MySam

MySam
Kecurigaan Anita



Anita mengikuti diam-diam langkah Martha dan Harris, mengamati semua gerak gerik mereka. Terlihat sangat akrab di mata Anita.


Martha dan Harris duduk di salah satu tempat VIP di restoran yang menyajikan masakan eropa tersebut. Saling berpegangan tangan mesra dan sesekali sebuah ciuman Harris mendarat di punggung tangan Martha.


Anita memandang heran dengan kedekatan mereka, ia tahu jika Harris sudah dianggap seperti keluarga oleh Baskoro dan istrinya namun kedekatan mereka berdua sangat lah aneh di mata Anita.


Dddrrrtt.... drrttt....


Kini ponsel Anita bergetar, membuat wanita itu mengalihkan sebentar pandangannya. Permana... suaminya pasti khawatir menunggu kedatangannya. Iya Anita ada janji ketemuan dengan Permana suaminya di restoran yang sama dengan yang dikunjungi Martha dan Harris.


Dengan cepat wanita itu melangkahkan kakinya dari salah satu kursi yang agak jauh berseberangan dengan tempat Martha dan Harris.


Menapaki lantai demi lantai untuk bertemu Permana yang sudah menunggunya di lantai atas.


____


"Dari mana aja sayang? tumben-tumben nan kamu terlambat." Tanya Permana ketika menjumpai Anita, berdiri sebentar untuk memeluk dan mencium kening Anita istrinya.


"Maaf... aku tadi seperti melihat seseorang yang aku kenal, makanya aku pergi sebentar untuk memastikan." Jawab Anita dengan ekspresi tidak enak terhadap suaminya.


"Siapa?"


"Eee... bukan siapa-siapa. Oh ya kamu udah pesen makanan?"


Anita menyembunyikan apa yang ia lihat tadi, tidak ingin membuat Permana khawatir. Biarlah kejadian tadi ia selidiki sendiri tanpa campur tangan dari suaminya.


"Aku udah pesenin makanan kesukaan kamu." jawab Permana sambil ia mengelus lembut punggung tangan istrinya.


***


Di kantor Samuel, nampak laki-laki itu masih terlihat sibuk dengan kerjasama bersama perusahaan kosmetik terbesar dari Eropa. Pasarnya yang merambah ke Indonesia membuat perusahaan kosmetik itu melakukan kerjasama dengan perusahaan Advertising milik Sam. Mengingat perusahaan Sam saat ini adalah perusahaan Advertising terbesar dan paling bonafit di Jakarta.


Masih sibuk dengan layar laptop miliknya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Permisi pak, ada tamu untuk bapak." ucap sekretaris Samuel.


"Suruh masuk."


Sang sekretaris mengangguk hormat, lalu memanggil seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam. "Silahkan masuk, bapak pimpinan sudah menunggu anda."


Ucap sekretaris cantik itu, hanya dijawab anggukan kepala kecil kemudian si laki-laki misterius tersebut melangkah memasuki kantor Samuel.


"Selamat siang pak Samuel."


Sam mengangguk, mempersilahkan laki-laki itu duduk. Sam berdiri disamping laki-laki itu sambil menyilangkan kedua tangannya tepat di atas dadanya.


"Info apa yang anda dapat?" tanya Sam tanpa basa basi.


Terlihat laki-laki itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jas nya lalu memberikan kepada Sam.


"Nona Maya terlihat keluar dari gedung perusahaan property, seperti sedang melakukan sebuah interview pekerjaan."


"Apa dia mendapatkan pekerjaan itu?" tanya Samuel menyelidik.


"Belum tuan, ia masih harus menjalani wawancara lagi tapi kemungkinan besar nona Maya akan diterima di perusahaan itu."


"Bagaimana kamu bisa yakin?" Samuel menarik sebagian alis tebalnya.


"Terlihat dari ekspresi nona Maya, ia terlihat tersenyum bahagia begitu keluar dari perusahaan tersebut."


"Dan lagi perusahaan property tersebut milik Elano Wijaya."


Samuel menarik seluruh alis tebalnya, seperti sedang mengingat sesuatu. Nama itu terdengar tidak asing di telinga Sam.


"Elano Wijaya...?" desis Sam pelan.


"Iya tuan, menurut informasi yang saya dapat. Dulu nona Maya dan Elano Wijaya pernah berteman selama Sma dan..."


"Tidak mungkin itu Elano Wijaya mantan pacar Maya." Ucap Sam meyakinkan. Namun sayangnya ucapan Sam dibalas dengan anggukan kepala sang detektif.


"Itu benar tuan." jawab sang detektif.


Sam terlihat mengepalkan tangannya erat, kedua matanya membola dengan rahang yang kini terlihat mengeras dan sangat tegas dari biasanya.


Sam menyerahkan sebuah amplop panjang ke arah laki-laki tersebut. "Cari tahu lagi tentang gadis itu dan kabari saya jika ada informasi lagi."


