MySam

MySam
Diselamatin Harris



Martha nampak asik meracau dengan beberapa temannya di bawah sorot lampu disco warna warni. Sesekali ia tersenyum sambil meneguk segelas martini yang ia pegang. Kini ia mulai kembali meracau berbicara asal yang temannya pun tidak terlalu peduli dengan apa yang ia bicarakan karena pengaruh alkohol malam itu.


"Kalian tau gak? gue hamil.... hahahah....!!"


"Dan sebentar lagi gue mau menikah sama Sam sayang..."


"Tapi.... ini bukan anak Samuel, karena gue hamil nya boong an hahahahah.....!!" racau Martha.


Beberapa temannya tertawa sambil kedua mata mereka membola ke arah Martha.


"Gila lo Tha, nekat lo."


"Gue kasian sama Sam lo boong in Tha..."


Mendengar ocehan sahabatnya, Martha hanya tertawa sambil kembali meneguk martini yang kini sudah hampir habis.


"Hahahaha gue gak peduli, Sam harus jadi milik gue... bukan milik cewe lain, kalian tau itu hah...!!" racau Martha lagi, kini ia benar-benar mulai mabuk.


"Gila lo Tha, sadis lo ....!!" ucap ke tiga sahabatnya.


Ketiga sahabat Martha tidak terlalu memperdulikan gadis itu yang masih meracau sendiri, Martha sudah mulai benar-benar mabuk.


Ketiganya lalu kembali turun ke lantai dansa, meliukkan tubuh mereka yang malam itu hanya berbalut pakaian minim bahan dan sangat ketat, pengaruh minuman beralkohol membuat gadis-gadis itu tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.


Ketiga sahabat Martha masih saja menari mengikuti hentakan musik dance yang disuguhkan oleh Dj clubing malam itu dengan music yang sangat liar.


Martha masih enggan kembali turun ke lantai clubing, ia masih duduk di meja bartender sambil meracau.


"Beri gue segelas lagi...." titah gadis itu, Alex hanya menggelengkan kepala beberapa kali melihat Martha yang malam itu sudah mabuk berat.


Martha kembali meneguk segelas martini di genggamannya.


"Hai sayang.... lo mau gue buat hamil beneran?" Kini seorang laki-laki hidung belang mendekati Martha. Dengan pandangan mata tajam bagai singa kelaparan dan melihat mangsa empuk.


"Lo siapa hah... berani deketin gue!!" racau Martha mabuk, ia arahkan telunjuk tangannya tepat di muka laki-laki tadi.


"Ayolah sayang.... gue akan bawa lo ke surga..." Kali ini sang lelaki hidung belang itu mulai meraba paha mulus Martha, pelan-pelan hingga hampir sampai ke pangkal paha gadis itu.


"Samuel... baby... lo ada disini?" racau gadis itu, ia mulai bangkit dari duduknya, tangan nya ia kalungkan ke leher laki-laki tadi.


Laki-laki itu tersenyum smirk seperti mendapat lampu hijau, tangannya kini mulai bergerilya liar, mendekap erat tubuh indah Martha. Kedua tangan laki-laki itu kini menangkup dan meremas dua bongkahan bulat sempurna nan kenyal milik Martha, wajah nya ia dekatkan dengan bibir Martha. Hampir saja laki-laki itu merenggut bibir ranum Martha tiba-tiba saja "Buggghh....!!!" sebuah pukulan keras mendarat di rahang nya hingga tersungkur.


Cukup menarik perhatian beberapa pengunjung club malam lainnya, tak terkecuali ketiga sahabat Martha yang tadinya berada di lantai dance.


"Bangsat....!!! siapa lo hah... sok jagoan disini." maki laki-laki yang hampir saja menyentuh Martha.


"Bugghhh....!!!" kembali pukulan keras melayang begitu saja di rahang si laki-laki hidung belang tadi.


"Bangsat lo....!!" ia mencoba membalas pukulan orang asing itu namun naas nya pukulannya meleset hingga ia pun tersungkur.


