
Sinar cahaya pagi hari menerobos masuk pada setiap celah tirai jendela besar yang berada dalam kamar Maya. berulang kali menyapa dengan menyinari paras cantik yang masih enggan untuk bangun. Kedua bulu mata lentiknya seolah sangat enggan untuk sekedar sedikit saja terbuka.
Hari ini hari terakhir Maya dan Sam di Bali, Maya menggeliat dari balik selimut untuk sekedar melakukan peregangan otot-otot pada tubuhnya yang masih sedikit kaku saat pagi hari.
"Hoaammm...."
Tangannya menyingkirkan selimut asal, kedua kakinya mulai menuruni ranjang berukuran kingsize seraya berjalan menuju kamar mandi dalam, padahal nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
Terlihat beberapa kali Maya menguap sambil berjalan dengan langkah gontai.
"Morning baby girl......"
Samuel langsung saja merangkul dan memeluk pinggang Maya begitu cowo itu memasuki kamar Maya.
Maya mengerjap sebentar, berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya.
Dengan cepat kedua netra Maya membola begitu ia sadar Samuel kini sudah menggelayut manja pada tubuhnya.
Maya merotasikan penuh kedua matanya sambil membalikkan badan menghadap Sam.
Seketika rasa kantuk yang tadinya mendominasi kini telah terganti menjadi raut ceria kala kedua matanya menatap wajah Sam.
"Kamu untuk kedua kalinya masuk ke kamar ku tanpa izin Sam."
Kini berganti kerucutan kecil dari bibir Maya untuk Sam walau sebenarnya gadis itu sangat menyukai kejutan romantis seperti itu di pagi hari.
"I'm sorry baby.... i only miss my sweet peach." bisik Sam pelan.
Sebuah senyuman merekah sempurna di bibir Maya. Kini gadis itu membalas pelukan Sam. Kedua lengannya pun ia kalungkan ke leher Samuel, dengan sedikit berjinjit dan kepala menengadah ke arah Sam, kini Maya mencium ujung bibir Samuel.
Entah apa yang merasuki Maya pagi itu, ia hanya merasakan rindu terhadap Sam, walaupun baru beberapa jam ia tidak melihat sosok cowo bersurai sedikit ikal itu.
Dengan kedua tangan Sam yang melingkar di pinggang ramping Maya, Samuel membalas apa yang sudah gadis itu mulai.
Hingga kedua tangan itu beringsut menuju dua bongkahan bulat sempurna milik Maya, menahannya agar gadis itu tidak kehilangan keseimbangan.
Sam menatap paras Maya sebentar, hanya beberapa detik dan setelah nya Sam kembali menyatukan keningnya dengan milik Maya. Membuat kedua hidung mancung itu kembali bersentuhan, nafas Sam tercekat seolah pasokan oksigennya telah habis.
"May, kenapa ya setiap aku dekat kamu membuat ku susah bernafas? apalagi jika jauh dari kamu semakin membuat ku nggak bisa bernafas." ujar Sam sambil menyelam dalam tatapan Maya.
Memberikan jeda beberapa detik, sebelum melanjutkan ucapannya, "Kamu kayak oksigen dalam hidup aku May, baru kamu gadis yang membuat aku kayak gini."
Benar saja, ini pertama kali nya bagi Sam merasa tidak bisa jauh dari seorang gadis.
Bahkan dulu bersama Freya Sam tidak pernah merasakan hal yang sama. Dulu ia memang mencintai Freya namun entahlah, cinta itu tidak sama dengan perasaannya saat ini terhadap Maya.
Sedangkan Martha? Sam tidak pernah mencintai Martha, memang benar Martha adalah teman masa kecilnya dan Samuel sudah menganggap gadis itu seperti seorang adik, tidak lebih.
Maya seperti okisgen bagi Sam yang sekalinya ia hindari, ia dihujam rindu. Jika lebih didekati ia tidak bisa bernafas karena direnggut gugup.
Beberapa menit, kedua manik mata itu saling beradu tatap. Nafas hangat itu saling menerpa sebelum akhirnya kedua mata Sam memejam sembari mendaratkan bibirnya pada milik Maya. Tak ada sama sekali pergerakan, hanya saling menempel.
Telapak tangan Sam kini beralih ke leher belakang Maya, sementara lengan yang satunya kini menghimpit erat pinggang Maya.
Ia tekan tangannya yang menempel ke leher belakang Maya sehingga membuat paras gadis itu kini semakin tanpa jarak dengan wajah Samuel.
Maya mempererat kedua tangannya yang telah melingkar pada leher Samuel, kedua matanya memejam menikmati setiap detik kedua bibir mereka menyatu. Sampai pada akhirnya Samuel mulai menggerakkan bibirnya perlahan.
