MySam

MySam
Kenapa Harus Maya?



Maya masih membisu, entah apa yang akan dia ucapkan setelah kalimat El tadi. "May, kenapa kamu diem?" Pertanyaan El seakan membawa kembali jiwa Maya bersatu dengan raganya.


"Kenapa mendadak? Kenapa kamu harus ke sana untuk waktu yang lama? Apa gak bisa ditunda El? Bagaimana dengan aku nanti?" Cecar Maya, bertubi-tubi gadis itu meluncurkan semua pertanyaan tadi dari mulutnya. El membuang nafas berat lalu ditatapnya kedua netra Maya, kini mereka saling beradu pandang.


"Maaf May, bisnis keluarga ku ada sedikit masalah. Saham Wijaya Group di Aussy saat ini sedang krisis dan aku harus terbang kesana buat nge-handle." Terang El. Wajah tampannya saat ini juga menyiratkan kesedihan.


"Sayang, aku janji jika semua masalah teratasi secepatnya aku akan pulang ke Indo." El meyakinkan Maya, dia raih jemari gadis itu dan menciumnya.


"I will miss you El." Peluk Maya dan langsung mendapatkan pelukan balik oleh Elano. "I will miss you more hunny." El membisikan nya ke telinga Maya, sangat dekat hingga deru nafas El begitu terasa sampai ujung kulit Maya.


Elano merenggangkan sebentar pelukannya kini netra mereka saling beradu. Jemari lembut Elano menghapus pelan jejak cairan bening dari sudut mata Maya, Elano mendekatkan bibirnya dan sedetik kemudian kedua bibir mereka saling bertaut, hanya sebuah kecupan kecil. Mereka membiarkan moment terakhir mereka mengalir mengikuti arus tanpa ada tekanan. Mereka hanya ingin menikmati kebersamaan untuk beberapa hari sebelum El meninggalkan Jakarta.


***


Sam memicingkan matanya, sinar mentari pagi yang sudah mulai meninggi menyusup masuk ke dalam jendela besar sebuah ruangan yang penuh dengan warna purple. Sejenak Sam merotasikan kedua netranya melihat sekeliling. Ruangan yang penuh dengan warna purple berpadu dengan warna kuning bunga matahari, kening Sam mengernyit sebentar. Bukan ruangan yang dia kenal, pikirnya heran.


"Morning beib__" sapa Martha begitu dia keluar dari bathroom, gadis itu hanya mengenakan bathrobe yang juga berwarna purple.


Martha tersenyum mendekat ke arah Sam.


"Lo__"


Decih Samuel pelan, dia mengibaskan kepalanya yang terasa berat lalu dilihatnya lagi gadis cantik yang kini sudah bergelayut berbaring di samping Samuel.


"Lo ngapain? Minggir!!" Bentak Sam sambil berusaha menghempaskan tubuh Martha.


"Gak mau." Erang Martha, kali ini dia mulai menyandarkan kepalanya di luas dada bidang Sam dan masih dalam posisi dia berada di atas tubuh Samuel.


"Sam__ aku sudah jadi milik kamu, dan kamu juga sudah jadi milik aku. Aku gak mau kehilangan kamu sayang." Gumam gadis itu lagi, jemari lentiknya dengan luwes bermain di atas dada kotak-kotak Sam.


"Lo gila Tha, turun dari tubuh gue." Titah Sam tegas dan lagi-lagi Martha menggelengkan kepalanya cepat.


"Lo udah jadi milik gue Sam, kita udah melakukannya beberapa kali."


Kali ini Martha mendongakkan kepala nya ke arah Sam, berusaha mendekati bibir Sam.


"Lo gak ada kerjaan lain selain ganggu gue hah?!" Erang Sam yang hanya dibalas senyuman smirk Martha.


Lagi-lagi gadis itu menggeleng dan bergelayut manja di tubuh Sam, kali ini Martha turun dari dada bidang Sam dan merebahkan tubuhnya di samping cowo itu, dia lingkarkan kaki jenjangnya ke pinggang Sam sementara lengan Martha masih bergelayut manja di salah satu lengan kekar Sam.


Sam merasakan dua bongkahan bulat di dada Martha yang saat itu hanya mengenakan bathrobe. Berkali-kali CEO muda itu berusaha menghindar dari gerakan liar Martha.


"I am yours baby, let's do it." Bisik Martha tepat di telinga Sam. Bibir cherry gadis itu menggigit pelan ujung daun telinga Sam membuat pertahanan cowo itu mulai sedikit goyah jika saja dia tidak mengingat sosok Maya.