Laki-laki tegap yang berhasil melayangkan dua bogeman keras tadi mendekati nya, ia raih rahang laki-laki itu dan mencengkeram nya kuat.


"Lo jangan pernah gangguin gadis gue lagi, laki-laki brengsek kayak lo lebih pantas dengan wanita murahan di luar sana !!" Ancam nya.


"Om Harris....??" ucap Martha yang sedikit memicingkan kedua netra nya dalam gelap dan setengah sadar gadis itu samar melihat Harris lah si pemukul laki-laki yang hampir saja merenggut bibirnya.


Harris berdiri, ia rapikan kembali kemeja nya dengan menepuk-nepuk pelan kemeja yang kini kusut akibat berkelahi dengan si pemabuk tadi.


"Om Harris ngapain ke sini hah..." racau Martha, gadis itu masih berdiri sempoyongan.


Tanpa menjawab Harris meraih lengan Martha, mencoba membawa keluar gadis itu dari salah satu club malam mewah di Jakarta. Martha mencoba berontak, ia memukul lengan Harris beberapa kali.


"Tha masih mau disini.... lepasin Tha..." racau Martha sambil terus mencoba melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Harris.


"Om Harris lepasin gue....!!!"


Harris berhenti sebentar, kedua lengan Martha masih dalam genggaman erat tangannya.


"Martha masih mau minum..." racau gadis itu.


Tiba-tiba saja Harris mengangkat tubuh Martha dan menggendong nya di bahu kekar Harris. Lebih tepatnya Harris layaknya menggendong sekarung beras bukannya menggendong seorang gadis ala bridal style.


Martha masih mencoba memberontak, ia pukul-pukul punggung Harris, kedua kaki jenjangnya ia coba kibaskan asal. Harris tidak bergeming, ia terus membawa tubuh Martha keluar dari tempat clubing tersebut.


_______


Harris berhenti tepat di sebelah mobil Jeep Wrangler berwarna putih. Ia buka pintu mobil lalu meletakkan tubuh Martha di kursi depan.


Kali ini gadis itu mulai tenang, tanpa racauan tidak jelasnya lagi. Martha menenggelamkan kepalanya pada sandaran mobil.


Harris dengan cepat beralih pada sisi kemudi, ia pandangi wajah gadis di sampingnya yang kini mulai memejamkan kedua netranya. Harris tersenyum sekilas, telapak nya kini meraih pipi Martha dan mengelus lembut.


****


Harris menghentikan Jeep nya di depan sebuah mansion di kawasan perumahan elit daerah Pondok Indah.


Ia keluar dari mobil, dengan cepat berjalan ke sisi penumpang.


Harris membuka pintu mobil, dilihatnya Martha kini tertidur pulas. Harris tersenyum sebentar sebelum ia mulai menggendong kembali tubuh ramping Martha.


Kali ini sang dokter itu menggendong Martha dengan gaya ala bridal style. Hati-hati dokter itu memperlakukan Martha, ia tidak ingin gadis kecilnya terbangun.


Harris berjalan memasuki pintu mansion begitu seorang maid membuka kan pintu untuknya.


"Bik, tolong siapkan kamar tamu." titah sang dokter, wanita tua ber kebaya dan ber sanggul kecil itu langsung mengangguk dan dengan langkah cepat ia naik ke lantai dua.


Menyiapkan sebuah kamar sesuai perintah sang majikan.


____


"Tuan... kamarnya sudah siap."


Harris mengangguk, lalu kembali menggendong Martha pelan, ia tidak ingin sedikitpun gadis itu terganggu dari tidurnya.


Harris menaiki satu persatu anak tangga hingga tepat di depan sebuah kamar yang sangat luas.


Ia merebahkan kembali tubuh Martha di atas kasur berukuran kingsize dengan bedcover warna matcha, warna favorit Martha.


"Good sleep baby...." bisik Harris.


