MySam

MySam
Terbongkar?



Maya melemparkan dirinya ke atas kursi kerja nyaman dan menyandarkan punggung di sana sambil merilekskan diri. Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu merasa kakinya gemetar. Dia mengingat kembali, apa yang dilakukan Sam barusan membuatnya sesak.


Lagi-lagi Sam berulah, bersikap sok arogan dan selalu memaksa kehendak terhadapnya, yang membuat Maya lebih kesal, Sam kini tega berbuat sesuka hati padanya. Mencium paksa dirinya, bahkan cengkeraman kuat tangan Sam di lengannya masih membekas jelas.


Sambil menopang kepala dengan dua tangan di atas meja, Maya memijat keningnya yang terasa pening. Harusnya ia menurut saja apa ucapan Sam, menjauhi El dan tidak menerima mobil dari Elano.


Tidak!


Maya menggelengkan kepala. Dia tidak suka tatapan Samuel yang terkesan merendahkannya, mengira ia bisa di beli dengan uang atau barang-barang mewah lainnya.


Ucapan Sam barusan sudah membuatnya merasa sangat direndahkan.


Tubuh Maya meremang, tidak di pungkiri jika semua tentang Sam masih terpatri sempurna dalam hati Maya. Mati-matian ia menahan hasratnya agar tidak terlihat lemah dan mudah begitu saja kembali luluh dalam pelukan Sam.


Status pernikahan Samuel yang membuat Maya selalu menahan kerinduannya. Iya, sebenarnya Maya juga sangat merindukan pria itu. Bukan karena apa yang dimiliki Sam, namun ia sungguh merindukan saat-saat dia bersama pria bertubuh tegap itu.


Jantung Maya berdetak kencang, dia tidak yakin bisa bertahan bila mereka berada di sebuah ruangan hanya berdua dengan Sam.


Bunyi ketukan pintu membuat gadis itu terlonjak.


"Siapa?" tanya Maya paranoid, sambil merapikan diri.


"Aku." Sebuah suara hangat membuat senyum Maya mengembang, Ah.... tidak boleh May, dia baru saja merendahkan lo. batin Maya, mengingat kembali perlakuan Samuel di lift barusan.


"Boleh aku masuk May?" Izin Sam, belum berani langsung memasuki ruang kerja Maya.


Masih mencoba berdamai dengan Maya, karena sungguh Sam sangatlah menyesali semua perkataannya saat mereka berada di dalam satu lift.


Belum ada jawaban dari Maya, kembali terdengar hembusan napas berat dari bibir Maya. Akhirnya gadis itu berdiri, merapikan sebentar pakaian kerjanya lalu berjalan menuju ujung pintu.


Membuka knop pintu perlahan, berdiri di sisi pintu dengan kedua lengan yang ia silangkan di atas pinggang. "Ada apa lagi Sam?" Maya berekspresi dingin, menatap Samuel tajam.


"Aku minta maaf May." lirih Sam, iris kecoklatan itu memandang Maya lembut, terlihat tulus.


"Aku cemburu sama dia, melihat senyum kamu untuk dia. Aku sakit melihat semua itu," lanjut Sam.


Jika kamu tau kalau aku juga sakit dengan keadaan ini Sam, batin Maya.


"May... please forgive me, would you?" ulang Sam.


"Ucapan kamu tadi sudah keterlaluan Sam." ketus Maya, masih bersikap dingin dengan lipatan tangan di pinggang rampingnya.


"Maaf dear."


Berusaha lebih mendekat lagi dengan Maya. Belum lagi Maya menanggapi permohonan Sam, sosok El kini sudah berada di ambang pintu ruang kerja Maya.


"Apa maksudnya dengan chat kamu tadi May?" tanya El, mengabaikan kehadiran Sam disana.


"Aku gak bisa menerima mobil itu El, maaf."


"Gara-gara apa kamu tiba-tiba menolaknya?" masih ingin jawaban lebih jelas dari Maya, kini El menarik lengan Maya, mencoba lebih dekat lagi dengan gadis itu.


