MySam

MySam
Usaha Freya



"Kamu yang nyetir ya Sam?" ucap Freya begitu keduanya sampai di parkiran, sembari mengulurkan remote kunci mobil ke arah Sam, pria itu tidak punya pilihan lain selain menerima remote kunci tersebut dari tangan Freya.


Keduanya memasuki sedan berwana merah menyala milik Freya begitu Sam membuka pintu mobil dengan menekan remote kunci.


"Sam, aku bisa minta tolong gak?" tanya Freya sebelum sedan merah itu mulai melaju meninggalkan parkiran gedung perkantoran.


"Minta tolong apa?"


"Mampir sebentar ke baby shop ya, aku lupa beli susu kehamilan."


Sam melirik sebentar ke arah Freya, melihat wajah memelas gadis itu membuatnya merasa tidak enak hati untuk menolak. Lagipula dia yang ikut menumpang pulang dengan mobil gadis itu.


"Oke," angguk Sam pelan. Membuat Freya kembali tersenyum senang.


Sepanjang perjalanan, Sam hanya fokus dengan lalu lintas di hadapannya yang mulai padat. Tentu saja karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, puncak kepadatan lalu lintas di Jakarta.


Selain itu yang ada di dalam pikiran Sam hanya Maya seorang, istrinya itu pasti sangat khawatir karena dirinya belum sampai rumah di jam segini.


"Sam, setelah trafic light itu kita belok kanan," tunjuk Freya.


"Aku mau belanja kebutuhan kehamilan aku di GI Shopping Town."


Sam mengernyit sebentar, "Bukankah mall itu lebih jauh dari arah rumah ku? Kamu gak bisa ya belanja di mini market terdekat yang kita lewati nanti?" protes Sam begitu mendengar rencana Freya barusan. Bagi Sam, berkendara ke Grand Indonesia Shopping Town akan memakan waktu lebih dari satu jam. Tentu saja Samuel akan sangat terlambat untuk sampai di rumah malam ini.


"Aku biasa belanja di sana Sam, lagipula mall nya juga lengkap dan aku belum belanja bulanan juga. Tolong ya Sam.... kamu mau kan antar aku, bentar aja kok." Freya mulai merajuk.


Samuel menghela napas sebentar sebelum akhirnya mengangguk terpaksa. Sam menginjak dalam gas sedan merah itu menuju ke arah mall yang Freya mau.


Freya tidak suka diabaikan dan sudah satu jam lebih Samuel fokus ke arah jalanan di hadapan mereka


"Sam....." lirih Freya dengan suara seksinya di dibuat men-desah.


"Apa?"


"Ak-u... masih ada hati buat kamu, Sam." Freya menjeda sejenak ucapannya. Kini ia menatap lembut wajah Samuel yang tetap saja tidak bergeming, masih berkonsentrasi dengan padatnya lalu lintas malam itu.


"Baby.... tidak kah kamu lihat itu? sikap aku ke kamu, perhatian aku ke kamu?" lanjut Freya.


"Dan kamu tau jawabanku adalah tidak! Aku mencintai istriku Fe, dan kamu juga sedang mengandung anak Elano, bukan?" jawab Samuel tegas.


Elano.... oh kenapa Samuel mengungkit lagi soal pria brengsek dan tidak bertanggung jawab itu, batin Freya.


"Aku dan Elano sudah tidak ada harapan lagi," cicit Freya lemah.


"Coba lah untuk menemuinya lagi."


"Nggak, aku gak mau ketemu dia lagi!" Ada kesedihan dan luka dalam wajah Freya. Membicarakan Elano saat ini hanya akan menyisakan luka baginya.


"Aku sungguh berharap ayah dari anak yang aku kandung ini adalah kamu Sam," cicit Freya lagi, dan kali ini berhasil membuat perhatian Samuel terarah padanya. Sam melirik sebentar ke arah Freya kemudian membuang napas berat dan kembali fokus ke jalanan.


"Aku bersedia jika harus jadi istri kedua kamu, Sam."


Ciiiiittttt.....


Suara ban berdecit tatkala Samuel mendadak menghentikan sedan merah milik Freya. Dengan sigap, Sam lalu menepikan mobil ke arah bahu jalan.