Hah... kenapa harus Maya? pikir Sam tiba-tiba.


"Turun Tha." Titah Sam lagi


"No way, selama ini gak ada yang bisa nolak gue." Desak Martha. Gadis itu berusaha menautkan bibirnya, Sam mencoba menghindar dengan mencengkeram erat lengan Martha hingga gadis itu mengerang kesakitan.


"Oh jadi lo mau main kasar Sam? Oke gue bisa jadi apapun yang lo mau, lo mau gue jadi Freya? And I will do it."


"Tha, selama ini lo udah gue anggap seperti adek gue sendiri."


"Gue gak mau jadi adek lo Sam!!" Kali ini suara gadis mulai meninggi. Perlahan tubuh Martha bergerak kembali ke atas dada Sam, gadis itu kini berbaring di atas tubuh Samuel dan memeluk cowo itu erat. Sungguh sifat liar Martha kali ini membuat Samuel gerah.


"Bullshit Sam, itu karena lo gak pernah bisa lepas dari Freya. I hate that girl." Pungkas Martha kesal.


Tangis Martha semakin menderu di dada bidang Sam, perlahan lengan kekar Sam meraih pundak Martha dan membawanya ke pelukannya. "Iam sorry Tha." Bisik nya pelan.


***


Gara-gara kejadian bersama Martha tadi Sam terlambat beberapa jam ke kantor. Dengan langkah terburu cowo itu menuju ke dalam gedung perkantoran. "Pagi pak__" sapa beberapa karyawan Samuel yang lalu dibalas dengan anggukan kepala cowo itu.


Sam memasuki ruang kerjanya, terlambat satu setengah jam tentu saja bukan masalah buat Sam toh dia adalah bos nya.


Maya memajukan bibirnya beberapa centi begitu bos nya memasuki ruang kerja.


Gadis itu mengernyit sebentar ketika dilihatnya kemeja Sam hari ini sama persis dengan kemeja yang dia pakai kemarin.


"Gak pulang dia semalam." Dengus Maya pelan.


"Hai asisten baru tolong buatin gue kopi hitam kental." Titah Sam ketus membuat netra Maya membola.


"Tapi pak__"


"Gak usah bantah bisa gak?!" Hardik Sam.


Maya kembali bersungut melihat sifat seenaknya dari sang bos. "Iya-iya santai wee lah gak usah galak gitu." Sungut Maya berlalu dari hadapan Sam.


Dengan langkah kesal gadis itu menuju pantry kantor.


"Sial kemaren jadi OG sekarang jadi OG lagi, mau cowo rese itu apa sih?!" Sungut Maya, kembali dia aduk kopi kental buat Sam sebelum dia antar ke meja Sam.


"Ini kopi nya pak!" Sungut Maya kesal, Maya kembali ke meja kerjanya setelah meletakkan kopi pesanan sang bos.


Samuel masih terlihat sibuk dengan layar laptop sehingga tidak begitu menanggapi gadis itu saat menawarkan secangkir kopi buatnya. Namun sesekali dia melirik ke arah Maya dan masih berfikir kenapa ada sosok asisten barunya itu dalam benak nya?


Maya mendengus kesal. "Kalo bukan bos udah gue jambak-jambak dia." Ketus Maya dalam hati.


"Ntar malam lo ada acara?" Ucap Sam tiba-tiba. Maya mengedikkan bahunya sebentar, dia heran dengan pertanyaan sang bos.


'Apa dia ngigau ya?' Ucap Maya dalam hati.


"Lo ada acara gak ntar malam?!" Ulang Sam kali ini dengan nada sedikit tinggi. Maya yang setengah kaget mendengarnya dengan cepat menggeleng pelan.


"Ntar malam temenin gue ke suatu tempat." Sambung Sam lagi. Kali ini membuat Maya kembali sedikit terkejut.


"Lo bisa kan ?" Tanya Sam lagi dan masih tak ada jawaban dari Maya.


"Heh__ lo bisa gak?!" Bentak Sam.


"Eehh__ kok galak gitu, gak mau ah ntar bapak ngaapa-apa in saya lagi." Sungut Maya sambil kembali sibuk dengan layar laptop dihadapannya.


"Ntar malam jam tujuh gue tunggu di taman kota." titah Sam, hampir saja Maya mencoba membantah titah bos nya namun dengan cepat Sam melanjutkan lagi ucapannya. "Gue gak mau ada penolakan." Ketus Sam kali ini.


Kini Maya sudah benar-benar merasa kesal.


To be continue