
"Mana Samuel, suami kamu Tha? Dia tahu kan kalau kamu sudah melahirkan?" tanya Baskoro, ayah dari Martha. Wajah laki-laki itu menyiratkan ekspresi tidak senang, sementara Elsi, istri Baskoro masih lembut mengusap kening Martha dan juga bayi yang ada dalam dekapan Martha.
"Pa.... ada yang mau Tha omongin," lirih Martha, melirik sebentar ke arah Harris yang berdiri di sisi lain tubuh Martha.
Harris mencoba menenangkan gadis itu, memegang lembut pundak Martha yang bersandar pada tempat tidur rumah sakit yang bisa diatur posisi ketinggiannya.
Elsi memandang bahasa tubuh keduanya, sedikit menarik kening heran ketika melihat bahasa tubuh Harris terhadap Martha, putrinya.
"Tidak bisa dibiarkan, apa Samuel tidak peduli dengan keadaan kamu dan anaknya? Apa dia memperlakukan kamu dengan buruk hah?!"
Nada bicara Baskoro kembali meninggi, wajah tegas dan kerasnya kini semakin memperlihatkan otot-otot tegang dan emosi.
"Tenang Pa, nanti juga Sam akan ke sini," Elsi mencoba menenangkan. Berjalan ke arah suaminya dan meraih bahu suaminya.
"Pa, Ma... ada yang mau Tha omongin, tapi kalian jangan...."
Belum sempat Martha melanjutkan ucapannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar. Sosok tegap Samuel kini memasuki kamar rawat Martha, diikuti Maya yang berjalan berdampingan dengan Samuel. Tangan keduanya terlihat saling bertaut dan menggenggam erat.
"Selamat siang." Sam mengucapkan salam, sedikit tersenyum ke arah semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Pemandangan yang sangat mengejutkan di mata Baskoro dan Elsi, melihat ada gadis lain yang datang bersama Samuel dengan tangan keduanya yang saling berpegangan erat.
Bola mata Baskoro mendadak membola tajam, menyiratkan kemarahan yang memuncak.
"Kamu...!! berani-beraninya datang bersama perempuan lain. Apa maksud kamu hah?!" emosi Baskoro meluap, mendekat ke arah Samuel dan Maya, memandang remeh wajah Maya.
"Heh! kamu siapa hah!? kenapa kamu dekat-dekat dengan pria ini?" Pertanyaan Baskoro membuat Maya terhenyak, nada tinggi Baskoro membuat seisi ruangan tersentak kaget.
Bola mata Baskoro dan juga Elsi masih lekat memandangi Maya, dengan tatapan kemarahan dan kesinisan. Membuat Maya menunduk dalam dan bersembunyi di belakang tubuh kekar Samuel.
"Maaf om, sepertinya ada yang belum Martha ceritakan ke kalian."
Samuel memasang badan, membawa tubuh Maya lebih dekat dengannya, menggeser sedikit tubuh gadis itu untuk tetap berada di belakang punggungnya.
"Apa maksud kamu Sam? saya kecewa sama kamu, Martha baru saja melahirkan dan kamu berani-beraninya datang bersama perempuan tidak tahu malu ini?!"
"Apa Anita dan Permana tahu kelakuan kamu hah!? dan kamu perempuan pengganggu rumah tangga orang, tidak malu ya kamu menghancurkan rumah tangga anak saya dan suaminya!" Elsi menimpali kemarahan suaminya. Melirik tajam ke arah Maya, pandangan meremehkan Elsi bagaikan mata pisau yang langsung menusuk jantung Maya.
Kembali Maya merasa seperti sedang ditelanjangi dengan tatapan mata sinis dan penuh kebencian Elsi dan juga Baskoro.
"Tante jangan bicara sembarangan, dia tidak seburuk yang kalian kira."
"Kami gak sembarangan Sam, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri dan kami juga mendengar selentingan kabar jika ada perempuan lain yang mengganggu pernikahan kamu sama Martha."
