
Memasuki mansion dengan ekspresi lelah, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa besar, membenamkan kepala pada sandaran sofa sambil memijit pelipis untuk sedikit menghilangkan kepenatan sore itu.
"Den Sam mau dibuatkan minuman?" tawar si bibik membangunkan Samuel. Melihat sebentar ke arah wanita setengah baya yang sudah puluhan tahun mengabdi padanya, Sam menggeleng pelan. "Gak usah bik."
Si bibik hanya mengangguk patuh, sedikit membungkukkan badan dan berlalu dari hadapan Samuel.
"Bik, Martha ada di rumah?" tanya Sam, si bibik berhenti sejenak dan kembali menoleh ke arah sang majikan. "Non Martha ada Den, mungkin di kamarnya." jawab si bibik.
Sam masih terdiam, si bibik kini melanjutkan langkahnya yang terhenti sebentar tadi, berjalan kembali menuju ruang belakang.
"Kenapa Sam? tumben kamu menanyakan aku?" Martha turun dari lantai atas, mengetukkan heels nya pelan. Tangannya berpegangan erat pada pembatas tangga melingkar yang ia turuni.
"Mau pergi kemana kamu?" tanya Sam.
Sedikit mendengus tanpa mengindahkan pertanyaan Samuel, Martha kembali merapikan gaun yang ia kenakan. Kehamilan yang akan menginjak usia kandungan sembilan bulan membuat tubuh Martha terlihat semakin berisi.
"Aku tanya, kamu mau kemana?"
ulang Sam lagi, kali ini sedikit berteriak.
"Bukan urusan kamu Sam, bukankah selama ini kamu gak pernah peduli kemana aku pergi hah?!" sedikit dengusan kecil Martha tunjukkan.
"Mau ke mansion dokter Harris lagi kamu hah?!"
Satu pertanyaan Sam kali ini berhasil membuat Martha terkejut. Membuatnya sedikit salah tingkah.
"Bukan urusan kamu Sam." Martha memandang tajam Samuel. "Ada hubungan apa kamu sama dokter Harris?" Tanya Sam sambil mencengkeram erat lengan Martha.
"Apa penting buat kamu?"
"Penting buat aku jika menyangkut anak dalam kandungan kamu itu," Sam kembali memandang Martha tajam.
"Udah ya Sam, aku gak mau debat lebih lama lagi." Ketus Martha, kemudian melangkah meninggalkan Samuel, mengetukkan heels sehingga mengeluarkan suara nyaring di lantai mansion milik Sam.
Tidak berusaha mengejar, ia sudah cukup merasa lelah merasakan pernikahan bersama Martha.
Sam menyadari, bahwa Maya memang mendominasi pikirannya dalam beberapa hari terakhir.
Pria bertubuh atletis itu menarik napas panjang. Disaat seperti ini dia merindukan heavy bag yang ada di balkon kamarnya. Rasanya ia ingin memukul seseorang.
Ah sudahlah. Ia harus berusaha menahan amarahnya sendiri, perasaan tak berdaya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Pernikahan sialan aarrghhh..!!! rutuk Samuel dengan sedikit berteriak.
____
Sam menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Namun, ia sama sekali tidak mampu memejamkan mata. Adegan Maya tersenyum ceria bersama El saat makan siang tadi sungguh mengusiknya.
Dengan segera ia melompat bangkit, melepas blezer dan Tshirt nya dengan kasar, lalu dilemparkan sekenanya ke atas lantai. Dengan tergesa ia menyambar handuk di dalam lemari dan langsung menuju kamar mandi.
Pria dengan tubuh yang digilai wanita itu menanggalkan seluruh pakaiannya. Dengan langkah tegap Samuel masuk ke dalam kamar mandi, berdiri di bawah shower.
Dinyalakan shower dengan mode heavy rain yang melebar. Tubuhnya dihujani air hangat yang mampu mengendurkan seluruh otot tegang dan lelahnya.