Lagi-lagi Sam hanya memandang kesal.


"Apa karena dia melarang kamu May?" tanya El, dengan telunjuk yang mengarah ke muka Sam.


"Sam, gue tau lo dan Maya pernah dekat dulu. Tapi itu dulu Sam, sekarang lo udah punya istri dan Maya bebas untuk dekat dengan siapa aja."


"Udah deh El, please kalian keluar dari sini. Bukankah kalian juga punya kerjaan penting selain berdebat kekanakan kayak gini?" Ucap Maya berusaha melerai pertikaian Sam dan El.


"Please...." Maya memohon kembali, membuat baik El ataupun Sam berjalan menjauhi ruangan Maya.


Menutup pintu ruang kerjanya, membuang napas perlahan lalu kembali duduk di kursi kerjanya. Maya menggeleng pelan, tidak ingin berlama-lama terhanyut dalam permasalahan dia dengan Sam dan juga Elano, Maya kembali memeriksa data-data pemasaran yang ada di komputer miliknya. Kembali berkutat dengan pekerjaan kantor Maya.


___


Brengsek!!! jeritnya tanpa berusaha ditahan. Untung saja ruangan itu berlapis kedap suara yang membuat teriakannya teredam. Mungkin hanya sekretaris pribadinya yang mendengar suara teriakan Sam, tapi persetan! Sam butuh mengeluarkan semua amarahnya.


Dipukulnya meja dari kayu ek itu berulang kali, hingga barang-barang di atasnya jatuh berserakan. Sam membutuhkan heavy bag-nya saat ini tapi tidak mungkin juga dia kembali ke rumah sekarang.


Kenapa El selalu saja menganggu waktu gue sama Maya. Aaarrggghhh.... sialan!!! geram Sam.


Ada sakit yang tidak bisa dipahami ketika melihat senyuman dan tawa Maya ditujukan untuk El.


Dia ingin senyum lebar dan ketulusan itu menjadi miliknya hanya milik Sam. Bukan hanya senyum tapi seluruh keberadaan gadis itu harus jatuh ke dalam pelukannya.


Saat ketika Maya mendiamkan dirinya dan berusaha menjauhi dia membuat Sam semakin meradang. Setidaknya Sam menginginkan Maya bersikap seperti dulu padanya hingga ia menyelesaikan permasalahan dia dengan Martha.


Sam harus menyelesaikan masalahnya, mungkin berawal dengan menyelesaikan permasalahan dia dengan Martha terlebih dulu.


Dering telepon berbunyi, membuat Sam terpaksa menghentikan amarahnya. Sekali lagi mengambil napas panjang, dia mengangkat telepon dengan nada suara terkendali.


"Ada apa?"


"Sam, gue butuh lo sekarang di kantor." Suara datar Bayu yang tidak terlalu mengambil pusing kekalutan Sam terdengar.


"Oke, gue segera kesana." jawab Sam yang kini berusaha mengendalikan amarahnya.


Meraih kunci mobil di atas meja kerja dan mengenakan kembali blezer abu nya, kini Sam melangkah keluar dari ruang kerja di perusahaan property yang kini juga menjadi miliknya.


Melewati ruang kerja Maya, berhenti sejenak. Tangannya ingin sekali meraih knop pintu itu, namun begitu ia mengingat kembali amarah dan perlakuan kasarnya terhadap Maya, Sam mengurungkan niat tersebut. Ia takut jika emosinya kembali tidak terkendali dan menyakiti gadis itu.


Kembali melangkahkan kaki menjauh dari ruang kerja Maya, menapaki lantai demi lantai. Kini Sam menjauh dari kantor property Wijaya Group.


___


Anita mengikuti arah mobil Mini Cooper berwarna merah milik Martha. Wanita itu sampai rela sedikit menekan gas mobilnya lebih dalam untuk bisa selalu berada di belakang mobil Martha. Sedikit bertanya dalam hati kemana arah tujuan Martha.