"Dan ternyata perempuan itu dia? hanya seorang perempuan murah^an dan tidak tahu diri ini hah?" lanjut Baskoro dengan emosi yang meledak-ledak.
"Cukup! mama sama papa jangan menyalahkan Sam dan juga Maya, mereka gak salah!" Martha mencoba menengahi, mencoba menghentikan semua ucapan Baskoro dan Elsi.
"Martha! jelas-jelas mereka yang salah," jawab Elsi. Kedua netra wanita itu masih menatap tajam ke arah Maya yang terlihat menunduk dan mengeratkan jemari tangannya ke lengan Samuel.
"Om, tante jangan pernah menghakimi Maya, sebaiknya kalian mendengar dulu penjelasan dari Martha." Sam masih mencoba bersikap lebih dingin, jika saja tidak ada Maya di dekatnya tentu saja pria itu sudah membungkam mulut Baskoro dan Elsi dengan cara kekerasan.
"Anak ini bukan anak Sam, ini anak ku dan juga Martha." Ucap Harris tiba-tiba.
Membuat Baskoro dan juga Elsi mengalihkan pandangan terkejutnya ke arah Harris yang dari tadi berdiri di samping Martha. Kembali amarah Baskoro memuncak, mendekati Harris dan melayangkan pukulan tiba-tiba ke wajah dokter itu.
Bugh...!!! Bugh...!!!
Berkali-kali tinjuan Baskoro mendarat di wajah Harris tanpa dokter itu membalasnya.
"Pa... cukup!!" teriak Martha spontan, air mata kini mengalir keluar dari kedua sudut mata gadis itu. Melihat Harris tidak sedikitpun membalas pukulan ayahnya, memberikan luka di hati Martha. Ia ingin sekali berada disana memasang badan untuk melindungi Harris namun badannya masih lemah, Martha hanya bisa menangis dan memeluk erat bayi laki-laki yang ada dalam pelukannya.
"Maafkan saya Bas, saya mencintai Martha dan akan selalu menjaga dia dan anakku." Harris mencoba berdiri, mengusap darah segar yang mengalir dari kedua sudut bibirnya. Memegang rahangnya yang terasa sakit ketika mendapat pukulan bertubi-tubi dari Baskoro.
"Kamu!! kenapa kamu tega melakukan hal itu Ris? kamu teman saya dan umur kamu sangat terpaut jauh dengan Martha."
"Dan kamu Martha, kamu tega membuat malu keluarga kamu hah!? membuat malu papa, mama dan keluarga besar kamu!"
Bugh...! Bugh...!
Harris masih tidak melawan, menerima pasrah pukulan Baskoro.
Melihat perlakuan ayahnya, Martha kembali histeris, menangis sejadinya dan semakin mendekap erat bayi mungilnya. "Cukup Pa, om Harris gak salah. Aku yang salah..." masih mencoba menghentikan pukulan Baskoro, Martha semakin histeris.
Maya yang melihat itu langsung berhambur mendekati Martha dan memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
"Saya minta maaf sama kalian, saya janji akan menikahi Martha dan bertanggung jawab terhadap dia dan anak saya." Harris mendekati Baskoro, mencoba meraih pundak sahabatnya itu.
Baskoro mengelak, "Jangan mendekat!" erang Baskoro. Elsi mencoba meraih pundak suaminya untuk menenangkan. Masih terlihat kekecewaan yang sangat besar terbersit di wajah keduanya.
Sejenak memandang ke arah Martha lalu beralih ke arah Harris.
"Jangan pernah mengharap restu dari saya! mulai hari ini kami tidak lagi memiliki anak bernama Martha Anindia Baskoro."
Terdapat nada berat dari kalimat terakhir Baskoro, Elsi terhenyak. Wanita itu menangis, memandang sayu ke arah Martha dan bayinya. Wanita itu hanya bisa diam, tidak berani membantah ucapan suaminya. Hampir saja Elsi mendekat kembali ke arah Martha namun dengan cepat Baskoro melarang istrinya. "Jangan pernah berani mendekat ke arah gadis itu! kita pulang sekarang!" titah Baskoro sinis. Laki-laki itu enggan melihat kembali wajah Martha dan juga cucu yang baru saja dilahirkan itu.
