
Samuel benar-benar dibuat mematung ketika membaca isi surat itu. Surat hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa Maya positif hamil, dan usia kandungannya berusia tiga minggu.
"I-ni .... beneran?" tanya Samuel seraya menatap Maya tak percaya.
Bibir Maya spontan mengerucut sebal. "Ya beneran lah masa boongan. Ini anak kamu, Sam!" omelnya.
Samuel termangu namun tak lama kemudian ia tersenyum lebar.
Samuel sekali lagi menatap foto mungil itu, matanya memerah menahan tangis. Sam memeluk erat Maya dan tak berselang lama, ia menghujamkan ribuan kecupan kecil di seluruh sudut wajah gadis itu.
"Maaf ya, kalo tadi aku ngerjain kamu. Aku pengen kasih kejutan buat kamu," cicit Maya yang masih dalam dekapan pelukan Samuel.
"It's okay, honey." Jawab Samuel sembari mengusap lembut puncak kepala Maya. Senyuman bahagianya masih saja mengembang penuh di wajah tampannya.
"Jadi Harris tadi juga ngerjain aku?" tanya Sam yang kali ini menautkan kedua ujung alis tebalnya.
"He em--- maaf ya, suami...." cengir Maya lucu.
"Dasar dokter gak da akhlak," gumam Samuel dengan kerucutan lucu di bibir tebalnya.
Kemudian Samuel menaikkan pandangannya menatap ke arah langit berselimut mendung, ia sungguh bersyukur dengan anugerah ini, meskipun ada rasa takut dari diri Samuel mengingat perkataan Maya waktu lalu saat di pantai.
Namun rasa bahagianya mengalahkan segalanya.
Sam melepaskan pelukannya lalu berjongkok di hadapan Maya, menempelkan telinga kirinya di perut istrinya yang belum terlalu membuncit. Lalu mensejajarkan wajahnya dan mengecup lembut perut Maya.
"Hey, sayang.... baik-baik di perut mommy ya... tumbuhlah dengan baik, daddy janji akan selalu melindungi kalian," ujar Sam dengan suara bergetar seraya mengelus perut rata Maya. Air mata Sam menetes kembali, Maya yang melihatnya pun ikut meneteskan air matanya.
Teringat bagaimana pertemuan mereka dulu, lalu terjalin membentuk hubungan baru. Masalah demi masalah terus datang menghampiri mereka. Membuat keduanya saling salah paham, terluka dan menderita, hingga hubungan mereka retak. Jarak dan waktu memisahkan keduanya. Namun takdir baik Tuhan ternyata berpihak pada keduanya. Mereka kembali bersama meski setelah pernikahan pun terdapat sedikit godaan yang menghampiri namun baik Samuel dan Maya sungguh memiliki cinta yang luar biasa besar. Dan kini hadirlah calon malaikat kecil dalam pernikahan mereka membuat kebahagiaan keduanya semakin utuh dan kuat.
Maya bahkan tidak menyangka bakal seperti ini, buah hati yang selama ini ia inginkan. Bahkan tidak ada tanda-tanda dirinya hamil. Ia bahkan tidak pernah merasa mual, pusing ataupun tidak enak badan seperti wanita-wanita lain yang kebanyakan mengalami hal itu semua. Bahkan Maya tidak pernah berfikir jika mual-mual yang Samuel alami adalah tanda-tanda ngidamnya.
Ternyata Tuhan memang maha baik. Kedua mata Maya bergerak ketika Sam berdiri dan menatapnya. Netra nya terpejam ketika Sam kembali memberikan ciuman hangat di keningnya.
"I love you and our baby....." ucap Sam lembut sembari memeluk erat tubuh Maya.
"Suami.... peluknya jangan kenceng-kenceng kasian kan baby nya..." celetuk Maya membuat Sam seketika itu juga sedikit merenggangkan pelukannya.
....
"Aku mandi dulu ya, suami."
Pamit Maya setelah Sam keluar dari kamar mandi. Sam mengangguk dan setelahnya Maya sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sam memakai kaos dan celana pendek yang sudah disiapkan Maya di atas nakas lalu berjalan keluar dari kamar. Langkahnya mengayun menuruni anak tangga lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
Hari ini adalah hari penuh kejutan. Perubahan Maya yang semakin manja terhadapnya, amarah Maya yang ternyata cuma prank dan hasil pemeriksaan yang menyatakan Maya postif hamil. Merupakan kejutan terindah buatnya.
Sam bahkan tidak menyangka bahwa prank yang Maya lakukan tadi akan berakhir bahagia.
Kabar ini harus ia sampaikan pada Anita, sang mama. Tentu saja Siska, ibunda dari Maya pun harus segera mendapat kabar membahagiakan ini.
"Den Sam mau bibik buatkan kopi?" tanya wanita setengah baya yang saat ini sudah berdiri dengan setengah membungkuk di hadapannya.
Sam menggeleng pelan, "Gak usah bik, malam ini aku sangat haus dan hanya ingin minum air putih saja."
"Baik, Den." Ucap si bibik patuh, hampir saja wanita setengah baya itu berjalan meninggalkan Samuel. Namun kini ia berjalan kembali mendekat ke arah Sam.
"Selamat ya den Sam atas kehamilan non Maya. Bibik bahagia sekali mengetahui kehamilan non Maya."
Kening Sam kini mengerut heran, bagaimana bibik tau Maya positif hamil? Sementara ia dan Maya belum mengatakan apa-apa soal kehamilan ini, batin Samuel.
"Bibik udah tau? Dari siapa?"
