MySam

MySam
In Love



"Sayang, kamu percaya kan kalo aku sama Freya tadi gak ada apa-apa?"


"Iya."


"Terus kenapa kamu kelihatan marah gitu?"


"Aku gak marah."


"Kalo gak marah kenapa diem dari tadi, hhmm? Sayang... ngomong dong. Kamu kan biasa paling bawel kalo lagi berdua," kekeh Samuel yang mencoba mencairkan suasana tegang mereka sejak keluar dari kantor advertisingnya.


"Istriku sayang.... kenapa masih diem aja? Gak enak lho dianggurin kayak gini." Sam kembali mencoba merajuk, sesekali ia melirik ke arah Maya yang tetap saja duduk dengan pandangan mata lurus ke depan.


"Maya, kalo ada masalah diomongin. Aku gak suka kamu diem kek gini!" tanya Samuel tegas.


Kali ini Sam menepikan sedan hitamnya ke bahu jalan. Menoleh ke arah Maya yang masih terlihat duduk terdiam di sampingnya, sesekali pandangan matanya melirik ke arah luar jendela kaca mobil. Entah apa yang ia lihat sehingga begitu menarik perhatiannya, sampai-sampai gadis itu seolah mengabaikan keberadaan Samuel.


"May...! lihat aku! kamu kenapa sih? Sudah aku bilang jika aku sama Freya gak ada apa-apa tadi. Dia hanya menanyakan kenapa aku belum pulang, itu aja gak lebih!!"


"Bukan masalah itu, Sam."


Jawab Maya lirih, kali ini ia kembali menatap wajah Sam.


"Kenapa kamu bentak aku, Sam?"


Kedua netra Maya berkaca-kaca, memandang lekat Samuel dengan ekspresi tidak mengerti sama sekali. Perubahan sikap Sam yang biasa lembut dan selalu bisa sabar menghadapi kelakuannya, tapi kini....?


"Maaf, sayang...." Sam membelai pipi Maya dengan sangat lembut, ia sungguh menyesal dengan apa yang telah dilakukannya tadi.


"Maaf jika aku kasar sama kamu, sayang. Aku hanya binggung sama diamnya kamu. Apa kamu ada masalah di cafe?"


"Gak ada," geleng Maya.


"Lalu kenapa kamu menjadi pendiam seperti ini, hhmm? Aku gak suka istriku diam seperti patung jika sedang bersamaku."


Hembusan napas panjang keluar dari mulut Maya, ia tatap wajah Samuel sesaat.


"Aku___" seolah berat bagi Maya untuk melanjutkan kalimatnya.


"Martha hamil anak kedua," ucap Maya tiba-tiba, kembali ia membuang muka ke arah jendela kaca di sampingnya.


"Terus....? apa hubungannya sama sikap diam kamu, sayang?"


"Sam.... coba kamu sebentar aja jadi aku. Martha hamil.... Freya juga hamil. Hanya aku Sam... hanya aku yang enggak bisa hamil...!!" pekik Maya, dan kali ini cairan beningnya mengalir deras di permukaan kedua pipinya.


"Sayang...."


Dengan cepat Sam mencondongkan tubuhnya ke arah Maya, berusaha memeluk gadis itu dan mencoba untuk menenangkannya sejenak.


"May, berapa kali aku bilang ke kamu. Aku gak pernah pedulikan masalah itu. Kamu hamil atau pun belum aku tetap mencintai kamu, May."


"Tapi aku pengen hamil, Sam. A-ku...."


Tangis Maya kini semakin menjadi. Dan Sam selalu berusaha meredakan tangis itu. Ia mendekap lebih erat lagi tubuh istrinya.


"Aku gak mau istriku menangis lagi. Kumohon berhentilah menangis, honey." Jemari kuat namun lembut milik Sam kini mengusap airmata yang semakin deras terjatuh.


"Dengar, sayang. Kita menikah belum ada satu tahun, bukan? Kita gak sendiri, bahkan di luar sana banyak pasangan yang menunggu buah hati mereka lebih lama dari kita."


"Aku takut, Sam...."


"Gak ada yang perlu kamu takutkan, May."


Samuel semakin mendekatkan wajahnya ke arah Maya dan mencium kening gadis itu.


"Apapun cobaan dalam rumah tangga kita, akan kita hadapi bersama. Okey....?" Sam menangkup wajah Maya, memandang lekat gadis itu yang kini terlihat sedikit berantakan karena airmata.


"Selalu berbagi sama aku, jangan diam saja. Aku gak mau kamu menanggung masalah kamu sendirian, honey."


"Iya."


"Promise?"


"Hhmm, janji."


"Good girl.... sekarang kita ke rumah dokter Harris. Memberi ucapan selamat ke mereka," ucap Samuel sambil mengacak-acak gemas puncak kepala Maya.


