
"Papa harap kamu bisa mengurusi bisnis keluarga kita yang ada di Milan, Sam."
Samuel terdiam di ujung ruangan, menduduki sebuah kursi empuk dengan bantalan tangan di kedua sisinya.
"Harus ya, Pa? Apa gak bisa perusahaan itu dihandel oleh orang kepercayaan papa di Jakarta?"
Permana menggeleng pelan, sembari berjalan mendekat ke arah Sam dengan sebatang rokok di sela jemari pria itu.
"Papa hanya percaya kamu, anak papa sendiri."
"Sam sih mau aja, tapi Maya? Sam gak mau ninggalin dia sendirian di Jakarta," jawab Sam ragu.
"Kamu hanya perlu waktu sebulan di sana, Sam. Setelah urusan di sana selesai kamu bisa pulang ke Jakarta."
Lagi-lagi Sam menghela napas. Sebulan bukan waktu yang singkat, batin Samuel. Lagipula sejam saja rasanya ia sangat susah berpisah dengan Maya apalagi ini sebulan? No.... bisa-bisa dia gila karenanya.
"Kenapa kamu gak bawa Maya aja sekalian? Bukannya dia udah punya paspor? Dan kalian bisa langsung berangkat tanpa harus mengurus dokumen lagi," ujar Anita menimpali pembicaraan suami dan juga anak semata wayangnya.
"Itung-itung ini bulan madu kalian kedua, dan penghilang stres setelah kecelakaan yang dialami Maya kemarin." Anita melanjutkan lagi usulnya barusan.
"Iya, nak. Ajak lah Maya sekalian, dan lagi dia belum pernah ke Itali bukan?" ucap Permana kali ini.
"Sam gak tau dia mau atau gak, akhir-akhir ini Maya dekat sekali dengan Samudra. Sam gak tau apa dia bisa meninggalkan anak itu sementara."
Anita mengerutkan dahinya, "Samudra anak Martha dan dokter Harris?" tanya Anita.
Samuel mengangguk pelan, kembali menghembuskan napas kasar dan berdiri dari duduknya.
"Nanti deh, Sam coba tanya ke Maya," ucap Samuel kini sembari berjalan mendekat ke arah orangtua nya.
"Sam pamit dulu, Ma." Samuel mengecup kedua pipi Anita dan kemudian memeluk hangat Permana sang ayah.
"Nanti Sam kabari lagi soal ini, Pa." Kata Samuel sembari menepuk pundak sang ayah.
"Baiklah, Papa harap kamu bisa mengatasi masalah bisnis Papa di sana."
"Sam usahakan," angguk Samuel dan kemudian diikuti langkah kakinya meninggalkan mansion mewah orangtua nya.
Sam memacu sedan hitamnya menjauh dari halaman luas mansion yang juga bergaya eropa.
Anita dan Permana saling berpandang dan berpeluk, setelah mereka lihat Samuel telah mulai menjauh dari halaman luas rumah mereka, keduanya lantas kembali berjalan memasuki pintu kokoh lalu menutupnya.
....
"Selamat malam tuan muda," sapa bibik begitu majikannya memasuki pintu utama rumahnya. Samuel mengangguk sembari melonggarkan dasi yang tadinya melingkar rapi dalam lipatan kerah kemeja kerjanya.
"Non Maya dimana bik?" tanya Samuel setelah mengulurkan tas kerjanya ke arah bibik.
"Aku disini sayang...." seru Maya sembari menjulurkan sedikit kepalanya dari balik pintu pantry.
"Kamu lagi ngapain?" kecup Sam di kening Maya.
Gadis yang masih memakai celana pendek dan Tshirt kuning polos plus ber-celemek motif kotak-kotak itu memejamkan mata ketika menerima ciuman Samuel di keningnya.
"Bikin muffin blueberry..." ucap Maya dengan salah satu tangan yang masih memegang spatula pengaduk kue.
"Tumben...."
"Hm, aku tiba-tiba pengen bikin muffin blueberry buat kamu," jawabnya.
Samuel yang masih mengenakan setelan kerjanya kini terlihat mendekat ke arah Maya, melihat adonan muffin yang istrinya buat. "Harum.... pasti enak," ucap Samuel, dengan salah satu telunjuknya mencolek adonan yang setengah jadi, lalu memasukkannya ke mulut pria itu.
