MySam

MySam
Kepulangan



Martha mematut dirinya ke arah cermin besar dalam kamar tidurnya, berdiri dengan mengelus perut buncit yang sebentar lagi melahirkan. Kelahiran anak keduanya ini memang tidak sesuai dengan yang Harris perkiraan, prediksi Harris buah hati kedua mereka akan lahir di awal bulan Juli ini namun rupanya bayi itu masih ingin berlama-lama dalam perut ibunya.


"Mas...."


"Hm?"


"Kenapa baby kedua kita tidak ingin keluar juga? padahal ini udah dua minggu terlambat dari perkiraan kamu lho?" tanya Martha sembari mengelus lembut perutnya dan melangkah menghampiri Harris yang terlihat sedikit sibuk dengan layar laptop di hadapan pria itu.


"Gak apa-apa sayang, ini hal yang wajar kok."


Harris kini mengalihkan perhatiannya ke arah Martha. Tersenyum lembut menatap wajah cantik istrinya yang selama kehamilan nampak semakin cantik.


"Aku takut, sayang."


"Takut kenapa?"


"Takut kalo ada yang gak beres sama bayi kita." Kekhawatiran terlihat jelas dalam raut wajah perempuan itu.


"Gak usah mikir yang enggak-enggak. Anak kita baik-baik aja." Harris mendaratkan kecupan lembut di kening Martha lalu kembali menyorot wajah istrinya lembut.


"Mungkin baby kita masih betah tinggal dalam rahim mommy nya," ucap Harris lagi dan kali ini berusaha menenangkan kekhawatiran Martha.


"Ish kamu bisa aja..." kekeh Martha sembari mencubit lengan suaminya.


"Hehehe... sekarang kita tidur, besok pagi-pagi pesawat Samuel mendarat dan kita jemput Samudra."


"Hm, aku kangen banget sama anak kita. Kira-kira Am kangen gak ya sama aku?"


Martha kini menjatuhkan kepalanya ke dalam dada bidang suaminya, menenggelamkan wajahnya kedalam ceruk leher Harris.


"Samudra pasti kangen kamu, sayang. Kan kamu ibunya, gak mungkin dia gak kangen."


Martha mengangguk pelan merespon ucapan Harris, jemari lentiknya kini memainkan dada suaminya yang tidak terhalang oleh kerah kemeja putih yang ia kenakan.


"Iya. Tapi aku seneng kok si Am deket dengan Maya dan Sam," jawab Martha yang masih menenggelamkan wajahnya kedalam dada Harris yang sedikit berbulu halus.


"Hm, aku tau kamu orang yang memiliki hati seperti malaikat dan kamu ikut bahagia jika melihat sahabat kamu bahagia." Harris menangkup wajah Martha lalu mencium lembut pipi perempuan itu.


"Semua itu karena kamu, sayang." Jawab Martha, menjeda sebentar ciuman Harris dan membelai pipi dengan rahang tegas itu.


Harris berdiri lalu duduk di bawah dengan menghadap ke arah perut istrinya, ia dekatkan kepalanya ke perut Martha lalu membisikan sesuatu.


"Sekarang kita tidur. Kamu juga tidur ya sayang, jangan nakal yah di dalam sana, mommy kamu harus banyak istirahat," bisik Harris.


Cup


Satu kecupan penuh kasih Harris daratkan ke perut buncit Martha lalu mengelus-elus lembut perut istrinya.


"Iya daddy...." jawab Martha dengan logat dan cara bicara mirip anak kecil.


Keduanya lalu tersenyum sembari saling menempelkan kedua kening mereka.


"I love you daddy...." ucap Martha manja.


"I love you more darling." Harris menjawab, satu ciuman kecilnya mendarat di bibir ranum milik Martha. Gigitan kecil di bibir Martha pun tidak dapat ia tahan lagi, membuat sesekali suara leguhan tercipta dari mulut Martha.


...****************...


Di terminal kedatangan bandara internasional Soeta nampak Samuel dengan santai berjalan dengan kopor warna hitam di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terlihat menggandeng Samudra dan tangan kanan Maya pun terlihat menggandeng satu tangan Samudra yang lain.