"Jangan gila kamu Fe!"


"Aku gak gila Sam, aku waras. Aku sungguh berharap bisa menjadi istri kamu. Meskipun...." Freya tidak langsung melanjutkan ucapannya.


"Meskipun apa?"


"Meskipun jadi yang kedua," lirih Freya. Kedua netra coklatnya kini lekat memandang ke arah Samuel.


"Kamu gila Fe! bener-bener gila."


Kali ini Samuel dengan cepat melepas seat-beltnya dan buru-buru keluar dari mobil.


Freya yang melihat itu tidak mau tinggal diam, gadis itu juga terlihat tergesa turun menghampiri Samuel.


"Please Sam.... anak ini butuh kamu. A-ku... juga butuh kamu." ucap Freya, tiba-tiba saja ia memeluk pinggang Samuel dari belakang, membuat pria itu terlonjak kaget dan buru-buru untuk melepaskan pelukan Freya.


"Please jangan seperti ini, Freya!." Sam mencoba menghindar dari dekapan Freya di punggungnya, awalnya sangat sulit buat Sam untuk terbebas dari gelayutan tubuh gadis itu, Sam takut jika ia kasar terhadap Freya akan berdampak pada kehamilannya.


"Lepasin pelukan kamu, Fe. Kamu harusnya sadar hubungan kita udah lama berakhir!" geram Samuel, kali ini ia berhasil melepas pautan kedua lengan Freya dari pinggangnya.


"Aku minta maaf, Sam."


"Aku sudah memaafkan kamu sejak dulu. Jadi, kamu gak perlu meminta maaf lagi."


Freya masih saja menangis, jarak keduanya yang tidak terlalu jauh membuat Samuel dengan jelas melihat air mata yang keluar begitu saja dari semua sudut mata indah gadis itu.


"Aku mau kita seperti dulu lagi, Sam," isak nya pelan.


Seharusnya ia tidak mengikuti pemikirannya yang salah tadi. Harusnya ia tidak ikut satu mobil dengan Freya. Ah.... damn sekarang Sam hanya bisa menyesali kebodohannya.


"Sam, tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi?" lirih Freya, kali ini ia menyandarkan punggungnya pada badan mobil, sembari menunduk dalam-dalam dan berharap satu jawaban manis dari Samuel.


"Seharusnya dulu, kamu berfikir dua kali sebelum berkhianat dari ku, Fe."


"I'm sorry, Sam...." isak Freya yang terdengar sangat parau.


"And i forgive you, Fe. But i can't loving you anymore. You know that!"


"Aku mencintai istriku, Maya. Hanya dia yang aku mau melebihi dunia ini dan seisinya," lanjut Samuel dengan ekspresi wajah serius. Sam menatap tajam ke arah Freya. Sementara isak tangis Freya yang masih menjadi responnya atas ucapan Samuel barusan.


Sam menahan diri untuk tidak memeluk gadis yang ada di hadapannya kini. Sam pikir Freya tidak perlu ia tenangkan saat ini dan jika itu ia lakukan akan semakin memperburuk keadaan.


"Sekarang kamu masih mau belanja? Atau kamu mau langsung pulang? Jujur Fe, aku lelah dan ingin segera pulang ke rumah saat ini. Maya juga pasti sudah dari tadi menunggu ku."


Anggukan kecil Freya yang menjadi responnya, membuat Samuel akhirnya bernapas lega.


Sam melangkah kembali memasuki sedan merah yang masih terparkir di bahu jalan, bersama Freya yang mengekori langkah Samuel.


Hingga beberapa menit berlalu terjadi keheningan antara Freya dan Samuel. Hanya ada alunan musik yang berasal dari USB yang melantunkan lagu-lagu bergenre romantis, menyelimuti keheningan keduanya.


...


Seorang gadis cantik yang mengenakan piyama dengan panjang di atas lutut berbahan soft silky bermotif bunga-bunga sedari tadi mondar-mandir di ruang tengah seperti orang bingung. Rumah besar itu seolah serasa hening. Jam antik berbahan kayu jati yang telah di pelitur sedari tadi berdenting dengan sangat kencang, sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Samuel belum juga pulang ke rumah.