Ia pandangi lekat wajah cantik itu, walau terlihat sedikit berantakan karena mabuk, Martha tetap terlihat menawan di mata Harris.


Telapak tangan nya membelai wajah Martha, lembut. Hingga kini telapak tangan itu beralih ke puncak kepala Martha.


Senyuman kecil kini mengembang di sudut bibir Harris, bukan sebuah senyuman menyeringai licik tapi senyuman lembut penuh kasih sayang.


"Ganti pakaian nona ini dengan piyama bersih." titah Harris kepada maid nya tadi.


Sang wanita setengah baya itu pun mengangguk hormat, tanpa menunggu lama lagi Harris keluar dari kamar tersebut dan membiarkan salah satu maid nya menyelesaikan titah nya barusan.


______


"Saya sudah selesai mengganti pakaian nona muda, tuan." ucap sang maid tak lama kemudian.


Harris mengangguk, "Terima kasih bik, sekarang bibik boleh kembali istirahat."


Wanita setengah baya itu kembali mengangguk dan dengan langkah tergopoh berlalu dari hadapan sang tuan.


Harris perlahan memasuki kembali kamar yang telah di tempati Martha. Gadis itu masih terlelap, begitu damai. Seperti anak kecil bahkan wajah culas dan arogan Martha malam itu sedikit pun tidak terlihat. Harris duduk pada sebuah sofa kecil disamping tempat tidur Martha, ia sandarkan tubuhnya dengan kedua netra yang masih lekat memandangi tubuh gadis itu. Lagi-lagi ia tersenyum hingga akhirnya Harris tak dapat lagi menahan rasa kantuk yang mendera nya.


***


Pagi ini Harris sudah bersiap pergi ke rumah sakit, Martha masih saja terlelap. Sesaat Harris kembali menatap wajah gadis kecil nya itu. Hingga akhirnya tubuh gadis itu terlihat menggeliat dari balik selimut tebal.


Perlahan netra Martha mulai membuka, sedikit demi sedikit netra itu mengamati ruangan bernuansa putih. Hingga beralih ke beberapa hiasan dinding dan perabot dalam ruangan tersebut. Mata gadis itu membola tiba-tiba, begitu ia sadar jika semua benda-benda itu terlihat asing bagi nya.


Martha semakin membelalak kaget begitu melihat Harris duduk pada sebuah sofa di sisi kiri tempat tidurnya. Lengkap dengan setelan rapi dan rambut berpomade.


"Pagi sayang...." sapa Harris, ia mendekat ke arah Martha dan mencoba mencium kening gadis itu. Martha mencoba menghindar, Harris tersenyum sebentar. Ia berfikir mungkin Martha masih kaget kenapa dirinya ada dalam sebuah kamar bersama dia.


"Kamu semalam mabuk sayang, hampir saja ada laki-laki brengsek mencoba menyentuh mu." terang Harris seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Martha.


"Aku berangkat kerja dulu ya, kamu istirahat aja. Please jangan pergi dulu dari sini, tunggu aku kembali, okey....." bisik Harris lembut.


Kembali Harris mendekati Martha, kini ia mencium lembut salah satu pipi mulus Martha, lalu beralih ke ujung bibir gadis itu.


Pelan, dan lembut... Harris tidak ingin membuat Martha merasa tidak nyaman.


Martha hanya terdiam mendapat perlakuan manis dari Harris, laki-laki yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam pikiran Martha sedikit pun.


"Bibir kamu masih bau martini baby... kamu mandi ya... atau kamu mau aku mandiin hhmm...??" bisik Harris.


"Gak usah om, aku bisa melakukannya sendiri." cicit Martha.


"Aku tinggal dulu, kalau kamu butuh sesuatu ada bibik di bawah."


"See you and i love you my little baby girl."


Kembali Harris mendaratkan ciuman di puncak kepala Martha. Gadis itu masih terdiam di atas kasur tanpa bergeming sedikit pun.


To be continue.....