
Dengan langkah malas nya Samuel memasuki kamar hotel, kamar yang seharusnya menjadi Suite room selama pernikahan sekaligus bulan madu Sam dan Martha kini nampak dingin, jauh dari kata hangat. Sam mendengus pelan, kembali menyeka kasar rambut ikalnya yang terlihat sedikit berantakan. Yang ia butuhkan saat ini hanya mandi, rupanya niat Sam harus ia tahan sebentar. Mendengar suara gemericik air dari dalam bathroom, pastilah Martha saat ini ada di dalam. Entah apa yang dilakukan gadis itu di dalam, Sam sungguh tidak mau tahu. Sekarang yang ia lakukan hanya duduk di sebuah sofa hangat dan kembali sibuk dengan layar ponselnya, memandangi semua gambar Maya.
Ceklek....
Martha membuka pelan pintu kamar mandi, merotasikan kedua netranya. Tersenyum sebentar saat melihat Samuel. "Akhirnya kamu ke kamar juga sayang..." ucap Martha lembut, mencoba membuat mood laki-laki itu membaik.
"Aku hanya ingin mandi sebentar." jawab Sam singkat, ia bangkit dari duduknya tanpa melihat kearah Martha sedikitpun. Sam melangkah, tiba-tiba Martha kini menahan tubuh Samuel. Memeluk pinggang Sam dari depan.
Hanya berbalut handuk Martha masih memeluk Sam erat. "Lepasin gue."
"Gak mau Sam, kita sudah sah jadi suami istri sekarang." ucap Martha sembari mendongak sedikit menatap manik mata Samuel.
"Gue gak bisa jadi suami yang baik buat lo Tha, maafin gue."
"Lo udah tau kan perjanjian kita? setelah anak itu lahir, kita pisah. Gue akan tanggung jawab semua biaya lo dan anak itu, jadi lo gak perlu khawatir."
Wajah Sam masih terlihat sama seperti biasa, dingin tanpa senyum.
"Gue gak butuh uang lo Sam, yang gue butuh in elo Sam." Kini Martha mengalungkan kedua lengannya di leher Sam, berjinjit dan mencoba meraih bibir tebal Samuel.
Lagi-lagi Sam menghindar, mencengkeram kuat lengan Martha dan menurunkan dari tubuhnya.
"Kenapa sih lo Sam? apa kurang gue? Apa lebihnya gadis kampungan lo itu hah?!" pekik Martha kasar.
"Dia gak kampungan Tha, justru lo yang kampungan."
"Kenapa sih lo gak pernah suka sama gue? sementara gue suka sama lo Sam, cinta sama lo sejak dulu."
Martha menurunkan volume suaranya, kembali meraih tubuh Sam dan kali ini memeluknya dari belakang. "Lo adalah cinta pertama gue Sam," lirihnya.
"Maafin gue Tha."
Sam melepaskan pelukan Martha, melanjutkan berjalan menuju ke arah bathroom seolah tanpa mempedulikan gadis itu. "Samuel... jangan pergi gitu aja!!"
Teriak Martha kesal, melempar asal sebuah hiasan keramik di atas nakas hingga mengeluarkan suara benda pecah yang terdengar nyaring.
"Aaarrggghhh ..... !!! damned you Sam...!!!" erang gadis itu kesal.
___
Dari dalam bathroom Sam terdiam, merasakan hangatnya air yang keluar dari shower.
Ia lama berdiam diri di bawah shower, mengguyur rambut ikal miliknya. Hanya mematung, tubuh kekar Sam seolah tanpa daya menerima hujaman air hangat yang tanpa henti.
Ini bukan pernikahan impiannya, bukan kemauannya. Tanpa cinta, tanpa gadis yang telah mengubah semua sifat brengsek Sam.
Hanya pernikahan karena keharusan dan tanggung jawab atas sebuah kesalahan.
"Aaarrggghhh...!!! stupid you Samuel, ****...!!" erang Sam. Ia daratkan tinju nya ke dinding kamar mandi, sedetik kemudian tangisnya meledak bercampur dengan hangat air yang mengucur deras dari shower.
***
"Sam... kita jalan-jalan yuk." rajuk Martha, gadis itu kini menggelayut manja di pundak Sam, merangkulnya dan mendekatkan bibirnya ke tengkuk Sam. "Ayolah sayang... aku bosan di kamar terus, lagian kita ada di Praha sayang... gak lucu kan kalo cuma berdiam diri di kamar hotel." rengek gadis itu lagi.
Samuel hanya terdiam tanpa ekspresi, masih sibuk berkutat pada layar laptop nya, kacamata baca milik Sam masih erat berpegang pada hidung mancung miliknya.
"Lo kan bisa jalan-jalan sendiri sama mama gue atau sama mama lo?" jawab Sam, ia masih sibuk dengan layar tipis laptop dan menggerakkan seluruh jemarinya di atas keyboard.