Baskoro melangkah keluar, diikuti Elsi yang masih merasa sedih. Menangis memandang ke arah Martha. Kekerasan hati Baskoro sangat sulit untuk diluluhkan, biarlah waktu nanti yang akan menyembuhkan luka laki-laki itu.
___
Martha memandang sayu kepergian kedua orangtuanya, gadis itu menangis dalam pelukan Harris, sementara Maya menggendong bayi mungil Martha. Berkali-kali ia menciumi pipi mungil yang masih terlihat kemerahan. Maya mengerjapkan mata takjub melihat makhluk mungil yang ada dalam dekapannya. Samuel tersenyum kecil melihat Maya, khayalan Sam kini menggelitik angannya. Membayangkan jika bayi yang ada dalam dekapan Maya adalah anak mereka, senyuman kecil terbentuk beberapa kali di sudut bibir Sam.
Membuat Maya heran melihat Samuel yang terlihat senyum-senyum sendiri sambil memandang ke arahnya.
Harris masih mencoba menenangkan Martha, mengelus lembut puncak kepala gadis itu lalu menciumnya lembut.
"Kamu yang sabar sayang, aku yakin kalau restu Baskoro lambat laun akan dia berikan untuk kita," bujuk Harris, mencoba membuat perasaan gadis itu membaik.
"Setelah kamu resmi bercerai dengan Sam, aku akan nikahi kamu," bisik Harris lagi, kali ini Martha menatap lembut ke arah Harris. Gadis itu mengangguk pelan dan berhambur ke pelukan Harris. "Kita akan membesarkan baby kita, aku gak akan membiarkan kamu sendirian," lanjut Harris.
"Aku percaya sama kamu, sayang."
Martha membalas pelukan Harris. Hangat, hingga membuat Sam dan Maya tersenyum bahagia melihat kedua pasangan itu.
"Maya, makasih ya kamu udah mau datang. Maaf sama ucapan papa dan mama aku tadi," lirih Martha, terlihat penyesalan di ekspresi wajahnya.
"Gak apa-apa kok, aku seneng bisa lihat malaikat kecil kamu Tha." Maya mendekat ke arah Martha dan mengembalikan bayi mungil itu ke dalam pelukan Martha.
"Aku minta maaf telah menjadi duri dalam hubungan kamu sama Sam."
Martha menghentikan sejenak ucapannya.
"Sam sangat mencintai kamu May, selama menikah denganku kemarin, dia bahkan tidak pernah menyentuh ku sedikit pun. Aku nyesel dan malu sama kalian," lanjut Martha lagi.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah melupakan semuanya kok."
"Makasih ya May." Martha menjulurkan tangan ke arah Maya yang lalu disambut Maya dengan senang hati. Mengusap lembut punggung tangan Martha dan tersenyum ke arahnya.
"Kamu yang kuat ya, demi baby kamu," Maya kembali menguatkan Martha, dibalas anggukan kepala Martha dan juga senyuman Harris.
"Kami pamit dulu, kalau kalian butuh bantuan, aku siap kapan saja," timpal Samuel.
Kembali anggukan kepala dan senyuman Harris juga Martha menjawab ucapan Sam.
Sam kembali meraih tangan Maya dan membawa gadis itu keluar dari kamar rawat Martha. Maya mengeratkan gelayutan tangannya di lengan Samuel dan berjalan bersama menyusuri lorong rumah sakit.
Sam memegang gelayutan tangan Maya di lengannya, mencium lembut puncak kepala gadis itu dan berbisik, "Semua sudah berakhir, segala permasalahan dalam hubungan kita perlahan menemukan titik terang."
Maya mengangguk, semakin mengeratkan lengan mereka dan menyandarkan kepalanya di bahu Samuel.
to be continue....