Maya mengangguk pelan menjawab ucapan Samuel. Kali ini senyuman seperti biasa mengembang penuh di semua sudut bibirnya.


"Kita bawakan apa untuk mereka? wine? cake? atau...."


"Buah aja, Sam. Ibu hamil bukannya harus makan makanan bergizi?"


"Oh, oke kita mampir beli parsel dulu di toko buah langganan kamu?" tanya Samuel, yang kemudian di balas anggukan kepala dari Maya.


Sam kini membawa sedan hitamnya kembali ke ruas jalan, memacu kendaraan bertenaga turbo itu melaju menaklukkan trafic ibu kota yang lumayan padat di sore ini.


....


"Tha, selamat ya...." ucap Maya begitu mereka tiba di rumah Martha dan Harris.


"Makasih ya May....." Martha membalas cipika cipiki dari Maya.


"Sini masuk, oh ya Sam nya mana?"


"Sam masih di mobil, lagi ambil parsel buah favorit kamu."


"Duh May.... ngapain repot bawa-bawa buah segala? kalian ke sini aja aku dah seneng."


Martha menggandeng lengan Maya dan dibawanya masuk ke dalam rumah besarnya.


"Lho kamu sendirian May? Sam mana?" tanya Harris kali ini.


"Oh ya mas Harris, tolong bantuin Sam. Ia masih di luar. Gak tau tuh mereka malah bawa-bawa buah segala." Martha menyela dan menjawab pertanyaan suaminya tadi.


"Oke," jawab Harris dengan anggukan kepala.


Setelah itu ia berjalan keluar dan menjumpai Samuel dengan sebuah keranjang besar parsel berisi buah-buahan segar.


"Butuh bantuan gue, Sam?"


"It's ok Dok, gue bisa kok," jawab Samuel dangan senyuman kecilnya.


Kemudian keduanya terlihat memasuki rumah besar Harris.


"Hey Sam, thanks untuk buahnya," sapa Martha sambil memeluk tubuh Sam lalu mendaratkan cipika cipiki di kedua pipi mereka.


"Halo Tha, oh ya dimana jagoan kecil favoritku itu, hhmm?" tanya Sam begitu ia memasuki rumah besar itu.


"Samudra ada sama Maya di atas." Martha menjeda sejenak kalimatnya. Dengan sigap ia menaruh di atas nakas dua gelas minuman yang sudah disiapkan bibik.


"Thanks...." Sam lalu meraih gelas yang berisi minuman dingin lalu menyesapnya perlahan.


"Tha, aku mohon kamu jangan pernah menanyakan soal kehamilan pada Maya," ucap Sam pelan, begitu ia menaruh gelas berisi minuman dinginnya kembali di atas nakas.


"Kenapa Sam?"


"Aku tidak mau Maya merasa sedih, kamu tau sendiri kan dia begitu menginginkan seorang baby. Dan___ kami belum___"


"Iya, Sam. Aku ngerti kok, bukan begitu mas?" potong Martha.


"Kalian yang sabar aja, mungkin kalian terlalu kecapean atau kalian butuh honeymoon kedua barangkali?" tanya Harris sembari melingkarkan lengannya di pundak kecil Martha.


"Entahlah, Dok. Mungkin memang belum diberi rezeki aja."


"Yang terpenting kamu harus selalu mencintai Maya dan memahaminya, Sam." Ujar Martha menambahkan.


"Tentu saja," angguk Samuel.


Selang beberapa menit kemudian, setelah ketiganya larut dengan obrolan ringan mereka, tiba-tiba saja Maya menuruni anak tangga dengan Samudra di gendongannya.


"Tuh liat siapa yang datang, Am?" ucap Maya kepada Samudra, dengan wajah yang begitu sumringah.


"Ada om Sam..... coba kasih cium dulu sama om Sam," ujar Maya dan kemudian diikuti dengan tubuh mungil Samudra yang sedikit ia condongkan ke arah Samuel.


"Mayam om Sam...." ucap anak kecil itu lucu, Samudra tanpa ragu-ragu mencium kedua pipi Samuel.


"Iiihhh.... pinternya anak mommy..." ucap Martha gemas yang melihat tingkah lucu Samudra, anaknya.


"Senang ya kalau ada suara anak kecil di rumah kita," ujar Maya. Kali ini dengan ekspresi wajah yang sedikit meremang. Sam menggenggam erat tangan Maya dan membawa gadis itu bersama dengan Samudra untuk duduk di dekatnya.


"Oh ya selamat ya Tha atas kehamilan anak ke dua kamu,"ucap Maya tulus, senyum kebahagiaan terlihat jelas dari bibirnya.


"Makasih May."


Untuk sesaat ada keheningan disana, Martha takut banyak bicara yang akhirnya bisa menyinggung hati Maya.


