MySam

MySam
Godaan Sam



Maya dan Airin sudah berada di dalam lift, kali ini Maya terlihat sedikit tidak bersemangat dan itu sangat jelas bisa Airin lihat dari sorot mata hitam gadis itu.


"Lo ada masalah May?" Tanya Airin pelan, Maya hanya tersenyum kecil menanggapi. "Wajah lo kayak gak ada semangat hidup gitu Maya. Udah kalo ada masalah cerita ma gue."


"Ini tentang El." Lirih Maya kali ini.


"Kenapa sama El? Kalian bertengkar?"


Lagi-lagi Maya menggeleng pelan, semakin membuat Airin berdecak kesal.


"Terus?"


"Hubungan gue sama El seperti tanpa ada titik terang." Lanjut Maya dan kali ini giliran Airin yang mengerutkan kening heran.


"Maksud nya apa si May?"


"Lo kan tau papa El gak suka sama gue. Sementara gue gak bisa berhubungan jika orangtua El gak setuju, bagi gue restu orang tua itu penting."


Airin manggut-manggut mendengar cerita sahabatnya, hampir saja Airin membalas curhatan Maya tiba-tiba pintu lift terbuka.


"Gue keluar dulu May, liftnya udah berhenti di devisi gue."


Maya mengangguk pelan, mereka lalu cipika cipiki bersama sebelum Airin keluar dari lift.


Kembali Maya menekan tombol angka empat. Tiba-tiba saja pintu lift kembali terbuka, mata Maya membola sejenak ketika menangkap sosok cowo tinggi tegap lengkap dengan kemeja dan dasi rapi melingkar di leher cowo itu.


Maya mendengus sebentar, lalu merotasikan bola mata nya kearah lain.


"Lo semalam kemana?" Tanya Samuel sang bos, Maya spontan membolakan kedua matanya heran.


"Emang kenapa Pak? Harus ya saya lapor ke Bapak saya kemana aja?!" Ketus Maya, sungguh pertanyaan Sam kali ini persis orang yang sedang basa basi, atau__ cowo itu mulai kepo dengan Maya?


Sam mendengus pelan namun kali ini dia merasa lelah berdebat dengan gadis jutek macam Maya.


Mereka kembali hening.


Ting!! Pintu lift terbuka kemudian, Maya hendak melangkah keluar mendahului sang bos. Namun tiba-tiba tubuh gadis itu mendadak oleng dan hampir saja terjatuh.


"Lo hati-hati kalo jalan." Ketus Sam, kedua tangan cowo itu menahan punggung Maya agar tidak terjatuh. Kini posisi mereka seperti dua orang yang hampir berpelukan.


"Eehh__ makasih Pak." Ucap Maya kali ini.


Gadis itu mulai salah tingkah di depan Sam, samar Samuel melihat pipi gadis itu sedikit merona.


"Dasar ceroboh, lain kali gak usah pake high heels kalo gak bisa pakai nya." Ketus Samuel seperti biasa.


Maya kembali mengerucutkan bibirnya kesal.


Samuel berjalan keluar dari pintu lift meninggalkan Maya yang masih mematung kesal.


"Ish__ cowo paling nyebelin sedunia !!" Cibir Maya kesal.


***


"Hai May, tumben berangkat bareng sama si bos. Jangan-jangan kalian __" Bayu tidak meneruskan ucapannya, mata cowo itu melirik nakal ke arah Maya.


"Apaan sih, norak tau." Cibir Maya, Bayu hanya tersenyum kecil menanggapi.


"Jangan-jangan apa emang? Gue sih ogah deket-deket sama tu cowo rese. Kalo aja bukan bos ogah gue." Gerutu Maya pelan.


"Ogah apa maksud lo?!"


Maya terkejut mendengar suara mengesalkan itu lagi.


"Eee__ bukan Pak, maksud saya ogah__ eee ogah telat Pak heeee" Maya terbata-bata menjawab ucapan Samuel.


"Lo buatin gue teh anget." Ketus Sam.


"Sekarang!!" Ulang Sam.


"Tapi Pak, saya kan pegawai magang di kantor bukan OG nya Bapak." Jawab Maya asal, Sam melotot spontan. "Lo masih aja bantah ucapan gue?, cepetan buatin gue teh anget." Titah Sam lagi kali ini dengan nada sedikit berteriak.


