
Maya masih mematut diri di depan cermin, dengan Vivian yang membantu menyempurnakan make up wajah dan menyematkan gaun rancangannya yang begitu memukau melekat di tubuh indah pengantin wanita tersebut.
"Aduhh cint.... yei syantik syalala deh..... Gaun eike cucok di tubuh yei...." pekik Vivian si cowo kemayu, ia terpesona melihat aura kecantikan yang terpancar dari wajah Maya.
"Sam beruntung dapet yei, udah syantik, baik dan gak neko-neko pula.... pokoknya yei beda dari mantan-mantan my hunny bunny Samuel. Ihh.... seneng deh eike." Vivian melanjutkan, mengusapkan sekali lagi kuas blass on di kedua pipi Maya. Dan terakhir lipstick dengan warna peach yang berkilau indah di bibir Maya.
"Perfect..... " gumam Vivian puas ketika melihat hasil polesan make up di wajah Maya. Tidak terlalu tebal dan mencolok, karena memang kemauan Maya yang ingin tampil tanpa make up terlalu tebal, lagipula dengan pulasan make up natural pun tetap memperlihatkan kecantikan wajah Maya.
"You look like a goddess, girl...." Vivian bergumam sekali lagi dan mengarahkan tubuh Maya ke depan cermin untuk melihat pantulan dirinya di dalam cermin besar. Benar saja gadis itu terlihat cantik dan sangat elegan.
"Tunggu sampai Sam melihat yei...." ucap Vivian lagi. Cowo kemayu itu berjalan keluar dari Presidential Suite Room milik Maya dan Sam, Vivian ingin melihat bagaimana persiapan Sam di kamar sebelah. Karena memang mereka berdua di make over dalam ruangan berbeda.
....
Sementara itu di ruangan yang lain, Sam terlihat sangat gagah mengenakan setelan jas Armani berwana abu dengan paduan kemeja berbahan serat sutra berwana putih. Tidak banyak yang berubah dari gaya Sam, hanya saja rambut sedikit ikal kecoklatan Sam kini terlihat lebih rapi dengan pomade dan tampil dengan potongan rambut bergaya fade.
"Sam... oh you look so handsome, hunny...." pekik Vivian begitu ia memasuki kamar rias Samuel, netra oriental Vivian kini terlihat membola penuh. Puas melihat hasil kerja anak buahnya yang menangani Samuel.
"What about Maya?" tanya Sam ingin tahu.
"Your wife is very beautiful, she is a very dazzling bride." Vivian menjawab tak kalah antusias.
"Yei pasti akan sangat terpesona jika melihat deski nanti," lanjut si cowo kemayu itu.
Sam tersenyum kecil. Tentu saja Maya, istrinya akan menjadi pengantin paling mempesona malam ini, batin Sam.
Ah tidak.... setiap hari pun gadis itu terlihat selalu mempesona di mata Samuel.
"Yei sudah siap, Sam?" Vivian membuyarkan lamunan Sam. Dengan tanpa berpikir panjang Sam mengangguk.
"Okey.... sekarang yei ikut akika, temui pengantin yei." Vivian berjalan keluar dari kamar rias Sam dan diikuti Samuel yang mengekori langkah Vivian. Pria itu sudah tidak sabar ingin melihat istrinya. Baru juga terpisah kamar beberapa jam sudah membuat Sam merindukan Maya. Apakah cinta memang selalu seperti ini? bantin Sam.
Di kamar yang bersebelahan, kini Sam memasuki kamar honey moon nya bersama Maya. Netra Samuel membola tiba-tiba ketika melihat sosok Maya yang berdiri menghadap jendela kamar dengan sebuket bunga daisy putih di genggaman tangannya.
"Honey....."
Sam bergumam takjub.
"Sam...."
Maya tersenyum begitu ia menoleh ke arah Samuel, senyuman itu masih saja mengembang penuh. Hingga Sam perlahan mendekat ke arah istrinya. Menempatkan kedua lengannya melingkar di pinggang Maya. "Kamu sangat cantik, sayang," bisik Sam.
Maya tersipu, "Kamu juga sangat tampan, suamiku." Maya membalas ucapan Sam, memandangi netra kecoklatan milik Samuel.
Perlahan Sam mencondongkan wajahnya, memiringkan sedikit wajah tampannya hingga masing-masing bibir mereka saling berpaut lembut. Tanpa ada pertukaran saliva di sana, hanya sebuah ciuman kecil dari keduanya. "I love you, my love." Sam berbisik lembut, saling menyatukan kedua kening mereka untuk meredakan semua gairah cinta mereka saat ini. Sementara lengan Sam masih melingkar erat di pinggang ramping Maya.