"Bibik tau dari gelagat non Maya, yang akhir-akhir ini suka makan dan tidur. Dan juga hasil pemeriksaan non Maya ada di nakas dekat tangga," ucap bibik sambil cengengesan, membuat Samuel hanya geleng-geleng kepala kecil melihatnya.
"Bibik.... bibik.... ada-ada saja."
"Hehehe... maaf Den, bukannya bermaksud tidak sopan. Tapi bibik penasaran sama foto calon jabang bayi mungil non Maya."
Si bibik kembali tersenyum kecil, sembari badannya yang tetap setengah membungkuk.
"Iya, gapapa bik. Tolong siapkan makan malam buat Maya ya."
"Baik, Den...." jawab si bibik patuh, kemudian wanita itu kembali berlalu dari hadapan Samuel dan berjalan menuju pantry mansion majikannya.
Samuel berjalan menuju sofa yang berada dekat dengan kolam renang indoor. Sambil menunggu Maya selesai mandi, Sam mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.
Sam lalu menoleh setelah terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, ia melihat Maya baru saja keluar dari kamar dan berjalan menuruni beberapa anak tangga menuju ke arahnya. Sam tersenyum melihat penampilan Maya saat ini. Dress tidur pendek di atas lutut berbahan katun rayon super bermotif bunga-bunga kecil menambah kesan manis dalam diri gadis itu.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Suara Maya membangunkan lamunan Samuel. Sam menggeleng lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Maya. Tentu saja dengan melayangkan ciuman kecil di ujung bibir gadis itu.
"Duduk di sofa dulu, aku buatin kamu susu, okey?" ucap Samuel seraya menuntun Maya ke arah sofa dengan sangat hati-hati.
"Aku bisa bikin sendiri, Sam."
Sam menggeleng. "No....! Aku aja yang buatin. Tadi bibik juga udah nyiapin kamu makanan. So.... kamu duduk manis aja disini, okey baby....?" ujar Sam antusias. Ia lalu melangkah ke pantry dan menemukan si bibik yang sudah hampir selesai membuat makan malam buat kedua majikannya.
"Sini bibik aja yang buatkan."
"Gak usah, bik. Bibik taruh aja makanannya di sofa deket kolam renang indoor, non Maya ada disana," ujar Samuel.
Hanya dibalas anggukan kepala patuh oleh si bibik, terlihat wanita setengah baya itu pun tersenyum kecil melihat tingkah majikannya yang baru kali ini membuat susu tanpa bantuannya.
Apa yang harus ia perbuat? Susu creamer plus madu ? lalu apa? Ah.... sungguh bodoh batin Sam. Bahkan untuk takarannya saja Sam tidak begitu mengerti. Hasilnya dengan asal saja ia menuang susu dan madu ke dalam gelas kaca lalu ia seduh dengan air hangat. Ia aduk sebentar sebelum mengantarkannya kepada Maya.
"Sam, aku kan bisa buat sendiri," ucap Maya.
"Aku gak tau berapa takarannya dan gimana rasanya. Semoga gak kemanisan," ucap Samuel dengan wajah berharap jika Maya menyukai susu buatannya.
"Makasih, Sam."
Maya meraih gelas yang ada di tangan Samuel lalu perlahan menyesap susu vanila itu.
"Kepanasan ya?"
Maya menggeleng, "Enggak."
"Kemanisan?" tanya Sam lagi.
"Enggak kok. Pas, aku suka." Maya menghabiskan susu dalam gelas kaca itu dalam sekejap.
"Aku belum sempat membeli susu kehamilan buat kamu, besok kita beli," ucap Samuel lagi, kali ini hanya anggukan kecil respon dari Maya.
"Sekarang kamu makan, keburu dingin nanti masakan bibik."
"Kamu juga makan ya."
"Nanti aku makan."
...
Setelah selesai menyantap makanan, Maya kembali duduk dalam pangkuan Sam, melingkarkan kedua lengan di leher kokoh suaminya itu.
"Kamu masih mual-mual, Sam?" Samuel tersenyum kecil sembari mengusap lembut pipi chubby istrinya. "Sedikit," ujar Sam pelan.
"Maaf membuat kamu mual-mual kayak gini," cicit Maya manja, gadis itu terlihat nyaman dengan posisinya yang sekarang. Selalu mengendus-endus aroma musk yang begitu menggoda dari tubuh Samuel.
"Gak perlu minta maaf, sayang."
Sam semakin mendekatkan tubuh mereka, merengkuh lebih erat lagi tubuh Maya yang berada dalam pangkuannya. Satu tangannya melingkar di pinggang Maya dan satunya lagi meraih tengkuk gadis itu. Sam memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka, mencium lembut bibir Maya yang terasa manis dan selalu membuatnya candu.
Sam melepaskan sejenak pagutan bibir mereka untuk sekedar mengambil kebutuhan oksigen, lalu kembali menatap wajah Maya dengan penuh kasih.
"Kamu selalu cantik sayang, dan cantiknya kamu melebihi apapun di dunia ini," ujarnya lalu kembali Sam menyatukan bibir mereka untuk kesekian kalinya.
Selalu mampu membuat Maya merona karena malu dan bahagia. Kali ini Maya yang terlihat memajukan wajahnya dan memulai pergerakan, mencium mesra bibir tebal Sam yang juga membuat candu bagi Maya.
Maya melepas sejenak pagutan bibirnya.
"Sam....."
"Hhmm...."
"Jangan pernah ninggalin aku dan anak kita ya."
"Never, honey.... kalian adalah bagian hidup aku yang paling aku cintai," bisik Sam.
to be continue....