MySam

MySam
Am Bangun dari Koma



Mereka melangkah lebih jauh lagi memasuki lorong-lorong rumah sakit. Kata Anita, Samudra kemarin malam telah dipindahkan ke kamar rawat inap oleh pihak rumah sakit. Baik Maya maupun Sam, mereka sedikit bisa berlega hati. Mungkin ada sedikit kemajuan dengan kondisi bocah itu, sehingga tim dokter memutuskan pemindahan ruangan dari yang semula masih berada di ruang ICU.


Dengan begitu Maya dan pihak keluarganya akan lebih mudah jika ingin menunggui Samudra yang masih belum sadarkan diri pasca operasi.


"Ruangan Am ada di lantai lima kan, Sam?"


"Iya," ucap Samuel datar. Membiarkan Maya berjalan lebih cepat mendahuluinya juga bik Sari.


...


Netra Maya meremang, melihat tubuh Samudra berbaring lemah dengan alat bantu pernapasan dan juga selang infus untuk keperluan cairan serta vitamin bocah itu.


Tiga hari sudah Samudra belum juga terbangun dari koma nya. Cairan bening tanpa sadar telah mengalir keluar dari sudut mata Maya, melihat bocah berusia enam tahunan itu terbaring lemah seperti ini, membuatnya tidak bisa lagi membendung kesedihannya.


"Kita doa kan saja yang terbaik buat Am," ucap Samuel mendekati dan meraih pundak kecil istrinya.


"Iya, sayang. Aku selalu berdoa agar Am cepat bangun dan bermain bersama kita lagi, hiks....hiks..." isak tangis Maya kali ini tidak lagi bisa ia tahan.


"Non Maya, bibik juga berdoa semoga den Samudra cepat sadar dan pulih seperti dulu lagi."


"Iya bik, kita sama-sama berdoa buat Am ya?"


"Iya non," angguk si bibik.


Jemari Samuel kini mengusap lembut air mata yang masih saja mengalir di kedua pipi istrinya. Mendaratkan pelukan hangatnya untuk menguatkan Maya.


"Sam..."


"Hm?"


"Aku pengen ke mushola, kamu temenin ya?"


Sam mengangguk pelan. "Iya, aku juga mau kesana, ayo..."


Samuel mengulurkan tangannya ke arah Maya yang lalu disambutnya dengan genggaman erat.


"Bibik tolong jagain Am dulu ya."


"Baik non," angguk bibik.


Setelah keluar dari ruang rawat inap, Maya dan Samuel berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Letak mushola rumah sakit yang lumayan jauh membuat keduanya menaiki lift dan turun ke bawah untuk bisa sampai ke mushola.


Saat ini hati Maya sungguh merasa sedih, ini mengingatkannya akan komanya Samuel ketika bertengkar dengan Elano dulu.


 


...----------------...


"Samudra---"


"Mommy---"


Anak itu terlihat berlari ke arah perempuan dengan pakaian serba putih yang menjuntai hingga ke tanah berrumput dengan hamparan bunga liar warna warni.


"Mommy--- Am kangen mommy."


Samudra memeluk erat tubuh Martha, berkali-kali mendaratkan kecupan-kecupan kecilnya ke pipi sang bunda.


"Mommy juga kangen sama kakak...." Martha membalas pelukan bocah tampan itu dan mencium lembut pipi yang selalu merona merah muda dengan kedua iris coklat yang sangat jernih.


"Kakak harus kuat ya...."


"Iya mommy.... Am akan jadi anak kuat sepelti supel men...." jawab Samudra dengan suara cadelnya.


"Daddy---!!" seru Samudra ketika melihat sosok sang ayah yang terlihat berjalan ke arah mereka.


Harris pun berpakaian serba putih. Kemeja lengan panjang berwarna putih polos dan dipadukan dengan celana panjang serta sepatu yang juga berwarna putih bersih.


Samudra pun berlari ke pelukan Harris, sementara sang ayah menyambut tubuh mungil itu lalu menggendongnya. Ia pun mendaratkan ribuan kecupan ke wajah Samudra sehingga membuat bocah itu tertawa geli namun terlihat sangat menyukainya.


"Am---" ucap Harris yang kemudian memandang lekat wajah sang anak.


"Iya daddy?"


"Am harus jadi laki-laki yang kuat ya."


"Iya, Am akan jadi anak kuat. Am kan supel helo...!" celoteh Samudra.


"Dan Am juga harus nurut sama onty Aya dan om Uel," lanjut Harris.


"Iyah." Samudra mengangguk.


"Kelak mommy dan daddy gak bisa nemenin Am lagi. Tapi Am harus ingat kalo mommy sama daddy selalu sayang sama Am."


"Emang mommy cama daddy mo kemana?"


Harris dan Martha saling berpandang dan tersenyum kini.


"Mommy sama daddy mau pergi jauh."


"Am ikut....!!"


"Am gak bisa ikut," ucap Martha yang kini mengelus lembut wajah putranya.


"Kenapa?"


"Dunia Am masih luas. Am juga belum ketemu sama gadis yang Am sayangi bukan?" jawab Harris kali ini.


"Tapi Am mau ikut moms cama Dad."


"Am sayang, moms sama dad akan terus ngawasin Am dari jauh."


"Gak mau....! pokokna Am ikut....!!!"


"Samudra harus bangun, ada onty Aya dan om Uel yang nunggu Am bangun."


"Tapi---"


"Am kalo kangen moms sama dad, Am bisa kok liatin bintang di langit. Karena kami ada di antara ribuan bintang-bintang itu."


"Mommy----!!"


"Selamat tinggal Samudra. Kami akan selalu mencintaimu my baby boy..."