Dan Harris, tiba-tiba laki-laki itu mengajak Samuel untuk bicara empat mata di sudut rumah yang lain.


"Sam, bisa kita bicara di teras belakang?" ujar Harris dan hanya mendapat anggukan kepala dari Sam.


...


Harris menghela napas perlahan. "Sorry jika gue mengatakan ini dan menyinggung perasaan Lo, Sam." Harris terdiam sejenak.


"Apa, Dok? Lo bicara aja."


"Emm... begini.... apa sebaiknya kalian memeriksakan kesuburan kalian secara lebih detail lagi?" ucap Harris hati-hati tanpa ingin menyinggung perasaan Samuel.


"Maksud gue, jika memang ada masalah dari diri kalian bukankah lebih baik mengetahuinya sekarang? Dan kalian juga bisa mencari solusinya," lanjut Harris.


"Maksud Lo, gue dan Maya melakukan check up kesuburan kami?"


Harris mengangguk menjawab pertanyaan Samuel.


"Iya kenapa tidak, kapan Lo ada waktu Dok? Gue dan Maya akan usahakan ke rumah sakit Lo."


"Anytime, bro! Gue selalu ada waktu buat kalian."


"Gue sih berharap kalian baik-baik saja, dan memang belum waktunya aja untuk Maya bisa hamil," Harris melanjutkan, sambil menepuk pelan pundak Samuel. Mencoba berusaha menguatkan.


"Sejujurnya gue gak terlalu memusingkan masalah ini. Gue akan selalu mencintai dia, meski dia tidak bisa hamil sekalipun," sejenak Sam menjeda kalimatnya dan membuang napas berat.


"Justru dia lah yang selalu memikirkan persoalan ini. Gue gak tahan melihatnya selalu sedih setiap kali ia melihat wanita lain yang sedang hamil atau setiap melihat anak kecil yang kami jumpai di tempat-tempat umum." Sam melanjutkan ucapannya.


Harris memahami betul apa yang Samuel rasakan, kehadiran buah hati dalam pernikahan memang satu hal yang selalu ditunggu oleh setiap pasangan manapun.


"Kalian yang sabar aja, lagipula masih ada banyak cara, bukan? Bayi tabung, misalnya?"


"Iya, Lo betul Dok." Sam mengangguk pelan lalu kembali menyesap gelas minuman dingin yang ada dalam genggaman tangannya.


Selang beberapa menit kemudian, terlihat Maya dan Martha menghampiri kedua pria tampan itu. Dan masih bersama Samudra yang kali ini sudah berada dalam gendongan Martha.


Maya mendekat ke arah Samuel dan menggelayut manja di lengan suaminya. "Ada apa, honey? kamu lelah?" ucap Samuel dan anggukan kepala pelan menjadi respon Maya.


"Kita pulang sekarang?"


"Iya," cicit Maya.


"Tha, aku pulang dulu ya."


"Lho kok cepet pulang sih May? Kita makan malam bareng dulu yuk."


"Makasih deh Tha, lain kali aja," ucap Maya sembari memeluk Martha dan mendaratkan ciuman kecil di kedua pipi masing-masing.


"Ya udah, next time janji ya makan malam disini." Martha membalas cipika cipiki dari Maya lalu beralih memeluk kecil tubuh Samuel.


"Pasti....!" jawab Samuel ringan.


Kini giliran Samuel meraih tangan Harris dan keduanya sama-sama menepuk pelan bahu masing-masing.


Tak beberapa lama kemudian Samuel dan Maya berjalan keluar dari pintu utama mansion Harris lalu menuju ke arah sedan hitam mereka.


...


Di sepanjang perjalanan, Samuel tak pernah melepaskan tangan kirinya yang menggenggam erat jemari Maya. Sambil tangan yang lain tetap memegang setir dan kedua mata Samuel yang selalu berkonsentrasi ke arah jalan raya.


"Lusa kita memeriksakan kesehatan kita ke rumah sakit dokter Harris, kamu mau kan sayang?" tanya Samuel hati-hati.


"Iya, Sam." Maya mengangguk, memandang ke arah Samuel dan menjatuhkan kepalanya di pundak suaminya yang begitu nyaman.


"Maafkan sikap aku tadi, Sam."


"It's ok, honey." jawabnya sambil mengelus lembut pipi kanan Maya.


Malam ini Samuel hanya ingin cepat-cepat sampai ke rumah mereka dan membahagiakan Maya, memberikan segalanya untuk gadis itu.


"Sayang...."


"Hhmm?"


"I want you...." bisik lembut Samuel.


"Tunggu hingga kita sampai di rumah, Sam." Jawab Maya dengan wajah merona.


Selalu bisa membuat Samuel tersenyum-senyum sendiri, dan merasakan jatuh cinta setiap harinya.


to be continue....