"Aku pengennya jalan sama kamu sayang." Martha masih bergelayut manja, mengusap kan bibirnya di pipi Samuel. Masih tidak mendapat tanggapan dari Sam, laki-laki itu masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
"Lo udah gede Tha, gak usah manja."
Martha mendengus kesal, menjauh dari tubuh Sam. "Oke gue akan pergi sendiri, jangan nyesel kalo ada cowo asing yang deketin gue!!" ancam Martha.
Dengan langkah kesal Martha berjalan menyusuri koridor lantai hotel. Mencoba mencari sebuah nomor kamar, nomor empat tujuh.
Seringai kecil kini tertarik dari sudut bibirnya, membuka knop pintu perlahan. "Ah... om Harris masih aja punya kebiasaan gak ngunci pintu kamar dari dalam." batin Martha.
Martha melangkahkan kaki jenjangnya, mengitari semua sudut kamar. Hanya ada keheningan disana, Martha menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Berbaring dan memejamkan kedua netranya, berusaha untuk menghilangkan rasa stres yang menderanya. Harusnya gue bahagia di masa honeymoon ini, pikir Martha. dengusan kecil kini terdengar dari bibir merah Martha.
"Hello baby... do you miss me?"
Sebuah sentuhan kini mendadak memenuhi semua sudut tubuh gadis itu. Ciuman lembut namun penuh gairah dengan bertubi-tubi menghujam tubuhnya.
"Aahh... om Harris..."
"Om dari mana aja?" erang Martha, mencoba menahan rasa geli dari belaian tangan dan bibir Harris.
Harris masih mencumbu gadis itu, mendekatkan tubuhnya. Menciumi leher hingga tubuhnya semakin beringsut turun menuju dua bongkahan kembar Martha.
"Aku tadi habis mandi sayang, kenapa baru sekarang kamu ke kamar ku hah? tidakkah kamu tahu kalo aku kangen kamu hhhmmm....?" bisik Harris kini ia masih sibuk menguasai tubuh Martha.
"Aahh... pelan-pelan om."
"Kenapa baby? kamu udah gak tahan ya?" Harris terkekeh sebentar, melihat wajah Martha memerah membuat laki-laki itu semakin bersemangat melanjutkan aksi nakalnya.
Harris melepas gaun yang Martha kenakan, hanya menyisakan bra dan cd yang membungkus dua bagian tubuh intim gadis itu.
Semakin mengeratkan pautan bibirnya, Harris kini bergerak leluasa menikmati tiap jengkal tubuh indah Martha. Memberikan sedikit gigitan kecil di bibir Martha hingga tubuhnya beringsut semakin kebawah.
"Jika suami mu tidak bisa memuaskan kamu, tau kan kemana kamu harus pergi baby...?" ucap Harris di sela-sela pergerakan tubuhnya. Semakin membenamkan kepalanya di dada Martha, kembali Harris membuat sebuah hickey disana.
"Kenapa om Harris gak nikah aja dan stop gangguin aku?" tanya Martha, gadis itu masih menerima gerakan tubuh Harris yang menguasai dirinya. Mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang laki-laki itu.
"Aku maunya nikah sama kamu, berapa kali aku bilang itu hhhmmm....?"
"Menikahlah dengan ku sayang, aku akan memenuhi semua kebutuhan kamu. I promise you."
Harris menggenggam erat kedua punggung tangan Martha, memposisikan sejajar dengan bahu, Harris semakin memautkan bibirnya erat.
"Kamu cinta kan sama aku sayang? Jawab Tha, i know that you love me hunny..."
"I don't know...."
"Apa yang kamu gak tau sayang? bahasa tubuh kamu gak mungkin bohong Tha."
Harris menghentikan sebentar keliaran nya, turun dari atas tubuh Martha dan kini memposisikan tubuhnya berbaring di samping gadis itu.
Merangkulkan lengan dan memeluk tubuh Martha. Kini mereka tidur dengan saling berpeluk di bawah selimut tebal.
"Oke, umur ku memang jauh di atas kamu, tapi aku bisa memberikan apa yang kamu butuhkan sayang. I love you hunny, really love you." bisik Harris.
Martha terdiam, mengeratkan lagi pelukan Harris, menenggelamkan kepalanya di atas dada bidang Harris.
"Kalau pun kamu hamil nantinya, itu anak ku sayang, bukan milik suami kamu."
"Aku gak mau dia memiliki kamu dan anakku Tha."
Lagi-lagi Harris mencium bibir Martha, membelai lembut pipi putih gadis itu.
"Kamu adalah gadis kecil ku sayang, aku akan selalu ada buat kamu. Bukan suami kamu." bisik Harris lagi.
Martha semakin mempererat pelukannya, kini kepalanya membenam penuh di dada bidang Harris. Entah apa kini yang ia rasa, bertahan pada pernikahan dingin yang baru saja terlaksana. Pernikahan impiannya sejak kecil atau memilih Harris? laki-laki yang berusia terpaut jauh dengan nya.
to be continue...