"Sam ih.... jorok tau," kerucut Maya lucu.
"Aku kan nyobain adonan kue buatan istriku."
"Iya tapi cuci tangan dulu, suami..." omel Maya dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Iya-iya maaf..... Aku mandi sekalian ya," ucap Samuel. Kecupan kecil kembali ia daratkan di kening Maya, setelahnya dua kecupan kecil pun mendarat di kedua pipi chubby gadis itu.
"Suami..... jahil banget sih...!" seru Maya dengan kerucutan kecil di bibirnya.
Sementara si bibik dan mbak Pur hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah dua majikan mudanya, kedua maid itu senang melihat kembali kehangatan dalam hubungan Maya dan Samuel.
...
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian yang lebih santai, Sam melangkah kembali ke sisi pantry. Hanya sekedar mengecek apakah Maya sudah selesai dalam membuat muffin favoritnya atau belum.
"Gimana? Udah belum muffin buat aku, hm...?" tanya Sam yang mendekat ke arah Maya, ia dekap tubuh istrinya dengan kedua lengan melingkar di pinggang ramping gadis itu.
"Bentar lagi," jawabnya tanpa menoleh ke arah Samuel. Terlihat Maya lebih berkonsentrasi dengan adonan muffin yang ia tuang kedalam cup cake bermotif bunga-bunga dan buah-buahan.
"Tunggu yang di dalam oven sekitar tiga menit lagi ya sayang," kecup Maya ke pipi Samuel. Aroma wangi parfum yang bercampur sabun mandi sangat menempel sempurna di seluruh badan Samuel, dan Maya sangat menyukai aroma tersebut.
Sam mengangguk pelan lalu duduk di salah satu kursi kayu yang tanpa sandaran, mengamati setiap gerak gerik Maya.
Gadis itu bahkan dengan telaten menuang adonan muffin kedalam cup cake yang berukuran lumayan mungil.
Lalu pikiran Sam kembali kepada masalah perusahaan Permana, sang ayah. Ia terlihat bingung hendak memulai pembicaraan itu dari mana.
"Kamu tau gak sayang? Samudra juga suka lho muffin blueberry," ucap Maya dengan mata berbinar.
"Oh ya?"
"Hm." Maya mengangguk tersenyum.
"Aneh ya?"
"Apanya yang aneh?" dahi Sam berkerut tak mengerti.
"Kalian berdua memiliki selera yang sama."
Kembali Samuel tersenyum lalu mendekat ke arah Maya. Memeluk pinggang istrinya dengan sangat erat dari belakang dan menciumi pipinya lembut.
"Itu karena masakan kamu enak," bisik Samuel yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi sifat kalian juga sama."
Samuel sedikit menarik diri dari tubuh Maya, lalu memandang bingung ke arah istrinya.
"Maksudnya?"
"Iya sayang.... sifat kalian itu mirip. Sama-sama keras kepala, sok bossy dan kalau sudah ngambek bisa ngamuk apa aja di banting in."
"Emang aku seperti itu?" tanya Sam yang kini kembali mengeratkan pelukan lengannya di pinggang Maya.
"Hm," angguk Maya cepat.
"Dulu...." lanjutnya lagi dengan kekehan kecilnya.
"Itu kan dulu, sekarang udah gak seperti itu kan?" goda Samuel. ciuman kecil kembali mendarat di kedua pipi chubby istrinya.
Maya menggeliat geli, tawa kecilnya terdengar ketika Samuel menghujamkan serbuan gelitikan dan ciuman di pipi hingga lehernya.
Ting...
Bunyi oven toaster berdenting membuat Sam menjeda sejenak ciuman di pipi Maya. "Nah udah jadi," ujar Maya girang. Ia pun langsung saja berjalan cepat menuju alat pemanggang kue dengan sarung tangan khusus untuk mengambil muffin-muffin itu dari dalam oven.
Netra Maya mengerjap sembari hidungnya mengendus dalam-dalam aroma manis yang keluar dari muffin blueberry yang baru saja matang itu.
Maya meletakkan loyang berisi beberapa jumlah muffin di atas meja panjang pantry.
"Hhmm.... aromanya manis seperti kamu sayang," ucap Sam mendekati.
"Iya dong, istri kamu ini kan emang manis...." Maya mencebik lucu.