"Oke.... oke..."


Kali ini Maya berusaha mengalah, baginya melawan titah bos nya itu sama saja seperti bicara dengan tembok.


Maya berjalan berat menuju Pantry kantor. Satu lagi kini tugas Maya merangkap sekaligus sebagai office girl pribadi sang bos rese itu.


***


Maya menyeduh teh hangat di cangkir keramik mahal dan masih dengan mulut komat kamit tak jelas.


"Bagus Maya, sekarang lo merangkap jadi office girl di kantor ini." Lirih Maya kesal.


Berkali-kali gadis itu mengaduk teh hangat tersebut sebelum akhirnya dia menghantarkan secangkir teh hangat ke meja kerja Samuel.


"Silahkan teh hangat nya Bapak Samuel Perdana yang terhormat." Ucap Maya ketus dengan sedikit penekanan. Sam melirik sebentar ke arah cangkir keramik berwarna putih bersih, lalu sedetik kemudian iris nya berganti melirik ke arah Maya.


Sam tersenyum kecil melihat ekspresi wajah asisten barunya tersebut, tentu saja senyuman yang dia sembunyikan dari Maya.


Jika gadis itu tahu senyuman Samuel yang meledek dirinya pasti gadis itu akan mencak-mencak kesal.


"Gak ngucapin makasih gitu? Basa basi kek?" Tanya Maya cemberut.


"Thanks." Jawab Samuel singkat.


Maya hanya memanyunkan bibirnya beberapa senti mendengar ucapan Sam yang hanya sambil lalu.


***


Jam tangan Maya menunjukkan hampir pukul empat sore dan itu artinya sebentar lagi jam pulang kerja, Maya merapikan beberapa peralatan tulisnya dan juga hendak mematikan layar komputer perusahaan. Rasanya gadis itu ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan merebahkan tubuh indahnya ke atas kasur kamarnya.


Maya melakukan peregangan otot sebentar, dia memijit pelan tekuk lehernya. Entah kenapa hari itu tiba-tiba lehernya serasa kaku dan memang beberapa hari ini banyak sekali kerjaan yang Samuel berikan ke gadis itu.


"Lo kenapa? Sakit?" Tanya Sam yang tiba-tiba masuk ke ruangan kerjanya.


Maya menggeleng cepat, gadis itu sedikit salah tingkah saat melihat bos nya yang tiba-tiba saja membuka pintu dan memasuki ruang kerja.


Sam mendekat ke arah Maya, tiba-tiba tangan kekar Sam meraih tengkuk leher jenjang Maya.


"Eh Bapak mau ngapain? Jangan macam-macam ya!!" Gadis itu sedikit berteriak ke arah Sam.


"Sstt__ lo diem aja gak usah protes." Jawab Samuel pelan, sedetik kemudian jemari lembut Sam mulai memijit pelan tengkuk Maya.


Rasanya sungguh nyaman, Maya merasakan jemari lembut Sam menyentuh permukaan kulit putih nya. Sam masih saja melakukan gerakan massage ke leher Maya. Entah dari mana cowo itu melatih jemari nya melakukan gerakan itu, gerakan yang berhasil meregangkan seluruh otot leher Maya yang tadinya sangat kaku.


"Enak?" Lirih Samuel, dia dekatkan ujung bibir tebalnya ke arah telingga Maya. Sangat dekat posisi bibir Sam sehingga gadis itu bisa merasakan deru nafas hangat Sam.


Maya mengangguk pelan, dirinya seperti terhipnotis sore itu.


"Lo mau lebih?" Tanya Sam kali ini.


Maya melotot spontan, gadis itu tersadar dari hipnotis Sam terlebih lagi Maya tersadar dari buaian tangan kuat namun sangat lembut milik Sam.


"Ish__ Bapak berusaha menggoda saya ya?" Tanya Maya dengan tatapan tajam ke arah Sam. "Siapa juga yang godain lo?! Dasar cewe emang dimanapun sama ya, cepet sekali baper nya." Ketus Sam lagi.


Sam meninggalkan ruangan kerjanya dengan senyuman geli di sudut bibirnya, lebih tepatnya senyuman puas nya karena berhasil mencoba mengerjai asisten barunya itu.


To be continue