Pelan-pelan, lembut dan tidak menuntut.
Tidak berhenti disitu, bibir Sam mulai menjalar di leher mulus milik Maya, bahkan tak segan gadis itu mendongak memberikan akses untuk Sam menjelajahi leher putih itu.
Leguhan demi lenguhan berhasil lolos dari bibir Maya. Hening, sunyi dan sepi yang kini menghiasi dalam kamar Maya.
Maya memutuskan kontak bibir seraya kembali menyatukan kening mereka.
Keduanya mengatur pasokan oksigen masing-masing yang sempat terkuras oleh tautan bibir mereka.
"Apa sayang?"
"Kamu gak akan pernah ninggalin aku kan?" tanya Maya dengan tatapan mata sayu.
Sam terdiam sebentar, kini jemarinya mulai menyeka anak rambut Maya, wangi nya sangat memabukkan buat Sam.
Kini Sam kembali menatap paras Maya, menyapu paras cantik itu dengan usapan lembut.
"Apapun yang terjadi kamu selalu yang aku cintai dear."
"Memang apa yang akan terjadi?" kini raut Maya semakin menelisik lebih dalam lagi, iris kecoklatan itu terlihat sedikit gugup, sedih dan bimbang.
Setidaknya itu yang dapat Maya lihat saat kedua netranya mencoba mencari sebuah jawaban disana.
"Sam.... memang apa yang akan terjadi?" ulang Maya. Lagi-lagi hanya ada kebisuan dari mulut Sam.
Samuel ingin sekali mengungkapkan yang sebenarnya namun lagi-lagi tenggorokan nya serasa tercekat setiap ingin berucap.
Tentu saja Samuel tidak pernah bisa mengatakan yang sebenarnya pada Maya, cowo itu terlalu mencintai Maya. Ia tidak ingin dibenci oleh Maya.
Jika itu terjadi, akan menjadi hal yang paling menyakitkan buat Sam.
"Sam...."
Suara Maya kembali membangunkan lamunan Samuel, sudut bibir Sam kini tertarik sempurna, sebuah ciuman mendadak mendarat dengan cepat di kedua pipi Maya.
"Nothing dear, will not happen anything." balas Sam lembut.
Kali ini Maya bisa bernafas lega, setidaknya untuk saat ini.
_______
"Pak Made jemput kita jam berapa Sam?" tanya Maya, ia masih melakukan packing beberapa pakaian dan paperbag yang berisi souvenir untuk mamanya dan Airin.
"Penerbangan kita malam sayang, jadi kita masih ada waktu sebentar menikmati suasana Bali." jawab Samuel dari balik kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Maya.
"Mungkin pak Made jemput nya sekitar sepuluh malam." lanjut Sam, kini ia sudah berdiri disamping Maya.
Mencoba membantu gadis itu menata koper milik Maya, Sam duduk di atas tempat tidur Maya dengan kedua kaki menyilang. netra kecoklatan Sam berkali-kali berotasi mengikuti gerak tubuh Maya yang keluar masuk kamar.
"Masih lama packing nya?" tanya Sam kini. Maya mengangguk, sejenak ia menatap wajah Sam yang pagi itu begitu memukau.
"Kamu capek ya Sam? udah kamu diem aja disitu, gak usah bantuin aku." senyum Maya, ia mendekati Samuel.
Diraihnya lengan Maya lalu menariknya, sehingga membuat tubuh gadis itu kini duduk di pangkuan Samuel.
"Cepet packing nya, aku ingin keliling Bali di hari terakhir ini bersama kamu. Masih ada banyak waktu buat kita." rajuk Sam manja.
Maya mengalungkan kembali lengannya di leher Sam, kini telapak tangan Sam kembali mengelus pipi Maya.
"Ya udah aku ganti baju dulu ya." Ucap Maya, kini ia beranjak dari pangkuan Samuel.
Sam mengangguk tanpa bergeming, membuat kedua netra Maya melotot ke arah Samuel.
"Apa sayang....??" dengan tanpa rasa berdosa Sam masih duduk di kasur Maya, cowo itu tahu apa yang ada di pikiran Maya.
"Kamu keluar dulu dong Sam." cemberut Maya namun sedetik kemudian ia tersenyum.
"Yah dikit aja sayang...." rajuk Sam.
Sebuah cubitan gemas berhasil mendarat di sisi kanan pinggang milik Sam membuat cowo itu terkekeh. Maya lalu menarik lengan Samuel dan mendorong tubuh kekar itu mendekat ke ujung pintu kamar agar Sam keluar dari kamarnya. Suara tawa Sam kini meledak. Seolah anak kecil, Sam masih memaksa untuk tetap tinggal di dalam kamar Maya.
"I want to stay there dear..." rajuk Sam dari luar pintu kamar.
To be continue....