Maya sungguh merasa khawatir, dari tadi panggilan ponselnya ke nomor Sam yang selalu saja dialihkan. Sungguh aneh, pikir Maya. Tidak biasanya Sam seperti ini, selama ini suaminya itu bahkan tidak pernah mengabaikan setiap panggilan seluler darinya.


"Non Maya makan dulu, nanti non bisa sakit kalo terlambat makan malam."


"Gak bik, May makannya nanti aja nunggu suamiku pulang."


Si bibik geleng-geleng kepala melihat sikap majikan perempuannya, sorot wajah khawatir si bibik pun terlihat dengan keterlambatan kepulangan Samuel, majikannya.


"Tuan muda pasti pulang kok, non Maya makanlah dulu. Atau bibik buatin pasta kesukaan non Maya?"


Lagi-lagi gelengan kepala Maya merespon setiap tawaran yang bibik tawarkan. Membuat wanita setengah baya itu hanya membuang napas pasrah.


Beberapa menit berlalu, Maya masih saja mondar-mandir sendirian, sesekali ia menengok ke arah jendela untuk memastikan kepulangan Samuel.


Hingga terdengar deru mobil yang baru saja memasuki halaman mansion bergaya Eropa itu, "Itu pasti Sam!" pekik Maya. Gadis itu langsung saja berlonjak girang dari sofa, ia sungguh ingin segera menyambut suaminya, memastikan jika Sam baik-baik saja.


"Suami....!!" pekik Maya begitu ia membuka pintu mansion dan melihat sosok Samuel berjalan ke arahnya, tersenyum ke arah Maya dengan wajah sedikit lelah. Sam merengkuh tubuh istrinya dan tanpa menunggu waktu lama, ia memeluk tubuh indah Maya. Menciumi wajah gadis itu hingga berakhir kecupan hangatnya di ujung bibir Maya.


"Kamu kemana aja? Aku khawatir nunggu kamu pulang," tanya Maya sembari tidak ingin melepas pelukannya dari Samuel.


"Maaf sayang, aku tadi ketiduran di kantor dan...." Sam menggantung kalimatnya.


"Dan.....??"


Sam tidak langsung menjawab, ia tersenyum sebentar lalu sekali lagi mengecup kening Maya dan mengelus lembut wajah yang selalu ia rindukan itu.


"Aku kangen kamu istriku," cium Samuel di bibir peach Maya.


"Dan daddy juga kangen sama jagoannya daddy, hello jagoan... maafin daddy ya...."


Cup....!! Sam berkali-kali mencium perut Maya yang belum mulai terlihat menyembul.


Maya yang melihat pemandangan itu, tersenyum sebentar lalu mengelus lembut rambut ikal suaminya.


"Kamu laper daddy...? Kita makan malam dulu yuk," ucap Maya manja, kali ini ia lebih menggelayut mesra di lengan Sam.


"Hhmm, aku laper banget. Kita masuk, di luar dingin."


Maya mengangguk pelan, meraih tas kerja Samuel dan melingkarkan lengannya ke pinggang Sam.


Maya menghentikan sejenak langkah kakinya, menatap sebentar wajah Samuel yang selalu saja terlihat menawan meskipun dalam keadaan lelah seperti malam ini. "Dedek bayi kangen sama daddy, pengennya di tengokin sama daddy...." lirih Maya dengan wajah bersemu semerah tomat.


Sam tersenyum, menangkap signal jika Maya sedang menginginkan cumbuannya.


Sam kembali memeluk Maya, mencium lembut bibir yang selalu membuatnya mabuk kepayang. "Kamu mau mandi bareng, honey?" bisik Samuel nakal, membuat kedua pipi Maya kembali bersemu merah.


Hingga akhirnya anggukan kecil Maya yang menjadi respon, membuat Sam mengangsurkan lengannya di bawah lutut Maya dan menggendong istrinya dengan ala bridal style, membawanya menuju ke kamar keduanya.


"Mommy loves you, daddy...." bisik Maya manja di telinga Samuel.


Sam kembali mencium bibir Maya sebagai jawabannya.


to be continue....