
Samuel hanya memandang sekilas ke arah kotak makanan berwarna pink itu, tanpa ada niat untuk menyentuhnya sama sekali.
Tok.... tok... tok...!!
Mendengar suara pintu ruangannya yang diketuk dari luar, membuat Samuel menghentikan sejenak perhatiannya dari pekerjaan.
"Masuk," ucapnya. Lalu sedetik kemudian muncul sosok Bayu yang menyembulkan kepalanya di ambang pintu yang sedikit terbuka.
"Gue gak ganggu lo kan?"
Samuel menggeleng, kemudian kembali meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda tadi. Jemari Sam dengan sangat luwes menari di atas keyboard laptop.
"Ada apa?" tanya Samuel yang masih menatap layar laptopnya sembari mengetik beberapa angka-angka di sana.
"Ada dokumen yang harus lo tanda tangani," ujar Bayu seraya meletakkan beberapa map berwarna biru tua.
"Dokumen soal kontrak kerjasama dengan perusahaan produsen rokok terbesar di Indonesia." Ucap Bayu menambahkan.
"Taruh situ dulu, nanti gue tanda tangani," jawab Samuel singkat.
"Oh ya Sam, tadi ada sekretaris lo dari perusahaan property kesini, ia nitip dokumen buat lo tanda tangani juga," ucap Bayu lagi.
"Mitha, maksud lo?"
"Iya. Katanya dia masih ada pekerjaan di kantor property dan dia bilang kelamaan kalau nunggu lo selesai meeting sama klien tadi." Bayu melanjutkan ucapannya.
"Ya udah, lo taruh aja sekalian di atas meja."
Kali ini Samuel melepas kaca mata kerjanya dan memandang ke arah Bayu.
Bayu kembali meletakkan satu map berwarna coklat ke meja kerja Samuel.
"Lo keliatan lelah, Sam."
Sam menarik napas panjang lalu membuangnya kasar, ia usap wajah lelahnya sembari memijit leher dan bahunya.
"Lo bener, urusan kerjaan dan juga Samudra membuat gue kurang istirahat," jawab Samuel dengan suara berat.
"Oh ya gimana kabar Samudra, anak dari mendiang mantan istri lo?"
"Alhamdulillah dia udah sadar dari komanya. Tapi tetap harus dirawat di rumah sakit beberapa hari lagi untuk pemeriksaan lanjutan," lanjut Samuel.
"Syukurlah, gue ikut seneng dengernya. Gue yakin kalian akan jadi orang tua asuh yang baik buat Samudra."
Samuel tersenyum tipis mendengar ucapan Bayu. "Thanks, Bay."
Bayu kini sedikit menarik alisnya ketika melihat kotak makanan berwarna pink yang tergeletak begitu saja di sudut meja Samuel.
"Itu apaan?" tanyanya heran.
"Oh-makanan dari Freya."
"Freya?" tanya Bayu heran.
"Hm, kalo lo mau ambil aja buat lo," jawab Samuel enteng.
Bayu tersenyum kecil sembari menggeleng heran. "Gue heran kenapa lo masih aja membiarkan cewe itu bekerja di perusahaan ini," tanya Bayu.
"Karena Maya yang memintaku untuk mempekerjakan dia di perusahaan ini."
Bayu kali ini memandang fokus ke arah Samuel. "Bukan karena ada hal lain kan?" tanya Bayu menyelidik.
"Apa maksud lo, Bay?"
"Sam, gue tau sifat lo yang gak pernah tega sama orang. Khususnya sama makhluk lemah yang bernama cewe," jawab Bayu to the point.
"Apa lagi Freya baru aja melahirkan tanpa suami dan kamu juga belum punya keturunan." Bayu menjeda sebentar kalimatnya.
"Terus, maksud lo?"
"Ya-- lo--gak ada kan, maksud atau niatan untuk-- yah--- lo tau kan maksud gue apa--" Bayu menggantung ucapannya.
"Sialan lo! Ya gak lah, gue gak segila itu Bay!" dengus Samuel kesal. Ia lempar pulpen yang ada di dekatnya ke arah Bayu. Membuat pria itu tertawa cekikikan.
"Hahahaha!! syukurlah, gue kira lo masih belum move on dari Freya."
Sementara Bayu hanya menanggapinya dengan candaan dan tawa.
"Oke-oke bos bucin, sorry..."
"Ah parah lo, punya pikiran kampret ke gue." Samuel masih saja berceloteh kesal namun dengan nada candaan.
"Hahaha!!!" tawa Bayu.