Biasanya ketika aliran air hangat menyapa tubuhnya, memijit sekujur tubuh kekarnya dengan lembut, Sam bisa merasakan kedamaian.
Namun gejolak api yang membakar jiwanya tidak bisa ia padamkan. Bahkan ketika ia membuat air menghantamnya semakin keras, yang ada di kepalanya justru ingin menghajar muka El keras-keras.
Brengsek!!!
Teriak Sam, menghantamkan kepalan tangannya ke dinding kamar mandi. Membuat darah segar mengucur di seluruh punggung tangan kanannya. Luka ini tidak seberapa dengan apa yang ia rasakan saat ini.
_____
Flash back di kantor
Membuka knop pintu ruangan Maya, sedikit menjulurkan kepalanya. Dengan senyuman yang selalu terlihat menawan, ia mendekat ke arah Maya.
Gadis itu masih terlihat sibuk dengan layar komputer yang ada di hadapannya, menggerakkan jemari tangannya pada keyboard komputer. "Dear kita makan siang bareng?" tanya Samuel, bersandar pada sisi meja sebelah kiri dengan satu tangan yang ia selipkan di saku celananya.
Maya bersiap dingin, setidaknya gadis itu berpura-pura bersikap dingin di hadapan Sam. Masih tak bergeming, Maya tetap melanjutkan kesibukan. Atau lebih tepatnya ia pura-pura bersikap acuh dan tak mempedulikan Samuel.
"Sayang, kita makan siang bareng yuk, ke kantin kantor atau ke restoran ujung jalan. Terserah kamu." Ulang Sam lagi, mencoba mengabaikan sikap cuek Maya terhadapnya. "Please May, jangan marah lagi ke aku. Setidaknya stop mendiamkan aku seperti ini Maya." lirih Samuel, sedikit mendekat lagi ke arah Maya. Mencondongkan tubuhnya hingga hampir saja bibir Sam menyentuh wajah Maya.
Ceklek....!!!
"Gak apa-apa kok El, kita jadi kan makan siang bareng?" Maya menyela ucapan Elano, mematikan layar komputer lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Elano.
Berjalan begitu saja menjauhi Samuel yang masih berdiri mematung. Menyembunyikan kepalan erat tangannya di balik saku celana jeans miliknya.
"Yuk berangkat sekarang."
"Tapi kalian....." Masih dengan wajah bingung, Elano kini menatap wajah Samuel.
"Oh pak Sam anda mau ikut dengan kami atau.... anda ada janji makan siang dengan istri anda?" Tanya Maya, sengaja mengajukan pertanyaan menyindir Sam.
Mengalihkan pandangannya ke arah Maya dan El. Sam terdiam dan hanya tersenyum kecut.
Menahan amarahnya, rahang kotak itu kini terlihat mengeras. Semua giginya bergemeretak hebat.
"Ya udah yuk El, kita pergi." Menggandeng lengan El, kini Maya melangkah keluar. Melirik sebentar ke arah Sam.
Berjalan dari lorong ke lorong bersama Elano, dengan cepat Maya melepaskan pegangan tangannya di lengan El. Iya tadi itu hanya lah sandiwara Maya, mencoba menjauh dari Sam dan membuat pria itu menjauhi dirinya.
"Dia.... Samuel bos kamu dulu?" lirih El di sela-sela langkah kaki mereka. Melirik sebentar ke arah Maya.
Maya mengangguk pelan, tanpa memandang wajah El, mereka masih berjalan ber iring, menapaki jengkal demi jengkal koridor kantor. "Kita makan di kantin kantor aja ya El," ucap Maya kini. El hanya mengangguk, diam tanpa berkata apapun.
___
Memasuki ruang kantin, El dan Maya memilih tempat duduk di sudut ruang kantin. Mengabaikan semua pasang mata yang tertuju ke arah mereka. Menunggu sebentar pesanan mereka datang, Maya masih terlihat merotasikan ke seluruh sudut kantin lalu beralih ke pintu utama kantin.