"Aku cobain ya...."
Samuel mencomot salah satu muffin yang baru saja keluar dari oven. "Awas...! masih panas sayang...." pekik Maya spontan, begitu dilihatnya Samuel mencomot satu muffin dengan tangan telanjang.
Maya langsung saja meraih tangan Sam dan meniup-niup jemari Samuel yang kepanasan. "Tuh kan.... rakus sih, baru aja matang langsung diambil," kerucut Maya khawatir.
Sam tersenyum memandang istrinya yang begitu khawatir dengannya.
"Gak apa-apa kok, honey."
"Gak apa-apa gimana, jari kamu merah tuh...." Maya menjeda kalimatnya lalu berjalan menuju arah kotak obat yang tergantung di dinding pantry paling belakang.
Maya mengoles jemari Sam dengan krim pereda luka bakar lalu meniup-niupnya lagi.
"Sudah, tangan aku udah gak sakit kok."
Maya masih saja bergeming, bibirnya masih mengerucut meniup-niup jemari Sam yang terluka.
"Sayang, aku laper dan pengen nyobain muffin buatan kamu." Samuel setengah berbisik sembari tangan kirinya yang tidak terluka menyeka rambut Maya yang jatuh menjutai menutup sebagian wajahnya.
"Sebentar aku ambilkan."
Sam mengangguk pelan.
...
"Enak?" tanya Maya dengan ekspresi wajah berharap.
"Enak pake banget...." goda Samuel.
"Ish, beneran..... enak atau enggak?"
"Enak...." jawab Samuel sambil sibuk mengunyah muffin blueberry buatan Maya.
"Serius?"
"Seribu rius...."
"Samuel..... becanda terus ih..."
Samuel tergelak melihat sikap manja istrinya. "Iya-iya enak... serius...." senyum Sam.
Maya pun terlihat membuang napas lega, lalu gilirannya mengambil satu buah muffin dari dalam piring bundar.
"May...."
"Hm?"
"Lusa aku harus terbang ke Milan."
Sontak Maya terkejut, ia berhenti mengunyah dengan tiba-tiba. Memandang lekat wajah Samuel dengan perasaan bingung.
"Kamu ikut aku ya....." ucap Sam lagi. Kali ini membuat netra Maya mengerjap.
"Kamu mau kan? Aku gak bisa ninggalin kamu sendiri di Jakarta tapi aku juga harus terbang ke Milan demi perusahaan papa," ucap Sam lagi kali ini dengan lebih berhati-hati.
"Gimana? Kamu mau kan?"
"Terus Samudra...." lirih Maya.
"Am kan sudah ada Martha ibunya," ucap Samuel.
"Anggap aja ini honeymoon kita kedua," sambung Sam lagi.
Dengan sedikit bimbang Maya berdiri dari duduknya.
"Sayang.... Samudra baik-baik aja disini sama keluarganya."
"Iya tapi kan kamu tau sendiri, Martha lagi hamil dan bentar lagi melahirkan trus Harris sibuk dengan kerjaannya."
"Kan ada babysitter nya Samudra, sayang."
"Ntar kalo Babysitter si Am teledor lagi seperti kemarin gimana?" tanya Maya sedikit jutek.
"Sayang....."
"Sam......"
Samuel menghela napas kasar, melihat sikap posesif Maya ke Samudra membuatnya sedikit khawatir. Bagaimana pun juga anak itu memiliki orang tua kandung dan Sam takut jika Maya kecewa nantinya.
"Kita ajak Samudra gimana?" usul Maya sembari tersenyum kecil.
Beberapa saat Samuel terdiam.
"Sam.... gimana?" tanya Maya lagi dengan sebelah alis terangkat.
"Ya udah kamu minta izin dulu ke Martha."
"Yesss....." pekik Maya girang.
"Tapi kalo gak dibolehin Martha kamu jangan kecewa ya."
Maya mengangguk perlahan.
"Dan kamu tetap ikut aku meski tanpa Samudra," todong Samuel lagi.
"Gimana?" tanya Sam ketika Maya masih terdiam.
"Oke...." angguk gadis itu akhirnya.
"Nah gitu dong. Aku gak bisa tanpa kamu di Milan, honey...." ucap Samuel sembari meraih tubuh Maya dan membawanya ke pelukannya.
to be continue.....