MySam

MySam
Emosi Sam



Sam membuka knop pintu ruang kerja Maya, "Kamu ada janji makan siang sama El?" tanya Sam begitu pria itu mendekat ke arah Maya. Hanya ada anggukan kecil dari Maya, gadis itu masih terlihat sibuk dengan beberapa file laporan penjualan yang ada di laptop miliknya.


"Kenapa kamu tidak tanya persetujuan dariku dulu? Ingin bermain di belakang ku?" selidik Samuel, nada yang sedikit tinggi dan wajah kaku Sam mendominasi pria itu. Kecemburuan telah membuat Sam menjadi lebih posesif terhadap Maya.


"Aku hanya ingin bersikap baik sama dia Sam, bagaimanapun kami dulu pernah berteman."


Kali ini Maya mendongak sebentar, mengabaikan layar laptop yang sedari tadi menyala menampilkan angka-angka dan data statistik.


"Teman dekat maksud kamu hah?!" tanya Sam lagi dengan nada tinggi. Maya membuang napas berat, menatap sebentar ke arah pria itu.


"Kamu mau ikut makan siang bareng?" tanya Maya, mencoba bersikap lebih dingin. Sam mendengus, terlihat sedikit berfikir sebelum akhirnya menjawab tawaran dari Maya. "Sebenarnya aku malas makan satu meja sama dia, tapi demi kamu, kenapa gak." ketus Sam.


Mendekat ke arah sisi kanan tubuh Maya, mencoba mengatur kembali emosinya. Sam mencium puncak kepala gadis itu lembut. Menerima kecupan hangat Sam lagi-lagi membuat hati Maya menyerukan kebahagiaan namun emosi Sam tadi membuat Maya kembali teringat ucapan El pagi ini.


"Kamu harus lebih bisa mengontrol emosi kamu Sam." Maya kini menatap lekat iris Samuel, memandangnya sayu lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke layar laptop.


"Maafkan aku sayang, aku gak bisa melihat kamu berlama-lama dekat dengan pria lain, apalagi sama dia." ketus Samuel.


"Aku harap kamu percaya sama aku, Sam." lirih Maya, memandang lekat manik mata pria itu.


"Ya udah, aku mau kerja lagi. Kita ketemu nanti siang," lanjut Maya.


Sam mengangguk, kecupan kecil sekali lagi mendarat di puncak kepala Maya. "Aku kembali ke ruangan ku dulu," bisik Sam.


Berjalan kembali ke arah pintu dan membuka knop perlahan. Samuel membuang napas berat.


Sial. Sial. Sial....!!


Samuel mengumpat berkali-kali dalam hati, membayangkan ia satu meja dengan mantan kekasih Maya. Melihat pria itu memandangi wajah Maya membuat darah Sam kembali mendidih.


Kini kaki panjangnya melangkah meninggalkan luar ruangan kerja Maya dan kembali menuju ke kantornya.


___


Rolex di tangannya menunjukkan jam makan siang, mematikan layar laptop miliknya, Sam bersiap menuju ke ruang kerja Maya, ia lepas dasi yang melingkar di leher kokohnya. Kali ini Sam hanya mengenakan kemeja abu tanpa blezer yang selalu melekat menutupi tubuh kekarnya. Melipat lengan kemeja sampai siku dan membuka dua kancing baju paling atas. Wajah bersih pria itu kini terlihat lebih menawan ketika poni yang sedikit ikal menjuntai dan sebagian rambutnya, ia ikat ke belakang membentuk sebuah gelungan kecil yang bertengger di atas kepalanya. Terlihat santai namun tetap sangat enak buat dipandang.


Dengan langkah tegap, Sam berjalan menuju ruang kerja Maya, namun langkahnya terhenti ketika melihat El keluar dari ruangan tersebut, disusul oleh Maya. CEO itu meraih pundak Maya dan melingkarkan lengannya di sana, berjalan membelakangi Sam yang merasakan darahnya naik ke ubun-ubun.


Dalam sekejap Sam berada di belakang mereka dan menarik tangan El agar terlepas dari Maya, membuat kedua orang itu tersentak kaget.


"Tangan lo bisa gak, jauh-jauh dari Maya?!" erang Samuel.


"Hey, apa masalah lo hah? gue lebih kenal Maya duluan dibanding lo." Jawab El tak kalah kesal, ekspresi pria itu juga terlihat sangat kaku dan dingin.


"Tapi sekarang ini gue cowo Maya, dan akan jadi masalah kalo lo berani deket-deket sama dia!" Sam masuk ke teritori El, lekat menyambar iris mata Elano yang juga berwarna kecoklatan. Rahang tegas Sam kini terlihat semakin mengeras, kilatan amarah yang terpancar dari kedua iris mata itu seolah ingin saling adu kekuatan otot antara satu sama yang lain.


Tangan Sam meraih ujung kerah kemeja El, menariknya mendekat ke arah tubuhnya.


"Sam, tolong jangan ribut lagi." Ucapan Maya yang seolah hanya di anggap angin lalu oleh Sam, ekspresi kaku dan dingin pria itu masih terlihat jelas.


Maya mendekat ke arah Samuel, memegang pundak Sam dan untuk kesekian kalinya Sam menepis kasar tangan Maya, memandang sinis ke arah Maya. "Jadi ini kelakuan kamu di belakang ku May?!" erang Samuel.


Terlihat kobaran api kecemburuan dan kemarahan di sorot mata pria itu. Maya masih mencoba menjelaskan, meraih kembali lengan Sam. "Aku kecewa sama kamu May."


Melepas cengkraman pada kerah kemeja El, menatap Maya dengan ekspresi mengerikan. "Dengar dulu penjelasan ku, yang kamu liat gak seperti perkiraan kamu Sam." Gadis itu masih mencoba menjelaskan yang sesungguhnya.