"Anjrit sana lo keluar, gue masih banyak kerjaan, sialan...." kembali Sam melempar sesuatu ke arah Bayu dan hanya dibalas oleh tawa serta anggukan kepala pria itu.
"Oke-oke gue keluar. But by the way.... serius lo gak mau makanan ini, hah? kayaknya enak lho."
"Ogah, makan lo aja!" Samuel sedikit menyeringai kecil sembari menggeleng-gelengkan kepala ke arah Bayu.
"Serius ni buat gue?"
"Serius, udah sana lo keluar! gue enek liat muka lo, kampret!"
"Hahaha!! Iya-iya gue keluar!" Bayu kini meraih kotak makanan dari atas meja Samuel dan berjalan meninggalkan sahabatnya.
"Jangan lupa dokumen itu lo tanda tangani." Ucap Bayu lagi sebelum ia benar-benar keluar dari ruang kerja Samuel.
"Hm...!!" jawab Samuel singkat.
Seringai kecil tertarik begitu saja dari sudut bibir Samuel. Memang harusnya sejak dulu sebelum ia bertemu Maya, Sam harus move on dari Freya.
Ia sadar jika gadis seperti Freya, sangat tidak pantas untuk mati-matian ia cintai.
....
Bayu berjalan kembali ke ruangannya sambil menenteng kotak bekal makanan yang semula Freya berikan buat Samuel. Lumayan kan makan siang gratis, pikir Bayu.
"Lho kak Bayu, kakak bawa apa?" tanya Airin saat berpapasan dengannya.
Sementara dari arah lain, Freya menarik alisnya tinggi-tinggi ketika melihat kotak makan siang yang tadinya ia berikan untuk Samuel dan tiba-tiba saja bisa ada pada Bayu.
"Bay, itu kan kotak makanan untuk Sam?" tanya Freya tiba-tiba, begitu ia mendekat ke arah Bayu dan Airin.
Airin mengerucut kesal saat tahu jika Freya lah pemilik kotak makan siang yang kini berpindah tangan ke tangan Bayu.
"Jadi ini kotak makan siang lo?" tanya Airin kesal.
"Iya, emang kenapa? Lagian kenapa bisa ada sama kamu sih Bay?!" sunggut Freya kesal.
"Kak Bayu...! coba jelasin ke aku kenapa kotak makanan nenek lampir ini bisa ada sama kakak, hah?!" tanya Airin kesal. Ia hentakkan kedua kakinya sembari melipat kedua tangannya di atas dada dengan bibir yang mengerucut sebal ke arah Bayu.
"Airin sayang, kamu jangan salah paham dulu dong. Ini aku dikasih Samuel kok. Kan sayang kalo aku tolak, mubazir tau?" ucap Bayu tanpa dosa.
"What?! Sam yang memberikannya buat lo?!" protes Freya yang juga berekspresi sangat kesal.
"Iya." Bayu menjawab singkat.
Airin menyeringai kecil, dan memandang remeh ke arah Freya. "Heh nenek lampir! Lo jadi cewe jangan kegatelan gitu bisa gak? Bos Samuel itu udah punya istri dan istrinya itu sahabat gue!" cibir Airin kesal.
"Lagian ya, Lo kan udah ditolak berkali-kali sama bapak Samuel kenapa masih aja kegatelan goda-goda si bos?" cemooh Airin lagi. Gadis itu memang sudah sangat jengah dengan kelakuan Freya dan kali ini seolah kekesalan Airin sudah terlalu memuncak ketika Bayu menenteng kotak makanan dari Freya.
"Kamu juga kak Bay, mau-mauan nerima kotak makanan itu!" gerutu Airin ke Bayu.
"Lho kok kakak yang malah disalahin sih?" Bayu menggaruk tengkuknya heran.
"Au ah....!" Airin kembali mendengus kesal, lalu berjalan menjauhi kekasihnya.
Bayu hanya mematung tak mengerti kenapa malah dia yang kena getahnya. "Ini gara-gara lo, nih gue balikin makanan lo." Ucap Bayu, kotak makanan itu lalu Bayu letakkan ke tangan Freya dan berusaha mengejar Airin.
"Airin tunggu....!! Iya-iya kakak salah, sorry....." teriak Bayu sembari sedikit berlari mengejar tunangannya.
"Lo....!!" ketus Freya.
"Ish, sialan!" gerutu Freya lagi. Dia merasa seperti terkena mental oleh ucapan Airin barusan. Freya sungguh menyesali perbuatannya dulu, disaat Sam tergila-gila padanya, ia justru berulah demi sebuah fantasi liarnya.
to be continue....