Martha terkekeh sebentar, melihat Maya dan Sam salah tingkah dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba.
"Hehehe.... maaf-maaf bukannya bermaksud mengganggu, tapi para tamu undangan sudah menunggu sang pengantin." Cengir Martha yang merasa bersalah.
"Ya udah tunggu apose....? let's be my beloved bride, we meet the guests." Jawab Vivian semangat.
....
Maya dan Samuel berjalan bergandengan menuju ballroom hotel, bersama Martha dan juga Vivian yang mendampingi kedua pengantin di belakang.
Semua pasang mata tertuju ke arah Maya dan juga Samuel, sungguh pasangan yang sangat serasi menurut mereka. Siska bahkan masih selalu meneteskan air mata kebahagiaan melihat putri semata wayangnya yang kini telah menjelma menjadi gadis dewasa dan bersanding dengan pria yang memang sangat pantas untuknya. Kebahagiaan tak juga luntur dari wajah wanita berkaca mata itu.
Begitu pun dengan Anita dan Permana, keduanya tersenyum bahagia melihat Samuel, anaknya yang akhirnya melepas masa lajang dengan seorang gadis baik-baik, gadis yang sangat pantas mendampingi Samuel. Meskipun dulu Anita sempat melarang hubungan mereka, namun kini Anita lega karena takdir Sam memang bersama dengan Maya.
Kini mereka duduk menuju singgasana keduanya, mirip seperti putri dan pangeran dalam cerita negeri dongeng. Musik pun mengalun merdu memenuhi seluruh ruangan dengan dekorasi yang sangat elegan.
Di atas kursi singgasana sang pengantin, nampak Sam dan Maya selalu saling berpandangan lembut, menggenggam erat jemari tangan masing-masing. Sesekali Sam membawa punggung tangan Maya ke dalam ciuman kecilnya.
"I love you Mrs. Perdana." Sam berbisik dengan senyuman. Tentu saja dibalas senyuman dan tatapan mata lembut dari Maya.
....
Selepas resepsi Samuel dan juga Maya kembali menaiki lift, ke-legaan terlihat jelas di wajah keduanya. Acara resepsi berlangsung sangat meriah, dari acara foto-foto dengan keluarga dan sahabat, acara hiburan lantunan lagu-lagu bergenre apa saja, dansa sang pengantin serta tamu undangan dan hingga acara pelemparan buket bunga ke para tamu undangan yang masih berstatus single, hingga akhirnya Airin lah orang yang bisa menangkap buket bunga daisy yang Maya lempar. Wajah girang gadis manis itu begitu terlihat jelas saat menerima buket bunga dari lemparan Maya.
Sam tiba-tiba menyusurkan kedua lengan kekarnya di bawah lutut dan menahan punggung Maya sebelum ia membopong gadis itu dengan penuh kasih. Menggendongnya dengan ala bridal style, hingga memasuki kamar bulan madu mereka. "Sam...." pekik Maya kaget, namun sesaat kemudian gadis itu mulai terbiasa dengan perlakuan Samuel, ia kalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Samuel, memandang pria itu dengan penuh rasa cinta.
Sam membuka knop pintu, spontan ekspresi Maya berubah takjub begitu melihat ke dalam kamar mereka. Ribuan kelopak mawar yang tadinya sudah berantakan kini kembali tertata indah menjadi sebuah gambar hati di atas ranjang pengantin mereka.
"Martha dan staf WO yang melakukannya." Ucap Sam yang seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Maya.
Dengan lembut Sam melepaskan gendongannya, menempatkan tubuh Maya perlahan di atas ranjang pengantin mereka.
"Aku sudah siap, Sam." Maya tersipu, suaranya sedikit lirih namun terdengar jelas di telinga Samuel.
"Are you sure, honey?" Sam kini memandang wajah istrinya lekat. Maya mengangguk pelan, rona merah menyembul di kedua pipi halus Maya.
"Tapi sebelumnya aku mau mandi dulu. Gak apa-apa kan, suami?"
Sam tersenyum, mendengar Maya menyebutnya suami membuat Sam membuncah bahagia.
"Kamu mau kita mandi bareng, baby....?" tanya Sam nakal, Maya tertawa geli. Tanpa menjawab, hanya sebuah isyarat dari kedua netra Maya ke arah Samuel yang seolah menyuruh Sam mengikuti langkahnya memasuki kamar mandi mewah hotel bintang lima tersebut.
Samuel tersenyum, tak lama kemudian pria itu melepas semua pakaian yang membalut tubuh kekarnya hanya menyisakan boxer pendeknya, Sam melangkahkan kaki memasuki bathroom dengan Maya di dalamnya.....
to be continue.....