Ucap Sam, sang detektif hanya mengangguk pelan dan meraih amplop dari tangan Sam lalu berpamitan dan segera keluar dari ruang kerja Samuel.


Membuka isi amplop dari detektif sewaan Samuel, ia kini mengeluarkan semua gambar diri Maya, memandangi lekat foto-foto tersebut.


Sudah beberapa bulan ini Sam menyewa detektif swasta untuk mengamati semua gerak gerik Maya. vidio serta foto-foto yang detektif itu kirim selalu bisa mengobati kerinduan Sam akan sosok Maya, terkadang melihat beberapa vidio Maya saat ia sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan atau sedang hangout bersama Airin di sebuah cafe.


Dari vidio dan foto-foto itu tidak ada yang berubah dari Maya, masih tetap seperti yang dulu. Dengan rambut hitam legam sebahu dan senyuman yang selalu merekah di semua sudut bibir peach Maya. Senyuman yang telah mengalihkan dunia kelam Sam yang dulu.


Seandainya saja Maya tidak menghindar dari nya, ingin sekali Samuel bertemu dengan gadis itu walau hanya semenit.


____


Anita memasuki mansion milik Samuel, diikuti oleh sang bibik. Berjalan tergopoh disamping Anita, "Sam ada di rumah bik?" tanya Anita, kini ia duduk di salah satu kursi dalam ruang tengah.


"Den Sam sudah pergi ke kantor, nyonya."


"Martha?"


"Non Martha ada di kamar. Nyonya mau minum apa? bibik buatkan."


Anita menggeleng, "Gak usah bik, bibik lanjutin aja kerjaan bibik." jawab Anita, si bibik mengangguk pelan lalu berpamitan kembali ke arah belakang mansion.


"Tante kapan datang?" Martha turun dari lantai dua, dengan pakaian yang sudah sangat rapi.


"Kamu mau kemana Tha?" Anita sedikit mengernyit heran.


"Periksa kandungan." jawab Martha, perlahan ia duduk dan membenarkan heels yang dipakainya.


"Pakai sepatu tanpa hak aja Tha, kandungan kamu kan udah besar. Takutnya kamu kepleset nanti." ucap Anita, ia dekati Martha.


"Tha udah biasa pakai heels, tante gak usah khawatir."


"Oh ya kamu periksa ke dokter mana? tante anterin ya."


Martha menoleh sebentar ke arah Anita, menggeleng kemudian. "Gak usah, ada pak Mail sopir Tha." jawab Martha cepat.


"Kamu periksa ke dokter Harris?" Martha kembali menoleh ke arah Anita. "Iya, kan dokter Harris sahabat nya papah. Aku juga udah biasa ke dokter Harris." Sedikit menyembunyikan keterkejutannya ketika mendengar pertanyaan dari Anita.


"Oh ya kamu semalam pergi kemana Tha?"


Martha mengernyit kini, memandang ke arah Anita. "Semalam? Aku dirumah kok." Martha menyembunyikan keterkejutan nya. "Udah ah Tha berangkat dulu, tante masih mau disini?"


Martha kini berjalan mengetukkan kembali heels nya, menjauh dari Anita. "Pak Mail...!!! berangkat sekarang!!" teriak Martha.


Anita membuang napas, menggeleng berkali-kali melihat kelakuan Martha. Dulu Martha selalu bersikap manis kepadanya, namun kini Anita merasa gadis itu sedikit berubah.


"Bik... "


"Iya nyonya."


"Sini deh saya mau ngomong sebentar sama bibik."


Si bibik kini mendekat ke arah Anita, kini berdiri disamping Anita.


"Non Martha sering keluar rumah ya bik?"


"Eeee.... gimana ya Nyah... saya gak enak ngomong nya." Jawab si bibik terlihat sedikit ragu-ragu.


"Bibik ngomong aja terus terang sama saya." Anita berusaha meyakinkan wanita setengah baya itu.


"Iya lumayan sering sih Nyah, non Martha kadang suka keluar malam tanpa sepengetahuan den Sam."


"Dia sendirian?" tanya Anita lagi, si bibik menggeleng cepat. "Dianterin pak Mail, sopir pribadinya non Martha."


Anita terdiam mendengar penuturan si bibik, gak mungkin wanita setengah baya itu berbohong. Ia sudah mengabdi pada Samuel lebih dari sepuluh tahun.


"Ya udah, bibik boleh kembali ke belakang."


"Baik nyonya..." Mengangguk sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaan rumah nya di mansion milik Samuel.


Anita kembali terdiam, berfikir sejenak. Kini wanita itu terlihat melakukan panggilan telefon melalui seluler nya.


"Halo... iya saya butuh bantuan anda ___ oke saya tunggu anda di tempat yang akan saya kirim alamatnya___ oke terima kasih."


Ia matikan sambungan telefon nya, kini Anita melangkahkan kaki meninggalkan mansion milik Sam, berjalan kembali ke arah mobil hitamnya, hingga mobil Anita kini terlihat keluar perlahan meninggalkan mansion milik anaknya.


to be continue...