Martha kembali mencium lembut kening Samudra, begitupun dengan Harris.


"Ingat, Am harus cepat bangun ya...." ucap Martha kembali sebelum keduanya kini benar-benar menghilang dari hadapan Samudra.


"Mommy....!! Daddy....!!" teriak Samudra dan berusaha meraih kembali kedua sosok orangtua nya, namun usaha bocah itu sia-sia. Bayangan Martha, juga Harris kini perlahan memudar, berjalan membelakangi Samudra dan menuju jalan cahaya.


"Mommy!! daddy!!"


****************


Tubuh Samudra berguncang hebat. Kedua mata yang masih memejam erat, seolah enggan ia buka dan jika ia membuka kedua matanya seakan-akan tahu ia pasti kehilangan seseorang atau sesuatu jika kedua netra indah itu terbuka.


Kepala yang masih terbalut perban dengan noda darah, menggeleng kuat. Sementara tangan yang tertancap jarum infus dengan kencang ia hempaskan.


"Mommy!! daddy!!" teriaknya dengan kedua mata yang masih memejam.


Si bibik yang saat itu berjaga disana hingga dibuat panik. Dengan cepat ia mencoba menenangkannya dan memanggil suster jaga melalui alat komunikasi yang terpasang di samping tempat tidur Samudra.


"Suster tolong tuan muda saya!!" ucap bibik sembari menekan alat komunikasi nurse call yang terletak di atas nakas rumah sakit.


"Den Samudra...!! tolong tenang dulu," ucap si bibik panik.


Selang beberapa menit, masuk dua orang suster berpakaian serba putih dan memeriksa keadaan Samudra yang tanpa sadar masih berontak dan memanggil-manggil kedua orangtuanya.


Hingga beberapa saat kemudian seorang dokter pria berusia separuh baya memasuki kamar rawat Samudra. Mulai memeriksa keseluruhan bagian tubuh bocah itu.


Maya yang tiba-tiba masuk ke kamar rawat Samudra dibuat terkejut mendapati dokter dan dua suster yang mendampingi.


"Am....! dokter ada apa ini? Kenapa sama Samudra?" tanya Maya panik melihat dokter dan dua orang suster yang memeriksa Samudra secara tiba-tiba dan diluar jam kunjungan dokter.


Sang dokter tidak langsung menjawab pertanyaan Maya yang terlihat khawatir, pria paruh baya itu masih berkonsentrasi memeriksa keadaan pasien.


Sedangkan salah satu suster meminta Sam, Maya dan juga bibik untuk keluar dari ruangan. "Maaf tuan dan nyonya sebaiknya kalian keluar dulu, biar dokter memeriksa keadaan pasien."


"Tapi, Sust....!!"


"Tolong nyonya...."


"Sayang, kita keluar dulu." Samuel meraih lengan Maya dan membawanya keluar, mencoba menenangkan kekhawatiran istrinya.


"Bik, Am kenapa? Dia gak anfal kan?" tanya Maya khawatir. sementara Sam masih merangkul pundak Maya, berusaha menenangkannya yang masih sangat panik.


"Den Samudra tadi mengigau, non. Memanggil-manggil non Martha dan tuan Harris," jawab si bibik.


Maya memandang ke arah Samuel, seolah bertanya apa yang akan terjadi pada bocah itu.


"Tenang, sayang. Kita tunggu dokter selesai memeriksa keadaan Am."


"Gimana aku bisa tenang, Sam?!" pekik Maya khawatir.


Ia usap kasar wajahnya dan menyeka poni serta anak rambut hitam miliknya yang sedikit menutupi wajah lelahnya.


"Maaf, Sam. A-ku gak bermaksud membentak kamu," cicit Maya menyesali perbuatannya.


"It's okay dear. Aku ngerti kok."


Samuel meraih tubuh Maya dan membawanya ke dalam pelukan hangatnya.


....


Hampir satu jam ketiganya menunggu dokter spesialis itu keluar dari kamar Samudra, hingga laki-laki bertubuh sedikit tambun itu keluar dengan wajah sedikit lega.


"Dokter...! bagaimana keadaan Samudra? Dia baik-baik aja kan?" pertanyaan Maya langsung saja menggebu-gebu dan memburu dokter itu.


"Anda tenang saja, pasien saat ini sudah dalam keadaan stabil."


Akhirnya Samuel dan Maya bisa bernapas lega, begitupun dengan bik Sari.


"Saat ini pasien telah sadar dan sudah bisa diajak komunikasi," lanjut dokter setengah baya itu.


"Serius dok?" tanya Maya membuncah.


"Iya, tapi tolong kalian jangan dulu mengatakan hal-hal yang bisa membuat pasien berfikir terlalu berat."


"Baik dok," angguk Maya.


"Apa kami bisa melihat keadaan Samudra, dok?" tanya Sam kali ini.


"Tentu saja, silahkan. Tapi ingat beri dia waktu untuk beristirahat dan jangan mengatakan hal-hal yang bisa membuat dia syok nantinya."


"Pasti dok. Terima kasih dokter Frans." Samuel menjabat tangan dokter berwajah oriental tersebut.


Tentu saja dibalas oleh anggukan kepala sopan serta senyuman ramah yang mengembang di sudut bibir dokter spesialis itu.


Setelah kepergian sang dokter. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, Maya segera saja memasuki ruang rawat Samudra, lalu disusul oleh Samuel dan juga bik Sari.


Netra Maya berkaca-kaca melihat bocah enam tahunan itu terbaring lemah dan menoleh ke arahnya. Senyuman kecil bocah itu sedikit mengembang ke arah Maya.


"Onty Aya---"


to be continue....