Mencoba mencari sosok Samuel, mungkin? hanya mendiamkan El lalu meraih keluar ponsel dari saku blezer miliknya.
Mengalihkan fokus nya dari ponsel begitu makanan dan minuman yang mereka pesan telah diantar oleh pelayan kantin. Maya mengaduk pelan es lemon tea miliknya lalu menyesap ujung sedotan, sambil merotasikan kembali kedua bola matanya.
Melihat kembali ke arah ujung pintu kantin, mengabaikan El yang saat itu duduk di hadapannya.
"Lihat apa May? cari Sam ya?" tanya Elano yang juga mulai menyesap teh hangat pesanannya.
Maya kini mengalihkan pandangannya ke arah Elano, tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. "Aku tau kamu mencari Sam kan?" tanya Elano lagi. Tidak menjawab pertanyaan El, kini Maya kembali merotasikan kedua mata ke arah pintu kantin.
Ada sosok Sam yang berjalan memasuki kantin. Pria tegap dengan tubuh atletis terpahat sempurna. Seketika perhatian seluruh pengunjung kantin khususnya para gadis langsung tertuju ke arah Samuel.
Mereka memandang penuh pesona ke arah Sam, berbisik pelan dengan teman yang ada di samping mereka. Membicarakan sosok CEO baru, si pemegang saham kedua setelah Elano Wijaya.
Maya dengan cepat memasang senyuman ke arah El begitu netra gadis itu berhadapan dengan manik mata kecoklatan milik Samuel.
Sedikit terkejut oleh pandangan mata Sam yang langsung tertuju padanya, Maya berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah El.
Gadis itu tersenyum ceria, sesekali terdengar tawa kecil Maya saat berbicara dengan Elano. Masih berusaha membuat Sam menjauh darinya, walau dalam hati kecil Maya apa yang ia lakukan juga sangat menyakiti hatinya sendiri.
Menghindari Sam, bagi Maya adalah hal tersulit, beda ketika ia harus menghindar dari Elano.
"Kamu gak usah berpura-pura seperti ini May." lirih El
"Maksud kamu apa El?" sedikit memasang wajah bingung, Maya kini serius menanggapi ucapan Elano.
"Kita bisa benar-benar jadian May, aku... aku masih sayang sama kamu." jawab Elano, membuat Maya sedikit terkejut.
Ia tidak menginginkan hal ini, mengetahui fakta bahwa Elano masih mencintai dia. "Aku gak bisa El, maaf." cicit Maya pelan.
"Aku gak akan nyerah untuk kamu Maya." Tanpa melihat wajah Maya, El mengangkat cangkir kecilnya dan menyesap perlahan teh hangat miliknya. Sedang Maya, membuang napas perlahan lalu berusaha tersenyum memandang El. Masih mencoba berpura-pura di hadapan Sam.
____
Samuel melihat semua adegan itu dari sisi kantin yang lain. Tatapan tajam nya tidak pernah beralih dari sosok Maya dan Elano, mengepalkan erat tangannya seolah ingin mendaratkan kepalan tangan itu ke wajah El.
"Hey...!! siapa yang nyuruh lo duduk di situ hah?!! pergi sana!!" erang Sam pada seorang gadis manis yang tadinya berusaha duduk di meja yang sama dengan Sam, tepat di hadapan Samuel.
Sang gadis terlihat sedikit ketakutan, malu dan syok. Dengan cepat ia berdiri menjauh dari pria tampan berwajah garang itu.
Membuat seisi kantin spontan menujukan arah pandangannya ke arah Samuel. Tak terkecuali Maya dan Elano.
Sam tidak bergeming, ia tidak peduli dengan pandangan aneh mereka. Sejenak memandang tajam ke arah Maya lalu berdiri, melangkah menjauhi kantin dengan wajah kesal.
Maafin aku Sam, batin Maya.
to be continue....