Setelah beberapa menit mengikuti, akhirnya mobil merah tersebut berhenti di sebuah mansion besar yang terletak di kawasan elit.


Melihat Martha keluar dari mobil itu, didampingi oleh pak Mail, sopir pribadi Martha.


Berjalan menuju arah pintu utama mansion dengan beberapa tas belanjaan yang tertenteng di kedua tangan pak Mail.


Anita menghela napas, menarik kening sebentar dan sedikit sabar menunggu Martha memasuki mansion tersebut.


Apa ini mansion milik dokter Harris? batin Anita.


Masih mengamati keadaan sekitar dari dalam mobilnya, kini Anita mulai turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu mansion.


Mengetuk pelan pintu tinggi itu hingga seorang wanita setengah baya membuka knop pintu dan membungkuk sopan. "Cari siapa ya nyonya?"


"Ini benar rumah dokter Harris?" tanya Anita dan langsung di sambut dengan anggukan kepala si bibik. "Iya ini rumah dokter Harris, maaf nyonya ada keperluan apa? kalau mau bertemu dengan dokter Harris harus ada janji dulu, nyonya." masih dengan nada hormat, si bibik menjawab pertanyaan Anita.


"Oh iya, boleh saya bertemu dengan dokter Harris? saya ada keperluan mendesak."


Sedikit ragu dan berfikir, si bibik tidak langsung meng-iya-kan permintaan Anita. Melihat ada celah untuk Anita memasuki mansion Harris, dengan cepat wanita itu menyelinap masuk. Berjalan mengetukkan heels miliknya dan mencari sosok Martha di dalam sana.


Mengabaikan segala aturan kesopanan yang selama ini Anita ikuti, kini wanita itu mengedarkan seluruh pandangannya ke sudut rumah besar milik Harris.


"Eh... nyonya jangan main masuk aja, nyonya...." si bibi berusaha menghentikan tindakan Anita, namun wanita itu tetap tidak menyerah. "Katakan dimana Harris dan Martha?!" tanya Anita sedikit berteriak.


"Tidak ada yang namanya Martha disini nyonya." Berusaha berkelit, si bibik terus saja mencoba menghentikan tindakan Anita yang berada di luar kendali.


"Martha... keluar kamu!!" teriak Anita, kini wanita itu melangkah menuju lantai atas, menaiki beberapa anak tangga.


"Nyonya...." si bibik masih mencoba mengikuti langkah Anita, berusaha melarang wanita yang tidak dikenal nya itu lebih jauh lagi memasuki mansion majikannya.


"Tolong nyonya keluar dari sini, nyonya...." cegah si bibik lagi.


"Ada apa sih bik, ribut-ribut?" Martha keluar dari kamar Harris dengan wajah kesal, melihat ke arah luar kamar.


"Tante.... " Martha terkejut, sedikit terlihat salah tingkah ketika Anita memergoki dirinya berada di mansion Harris, apalagi keluar dari kamar pribadi Harris.


"Ada apa sayang?" Harris keluar dari dalam kamar, hanya mengenakan celana boxer, bertelanjang dada dan langsung memeluk tubuh Martha dari belakang.


Anita membolakan semua netranya, terlihat sedikit syok dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan barusan.


"Oh... jadi ini kelakuan kamu di belakang Samuel?" Ucap Anita menahan emosi.


"Aku bisa jelasin tant."


Melangkah menuruni anak tangga, Martha mencoba mengejar Anita.


"Tante tunggu, kita bicara baik-baik." cegah Martha, mencekal lengan Anita dan berusaha menahan kepergian wanita itu.


"Kita bicarakan semuanya di rumah tante. Sekarang!!" Melepas tangan Martha yang berada di atas lengannya, kini Anita melangkah meninggalkan mansion Harris.


Dibelakang, Martha tetap berdiri mematung. Memijit pelipisnya yang kini terasa sedikit pusing.


"Sialan....!!" erang Martha.


to be continue....