatan kecil berwarna pink itu.


"Sam--euumm--aahh--" erang Maya sembari mendongakkan kepalanya saat bibir Samuel menyapu seluruh leher dan kedua gunung kembarnya.


Leguhan demi leguhan yang tercipta dari bibir Maya membuat Samuel semakin melancarkan aksinya. Tangannya kali ini melepas tali piyama yang mengikat di pungung Maya hingga menanggalkan seluruh kain halus itu. Sam semakin beringsut turun, membelai dengan lembut tiap inci tubuh istrinya. Bibir tebalnya menyusuri tubuh molek itu, memberikan foreplay manis seperti biasa agar Maya merasa nyaman dengan penyatuan mereka.


"Aku cinta kamu, istriku." Bisik Samuel.


Maya tersenyum tersipu, mengangguk perlahan sembari berusaha lebih meningkatkan tempo permainan Samuel. Netra hitam Maya menatap sayu sang suami.


"A-aku lebih mencintai kamu, suami-aahh--sshh" Maya akhirnya berucap sembari men*de*sah tertahan.


to be continue....