Bocah itu pun berjalan tanpa ada rasa lelah meski kurang lebih selama lima belas jam ia naik pesawat pribadi milik Samuel. Bahkan ia tidak terlihat sedikitpun merasa Jet Lag.


Samudra bahkan berjalan dengan semangat ketika kedua tangannya digandeng oleh dua orang yang sudah ia anggap seperti orang tua keduanya.


"Onty, kok mommy belum keliatan? Mommy gak jemput Am ya?" tanya Samudra, pandangannya berkali-kali berrotasi ke sekitar terminal kedatangan bandara. Meski masih terlalu pagi, namun keadaan di bandara internasional tersebut sudah banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang berjalan baik di tempat keberangkatan maupun kedatangan.


Netra Maya pun berotasi melihat ke sekeliling, diantara banyaknya orang-orang pagi itu ia pun tidak menemukan Martha ataupun Harris.


"Mungkin mommy nya Am masih di jalan. Kita tunggu aja ya," ucap Maya menenangkan.


Samuel terlihat mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Sebentar, aku coba hubungi dia dan juga pak Agus biar aku suruh jemput kita."


Samuel kini melakukan panggilan seluler, setelah beberapa menit ia berbicara dengan orang di seberang kini Sam memutuskan teleponnya lalu kembali melakukan sebuah panggilan lagi.


Alis Maya sedikit mengernyit saat Samuel melakukan panggilan seluler keduanya.


"Gimana?" tanya Maya dan tangannya masih saja menggenggam erat pegangannya pada tangan mungil Samudra.


"Martha dan Harris jemput Am, mereka masih on the way dan bentar lagi sampai."


Maya mengangguk pelan. "Terus pak Agus bisa jemput kita?" tanya Maya lagi.


"Hm, bisa kok."


"Sam, kelihatannya Am capek."


"Ya udah kita tunggu di restoran fast food sebelah sana aja? sekalian kalian bisa pesen makanan juga."


Maya kembali mengangguk kecil. Diikuti ketiganya kini berjalan menuju sebuah restoran cepat saji. Sam lalu meletakkan kopor tak jauh dari kursi yang Maya dan Samudra tempati.


"Kalian tunggu di sini aku pesenin makanan," titah Samuel. Maya mengangguk pelan lalu mulai duduk bersama Samudra sembari meregangkan otot kedua lengannya.


....


Samuel kembali dengan sebuah baki berisi satu cup kopi hitam, dua buah burger dengan satu pack french fries dan dua cup minuman soda.


"Makasih, sayang..." ucap Maya begitu Samuel menuju ke meja mereka dan meletakkan baki berisi makanan dan minuman.


"Hm, sekarang kalian makan dulu."


"Hm," angguk Maya. Ia lalu membukakan pembungkus burger dan memberikannya pada Samudra.


"Am mamam burger dulu ya, kita tunggu mommy Am sama daddy nya Am jemput."


"Iya onty."


Samudra meraih burger dari tangan Maya lalu menggigitnya dan mengunyahnya perlahan.


"Sam, kamu gak makan?"


Samuel menggeleng. "Aku belum lapar."


Pria itu pun kini terlihat menyesap kopi hitam kental miliknya.


"Sam--"


Ucap Maya sembari menjulurkan tangannya yang memegang cheese burger miliknya ke arah mulut Samuel.


"Aku gak laper sayang, makan kamu aja."


"Ish, gak laper gimana? di pesawat tadi kamu hanya makan sekali terus udah gitu kamu cuma minum kopi mulu. Aku gak mau kamu jadi sakit."


Cemberut Maya, melihat Samuel menolak suapan burger miliknya.


"Ya udah aku makan dikit, jangan cemberut gitu dong."


"Gak akan kalo kamu udah gigit burger aku."


Samuel terkekeh geli, lalu dengan tiba-tiba ia menggigit satu gigitan besarnya ke roti isi daging, sayur dan keju milik Maya.


"Ih Sam... kok banyak gitu sih gigitnya...." kerucut Maya lucu.


"Katanya tadi suruh makan."


Samuel tertawa kecil melihat wajah Maya yang sedang manyun seperti itu.


to be continue