"Percuma kamu jelasin May, pria arogan dengan emosi tinggi ini gak akan pernah menyadari kekeliruannya." ucap El dengan emosi yang sangat tenang.


"Gue gak ada urusan sama lo, sialan!" balas Sam tak mengacuhkan ucapan El.


Melihat itu, Maya akhirnya angkat bicara dengan nada tegas. Ia tidak ingin ada keributan di kantor ini, apalagi yang melibatkan dua petingginya. Akan sangat memalukan jika ada karyawan lain yang melihatnya. "Cukup!! kalian kenapa seperti anak kecil gini?" Maya memandang tajam kedua pria di hadapannya itu lalu melangkahkan kakinya menjauhi keduanya. "Bagus Sam, emosi lo selalu membuat Maya menjauh." batin Elano, seringai kecil kini tertarik di kedua sudut bibir El.


"Tunggu Maya..." El mengikuti langkah Maya, kembali berjalan di samping gadis itu.


Sam menelan kekesalannya terhadap Elano. Namun pria bermata coklat itu sadar, mengkonfrontasi Elano hanya akan membuat Maya semakin kesal padanya. Ia tak ingin Maya mendiamkan dia lagi, sudah cukup, kediam-an Maya kemarin membuat Sam kalang kabut.


___


Sam mengendarai sedan mewahnya, berputar-putar tak jelas arah tujuan. Sejak jam makan siang tadi pria itu belum berani mendekati Maya, takut jika gadis itu masih merasa kesal terhadapnya. Harusnya tadi Sam mendengar terlebih dahulu penjelasan Maya, emosinya yang meluap lagi-lagi menggeser akal sehatnya.


Sam memarkir mobilnya dengan layanan valet ketika tiba di restoran yang menyajikan masakan Eropa. Bangunan bertingkat dengan banyak jendela itu, terlihat biasa saja dari luar. Lobinya diapit oleh tanaman hias di dalam pot-pot besar. Restoran itu sangat penuh di jam makan seperti ini. Bagian interior restoran itu didominasi oleh lampu-lampu di dinding maupun langit-langit yang membuatnya menawan. Sebuah bar yang memajang berbagai macam minuman beralkohol dari berbagai merk terlihat di salah satu sisinya.


Sam meminta resepsionis memilihkan tempat yang tidak terlalu ramai, agak tersembunyi agar ia bisa melepaskan penatnya karena pekerjaan dan juga Maya.


Menunggu kedatangan pengacara yang mengurus perceraiannya dengan Martha, Sam sedikit menyesap segelas martini.


Sudah lama pria itu meninggalkan minuman dengan kadar alkohol tinggi, dan itu semua karena Maya. Namun entah mengapa siang itu, ia ingin sekali ini saja merasakan kembali minuman favoritnya dulu. Mungkin mencoba untuk melupakan masalahnya nya bersama El dan Maya di kantor. Menyesap sedikit martini dalam gelas kristal, bayangan Maya dan El masih terlihat jelas dalam ingatan Sam.


"Brengsek!!" geram Sam, kembali meneguk isi gelas kristalnya yang kali ini dalam jumlah banyak.


Meletakkan dengan kasar gelas kristal tadi, hingga terdengar gemuruh dari permukaan meja.


"Selamat siang bapak Samuel."


Seorang pria berpakaian rapi, lengkap dengan jas mahal dan juga celana bahan yang senada dengan warna jas. Sepatu pantofel mengkilap menjadi pelengkap penampilan pria itu.


"Silahkan duduk pengacara Rudi." Sam mempersilahkan pria rapi tadi untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Langsung saja, bagaimana perkembangan kasus perceraian saya dengan Martha?" tanya Samuel to the point.


"Semua lancar, nona Martha bersedia menandatangani semua surat-surat dari pengadilan. Namun perceraian kalian tidak bisa terlaksana dalam waktu dekat ini."


"Kenapa bisa begitu? bukankah dia sudah menyetujui semua persyaratan?" tanya Sam kesal.


"Pengadilan bisa mengetukan palu nanti setelah nona Martha melahirkan anak yang ia kandung."


"Tapi anda kan tahu sendiri jika anak itu bukan darah daging saya." jawab Samuel masih dengan nada kesal, kepalan tangannya kini menggedor meja dengan keras.


"Saya tahu, namun ini adalah peraturannya, Anda bersabar saja." lanjut sang pengacara itu. Sam terdiam dan tak lama kemudian ia terlihat sedikit bisa menerima apa yang pengacara itu sampaikan.


"Baiklah, anda urus saja semuanya. Oh ya anda mau pesan apa, silahkan pesan saja jangan sungkan."


Wajah Sam terlihat sedikit rileks, mendengar proses perceraian dia dengan Martha yang berjalan sangat lancar. Gadis itu enggan menuntut Sam banyak, bahkan uang yang Sam tawarkan, dengan baik-baik Martha menolaknya.


Permasalahan dia dengan Martha hampir saja usai, namun kini giliran kehadiran Elano yang menjadi huru hara dalam hubungan dia dengan Maya.


Mencoba menata kembali emosinya, Samuel berusaha berfikir lebih dingin lagi. Dia tersiksa jika Maya kembali menjauh darinya.


Dan lagi, pertemuan Maya dengan Anita tinggal satu hari saja, Sam tidak ingin permasalahan dengan Maya tadi menjadi berlarut.


Setelah ini Sam berencana menemui Maya dan bicara baik-baik dengan gadis itu. Mengesampingkan ego dan emosinya.


to be continue....


Part ini dapat feel nya gk sih? cos rasanya susah sekali membuat Sam marah ke Maya 😁